Sabtu, 19 Maret 2016

Teko Kosong Dipanaskan, Kapan Matangnya?

Menjelang bulan puasa tahun ini, saya jadi ingat peristiwa di awal bulan puasa tahun 2001. Ibu mertua biasa memasak lebih sore dibandingkan hari-hari biasa. Alasannya biar semua masakan masih hangat kalau disantap untuk berbuka puasa. Membuat minuman juga mendadak.
Hal semacam ini tidak cocok bagi saya. Seharusnya semua tidak perlu mendadak. Justeru menyantap makanan yang sudah dingin akan lebih menyehatkan, terlebih setelah seharian penuh perut kosong.
Sore itu Ibu mertua bermaksud memasak air, memasak sayur dan menanak nasi. Berhubung kompor yang dimiliki hanya 2 (kompor minyak, waktu itu belum memakai kompor gas), maka 2 kompor dipakai masak secara bergantian.
Kompor yang satu untuk masak air dalam teko cor, kompor yang lain untuk menggoreng lauk, memasak sayur dan menanak nasi. Setelah nasi dimasukkan ke dalam dandang (kukusan), Ibu mertua mulai tidak sabar. Kok air pada kompor satunya tidak umep-umep (mendidih). Padahal sudah satu jam lebih.
Saya ingin memasak mie instan yang akan saya suapkan untuk anak saya.
“Bu, teko cornya di pindah ke kompor yang satunya saja. Saya mau masak mie.”
“Eit, jangan. Kalau mau masak mie, pakai kompor sebelahnya saja.”
Selesai memasak mie, saya menyuapi anak saya. Akan tetapi saya sempat melihat Ibu mertua mengambil tutup teko yang mulai meleleh. Saya tidak berkomentar, takut nanti salah. Sudah kemrungsung (tergesa-gesa plus panik), masih ribut lagi. Ya sudah mengalah.
Ibu mertua berusaha mengganti tempat, supaya air cepat masak. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Setelah diangkat ternyata teko cor sangat ringan alias kosong. Saya, suami dan ipar-ipar kemudian tahu setelah Ibu mertua menggerutu.
“Badalah, jebul tekonya kosong. Berarti tadi lupa tidak diisi air. Slamet, slamet, kompornya tidak kehabisan minyak tanah. Kalau kehabisan minyak tanah bakalan meledak dan kebakaran.”
Saya  langsung tanggap dan masak air sedikit saja, sekedar cukup untuk membuat teh hangat untuk sekeluarga.
“Coba, tadi kalau saya boleh masak mie pake kompor itu. Jadi ketahuan kalau tekonya kosong.”
Ibu mertua cuma plengah-plengeh (tersenyum). Batin saya, ini pelajaran yang sangat berharga. Saya akui, Ibu mertua terlalu sibuk (tapi kalau dibantu-bantu kadang menolak). Selain mengurus rumah tangga, Ibu mertua juga berjualan, dengan membuka toko kelontong dan menyediakan peti mati (dan uba rampenya = perlengkapannya).
Ternyata teko cor yang belum diisi air ditaruh di atas nyala api lalu ditinggal pergi untuk meladeni pembeli (membeli peti mati). Setelah selesai meladeni pembeli, lupa mengisi air. (Kebiasaan Ibu mertua memasak air dengan menaruh teko di atas api, baru mengisi airnya. Berbeda dengan saya yang mengisi air dalam teko lalu memanaskannya).
Kejadian lupa memasak ini tidak hanya sekali. Yang sering adalah memanaskan sayur sampai gosong atau mengukus nasi sampai gosong karena kehabisan air. (SELESAI)

Karanganyar, 25 Juni 2014