Kamis, 05 Januari 2017

Bosan Dan Jenuh Merupakan Hambatan Menulis

Setelah saya menekuni kembali kebiasaan menulis, saya tidak mau menulis hanya musiman saja. Kadang menggebu-gebu lalu bosan dan jenuh, selanjutnya berhenti menulis. Dalam menulis, saya selalu memiliki target pencapaian.
Target yang akan saya capai tidak muluk-muluk agar saya bisa melampauinya. Misalnya target menulis setiap hari lalu memosting tulisan di blog dalam sebulan tanpa berhenti. Karena banyak tema, ide dan gagasan yang bisa saya tulis, maka saya tidak kehabisan materi untuk menulis.
Akan tetapi kalau kebetulan dalam bulan tertentu saya banyak pekerjaan sekolah yang harus segera saya selesaikan, maka memosting tulisan dua/tiga hari sekali sudah cukup. Yang penting dalam satu minggu blog diisi dengan tulisan yang baru.
Kalau menulis setiap hari, apakah saya tidak pernah bosan dan jenuh menulis? Saya tidak akan bosan menulis, karena inilah bentuk syukur saya. Dulu ketika SMA saya harus berjuang menulis dengan mesin ketik, di mana bila terjadi kesalahan dalam mengetik harus dihapus/di tip-ex. Belum lagi kalau tulisan kita beberapa baris ada yang salah, maka saya harus mengetik dari alenia awal pada halaman tersebut. Repot, bukan?
Kini setelah semuanya mudah dan saya tidak mengalami banyak kesulitan dalam menulis, saya lebih semangat menulis. Bila suatu saat saya berhenti menulis dan tidak bisa dipaksa, berarti kondisi badan saya sedang tidak baik.
Bagaimana kalau kita mengalami rasa bosan dan jenuh dalaam menulis? Ada beberapa langkah yang bisa kita tempuh agar kita bisa kembali menulis dan tidak berlama-lama bosan.
1.      Berhenti menulis lalu membaca
Kalau sedang bosan dan jenuh menulis, maka kita memang harus menghentikan kegiatan menulis. Menulis bisa diganti dengan membaca. Bahan bacaan bisa dari buku, majalaah, tabloid, Koran, berita dari internet dan lain-lain. Selain untuk mengusir rasa bosan, membaca juga bisa mendatangkan ide. Jadi jangan anggap bosan menulis lalu tidak produktif sama sekali. Ketika akan membaca, kita tetap menyiapkan alat tulis. Siapa tahu ada ide menarik dari bahan bacaan.

2.      Menyalurkan hobi
Ketika rasa bosan dan jenuh sedang mendera, kita bisa melakukan hobi lama yang sudah kita tinggalkan. Misalnya bersepeda santai mengelilingi perumahan, berbelanja di pasar tradisional dengan nuansa desa, berkebun, membuat rajutan/keterampilan, memasak makanan kesukaan, jalan-jalan di area persawahan, memotret dan lain-lain. Menekuni hobi tadi bisa kita jadikan bahan tulisan.

3.      Refreshing
Hampir setiap kegiatan yang kita lakukan akan berimbas pada pengeluaran. Artinya setiap gerak-gerik kita sebagian besar berbayar. Berbayar karena memang apa yang kita lakukan membutuhkan biaya. Contoh refreshing keluar rumah. Kita butuh transportasi, butuh makan, butuh akomodasi. Tapi kalau keluar rumah di sini hanya di halaman rumah, tidak terlalu banyak biaya yang kita keluarkan. Namun demikian, kita bisa menekan pengeluaran kita bila kita melakukan refreshing diperhitungkan pengeluarannya sehemat mungkin. Misalnya, pilih tempat wisata yang dekat dengan rumah dan tiket masuknya murah. Lebih-lebih kalau ada penawaran berwisata gratis, ini yang kita tunggu-tunggu.

4.      Berolahraga ringan
Kapan kita melakukan olahraga? Seharusnya olahraga dilakukan rutin setiap hari. Pilihlah olahraga ringan yang tidak membebani kita. Misalnya jalan-jalan, angkat barbell diganti angkat botol berisi air mineral (tidak perlu 1 liter), senam, dan lain-lain. Dengan olahraga ringan badan dan pikiran akan kembali segar lalu kita bisa mulai menulis lagi.
Sebenarnya masih banyak cara menghilangkan bosan dan jenuh. Semua kembali pada masing-masing penulis. Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 5 Januari 2017