Kamis, 31 Maret 2016

The Power of Writing (Bagian 3)


Komitmen Menulis
Menulis itu membutuhkan komitmen. Tanpa komitmen, sebuah tulisan tak mungkin jadi. Membangun komitmen menulis memang bukan hal mudah. Komitmen harus diperjuangkan dan diusahakan. Bapak Ngainun Naim ingin memenuhi komitmen untuk menulis setiap hari, walaupun hanya satu halaman. Dengan menulis setiap hari inilah maka muncul tulisan-tulisan dalam berbagai bentuk. Kesemuanya itu bisa dibaca di facebook, journal, buku, blog dan lain-lain.
Berjejaring
Bila ingin memiliki tulisan yang bermutu maka harus terus belajar. Salah satunya adalah belajar ke sesama penulis. Cara belajar bersama penulis lain adalah dengan bergabung dengan grup/komunitas kepenulisan. Grup/komunitas kepenulisan ini bisa kita dapatkan di jejaring social atau tempat berkumpulnya penulis di suatu wilayah (berkomunikasi langsung).
Bila ada kesempatan, bisa memanfaatkan waktu pertemuan dengan penulis yang datang ke kota/daerah. Berbagai acara diskusi tentang kepenulisan oleh penulis bisa digunakan untuk tanya jawab, berbagi pengalaman, menggali ilmu.
Facebook dan blog juga bisa digunakan untuk belajar tentang menulis dari penulis-penulis. Bapak Ngainun Naim menuliskan bahwa Bapak Much. Khoiri (kebetulan beliau berdua teman saya di www.kompasiana.com)  menyebutkan beberapa alasan mengapa penulis harus membangun jejaring, antara lain:
1.      Penulis memerlukan pembaca (di antara pembaca kemungkinan ada penulis)
2.      Jejaring memungkinkab para penulis berbagi pengetahuan, pengalaman, strategi penerbitan, atau strategi pemasaran atas karya atau buku yang dihasilkan.
3.      Penulis perlu jejaring untuk saling mengangkat
4.      Jejaring penulis akan memperkuat posisi tawar
5.      Pembelaan
6.      Menulis bareng
Tugas Penulis Itu Menulis
Tugas penulis adalah menulis. Bukti seorang penulis adalah karya yang dibuat. Di kompasiana menulis tanpa jeda menjadi tantangan sendiri. Menulis saja tidak cukup, karena harus memosting (mengirimkan) tulisan. Untuk memosting tulisan perlu perjuangan karena tidak mudah. Hal ini berkaitan dengan sinyal internet. Apabila sudah bisa memosting tulisan dengan sukses, maka tetap harus disiplin menulis. Karena penulis tugasnya menulis, dan tidak berhenti sampai memosting tulisan.
Injeksi Spirit Menulis
Seorang penulis memerlukan bacaan. Bacaan ini tentu saja dari penulis lain. Bahan bacaan ibaratnya adalah asupan gizi yang harus dikonsumsi oleh penulis. Bahan bacaan tentang kepenulisan menjadi penyemangat bila spirit mulai menurun. Selain bahan bacaan, sebagai injeksi spirit menulis adalah bertemu dengan penulis lain yang berbagi cerita, bertukar pengalaman dan mengambil hikmah.
Tulisan dan Kepercayaan
Tugas penulis adalah menulis. Bila tulisan yang dihasilkan bagus, tentu saja dapat dimuat di media. Orang akan percaya dengan kualitas tulisan yang sudah dihasilkan. Semakin sering tulisan yang dihasilkan dimuat di media, orang semakin percaya bahwa tulisan yang dihasilkan memang berkualitas.  Tulisan yang berkualitas adalah tulisan yang bermanfaat dan mengandung suatu kebaikan.  
Membuat Tulisan Ilmiah Secara Renyah
Seorang penulis yang baik harus selalu membuka dirinya untuk memahami berbagai fakta, realitas, atau bacaan untuk kemudian menyerapnya, dan kemudian mengikatnya menjadi sebuah tulisan. Jika sikap ini diusahakan untuk selalu dikelola dan dirawat secara baik maka tulisan demi tulisan dapat selalu diproduksi.
Tulisan sebagai bentuk komunikasi tertulis akan dapat menyampaikan materi atau isi tulisannya sebagaimana diharapkan manakala dituangkan dalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap.
(BERSAMBUNG)