Minggu, 11 Maret 2018

PEMBACA 2 KORAN TIAP HARI TERNYATA AUTIS




Hari Sabtu kemarin, saya menyempatkan diri untuk membayar rekening Koran di kios yang terletak di sebelah timur Taman Pancasila. Sambil menunggu penjual Koran menulis kuitansi, saya mengamati seorang perempuan mendatangi kios.

“Pak, kemarin Koran yang dibeli apa?”
“Jawa Pos dan Kompas,”jawab penjual Koran.
“Sepertinya bukan. Kemarin saya tidak ketemu panjenengan, tapi Ibu,”jawab perempuan seusia dengan saya.
“Memang kenapa bu kalau Koran hari ini sama dengan hari kemarin?”Tanya saya penasaran.
“Anaknya tidak mau membaca Koran dua hari berturut-turut penerbitnya sama.”
“O…” saya semakin tak mengerti.
“Yang membaca Koran ini kan anaknya autis, bu. Tiap hari harus disediakan 2 koran dan semua dibaca. Kalau hari ini Jawa Pos dan Kedaulatan Rakyat, besok harus beda. Misalnya Suara Merdeka dan Solopos. Kalau korannya sama, dia akan marah-marah.”
Saya semakin bengong, o….
“Anaknya umurnya berapa?”
“Dua puluh dua tahun. Dulu sekolahnya di Sukoharjo dan Solo. Sekarang tidak sekolah. Bapaknya adalah seorang pegawai yang memiliki jabatan.”
“Rumahnya mana?”
“Dekat SFA swalayan.”
Setelah membayar dua Koran, perempuan tadi terus pamit, pergi meninggalkan kios. Saya membayangkan, betapa kesendirian anak autis tersebut menjadi ramai dengan membaca. Wawasan, pengetahuan dan berita tetap bisa dia ikuti meskipun dunia luar jarang dia lihat.

Betapa orang tuanya sabar merawat dan membesarkan anak tersebut. Konon, kakaknya normal dan sudah bekerja menyayanginya dengan sepenuh hati.

Anak autis termasuk anak berkebutuhan khusus. Nah, saya jadi ingat dengan dua orang yang pernah berbincang-bincang dengan saya di waktu yang berlainan.

Perempuan pertama mengatakan kalau anak laki-laki saya perlu dibawa ke psikolog. Perempuan yang kedua mengatakan anak laki-laki saya berkebutuhan khusus. Lalu bagaimana sikap saya setelah mendengar orang menilai anak laki-laki saya secara “ngelantur”? Saya hanya tersenyum, tidak marah, tidak sakit hati juga.

Wahai perempuan yang pernah berbincang-bincang dengan saya, anak laki-laki saya normal. Tidak perlu mendapatkan perlakuan khusus. Dia hanya membutuhkan perhatian ekstra, tidak seperti yang Anda katakan.

Saya meninggalkan kios Koran. Motor saya arahkan ke timur beberapa meter, menuju sekolah anak saya. Si kecil sudah menunggu di trotoar. Ketika melihat saya, sambil tersenyum, anak laki-laki saya menunjukkan ikan cupangnya.

00000