Selasa, 07 Juni 2016

[Vonis Tumor Limfa] Maafkan Kami Yang Telah Berbohong Pada Kalian

Ayo, semangat
dok.Faiqah Nur Fajri
Maafkan kami, saya dan kakakmu yang telah berbohong dan menyembunyikan ini bertahun-tahun. Semua untuk kebaikan Ibu yang waktu itu masih sugeng, menjalani hari-harinya setelah divonis menderita tumor limfa. Maafkan kami, kenapa kami tak berterus terang. Kami tidak tega melihat wajah-wajah kalian akan berubah setelah tahu yang sebenarnya.

Waktu itu saya dan kakakmu tetap bisa tersenyum dan memberi semangat pada Ibu. Masih ingatkah kalian ketika Ibu menderita tumor limfa? Pasti, saya yakin pasti ingat dan itu tak mungkin kita lupakan.

Sebenarnya jauh sebelum Bapak mertua meninggal, Ibu yang selama itu dikenal kuat tiba-tiba sakit (tak berdaya). Waktu itu dokter mengatakan sakit Bronkhitis dan sakit perut. Beberapa tahun kemudian, setelah Bapak meninggal, perut Ibu sakit lagi, kambuh. Setelah berobat, kondisi Ibu membaik. Tapi lama-kelamaan frekuensi sakitnya semakin sering. Bahkan kalau tidak minum obat sakitnya tiada tertahan.

Akhirnya suami berinisiatif membawa Ibu cek darah (total) dan USG. Dari hasil lab, Ibu ternyata mengidap tumor. Waktu itu, Ibu dan adik ipar berada di luar ruang dokter. Hanya suami yang diajak berbicara dengan dokter spesialis penyakit dalam, suami akhirnya berkonsultasi sampai tuntas. Sepulang dari periksa, Ibu istirahat. Di ruang tamu ada saudara-saudara dari keluarga Ibu dan Bapak.

Suami memberi isyarat pada saya untuk menjauh dari mereka.
“Mami, Ibu menderita tumor dan harus segera berobat ke rumah sakit. Mungkin biayanya tidak sedikit.  Menurutmu bagaimana?”
“Yah, harta benda yang kamu miliki semua milik orang tuamu. Seandainya semua kauberikan untuk beliau itu belum seberapa, belum bisa membalas Ibu dari ketika Ayah bayi sampai sekarang. Sudah menjadi kewajibanmu mengobatkan Ibu.”

Suami menggenggam tangan saya, matanya berkaca-kaca, memandang saya dan mengucapkan terima kasih. Apakah ada yang aneh dengan ucapan saya waktu itu? Rasanya tidak, menurut saya itu biasa.

Pagi harinya, Ibu masuk rumah sakit dan opname. Lebih dari satu minggu Ibu berada di rumah sakit. Setelah menjalani biopsy dan lain-lain, dokter mengatakan bahwa Ibu menderita tumor limfa ganas tidak lagi pada stadium I atau II.

Suami yang diajak berdiskusi dengan dokter minta pendapat dokter seandainya tidak dioperasi bagaimana? Soalnya Ibu sudah stress dulu divonis tumor dan tidak mau menjalani operasi. Maka suami diminta untuk menyampaikan pada siapa pun termasuk Ibu dengan mengatakan penyakit Ibu cukup diobati (kemoterapi), tidak perlu menjalani operasi karena letak tumor posisinya sangat tidak menguntungkan (mana ada penyakit yang menguntungkan?). Ada dampak yang lebih besar bila operasi dilakukan.

Akhirnya Ibu hanya diberi obat dan menjalani kemoterapi. Kemoterapi dilakukan setiap tiga minggu sekali. Efek dari kemoterapi yang saya lihat dari Ibu adalah nafsu makan menurun, rambut rontok (dalam setahun, kepala gundul), kuku menghitam dan jari-jari kaku sulit digerakkan.

Lebih dari delapan kali Ibu menjalani kemoterapi di rumah sakit. Setelah kemoterapi terakhir dilakukan, Ibu tak lagi semangat seperti hari sebelumnya. Waktu opname terakhir, saya dan suami bekerja, jadi yang menunggu Ibu adalah adik suami yang nomor 2. Adik ipar bilang bahwa tumor yang diidap Ibu sudah stadium lanjut. (sebenarnya sejak awal saya dan suami sudah tahu, Ibu mengidap tumor ganas, kemungkinan untuk sembuh kecil).

Akhirnya Ibu tahu juga bahwa penyakitnya sudah tidak bisa diobati. Ibu putus asa, pasrah, tak lagi bersemangat. Kesehatan Ibu semakin menurun. Tepat satu tahun setelah Ibu divonis tumor limfa, Ibu sudah tidak mau makan dan minum. Semua aktivitas Ibu dilakukan di tempat tidur.  Suara Ibu juga sudah tidak begitu jelas. Yang bisa menerjemaahkan maksud dari apa yang diinginkan Ibu hanya adik ipar yang tinggal serumah dengan Ibu.

Pada Idhul Fitri 2009, saya memulai minta maaf pada Ibu, minta maaf karena tak bisa memberikan yang terbaik buat Ibu. Demikian juga suami dan adik-adik ipar saya. Hujan tangis ada di kamar Ibu.

[Suami saya waktu itu dinas di SMP N 2 Jumantono, mengajukan pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah agar bisa merawat Ibu tanpa meninggalkan pekerjaan. Kebetulan Kepala Sekolah tempat suami mengajar mengizinkan dan surat permohonan pindah sudah mendapat persetujuan/tanda tangan. Pulang dari sekolah, suami bilang pada Ibu bahwa dia akan segera pindah tempat tugas. Ibu mengangguk]

Setelah maghrib, Ibu menghembuskan napas yang terakhir kali. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan menerima amalnya.

[Ketika Ibu divonis mengidap tumor, saya lihat Ibu semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri pada Allah. Ada butir-butir tasbih yang menemaninya di kamar. Ibu selalu memanfaatkan waktunya untuk berzikir. Alhamdulillah, dengan diberi ujian sakit ternyata Ibu semakin khusyu ibadahnya]

Pagi ini saya ingat betul kejadian-kejadian 7 tahun yang silam. Ramadhan tahun ini berlalu tanpa Ibu mertua.