Sabtu, 07 Januari 2017

Berhenti Menulis Karena Sibuk

Sebagai Ibu bekerja di luar rumah, saya harus pandai-pandai mengatur waktu. Meskipun tidak ada jadwal kegiatan sehari-hari tetapi saya juga mengalokasikan waktu untuk menulis. Sesibuk apapun hari ini, saya tetap mengusahakan harus menulis kecuali kalau badan tidak bisa diajak kompromi.
Sebenarnya kalau sudah menjaadi rutinitas, menulis itu bisa dilakukan di sela-sela kegiatan yang lain. Saya salut dengan sahabat-sahabat penulis yang saya kenal lewat medsos. Saya perlu belajar, mencontoh kegiatan menulis para sahabat. Biasanya mereka menulis dengan cara mencicil. Mereka menulis tidak selalu sekali menulis lalu selesai.
Ada yang menulis dimulai pada pagi hari, 15 menit untuk menulis. Kemudian siang harinya menulis selama 15 menit. Pada sore hari dan malam hari masing-masing 15 menit. Total sehari semalam minimal mereka menulis selama 1 jam, tetapi tidak terasa lama. Ya, karena komitmen menulis sedikit demi sedikit, setiap hari dan konsisten.
Ada seorang sahabat yang menggunakan waktu menulis setelah shalat tahajud. Benar-benar memerlukan perjuangan! Tidak semua orang bisa melakukan ini, menulis setelah shalat tahajud. Bahkaan kadang-kadang untuk bangun shalat tahajud saja godaannya banyak. Karena terlalu sibuk, akhirnya lelah. Karena lelah inilah jadi malas menulis. Kesibukan ternyata bisa menjadi hambatan dalam menulis.
Saya termasuk orang yang tak begitu sibuk, tapi membiarkan waktu luang hilang begitu saja. Hal ini terjadi bila berada di kantor. Keadaan memaksa saya untuk berhenti menulis meskipun ada waktu luang atau ada kesempatan padahal saat itu tidak mengajar. Satu tahun terakhir, saya tidak bisa leluasa untuk menulis ketika berada di kantor. Ada factor tertentu yang membuat saya tidak bisa menulis sesuka hati.
Kalau kesibukan menjadi alasan tidak bisa menulis, maka kita perlu membuat agenda harian. Kita memerlukan jadwal untuk menulis. Katakanlah ada 4 waktu di mana kita harus menulis. Setiap waktu menulis, kita luangkan 10-30 menit. Dengan langkah ini semoga kesibukan kita tidak menjadi alasan kita tidak menulis.
Alangkah mudahnya bicara dan berandai-andai, tapi prakteknya sulit. Kita memang perlu menanamkan komitmen pada diri kita sendiri kalau perlu kita paksa. Semua berawal dari terpaksa juga boleh. Nanti kalau sudah menjadi kebiasaan, di saat apapun, kita tetap menulis. Sesibuk apapun kita tetap menulis.
Tetap semangaat menulis dan jangan menunda menulis.
Karanganyar, 7 Januari 2017