Minggu, 25 September 2016

Saya Pernah Salah Jalan

Noer Ima Kaltsum : Saya Pernah Salah Jalan
dok.pri
Malam ini, rintik hujan terdengar dari genteng rumah. Udara sedikit dingin, dan perut rasanya krucuk-krucuk minta diisi. Kalau makan nasi sepertinya berat. Saya ambil satu buah pisang lalu menyantap dengan penghayatan yang tulus. Sambil makan pisang, di dapur saya melihat ada terigu, tepung kanji, dan bumbu dapur.
Akhirnya saja tertarik untuk membuat cilok seperti buatan kerabat saya beberapa hari yang lalu. Tak perlu banyak-banyak, sebab saya tidak bermaksud untuk membuka bisnis cilok. Hanya ingin mencoba membuat saja.
Selesai membuat cilok dan mencicipi, aktivitas berganti. Acara selanjutnya adalah menulis. Kali ini saya akan bercerita tentang masa silam yang tak pernah saya lupa dan pernah saya sesali. Namun, sekarang saya mengambil hikmah dari semua itu. Apaan sih? Tentang : saya pernah salah jalan.
Saya pernah salah jalan. Saya kehilangan arah. Saya berjalan semau saya, karena kurang dorongan. Jangan berprasangka negative dahulu. Bukan apa-apa, saya pernah salah jalan di sini yang saya maksud adalah saya salah melakukan pekerjaan. Masalah pekerjaan saja. Bukan yang lain.
Sejak kelas 2 SMA, saya sudah menulis. Waktu itu tahun 1988-1989 (wow, berarti saya tak muda lagi dong sekarang? Ya, begitulah kira-kira). Karya saya pernah dimuat di majalah local. Ketika kuliah, tulisan saya juga pernah dimuat di Koran local. Bahagianya saat itu, saya dapat honor. Lumayanlah kalau untuk beli mie ayam bisa dapat 20 mangkok.
Karena punya modal mau menulis, seharusnya saya melanjutkan menulis. Waktu itu saya tidak mengenal komunitas, tidak mengenal orang per orang yang bisa menulis. Tidak ada kompor yang memanas-manasi saya. Kegiatan menulis saya hanya sekadar menulis cerita yang saya simpan. Mengapa demikian? Karena usaha saya mengirimkan naskah ke majalah-majalah remaja tak membuahkan hasil.
Saat itu saya malah berhenti menulis. Saya merasa tidak memiliki bakat menulis yang bisa menggedor pintu redaksi. Akhirnya saya pindah haluan. Saya malas menulis cerita anak/cerpen remaja. Saya hanya menjadi penikmat dengan membaca cerpen. Aktivitas saya untuk mendapatkan uang dengan cara menjadi “pekerja lepas” yang menerima rupiah tak seberapa. Saya ikut-ikutan tetangga menjahit ikat pinggang, dompet, tas dan sandal dari kulit.
Dalam menjahit ini, memerlukan waktu yang lama dan upah yang saya terima tak seberapa. Kalau dipikir-pikir rugi saya. Apa boleh buat, waktu itu saya ingin mengisi waktu luang dengan beraktivitas.
Padahal kalau saya mau meneruskan aktivitas menulis, lama-kelamaan tulisan saya kan bisa jadi berkualitas. Sayangnya, zaman dahulu kala belum banyak komunitas seperti sekarang. Interaksi antar penulis juga tidak seintens sekarang. Penulis pemula tak memiliki “Kompor” yang mampu memanas-manasi.
Mungkin itulah jalan yang harus saya tempuh, yaitu jalan yang salah. Tapi saya sekarang bisa mengambil hikmah. Ternyata saya termasuk orang yang “nrimo” menerima uang recehan.
Belajar dari salah jalan tadi, kini saya berhati-hati agar tidak salah jalan lagi. Beruntung, saya hanya salah jalan tetapi tidak tersesat lebih jauh. Sebab pada akhirnya saya mengajar dan tetap menulis. Yaitu menulis materi pelajaran.
Kalau sekarang dunia literasi sangat dekat dengan saya karena saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Apalagi sekarang bisa belajar bersama dengan penulis-penulis yang namanya tak diragukan lagi. Bergabung dengan komunitas menulis, mendapatkan rupiah dengan menulis.
Bagaimana perasaan saya saat ini? Senang sekali!

Karanganyar, 25 September 2016