Rabu, 25 Juli 2018

TIAP ANAK PUNYA POTENSI (KREASI)



Tiap anak memiliki potensi. Sebagai orang tua seharusnya tidak boleh menuntut anak-anaknya menonjol di bidang akademik. Orang tua harus tahu potensi putra-putrinya. Apabila orang tua sudah mengetahui potensi anak, orang tua diharapkan memberikan dukungan agar potensi anak bisa berkembang.

Jangan sampai orang tua terlambat mengetahui potensi anak atau bahkan tidak tahu sama sekali. Bisa jadi anak memiliki kreatifitas yang tidak dimiliki anak lainnya. Bisa juga anak memiliki hobi membuat kerajinan yang bisa mendatangkan uang. Orang tua bisa memberi fasilitas kepada anak-anaknya.

Salah satu hobi anak membuat kerajinan tangan, misalnya membuat kerajinan dari kain flannel. Kain flannel bisa dibuat boneka, kantung hp, dompet alat tulis, dompet koin, dan lain-lain. Untuk menunjang hobi yang satu ini, tidak diperlukan biaya yang besar. Apabila benda-benda yang dihasilkan  kualitasnya baik, maka benda tersebut bisa dijual.

Yuk, berkreasi dengan kain flannel!
Karanganyar, 25 Juli 2018

Selasa, 24 Juli 2018

MENGURANGI PORSI MAKAN AGAR BERAT BADAN TETAP IDEAL


Akhir-akhir ini banyak postingan di sosmed yang saya baca tentang BB ideal wanita sholehah. Entah itu sifatnya hanya bercanda atau tidak, bagi saya pribadi tidak perlu untuk dibahas.

Sejak kecil, berat badan saya selalu berada di bawah standar BB ideal. Saya kelihatan sangat kurus. Akan tetapi saya tetap sehat dan ceria. Berbadan kurus bukan berarti sakit-sakitan. Mungkin karena memang badan saya tidak bisa gemuk sehingga makan seberapa pun tetap saja tidak gemuk.

Saat menikah, BB dan tinggi badan saya juga belum seimbang. Setelah menikah kemudian hamil, saya membaca-baca buku yang diberikan oleh bidan. Saya sangat memperhatikan pada hal lingkar lengan atas minimal pada saat hamil sampai akan melahirkan. Ukuran lingkar lengan atas ini menunjukkan BB Ibu hamil tidak terlalu kurus.

Alhamdulillah, pada usia kandungan 8 bulan, BB saya mencapai 57 kg. Itu artinya ada kenaikan BB sebesar 18 kg. Berarti BB saya ketika menikah berapa dong? Silakan dihitung sendiri.

Setelah saya melahirkan, menyusui, kurang tidur pada malam hari, BB saya turun drastic. Bahkan saat anak saya semakin besar, BB saya bertahan maksimal pada angka 45. Setelah memiliki anak dan kurang tidur, saya sering terserang tekanan darah rendah.

Ketika hamil anak saya yang kedua, BB saya hanya naik sekitar 6-7 kg. Setelah anak kedua lahir, menyusui dan kurang tidur pada malam hari, BB saya sekitar 47 kg. prinsip saya, yang penting saya sehat dan tidak gampang sakit.

Setelah anak saya yang kedua sudah semakin besar, sekarang BB saya di atas 50 kg dan kondisi saya sehat. Meskipun saya sudah merasa gemuk (berdasarkan ukuran baju lama yang semakin kekecilan), di mata orang lain saya tetap kelihatan langsing.

00000

Saya tidak terpengaruh pendapat orang tentang BB. Bagi saya, yang penting saya sehat. Mau dibilang kurus, gemuk, sholehah atau tidak sholehah yang penting saya sehat dan beribadah secara istiqomah. Bilamana BB saya dianggap berlebihan dan saya termasuk kategori (bukan istri) sholehah, saya cukup tersenyum.

Menjadi istri sholehah bukan diukur berdasarkan BB. Misalnya BB saya lebih dari 50 dan dianggap gemuk, berarti saya bisa menunjukkan kalau suami benar-benar “ngopeni” makan saya. Perlu diketahui, setelah memiliki dua anak, saya sering nyinden “EMAN-EMAN”.

Nasi di mejikom tinggal sedikit, eman-eman kalau dibuang. Anak makan berat tidak habis (tinggal sedikit), eman-eman kalau dibuang begitu saja. Tahu, tempe, bakwan dan camilan lain tinggal seciul, eman-eman untuk diberikan pada ayam. Karena sering nyinden inilah, BB saya dapat dikatrol naik.

Oleh sebab itu, wajar bila saya tidak perlu mengkonsumsi makanan penambah nafsu makan. Saya cukup makan secara teratur dengan porsi secukupnya. Saya tidak memaksakan diri untuk langsing dengan BB kurang dari 50 kg.

Saya kira wajar-wajar saja bila perempuan pernah hamil dan melahirkan (apalagi kalau anaknya banyak), BB-nya akan naik dan tubuhnya gemuk. Bila Ibu-ibu lebih percaya diri bila tubuhnya langsing, maka boleh menjalani diet asal tidak terlalu ketat. Jangan sampai diet kebablasan sehingga tubuh menjadi kurus kering dan tidak sehat.

Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 24 Juli 2018

Senin, 23 Juli 2018

PERLUKAH SI KECIL MENGIKUTI LES TAMBAHAN?


Perlukah si kecil mengikuti les tambahan pelajaran? Jawaban saya adalah tidak! Menurut saya si kecil belum memerlukan bimbingan belajar di luar rumah. Alasan saya cukup simpel, yakni karena saya masih sanggup mendampinginya belajar.

Waktu belajar si kecil di sekolah adalah dari pukul 07.00 sampai pukul 11.00 WIB. Pulang dari sekolah, si kecil langsung menuju taman penitipan anak seperti biasanya. Taman penitipan anak ini adalah rumah kedua bagi si kecil. Sejak berumur 1,5 bulan, si kecil sudah berada di TPA ini. TPA ini sudah seperti rumah sendiri. Pengasuh dan teman-teman yang ada di TPA sudah seperti saudara/keluarga sendiri.

Kurang lebih pukul dua siang, saya menjemput si kecil lalu saya ajak pulang. Sampai di rumah, saya mengondisikan si kecil untuk tidur siang. Tidak mudah membawa si kecil untuk tidur siang. Biasanya saya mengajak bercerita sampai si kecil tertidur. Kalau bisa tidur nyenyak, cukup lama juga tidurnya. Bagi saya, lama atau sebentar saat tidur siang, tidak menjadi masalah bagi saya.

Bangun dari tidur, si kecil akan bermain di sekitar lingkungan rumah. Entah itu di sawah maupun bersepeda bersama teman-temannya.

Malam hari, saya mendampingi si kecil untuk belajar. Bila jadwal si kecil adalah tenis atau badminton pada sore hari, saya akan mendampingi belajar sekadar membaca sebelum si kecil dan Ayahnya berangkat ke gedung olahraga.

Sebagai Ibu, saya sabar menghadapi si kecil ketika belajar. Oleh karena pelajarannya belum terlalu rumit, masih sederhana, saya menekankan untuk mengulang-ulang membaca dan mengerjakan soal berhitung. Kebetulan sekarang pelajarannya adalah tema 1 HIDUP RUKUN.

Suatu hari, pulang dari sekolah, si kecil bilang kalau dia bisa mengerjakan soal seperti yang dipelajari malam sebelumnya. Si kecil merasa bangga, bisa mengerjakan soal.

Teman-temannya sebagian besar mengikuti les tambahan pelajaran yang diadakan di luar sekolah. Les tambahan tersebut berlangsung tiga hari dalam seminggu, dari pukul dua siang sampai pukul empat sore.

Kebetulan, si kecil tidak mau mengikuti les. Seperti biasa, si kecil akan beralasan urusannya sudah banyak (seperti orang penting saja). Kalau si kecil mau mengikuti les, saya juga bingung. Saya dan suami tidak ada waktu untuk mengantar dan menjemput  di tempat les.

Belajar di rumah, bersama orang tuanya, mungkin membuat si kecil merasa lebih nyaman. Saya berusaha untuk menyesuaikan kondisi si kecil, sudah bisa konsentrasi atau belum. Karena belajar di rumah lebih fleksibel, maka saya merasa lebih tahu “kemauan” si kecil saat belajar. Rupanya si kecil juga bisa diajak serius tapi santai.

Saya bilang pada si kecil, uang yang dibayarkan untuk les (bila ikut les) bisa ditabung. Iming-iming dari saya ini menambah semangat si kecil untuk belajar.

Bila saya paksakan untuk mengikuti les tambahan pelajaran seperti teman-temannya, saya takut seandainya si kecil tidak mau dan ogah-ogahan. Sungguh sangat merugi, mengeluarkan biaya tidak sedikit tapi si kecil tetap malas mengikuti les tambahan.

Saya jadi ingat, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan adalah tanggung jawab orang tuanya. Bila Bapak dan Ibunya bisa mengajar anaknya sendiri, alangkah baiknya urusan pendidikan diselesaikan sendiri. Beruntung, saya selalu ada waktu untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah meskipun pada pagi hari anak-anak harus berada di sekolah.

Sekali lagi, bagi saya si kecil tidak perlu mengikuti les tambahan. Bila Anda tidak sependapat dengan saya, itu boleh-boleh saja.

Karanganyar, 23 Juli 2018

Minggu, 22 Juli 2018

MENDAMPINGI ANAK BELAJAR DI RUMAH


Saya tidak pernah berputus asa dalam menghadapi Thole. Thole yang selama ini selalu bilang emoh sekolah, membuat saya lebih sabar dibanding menghadapi kakaknya pada usia yang sama.

Mungkin Thole telah memiliki kesadaran sendiri untuk belajar. Meski bilang emoh sekolah tapi masih mau membaca dan menulis. Oleh karena saya memberi tahu Thole bahwa teman-temannya ikut les, Thole semakin antusias untuk saya dampingi belajar.

Kini, saya bisa bernafas lega. Setiap malam tidak ada lagi alasan mengantuk kalau Thole disuruh belajar. Entah, kesadaran tersebut datang dari mana? Yang jelas, kerepotan saya semakin berkurang.

Pada pagi hari, ketika tidak sekolah, saya harus siap mendampinginya bermain di depan rumah. Saya tidak melarang kegiatan yang dilakukan Thole. Saya membebaskannya. Bermain tanah dan air, serta membuat pancuran adalah kegiatan yang mengasyikkan baginya.

Saya lihat Thole menikmati acara bermainnya.  Inilah saat-saat yang saya tunggu, sehari bersama Thole sebab suami sedang dinas ke luar kota.

Malam hari, saya mendampingi Thole belajar. Alhamdulillah, Thole tidak lagi ngeyel, dia cukup menurut. Tidak ada tawar menawar, semua dilakukannya dengan senang hati. Semoga saya dan suami tidak terlambat memberikan penanganan terhadap Thole. Thole memang beda dengan yang lain. Sukses untuk Thole yang mau belajar!

Sabtu, 21 Juli 2018

SEKOLAH VS MEMELIHARA SAPI


Satu minggu telah berlalu, si kecil sudah mulai nyaman untuk ke sekolah. Saya sangat bersyukur dengan kemajuan si kecil. Mungkin bagi orang tua yang lain, anak-anak sekolah sudah tidak ada masalah. Akan tetapi bagi saya dan suami, tidak mudah untuk “memapankan” si kecil masuk sekolah kembali.

Sejak kelas I, si kecil memang tidak mau sekolah. Hingga sebelum kenaikan kelas, si kecil sudah berpesan kalau dia tidak akan sekolah lagi di kelas II. Tidak main-main, dia hanya ingin beternak kambing, sapi, ikan dan ayam. Cita-citanya adalah memiliki peternakan/pembibitan sapi.

Oleh karena si kecil tidak main-main, maka saya mengajak si kecil supaya tetap kembali ke sekolah. Caranya adalah dengan membelikan baju seragam baru, sepatu dan kaos kaki, dan lain-lain. Malamnya kami sudah mempersiapkannya.

Ternyata, pagi harinya ada insiden yang tidak kami duga sebelumnya. Si kecil benar-benar tidak mau sekolah. Saat kami suruh bangun dari tempat tidur, si kecil merasa tidak nyaman maka menangislah. Setelah mandi, mau dipakaikan baju dan celana seragamnya juga tidak mau. Saya harus sabar menghadapi semua ini pada pagi hari.

Kerja sama dengan suami membuahkan hasil. Si kecil dengan terpaksa berhasil dinaikkan sepeda motor. Saya bisa sedikit lega. Di sekolah, pikiran saya kembali pada si kecil. Saya khawatir anak tersebut ngambek di sekolah.

Siang hari, saya bermaksud untuk mengantarkan pakaian ganti di taman penitipan anak. Alangkah terkejutnya saya, melihat si kecil berada di halaman depan taman penitipan anak.

“Mama, aku ikut ke sekolah Mama.”
Saya tidak bisa menolak. Akhirnya, setelah ganti baju, si kecil saya ajak ke sekolah. Di jalan si kecil bilang kalau dia berani pulang dari sekolah menuju penitipan. Rencananya besok dia juga akan pulang bersama anak penitipan lainnya.

Saya tahu, tiap pagi pasti akan terjadi peristiwa yang menghebohkan. Walaupun si kecil sudah berjanji akan “tertib” ke sekolah, tetap saja dia ogah-ogahan kalau diminta untuk memakai baju seragam.

Kesabaran saya selama seminggu membuahkan hasil. Si kecil tidak lagi “membuat ulah” di pagi hari. Awalnya, dia tidak mau pulang ke penitipan anak. Dia ingin pulang menuju kantor Ayahnya. Oleh karena dia tidak berani berjalan sendiri ke kantor Ayahnya, maka terpaksa dia pulang ke penitipan anak. Dengan demikian, saya tak perlu emosi lagi.

Selain masalah berangkat dan pulang sekolah, kemajuan kecil yang ditunjukkan si kecil adalah dengan kesadaran sendiri, dia mau belajar membaca dan menulis. Setiap malam sebelum tidur, dia mau belajar. Bila sore hari saat jadwalnya latihan tenis/badminton, si kecil juga mau mencicil belajar dengan membaca buku.

Saya benar-benar terharu, tidak menyangka sama sekali kalau si kecil bisa mapan karena kesadarannya. Kini tak ada lagi adegan menangis di pagi hari. Pada siang hari yang ada adalah si kecil menunggu saya di penitipan anak sambil bermain bersama temannya. Ketika saya datang, dia akan bilang pada temannya bahwa dia akan pulang dan minta tolong pada temannya untuk menyampaikan pada pengasuh.  
Meskipun sudah mapan dan tertib, sesekali si kecil bilang,”besok kelas III aku nggak sekolah lagi, mau memelihara sapi.”

00000

Rabu, 18 Juli 2018

TRAINING GRATIS DI UP GREAT FROM ZERO TO SUPERWOMAN



Saya hanyalah penulis pemula yang selalu belajar dan berani melakukan proses. Apa yang saya dapatkan sekarang, bukan secara instan melainkan melalui proses yang panjang. Alhamdulillah, dengan ketekunan yang saya lakukan lambat laun keberhasilan demi keberhasilan berpihak pada saya.

Saya berhasil menembus “AH TENANE” Koran Solopos beberapa kali. Dengan dimuatnya beberapa tulisan saya dengan lakon Jon Koplo ini, saya mulai dikenal banyak orang (banyak teman menulis). Saya diminta untuk mengisi berbagi tulisan mewakili Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo tentang menulis AH TENANE.

Saya juga berhasil memenangkan lomba menulis yang diselenggarakan Ibu-Ibu Doyan Nulis Pusat. Bukan hadiah yang saya buru, yang lebih utama adalah saya berhasil melewati proses menulis. Saya bisa konsisten menulis 14 hari berturut-turut dengan tema yang sudah ditentukan.

Setelah berhasil memenangkan beberapa lomba penulisan, saya mencoba mengikuti lomba menulis tentang #AkuDanIIDN dalam rangka ulang tahun IIDN ke-8 di Instagram. Saya tidak pandai memotret tapi saya selalu belajar memotret sebisa mungkin. Selain tak pandai memotret, saya juga tak pandai membuat video dengan hape.

Saya pantang menyerah, saya harus mencoba. Saya lihat, peserta lomba menulis di instagram ini tidak banyak. Saya bersyukur, saya berhasil memenangkan hadiah utama. Lima pemenang hadiah utama mendapatkan hadiah berupa Tiket Training INSCRIPT TRAINING CENTER. Rasanya, sangat bahagia. Di IIDN, hadiah ini sangat bergengsi. Kebetulan teman IIDN Solo juga ada yang menjadi pemenang hadiah utama, yaitu mbak Hana Aina.

Ketika saya memenangkan sebuah lomba atau tulisan tembus media, saya selalu ingat pada kedua orang tua saya dan kakak saya. mereka mendoakan saya menjadi penulis, saat mereka berada di tanah suci menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah, ya Allah.

Saya selalu bersyukur atas apa yang saya peroleh dari menulis. Semoga saya bisa konsisten menulis dan keluarga besar tetap mendukung kegiatan menulis saya. sampai sekarang saya selalu menekankan pada diri saya pribadi bahwa MENULIS DENGAN NIAT BERBAGI DAN MENULIS DENGAN HATI. Kalau sudah begitu, saya selalu ikhlas dalam menulis karena kegiatan menulis saya niatkan untuk berbagi manfaat.

00000

Selasa, 17 Juli 2018

DIET KARBO DAN GULA (tulisan yang beda)


Saya memesan makan siang di kantin. Pengelola kantin merespon dengan cepat. Beberapa saat kemudian datanglah Mas Tiyan Kusuma Wardhana dengan senyuman yang khas, akrab dengan siapapun.

Pengelola kantin, mbak Endang Winarti menyapa dengan baik.

"Pak Tiyan tambah langsing."
"Nggih bu. Diet gula."
"Diet gula dan karbo pak?"
"Iya. Alhamdulillah sudah turun xx kg. Badan terasa bugar."
"Saya juga pernah diet gula dan karbo, dalam sebulan turun 5 kg."kata mbak kantin.

Obrolan tentang diet gula dan karbo ini mengingatkan tulisan saya. Kebetulan saya tidak menjalani diet, jadi yang saya tulis berdasarkan pengalaman suami seorang teman menulis (suami bu Hidayati Yansen).

Akhirnya saya ikut nimbrung obrolan. Pada dasarnya, bila menjalani diet harus konsisten dan tidak memaksakan diri secara drastis. Diet dilakukan secara bertahap. Diet karbo dan gula prinsipnya mengurangi mengkonsumsi makanan yang mengandung gula (karbohidrat). Energi didapatkan dari protein yang dikonsumsi. Oleh sebab itu bagi orang yang menjalani diet karbo dan gula, mereka akan mengkonsumsi lebih banyak daging.

Bagi siapa saja yang menjalani diet, jangan sampai membayangkan dalam waktu sekejab bisa langsing dengan penurunan BB secara drastis. Ikuti dulu prosesnya lalu lihat hasilnya.

Saya doakan bagi teman-teman yang sedang menjalani diet bisa berhasil dengan sukses. Karena sehat adalah gaya hidup maka sayangilah tubuh kita.

#kahfinoer