Rabu, 04 Januari 2017

Hambatan Menulis Itu Bernama Sakit

Bersyukur itu tak memerlukan syarat. Ucapkan syukur lalu berbuatlah sesuatu untuk menunjukkan rasa syukur kita. Nikmat Allah begitu banyak dan kita tidak bisa menghitung satu per satu. Lalu dengan nikmat yang sudah kita terima, mengapa kita tidak mau bersyukur?
Jangan keliru beranggapan bahwa nikmat tersebut hanya sebatas yang berwujud materi. Bukan, nikmat Allah yang kita terima bukan hanya berwujud materi. Waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat Allah yang sering kita lupakan.
Dengan waktu luang dan badan yang sehat, kita bisa melakukan banyak hal, bisa bersilaturahmi,  bisa merasakan murah bahkan gratis menghirup udara segar. Bagaimana, masih belum bisa bersyukur? Baiklah, kita umpamakan nikmat sehat dari Allah dicabut dan kita sakit. Apa yang kita rasakan?
Biasanya, ini pada umumnya lo, orang akan berandai-andai bahkan mengucapkan sesuatu sebagai nadzar bila sedang sakit. Misalnya, kalau saya sehat saya bisa menjalankan ibadah shalat wajib berjamaah di masjid (padahal biasanya ketika sehat juga tidak pernah shalat berjamaah di masjid). Atau, besok kalau saya sudah sembuh maka saya akan semakin dekat dengan Allah (padahal selama ini biasa-biasa saja).
Saya sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan, selalu bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan kepada saya. Rezeki, harta benda, anak-anak dan suami yang sholeh dan sholehah, waktu luang, dan kesehatan, semua saya syukuri. Bentuk syukur saya adalah dengan menggunakan waktu luang, apa yang saya miliki, dan kesehatan dengan sebaik-baiknya.
Kesehatan mahal harganya. Bahkan sehat tidak bisa dibeli. Saya berupaya untuk menggunakan waktu luang dan kesehatan badan saya untuk hal yang bermanfaat, salah satu di antaranya adalah untuk menulis.
Banyak hal yang bisa saya tuliskan. Dari pekerjaan yang memang harus mendokumentasikan/mengarsip dokumen, menulis sebagai hobi dan menulis untuk berbagi. Ketiga kegiatan menulis tersebut saya nikmati sebagai bentuk rasa syukur saya atas waktu luang dan badan yang sehat, yang Allah berikan pada saya.
Kalau sudah menulis saya sering lupa waktu. Oleh karena itu menulis juga saya jadwalkan. Biasanya menulis saya lakukan pada malam hari sebelum tidur. Atau pulang sekolah sambil menunggu waktu untuk menjemput si kecil dari sekolah (setelah Asar). Karena menulis sudah menjadi kebiasaan, maka saya tidak pernah merasa terpaksa. Saya menikmati kegiatan menulis ini.
Ada beberapa teman saya yang mungkin menganggap saya terlalu memaksakan diri dalam menulis hingga malam hari. Mereka tidak tahu, kalau saya merasa rugi dan kehilangan sesuatu bila saya tidak menulis.
Lalu apakah saya bisa rutin menulis setiap hari? Agenda saya adalah menulis setiap hari. Tapi kalau tiba-tiba saya jatuh sakit dan tidak kuat untuk berhadapan dengan laptop, maka saya akan absen. Saya tidak menulis pada saat saya sakit.
Seperti kemarin sepulang sekolah. Tiba-tiba kepala pusing sebelah. Saya merasa hanya kurang tidur setelah dua hari mudik. Selain kurang tidur, jadwal makan saya juga terganggu alias makan tidak teratur, ditambah lagi saya sedang kedatangan tamu tiap bulan. Lengkap sudah, saya harus berdamai dengan nikmatnya sakit. Kepala sakit sebelah, perut tak bisa diajak kompromi, keluar keringat dingin.
Pagi hari sebelum berangkat mengajar, kondisi kesehatan belum kunjung membaik. Saya merasa tidak kuat untuk mengendarai sepeda motor. Pasrah, mau tidak mau saya minta bantuan suami untuk mengantar jemput. Di sekolah 6 jam mengajar, saya tetap harus bertahan. Ketika sudah selesai dan suami siap mengantar saya pulang, saya pamit pada teman guru. Biasanya pulang jam setengah dua. Kali ini saya ingin istirahat dengan bobok manis.
Suami menyarankan saya untuk “nyate kambing” dulu. Saya memilih tongseng kambing. Sampai di rumah, menyantap nasi tongseng kambing, badan langsung bugar. Paling tidak saya sudah bisa beraktivitas di dapur dan mencuci pakaian. Dan akhirnya, saya bisa menulis kembali.
Ganjaran sakit merupakan salah satu hambatan menulis. Memang dengan sakit, saya harus beristirahat, saya tidak bisa menulis dan saya harus menikmati rasa sakit itu. Tapi dengan sakit itulah ada ide untuk menulis. Meskipun sakit merupakan hambatan untuk menulis, tapi saya tidak mau berlama-lama sakit. Setelah sembuh, jalan terus menulisnya. Semoga bermanfaat.

Karanganyar, 4 Januari 2017