Senin, 13 Maret 2017

Ternyata Candi Borobudur Itu Dekat

Mudik saya kali ini, bertemu Ibu dan saudara-saudara perempuan saya hanya sebentar saja. Sebelum maghrib, saya dijemput saudara perempuan yang rumahnya di dekat rumah Ibu. Alhamdulillah, akhirnya sampai di rumah Ibu. Dua saudara perempuan saya lainnya juga datang ke rumah Ibu, tapi kedatangan mereka hanya untuk transit semata. Ibu dan 3 saudara perempuan saya, serta Bulik akan pergi ke Surabaya. Mereka berlima akan menjenguk Pakde (kakak Ibu) yang sedang sakit.
Jadilah, Bapak sendirian di rumah. Saya, suami dan si kecil tidur di rumah Bapak. Sedangkan Dhenok tidur di rumah kakak saya bersama dua keponakan saya. Saya tidur dengan nyenyak. Sebelum subuh, suami membangunkan saya dan mengajak saya pergi ke Borobudur setelah salat subuh. Saya membayangkan Borobudur itu jauh sekali sehingga dengan malas saya menolak.
Saya menyuruh suami untuk mengajak Dhenok dan Thole saja. Rupanya Dhenok juga tidak bersemangat. Ketika membeli sarapan nasi gudheg di pasar, saya bilang pada suami, mbok ya kalau membuat acara jangan dadakan. Kalau semalam sudah dibicarakan, tentu saya mau diajak jalan-jalan.
“Borobudur kan jauh,”kata saya.
“Borobudur itu dekat, Mi,”sahut Dhenok.
“Dari rumah sini, kita hanya memerlukaan waktu 2 jam saja,”kata suami.
Hah, dekat sekali. Wah, saya jadi menyesal begitu diberi tahu kalau Borobudur hanya dekat saja. Tidak memakan waktu lama dengan ditempuh naik sepeda motor. Nasi sudah menjadi bubur. Waktu semakin siang, tidak mungkin saya pergi jauh-jauh.
Sebelum jam sebelas, saya meninggalkan rumah Bapak dan kembali ke Karanganyar. Dengan pulang lebih awal, saya berharap sampai di Solo masih ada bus yang membawaku sampai Karanganyar.
Di perjalanan, naik bis, saya membayangkan Borobudur yang sangat dekat. Seandainyaa saya tahu dari awal, tentu saya bisa sampai di candi lagi. Ya, tak perlu disesali, masih ada waktu. Semoga saya diberi umur panjang dan sehat agar bisa ke Borobudur lagi.
Sebenarnya saya sudah dua kali berwisata ke Candi Borobudur. Yang pertama ketika saya masih SD (1980/1981) dan yang kedua tahun 1994 setelah Merapi erupsi. Yang kedua ini yang paling berkesan karena baju kotor, debu-debu abu vulkanik membuat baju saya kotor semua.

Karanganyar, 13 Maret 2017