Minggu, 25 September 2016

Mengobati Luka dengan Menulis

Noer Ima Kaltsum : Mengobati Luka dengan Menulis
dok.pri
Maharani hatinya tercabik-cabik. Setelah menceritakan apa yang dialami kepada suaminya, Mahendra, biasanya Maharani langsung menulis. Dengan menulis, apa yang ada di hati keluar semua. Kejengkelan, dongkol dan sesak di dada seolah keluar. Batu sebagai beban yang membuatnya sesak dan sulit bernafas kini tak lagi ada. Plong! Lantas Maharani bisa tersenyum dan merasa merdeka.
Kadang tulisan Maharani seperti tulisan yang konyol. Tapi mungkin itulah yang bisa diungkapkan. Ketika ada yang mengkritik atau protes, karena orang lain tak pernah tahu apa yang ada di hatinya. Maharani cukup “mendewasakan” diri, mau mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya.
Menulis, itu dilakukan sudah sejak lama. Bukan baru seminggu, sebulan atau setahun terakhir. Buku harian yang entah kini berada di mana ditulisnya kala dia kelas 2 SMP. Buku harian yang berbeda diisi dengan tulisan hingga lulus kuliah. Mengapa menulis buku harian? Ya untuk mengeluarkan uneg-uneg, bercerita, dan terapi.
Mengobati luka hati dengan menulis. Jangan ditanya seberapa ngefek menulis tersebut. Yang jelas dari menulis ini, kadang ada energy yang tiba-tiba dikeluarkan dalam bentuk penyelesaian masalah. Hati yang awalnya panas menjadi lebih dingin. Hati yang perih menjadi tenang.
Kalau tidak menulis, entahlah bagaimana cara untuk mengobati luka-luka di hati. Kala malam rintik hujan menemani sepinya, menulis adalah sebuah aktivitas perenungan yang dahsyat. Merenung yang bermanfaat. Berbicara dengan dirinya sendiri lewat tulisan.
Sebenarnya bukan hanya lewat menulis Maharani mengobati luka di hati. Berkomunikasi dengan Sang Pencipta adalah segala-galanya. Mengambil air wudhu, sujud dan zikir. Berdoa, mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. Berharap bebannya berkurang, punggungnya tegak dan dia bisa menatap dunia tidak dengan menunduk. Bukan berarti memakai pakaian kesombongan.
Dengan doa dan menulis, bila berbicara dengan seseorang maka tidak akan sembarangan mengatakan sesuatu. Kalimatnya bermutu dan berkualitas, logis, sistematis, dan tidak amburadul. Berbicara tidak dengan emosi dan bisa menahan diri. Menghargai lawan bicara dengan cara menjadi pendengar yang baik.
Itulah cara mengobati luka dengan menulis ala Maharani

Karanganyar, 25 September 2016