Jumat, 14 April 2017

SEKOLAH NON FORMAL KEJAR PAKET JURUSAN LALU LINTAS


Maharani tersenyum membaca chat teman-teman tentang susah payahnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM).

@Yur
Merindukan SIM yang belum jadi. Gak lolos2 ujian praktek, lalu jatuh, ujian lagi, lalu ngidam, ujian ditinggal. Tapi kalau peserta lain yang sebulan lebih itu diajak ke belakang mobil lalu pergi (nahhh!). aku kok gak ya malah disuruh kir lagi, ujian lagi.

@Nof
Aku dulu SIM C nilai ujian tertulisnya mepet banget. Kalau ujian prakteknya pertama gak lulus gara2 nabrak pembatas kerucut itu. Sama pak polisinya aku disuruh besok ujian lagi. Tapi aku gak mau. taktunggu pak polisinya sampai semua peserta sudah pulang. Terus saya bantu pak polisi angkat-angkat peralatan tes sambil ngerayu minta dites ulang saat itu juga. Alhamdulillah, lolos.

@Neng
Ngantar anak lanang ujian praktek sampai tiga kali. Yang kedua kali aku nyoba ngajak kong kalingkong nembak saja, polisinya nggak mau. disuruh manut prosedur.

Ngantar anak wedok, sekali ujian praktek lulus, la kok aku dibisiki sama loketnya, biaya langsung ke kaur simnya. Biaya seperti aku nembak, gak sesuai tariff yang dipasang (wkwkwk)

@Rani
Beruntungnya saya. Sekitar 7 tahun yang lalu tanpa basa basi, suami bertemu seorang teman. Bisik-bisik, kir dokter juga Cuma ditanya berat badan dan tinggi badan. Besok paginya disuruh ke ruang ujian tulis. Ngisi data, dipanggil langsung foto. Kelar deh!

Tapi saya ditertawakan teman sekantor. Haha, bu Rani ki ora iso numpak pit kok duwe SIM. Jawab saya: kalau ada razia yang ditanyakan SIM-nya, bukan bisa naik motor atau tidak. Waktu itu bayar 250 ribu, untuk lima tahun. Berarti setahun 50 ribu. Jadi sebulan tidak sampai 5 ribu, murah bukan?

Waktu perpanjangan kan nggak mahal. Enaknya hidup saya, tapi gak berani jarak jauh. Maklum numpak sepeda mung nggo genep-genep biar tidak tergantung sama suami.

Bagi yang nembak membuat SIM sepertinya enggak berdosa deh. Coba dipikir, enggak ada pelajaran mengendari motor/mobil, tidak ada latihan tes tertulis, tidak tahu kisi-kisi soal, tau-tau disuruh tes. Yang namanya tes itu kalau sudah menerima materi pelajaran. Materinya adalah Lalu Lintas.

Kalau punya SIM sambil belajar naik motor atau nyopir mobil kan pas pas saja. Yang penting usianya sudah 17 tahun. Barulah kalau melakukan pelanggaran polisi bisa memberi surat tilang. #membela diri

Nyopir itu kalau sudah kulina ya bisa. Kalau nggak kulina (terbiasa) ya nggak bisa. Biar bisa ya sering nyopir, biar nggak ketilang, ya punya SIM #eh ngeyel.
00000

Usul untuk penguji praktek pembuatan SIM:
Mbok ya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas. Di situ diberi pelajaran tentang lalu lintas. Materinya dikelompokkan dalam beberapa bab. Satu bab bisa dipelajari lalu diujikan. Seperti anak sekolah formal itu lo. Ada pelajaran lantas tes. Tesnya bisa open book, hehe. Boleh njaplak atau mencontek.

Kalau seperti itu pasti meminimalkan gagal ujian tertulis. Setelah itu pelajaran mengendarai motor model sekolah akselerasi. Semakin cepat materi dikuasai maka ujian praktek bisa segera dilaksanakan. Ujian prakteknya jangan ada zig-zag atau berjalan jalur angka delapan. Kalau di jalan raya, mengendarai kendaraan dengan berjalan zig-zag itu berbahaya.

Ujian prakteknya cukup lewat jalan raya bareng-bareng. Karena kita biasa lewat jalan raya. Kalau kebetulan ada rintangan lalu kita harus jalan berkelok-kelok, ya pasti kita pelan-pelan dan berhitung secara cermat. Ujian yang ribet membuat grogi dan deg-degan.

Seandainya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas, pasti banyak yang ikut. Apalagi sekolahnya secara online hehe.


Karanganyar, 14 April 2017

PENULIS HARUS JELI MENANGKAP IDE

Dahulu, ketika laptop saya hilang dicuri maling, sehari kemudian saya dihubungi polisi. Tiga polisi langsung menuju sekolah tempat saya mengajar. Waktu itu, saya berada di rumah menenangkan diri untuk berdamai dengan musibah. Batin saya, kok polisi tahu kalau saya kehilangan laptop. Saya langsung mengambil kesimpulan kalau laptop sudah berada di tangan polisi kurang dari 24 jam. Padahal saya belum membuat laporan di kantor polisi.

Saat saya bertanya kok pak polisi tahu kalau saya kehilangan laptop? Salah satu di antara mereka bilang polisi itu duduk di kantor tapi telinganya ada di mana-mana.

Halah pak, pasti sampeyan sudah buka laptop saya kan? Saya kehilangan laptop di rumah. Kok sampeyan mencari saya di sekolah, padahal kita ndak saling kenal. Di laptop saya kan ada naskah-naskah dengan biodatanya dan alamat yang saya pakai/tulis adalah alamat sekolah.

Lupakan peristiwa saya kemalingan laptop. Sekarang fokus pada telinganya ada di mana-mana. Saya pernah diledek teman, katanya kalau punya cerita lucu jangan diceritakan keras-keras supaya saya tidak mendengar. Alasannya adalah karena apapun yang saya dengar dan bisa ditulis bisa mendapatkan uang. Tiga kali tulisan saya “Cerita Humor Jon Koplo” di Solopos dimuat. Ketiganya adalah hasil nguping cerita teman-teman.

Itu baru ide datang dari seputar sekolah. Belum lagi kalau saya berjalan-jalan atau makan-makan. Semua bisa saya tulis. Ide tulisan memang bertebaran di mana-mana tapi kalau kita tak jeli menangkap dan segera menuliskan, ide akan hilang begitu saja tanpa bekas.

Beberapa teman memang dengan suka rela mau menceritakan pengalamannya. Mereka sadar sepenuhnya kalau apa yang diceritakan akan saya tulis. Mereka senang-senang saja. Saya juga dengan ikhlas bagi-bagi jajanan dari honor pemuatan cerita lucu. Ada hubungan simbiosis mutualisme.

Untuk tulisan yang saya tayangkan di blog, bisa jadi tulisan tersebut hasil dari saya membaca, oleh-oleh dari jalan-jalan, peristiwa mengejutkan di kantor dan lain-lain. Oleh karena saya suka menulis tentang keseharian maka saya tidak membatasi hanya pada satu tema. Tulisan yang saya tulis temanya bermacam-macam. Semua saya tulis berdasarkan mood. Kalau sedang tidak mood, saya menulis hal yang ringan-ringan.

Saya termasuk orang yang rada heboh dan suka bercerita dengan menggebu-gebu. Tulisan saya cermin suasana hati saya. Pengalaman masa kecil, masa remaja, menjadi orang tua membuat saya mudah menyesuaikan diri. Dalam menulis, saya juga melakukan penyesuaian. Saya berusaha untuk menulis tidak monoton. Supaya tulisan saya bervariasi maka saya perlu mencari ide ke mana-mana.

Suami saya juga tahu akan kebutuhan mencari ide. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan ide cemerlang, suami rela mengantarkan saya mencari dan mengumpulkan ide. Yang penting idenya dituangkan dulu secara garis besar. Kalau perlu untuk membuat tulisan berkualitas, saya harus meluangkan waktu untuk sekadar mengembangkan ide tersebut.

Kalau kita belum ada ide, kita bisa keluar rumah, lalu naik sepeda ke jalan raya. Di luar  sana banyak yang bisa kita tulis. Kita tidak akan kehabisan ide selagi kita serius mau menulis.


Karanganyar, 14 April 2017

Rabu, 12 April 2017

Cara Mengedit Naskah oleh 3 Editor

Ketika kami berdiskusi tentang mengedit naskah atau tulisan, ada 3 narasumber yang ahli dalam bidangnya. Ketiga narasumber tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuannya sebab mereka bekerja sesuai bidangnya, yaitu sebagai editor.
Adapun ketiga narasumber tersebut adalah mbak Neng, mbak Misb, dan mbak Rien. Mbak Neng dan mbak Misb, spesialis mengedit naskah Lembar Kerja Siswa (LKS) dan mbak Rien spesialis mengedit naskah pada lomba dan naskah buku.
Setelah diuraikan panjang lebar, sungguh saya menjadi melongo dibuatnya. Ternyata pekerjaan editor “sangat kejam”. Akan tetapi kekejaman ini sebenarnya untuk kebaikan penulis. Mengapa demikian? Sebab tulisan yang diedit besar-besaran dengan cara yang “kejam” ini akan menghasilkan naskah akhir yang lebih baik.
Pesan ketiga editor kepada kami, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit atau media, sebaiknya diedit terlebih dahulu. Tugas editor memang mengedit naskah tapi jangan sampai merubah total naskah. Kami, anggota IIDN yang mengikuti kopdar menjadi lebih paham. Tugas editor ternyata berat juga.
Kami siap kecewa bila naskah atau tulisan kami dibantai habis-habisan. Oleh sebab itu jangan terlalu percaya diri setelah tulisan kita selesai dibuat. Tulisan yang kita anggap baik, belum tentu layak terbit atau layak tayang/dimuat di media.
Pesan mbak Neng adalah menulislah dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pakailah EYD, buatlah kalimat dengan pola SPOK. Menurut saya, menulis dengan pola SPOK sepertinya tulisan menjadi kaku. Lebih enak menulis dengan bahasa tutur yang mudah dipahami. Asal menuliskan tanda baca sesuai EYD maka tulisan akan memiliki makna.
Aktifitas menulis sangat menyenangkan. Seandainya jam terbang penulis sudah tinggi, kemungkinan kecil tulisannya banyak diedit sana-sini. Tapi ada kasus bahwa seorang editot ditantang untuk membuat tulisan. Ternyata seorang editor juga memiliki kesulitan untuk menulis. Buktinya, tulisan/naskah yang dibuat mengundang reaksi editor lain untuk mengoreksi.
Akan tetapi, seorang editor yang baik selalu berpesan kepada penulis-penulis. Pesannya adalah: jangan hanya karena dikririk, karya dibantai, lalu down, trauma berkepanjangan lalu tidak mau menulis lagi. Jadi penulis itu mesti tangguh. Setuju!
Untuk penulis pemula, segera menulis. Usahakan menulis sesuai bidangnya. Menulis mengalir begitu saja tidak perlu teori yang malah membuat kepala pusing. Kalau sudah menulis lalu dibaca kembali selanjutnya diedit. Tulislah materi yang ringan-ringan saja. Sebagai penulis pemula, tidak perlu menulis hal-hal yang berat.
Kalau kita menulis sesuai kata hati nurani, tentu saja tulisannya akan mengalir begitu saja. Memang kadang mengawali suatu tulisan tidaklah mudah. Semua butuh proses dan bisa dipelajari. Harapan kita tulisan kita mendekati sempurna dan berkualitas. Amin.

Karanganyar, 12 April 2017

Selasa, 11 April 2017

Jon Koplo : Dikerjai Kartu

Ceritanya Mbak Ima dan Mbak Daruti, kelihatan ndesitnya, hahaha
VERSI SOLOPOS Senin 3 April 2017
Jon Koplo
dok.pri
AH TENANE
Kartu Ajaib
Lady Cempluk, Genduk Nicole, Jon Koplo, dan lainnya mengikuti diklat di Semarang selama 2 hari. Setelah cek in, Cempluk dan Nicole menuju kamarnya di lantai 9.
Baru pertama kali ini Cempluk harus membuka pintu dengan kartu elektrik. Dikiranya ada lubang di pintu lalu kartu dimasukkan (seperti mesin ATM). Cempluk mencari lubang, kok nggak ketemu. Keduanya sempat mau turun lagi.
Tiba-tiba muncul 2 bapak-bapak penghuni kamar sebelah. Nicole tidak malu untuk minta tolong. Gembus meminta kartu pembuka pintu.
“Saya juga coba-coba. Mari kita coba,”kata Gembus.
Kartu hanya ditempelkan pada gagang/handle pintu. Pintu terbuka. Cempluk dan Nicole menarik napas lega.
“Makasih Pak Gembus.”
“Sami-sami.”
Cempluk dan Nicole 3 kali mencoba menutup dan membuka pintu. Yes, berhasil. Keduanya masuk. Setelah tas dimasukkan kamar, Cempluk memasukkan kartu di wadah dekat saklar. Byar, Alhamdulillah lampunya hidup.
Setelah diklat selesai, waktunya pulang. Tas Cempluk dan Nicole sudah dibawa keluar. Cempluk menerima telepon dari Koplo. Selesai terima telepon, pintu ditutup. Dan, hah kartunya mana?
“Kartunya mana Nic?”
“Lo, apa belum dibawa? Tadi yang bawa kan sampeyan.”
“Waduhhh, gimana nih ketinggalan di dalam?”
Akhirnya mereka turun dan laporan ke resepsionis.
“Ndak apa-apa, Bu. Kalau Ibu mau masuk kamar lagi, bisa pinjam kartu di sini.”

“Tidak kok, Cuma mau bilang kalau kartunya ketinggalan di kamar,”kata Cempluk tersipu malu. (SELESAI)

Sumber: Solopos, Senin 3 April 2017 Hal 1,6

PENULIS BERTUGAS MENGEDIT TULISAN


Kopdar IIDN Solo  pada hari Ahad, 9 April 2017 bertempat di Rumah Joglo, Makam Haji, dihadiri oleh 27 anggota IIDN Solo Raya. Kopdar kali ini memperkenalkan beberapa anggota baru. Anggota IIDN Solo Raya yang termuda adalah Zata kelas 6 SD (jelas belum Ibu-ibu dong).

Pada kopdar kali ini materi yang dibahas adalah mengedit tulisan.

Kita sering mendengar/membaca tulisan bahwa seorang penulis juga merupakan pembaca. Orang yang suka menulis tentu suka membaca. Dengan membaca, penulis tidak akan kehilangan ide. Dengan membaca, penulis tidak akan menulis sembarang tulisan tanpa dasar. Penulis yang baik akan mempertanggungjawabkan semua yang ditulisnya. Kritik, saran dan masukan dari pembaca, sangat dibutuhkan penulis.

Sebelum menayangkan sebuah tulisan, sebaiknya tulisan yang sudah jadi, diendapkan terlebih dahulu. Setelah diendapkan barang sehari, tulisan dibaca kembali. Penulis membaca kembali tulisannya yang sudah selesai. Dalam hal ini, penulis bertindak sebagai pembaca, bukan sebagai seorang penulis. Tujuan membaca kembali tulisan yang sudah dibuat adalah untuk mengedit tulisan.

Seorang pembaca biasanya sangat kritis. Pembaca akan menemukan tulisan-tulisan yang perlu diperbaiki walaupun bukan keseluruhan tulisan. Pembaca akan menilai sebuah tulisan secara obyektif. Meskipun tulisan yang diedit adalah tulisannya sendiri, tetapi pembaca yang baik akan menilai apa adanya suatu tulisan. Baik akan dikatakan baik, kurang juga akan dikatakan kurang.

Pembaca bertugas mengedit tulisan. Oleh karena tulisan yang dibaca adalah tulisan sendiri maka sudah semestinya seorang penulis memiliki tugas mengedit tulisannya sendiri. 

Ternyata mengedit tulisan adalah pekerjaan yang menyenangkan. Kita akan lebih tahu kekurangan kita. Mungkin kita akan menemukan kesalahan pada tanda baca, kata baku, kalimat tidak efektif dan korelasi antara kalimat satu dengan kalimat yang lain. Penulis juga akan menemukan kalimat/kata yang janggal dalam suatu tulisan, konsistensi penulisan juga dapat penulis temukan (misalnya: penggunaan kata ganti aku, saya).

Sebagai seorang penulis, kita memiliki kewajiban untuk membuat tulisan yang berkualitas. Tulisan yang berkualitas akan dapat kita buat seandainya kita banyak membaca. Dengan banyak membaca tulisan, buku atau karya orang lain, kita akan menemukan gaya tulisan kita sendiri. Kalau kita membuat tulisan sendiri, tidak sekadar copy paste, maka gaya tulisan yang terbentuk adalah gaya tulisan kita sendiri.

Penulis bisa mempelajari penulisan sambil membuat tulisan. Penulis memerlukan pedoman agar dapat membuat tulisan yang baik. Minimal ada 2 buku yang wajib dimiliki seorang penulis yang berkaitan dengan tugas penulis sebagai editor. Dua buku tersebut adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan buku pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Penulis dapat mengedit tulisannya sendiri. Namun, penulis harus bisa secara obyektif menilai tulisannya sendiri. Jangan sampai merasa tulisannya sudah baik dan tidak perlu diedit. Sebaik-baik tulisan kita, tetap perlu diedit terlebih dahulu.

Sebagian dari penulis, karena dikejar deadline maka tidak memiliki waktu untuk mengedit. Penulis memang berhasil menyelesaikan tulisan, tetapi belum tentu tulisan tersebut adalah hasil karya yang terbaik. Hal ini sering terjadi ketika penulis mengikuti lomba. Karena DL mendesak, jadilah tulisan apa adanya tanpa polesan sana sini.

Oleh sebab itu, untuk mendapatkan tulisan yang baik, sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk menyelesaikan tulisan. Nikmati proses menulis, lalu endapkan hasil tulisan selama sehari. Ketika kita mengedit tulisan rasakan sensasinya. Penulis memiliki kewajiban untuk mengedit tulisannya. Apapun tulisannya harus diedit.

Kopdar kali ini sangat seru, berbagi ilmu berbagi pengetahuan.

Karanganyar, 11 April 2017

Sumber tulisan : Tulisan Noer Ima Kaltsum dengan alamat: 

http://www.soloensis.com/11/04/2017/penulis-bertugas-mengedit-tulisan-1774.html

Sabtu, 08 April 2017

GROUP WA TEMPAT MENJALIN PERTEMANAN BUKAN TEMPAT UNTUK BERTENGKAR

Bismillah, Alhamdulillah, hari ini saya masih diberikan nikmat sehat dan umur panjang. Betapa saya sangat bersyukur karena mendapatkan oksigen secara gratis, dapat makan makanan tanpa berpantang. Syukur-syukur dapat makanan secara gratis/cuma-cuma.

Tidak lupa saya terus bersyukur diberi nikmat iman, rezeki barokah, saudara-saudara yang baik hati, keluarga yang senantiasa memberikan dukungan, dan teman-teman yang baik. Teman-teman yang saya maksud adalah teman di dunia nyata maupun teman di dunia maya.

Meskipun di dunia nyata belum pernah bertemu dengan teman di dunia maya, tapi saya berusaha untuk tetap santun dalam bergaul. Saya berusaha untuk mengikuti pertemanan dengan baik dengan teman di dunia maya.

Sudah umum, sebagian dari kita  memiliki alat komunikasi yang bisa terhubung dengan teman di dunia maya lewat WA. Mungkin dari kita masuk dalam group WA tertentu dengan berbagai kepentingan. Akan tetapi, jelas, keikutsertaan kita dalam suatu group WA memiliki niat yang baik yaitu menjalin komunikasi dengan teman secara baik.

Namun, kadang-kadang ada suatu hal yang membuat kita tidak merasa nyaman dengan pembicaraan/topik/tema/bahasan dalam obrolan. Biasa, itu wajar-wajar saja. Kalau sekiranya kita tidak sepaham dengan pendapat orang lain, maka langkah yang terbaik adalah diam. Tujuannya agar tidak terjadi gesekan antar anggota group.

Mungkin, kita merasa pendapat kita paling benar, tapi tahanlah. Apa yang kita anggap baik dan benar, belum tentu di mata orang lain kita 100% benar. Kalau kita merasa tidak cocok dengan seseorang (anggota group), bila ingin menegur atau mengingatkan, cukuplah dengan chat pribadi. Jangan sekali-kali menjatuhkan wibawa orang lain di hadapan orang banyak (dalam hal ini konteksnya di group WA, berarti tidak berhadap-hadapan).

Dalam berkomunikasi, meskipun tidak ada aturan tertulis hitam di atas putih, sebaiknya tetap menomorsatukan kebersamaan. Misalnya ada sendau gurau dan canda, jangan terlalu berlebihan. Sebab bercanda berlebihan justeru berakibat tidak baik. Jangan mudah tersinggung dan menyinggung perasaan anggota group. Sekali lagi, tahan!

Kalau semua bisa menahan diri untuk emosi, saya yakin, dalam suatu group akan memberikan manfaat dan memberikan kesan yang baik.

Ada suatu pengalaman: terpaksa saya mengundurkan diri dengan cara pamit, sebelumnya minta maaf dahulu. Penyebabnya adalah dalam group yang sering ada guyonan ini, ternyata ada yang tersinggung. Jadilah salah satu dari mereka marah-marah tak terkendali. Yang satunya lagi (merasa bersalah) minta maaf, baik di group maupun chat pribadi. Tetap saja yang satu marah-marah. Anehnya, kalimat yang dilontarkan tidak ada hubungan sama sekali dengan akar permasalahan.

Saya merasa kok tidak sehat lagi ya pembicaraannya. Saya tidak nyaman kalau seperti ini. Padahal anggoita group setiap hari bertemu di perguruan. Setelah diingatkan : jangan sampai pertengkaran di dunia maya dibawa ke dunia nyata. Yaelah, tetap saja yang terlanjur emosi menulis : jangan ikut campur urusan pribadi.

Mohon maaf, saya kok tidak nyaman ya. Bye-bye.
Ternyata, tidak gampang untuk menahan diri. Padahal, kalau setiap hari bertemu di perguruan, apakah nanti tidak merasa kikuk? Yang penting saya tetap berbuat baik pada seseorang meskipun orang tersebut pernah melukai saya.


Karanganyar, 8 April 2017

Rabu, 05 April 2017

Jangan Menghapalkan Rumus Kimia, Begini Cara Menguasai Penyelesaian Soal Kimia

Praktikum Kimia
dok.PLPG Agustus 2010

Sebagian siswa merasa malas untuk belajar kimia. Hal itu disebabkan karena rumus-rumus kimia yang banyak perlu dihapalkan dan sulit untuk dimengerti. Sebenarnya, rumus kimia tidak perlu dihapalkan dengan muka dilipat dan mulut sedikit monyong, santai saja. Semua bisa dipelajari dengan pembiasaan dan dengan hati riang.
Sebuah contoh seorang anak kecil yang sedang latihan berjalan. Meskipun  sering terjatuh ketika sedang latihan berjalan, anak tersebut tidak jera. Tetap saja anak tersebut berlatih berjalan. Dalam hitungan hari, anak sudah bisa berjalan dengan pelan-pelan tanpa jatuh lagi. Setelah itu, anak tersebut tidak mau lagi tinggal diam. Dia akan terus berjalan bahkan tanpa mengenal lelah.
Contoh yang lain adalah seorang anak yang belajar naik sepeda. Walaupun sering jatuh, kaki dan tangannya ada goresan luka, dia tetap semangat untuk berlatih. Apakah dia bosan atau takut untuk memulai naik sepeda? Pada umumnya anak yang belajar naik sepeda tidak takut memulai naik sepeda lagi. Memang, ada sebagian kecil yang mengalami trauma dan mogok, tak mau lagi berlatih naik sepeda.
Belajar kimia, kuncinya adalah berlatih dan terus berlatih. Sebelum mengerjakan latihan soal, siswa harus membaca buku terlebih dahulu. Kalau perlu, saat diterangkan oleh guru, siswa menuliskan hal-hal yang dianggap penting.
Kalau siswa memiliki kebiasaan untuk menuliskan apa yang sudah didengar atau dibaca, itu artinya lebih memudahkan untuk mempelajari pelajaran kimia lebih lanjut. Salah satu contoh kebanyakan siswa mengalami kesulitan untuk menghapalkan rumus kimia beserta nama senyawanya.
Salah satu dasar agar siswa bisa menuliskan rumus kimia dengan benar adalah siswa mengerti dan memahami anion dan kation. Untuk kation (logam), siswa harus bisa membedakan logam alkali dan alkali tanah. Mengapa demikian? Sebab bila siswa bisa mengelompokkan golongan alkali dan alkali tanah, siswa tahu jumlah muatan suatu logam dalam bentuk kation.
Seandainya materi kation dan anion sudah paham, siswa tinggal banyak latihan mengerjakan soal. Apabila belajar sendiri tanpa teman dan tidak didampingi tutor, siswa bisa membuka-buka buku sewaktu-waktu diperlukan.
Mengerjakan latihan dengan frekuensi banyak atau sering membuat siswa cenderung lebih mudah mengingat-ingat materi rumus kimia dan nama senyawa.
Untuk rumus yang berkaitan dengan hitungan kimia, awalnya harus tahu dasar penggunaan rumus. Seperti memahami satuan, memahami konversi dan tahu rumus. Banyak berlatih mengerjakan soal, selain menghapalkan rumus secara tidak langsung, juga tahu variasi soal. Semakin banyak berlatih, semakin hapal rumus yang akan digunakan sehingga mempercepat pengerjaan soal.
Saya suka mengerjakan soal yang berkaitan dengan hitungan kimia. Dari banyak berlatih ini, saya lebih cepat untuk mengerjakan soal. Kuncinya banyak berlatih.
Ketika saya mengikuti mata kuliah Kapita Selekta Kimia SMA, materi yang harus saya pelajari tidak ada (materi khusus). Hanya mengerjakan soal saja. Soal yang diberikan luar biasa banyak karena mencakup semua pokok bahasan kimia yang diajarkan di SMA. Menghapalkan materi kelas 1, 2, dan 3 SMA dalam waktu satu semester.
Biasanya soal-soal diberikan dengan bentuk dan bahasannya sama, hanya jawabannya dibolak-balik. Di sini saya harus memahami benar dasar materinya. Apakah saya bosan dengan mata kuliah yang membahas mengerjakan soal dengan cepat ini? Tidak, jawabannya. Dengan mengerjakan soal yang banyak ini, mau tidak mau saya jadi menghapal rumus.
Jadi menghapalkan rumus tidak perlu dengan mulut komat-kamit, bersemedi, tutup telinga agar tidak mendengarkan hal-hal lain.
Contoh soal matematika: tuliskan rumus luas lingkaran! Kalau sudah hapal rumus luas lingkaran, lalu terapkan dengan cara banyak berlatih mengerjakan soal tentang luas lingkaran. Mungkin yang ditanyakan jari-jari lingkaran, diameter dan luas lingkaran.
Mari, banyak berlatih mengerjakan soal kimia agar Anda bisa mengingat rumus kimia tanpa harus menghapalkannya.
Karanganyar, 5 April 2017

Sumber tulisan Noer Ima Kaltsum dalam:

http://www.soloensis.com/05/04/2017/jangan-menghapalkan-rumus-kimia-begini-cara-menguasai-penyelesaian-soal-kimia-1768.html

Senin, 03 April 2017

Menjadi Guru SMK Itu Kerjanya Tidak Hanya Duduk Manis

Bengkel Pemesinan di Jumantono
dok.pri

Kalau ada orang yang bilang menjadi guru itu enak ya. Kerjaannya tidak berat, gajinya dobel (maksudnya ada gaji dan tunjangan sertifikasi), kerjanya duduk manis. Stop, jangan pernah bilang seperti itu, terutama kepada guru yang mengajar di SMK (swasta pula).
Orang yang pernah bilang seperti itu biasanya karena hanya melihat sisi enaknya saja. Dan ketika melihat dengan mata yang sehat. Kalau seorang guru yang mengajar sampai sore, pasti juga dibilang pasti dapat uang lembur.
Guru SMK itu kerjanya tidak hanya di dalam kelas tapi juga di lapangan. Memang untuk outing class itu asyik banget. Coba kalau di lapangan dalam rangka memjadi pembimbing anak-anak PKL/PSG pasti banyak yang kesabarannya diuji.
Saya mengajar di SMK jurusan Teknik Pemesinan, Teknik Kendaraan Ringan, dan Multimedia. Kebetulan saya menjadi pembimbing siswa jurusan Teknik Pemesinan. Siswa-siswa yang saya bimbing, menjalankan PSG di bengkel. Keempat siswa yang saya bombing, bengkelnya berbeda. Ada tiga bengkel yang harus saya kunjungi. Dari ketiga bengkel tersebut, lokasinya membentuk bangun segitiga. Alamak, tidak ada yang satu jurusan alias tidak diblok. Belum lagi medannya berat.
Hanya sabar kata kuncinya. Pernah suatu hari, saya melakukan monitoring di salah satu bengkel yang letaknya di tengah sawah. Hujan lebat saat saya berada di perjalanan. Saya hanya berdoa, ya Allah, jadikan ladang amal ibadah pekerjaan saya ini. Meskipun memakai jas hujan, tetap saja basah. Waktu itu saya bertiga dengan suami dan si kecil. Si kecil juga basah. Sabar…
Ada yang membuat saya lega dan puas, karena siswa saya rajin, tidak membolos. Pekerjaan siswa di bengkel kan hubungannya dengan material kotor, jadi saya juga santai saja, tidak merasa ah nanti saya ikutan kena oli, gemuk lalu kotor. Kotor tinggal cuci tangan. Gitu aja nggak repot kan?
Dengan lokasi bengkel membentuk bangun segitiga inilah dalam sehari kadang tidak bisa selesai memonitoring. Saya masih beruntung, keempat siswa saya tidak ada yang suka membolos. Saya membandingkan dengan siswa bimbingan teman guru. Ada yang tidak masuk tanpa keterangan, ada yang datangnya siang, ada yang tidak giat melakukan pekerjaan dan lain-lain.
Terhadap siswa, saya memang berlaku keras dan tegas. Saya tidak mau siswa-siswa saya bermasalah di bengkel tempat PSG. Karena kalau siswa bermasalah, tahun depan adik kelasnya mengalami kesulitan bila minta izin untuk PSG di tempat yang sama.
Sebelum siswa menjalankan PSG, biasanya diberi pembekalan dari sekolah. Saya selalu memberikan penekanan lagi, agar siswa tidak melaksanakan PSG sak kepenake dewe. Oleh sebab itu, dalam kondisi apapun, siswa akan memberi tahu saya selama kegiatan PSG berlangsung dan bila mengalami kesulitan/masalah.
Jadi, guru SMK itu kerjanya tidak hanya duduk manis saja.
Karanganyar, 3 April 2017

Sabtu, 01 April 2017

Kimia Itu Menyenangkan Kimia Itu Tidak Membosankan

Sublimasi Iodin
dok.PLPG bulan Agustus 2010
Sebetulnya, saat kelas 1 SMA, guru matematika yang mengajar saya juga tidak asyik cara mengajarnya. Tapi saya harus menerima dengan hati yang lapang dan ikhlas. Saya kan tidak bisa memilih guru sesuka hati. Semua sudah dipilihkan dari sekolah. Semua siswa harus tunduk.
Sejak SMP kan saya paling suka pelajaran matematika. Mau tidak mau dan suka tidak suka, saya harus mengikuti pelajaran matematika SMA yang diajar oleh guru yang ada  meskipun dengan terpaksa. Tapi, lumayanlah saya tidak terlalu kecil ilmu matematikanya. Kalau diajar saya cukup mampu untuk menerima ilmunya.
Naik kelas dua, guru matematikanya adalah wali kelas saya sendiri. Guru matematika yang keren dan memang jadi idola di sekolah. Menerangkan gampang dicerna. Karena suka dengan cara gurunya menerangkan, maka saya jadi suka dengan pelajarannya. Sepertinya pelajaran matematika dan kimia di kelas 2 dan 3 menjadi teramat menyenangkan.
Meskipun pelajaran matematika dan kimia itu menyenangkan, tapi karena sekarang saya lebih konsentrasi pada bidang studi kimia, maka yang dibahas kimia saja. Nah, kita membahas kimia itu menyenangkan. Rasanya sayang sekali kalau tak mengikuti pelajaran kimia dalam sehari.
Kimia itu menyenangkan. Kamu tidak percaya kalau kimia itu menyenangkan? Coba baca dulu materi kimia yang dasar. Pada awal-awal belajar kimia dahulu ditunjukkan beberapa reaksi kimia. Saya berdecak kagum, wow… perubahan kimia seperti itu. Kok bisa ya? Ya, bisa saja. Di dunia ini kan Tuhan menciptakan sesuatu untuk dipelajari manusia. Dan semua kemungkinan bisa terjadi, bahkan kita tidak menduga sebelumnya.
Seandainya di sekolah tidak bisa melakukan banyak praktikum, di rumah atau di mana saja kita bisa melakukan praktikum dengan alat dan bahan sederhana. Tidak semua praktikum kimia memerlukan alat dan bahan yang rumit dan mahal. Dalam belajar kimia, alat dan bahan yang digunakan untuk suatu praktikum bisa bermacam-macam.
Suatu contoh kita akan mempelajari gejala-gejala yang menyertai perubahan kimia. Salah satu di antara gejala-gejala yang menyertai perubahan kimia adalah perubahan warna. Contoh reaksi kimianya adalah basa ditambah indicator pp. Awalnya kedua larutan tersebut masing-masing tak berwarna. Setelah keduanya dicampur, maka larutan berubah menjadi merah muda (pink). Perubahan warna inilah yang menunjukkan adanya reaksi kimia.
Kalau kita mau mencoba praktik di rumah, tentu tidak perlu menggunakan indikator pp dan larutan basa. Kedua bahan tersebut bisa kita substitusi dengan air sabun dan kunyit. Kunyit berwarna kuning. Bila kunyit kita masukkan ke dalam air sabun maka warna kunyit berubah menjadi merah. Nah, gampang kan?
Biasanya kalau kita merasa mempelajari atau memraktikkan sesuatu dengan mudah maka kita akan senang dengan pekerjaan itu. Jadi kalau kimia itu gampang, kita akan senang belajar kimia. Tentu saja karena kimia itu memang menyenangkan.
Ketika kelas satu, saat pelajaran PKK ada materi pembuatan telur asin dan tape. Membuat telur asin, merupakan salah satu contoh perubahan fisika. Sedangkan pembuatan tape, merupakan contoh perubahan kimia. Memangnya ada apa dengan tape, kok peristiwanya dinamakan perubahan kimia atau reaksi kimia?
Tape adalah makanan dengan bahan dasar singkong (tape singkong). Dengan proses peragian, maka karbohidrat dalam singkong berubah menjadi alkohol. Karena ada perubahan sifat secara permanen inilah maka pembuatan tape/peragian digolongkan perubahan kimia.
Belajar kimia di dalam ruangan kelas dengan setumpuk buku pasti membuat kening kita berkerut dan kita merasa bosan. Kalau tempat belajar kita pindah ke tempat pembuatan pupuk, tahu, tempe, tape, ke Badan Atom Tenaga Nuklir, pasti kita semangat. Mengapa demikian? Karena kita belajar dengan cara yang menyenangkan.
Jangan ragu-ragu untuk belajar kimia. Kimia itu menyenangkan, kalau kita belum juga senang belajar kimia ya belajar kimia dengan terpaksa terlebih dahulu. Awalnya terpaksa belajar kimia, lalu membiasakan diri belajar kimia akhirnya senang belajar kimia. Kalau sudah tahu ilmunya saya yakin Anda pasti senang belajar kimia.
Senang belajar kimia membuat kita bisa menguasai kimia. Tidak ada ruginya senang belajar kimia. Sekali lagi, kimia itu bukan hanya di buku teks. Kimia itu bisa kita pelajari dari mana saja.
Kimia, cabang ilmunya bermacam-macam. Ada kimia industry, tekstil, pangan, farmasi, kimia lingkungan dan lain-lain. Masing-masing, yang dipelajari tidak sama. Misalnya sekarang disuruh untuk memilih, saya akan memilih kimia pangan. Lumayan kan bisa icip-icip.
Tapi saya sudah tidak bisa memilih karena memang dulu semua harus dipelajari. Ketika SMA, semua materi kimia harus dipelajari. Ketika kuliah, mata kuliahnya kan berupa paket bukan pilihan, jadi semua harus diikuti. Meskipun materi yang harus dipelajari banyak tapi tetap saja kimia itu menyenangkan.
Saya selalu memberikan motivasi ke anak didik/siswa saya untuk belajar kimia dengan senang hati. Lantas bagaimana dengan anak saya sendiri? Apakah dia juga menganggap kimia itu menyenangkan? Ternyata berbeda pendapat antara saya dan anak saya. Menurut anak saya, kimia itu sulit dan tidak terlalu menyenangkan. Setelah saya ajak bicara santai, alasannya karena gurunya. Ya sudah, saya tidak bisa memaksa padanya untuk mengatakan bahwa kimia itu menyenangkan.
Karanganyar, 1 April 2017     

Sumber tulisan Noer Ima Kaltsum di:

Kimia Itu Gampang, Kimia Itu Tidak Sulit

Kimia itu gampang. Kimia itu mudah. Kimia itu tidak sukar dan sulit. Kimia itu bisa dipelajari dari kehidupan sehari-hari. Kalau mendengar kata-kata kimia jangan gentar, gemetar, dan takut. Biasa saja, santai saja, jangan spaneng, slow saja.
Dahulu saya juga menganggap kimia itu sulit. Belajar kimia akan selalu mengerutkan kening dan mulutnya sedikit monyong. Ah, dugaan saya keliru. Mengapa dahulu ketika saya belajar kimia menganggap pelajaran itu sulit? Ternyata saya salah menempatkan diri. Saya pernah salah cara menyerap ilmunya.
Dan yang paling saya ingat adalah awalnya saya tidak begitu suka dengan cara guru menyampaikan pelajaran kimia. Loh, kok jadi menyalahkan gurunya. Ya, iyalah, kan suka pelajaran dimulai dengan suka pada guru yang mengajar/menyampaikan pelajaran. Itu dulu, dulu sekali ketika saya kelas satu SMA.
Sebenarnya guru kimia saya waktu kelas satu adalah guru senior dan ilmunya tinggi. Hanya saja, cara menyampaikan yang berbelit-belit, tidak to the point inilah yang membuat saya bingung. Bukan hanya saya saja lo yang bingung. Teman yang lain, yang lebih pandai dari saya juga banyak yang mengeluh bingung.
Eits, tunggu dulu, sebenarnya yang membuat bingung itu apa ta? Atau saya hanya membela diri, mencari alasan karena saya memiliki DDR alias daya dong rendah? Nggak juga. Saya termasuk siswa dengan tingkat kecerdasan rata-rata (bukan rata-rata daya dong rendah lo).
Mungkin saya kurang konsentrasi alias tidak fokus. Mengapa demikian? Sebab, saya kalau pas diajar kimia bukan hanya menyiapkan buku tulis untuk mencatat pelajaran, tapi juga kertas corat-coret lainnya. Saya akan membuat turus, menghitung berapa kali guru kimia saya mengatakan “dengan adanya hal demikian, maka”…. Jreng! Jelas saja saya tidak bisa konsentrasi, karena materi yang disampaikan tidak banyak tapi kata-kata “dengan adanya hal demikian, maka” diucapkan berulang-ulang.   
Suatu saat guru kimia menyampaikan materi. Kalau tidak salah tentang kation, anion, senyawa. Enggak dong sama sekali! Penyebabnya adalah belajar konfigurasi elektron juga hanya meraba-raba. Begitu diberi soal (waktu itu guru kimia sedang ada tugas keluar) bentuknya tabel, disuruh mengisi senyawa yang terjadi hasil reaksi kation dan anion tertentu, saya hanya bisa melongo. Disuruh ngapain tabelnya? Ya, terus keluarlah ajian mencontoh/mencontek teman yang pandai. Yang penting tugas kelar, dapat nilai gitu. Perkara tidak mudeng, besok bisa dipelajari.
Saat kenaikan kelas, jreng-jreng, nilai kimia semester 2 pada rapor saya hanya enam. Pede saja, nilai kimia di rapor pas-pasan berani masuk jurusan A1 (ilmu fisika), hahaha.
Setelah duduk manis di kelas dua, Alhamdulillah, guru kimia saya berbeda dengan yang dulu. Bukan guru kimia saat kelas satu. Hore, saya suka sekali. Guru kimia kelas dua ini cara menyampaikan materi gampang ditangkap. Nah, kimia gampang kan. Kok enggak dulu-dulu saya diajar guru yang ini?
Materi kimia kelas dua itu sulit. Konfigurasi electron, Sistem Periodik Unsur, kesetimbangan kimia, laju reaksi, termokimia, tidak gampang. Tapi cara guru kimia menyampaikan materi yang mengenai sasaran inilah menurut saya kimia jadi gampang. Akhirnya sampai kelas tiga, guru kimia kelas dua mengikuti kelas kami. Asyik-asyik.
Belajar kimia, bisa dengan cara membaca buku, belajar dari dapur, belajar dari perkakas pertukangan yang dimiliki Bapak saya, belajar di pabrik tahu depan rumah saya (eh, pemilik pabrik tahunya pindah, sekarang rumahnya dibeli kakak saya). Belajar kimia memang gampang karena kimia dekat dengan kita.
Oleh sebab itu, mulai sekarang jangan bilang kimia itu sulit atau belajar kimia itu tidak gampang. Ubahlah cara berpikir seperti itu. Belajar kimia bisa secara otodidak kok. Zaman sekarang mau belajar pelajaran apa saja banyak sumbernya. Ada buku, ada film, video, bisa lewat internet, bisa belajar langung ke sumbernya. Kalau sudah membaca lalu berlatih mengerjakan soal. Dijamin akan berhasil!    
Berbeda dengan zaman dulu, ketika saya SMA. Belum ada internet, komputer saja programnya masih basic, chi writer. Barulah saat kuliah mengenal WS bukan MS. Tidak ada alasan untuk berkata kimia itu sulit, karena memang kimia itu gampang.
Karanganyar, 1 April 2017

Kamis, 30 Maret 2017

Bukan Anak Angkat Bukan Anak Asuh

Maharani menerima keputusan kerabatnya (paman dari suaminya). Meskipun kerabatnya secara ekonomi pas-pasan, tapi tetap ingin mengasuh bayi kembar (anak keempat dan kelima) yang baru saja dilahirkan istrinya. Bukan apa-apa, rezeki dari Allah memang datangnya bisa dari mana saja. Bisa jadi dengan memiliki anak kembar ini, rezeki keluarga kerabatnya bertambah lancar.
Maharani terlanjur jatuh hati pada Rohim, salah satu bayi kembar itu. Kebetulan Puja juga senang. Akhirnya, Maharani sepakat dengan Mahendra untuk menjadi orang tua asuh Rohim. Biarlah Rohim bersama orang tuanya. Dari sebagian rezeki yang diterima, Maharani sedikit menyisihkan untuk Rohim. Oleh sebab itu setiap awal bulan, Maharani, Mahendra, dan Puja menjenguk Rohim.
“Maharani, ikhlaskan Rohim pergi,”kata mertuanya, pada suatu hari.
“Maksudnya?”
“Pamannya Mahendra bilang kalau Rohim diberikan pada temannya.”
Semoga kabar itu tidak benar. Maharani minta pada Mahendra untuk mengantarkannya ke rumah paman. Yang menemuinya adalah bibi.
“Maharani, maafkan bibi. Selama ini, bibi tahu kalau kamu ingin mengasuh Rohim. Tapi pamanmu tidak mengizinkan karena dia punya keyakinan akan mengasuhnya sendiri.
Tapi sayang, beberapa hari yang lalu, secara mendadak pamanmu berubah pikiran, dia memberikan Rohim kepada temannya. Temannya kebetulan anak-anaknya sudah besar dan ingin memiliki anak angkat.
Aku sudah mengingatkan, kalaupun diberikan pada orang lain, maka biarlah diasuh Mahendra. Tapi pamanmu mengambil keputusan sendiri.”
Kerongkongan Maharani terasa kering. Dia tak menyangka sama sekali kalau selama ini keinginannya mengasuh Rohim tidak bakalan terwujud lagi. Sungguh, hatinya teriris, perih. Matanya berkaca-kaca. Maharani tak sanggup untuk berlama-lama di rumah pamannya.
Ingin segera pulang lalu menumpahkan segala rasa kecewanya.
00000
Karanganyar, 30 Maret 2017
Cerita ini adalah kisah nyata. Pemeran utamanya adalah penulis sendiri. Dan kisah ini ditulis setelah belasan tahun berpisah, kemudian tanggal 26 Maret yang lalu bertemu lagi pada acara pernikahan kakak dari si kembar.

Nak, semoga engkau bahagia bersama orang tua dan saudara angkatmu.

Jumat, 24 Maret 2017

Keuntungan Menanam Dan Panen Sayuran Belakang Rumah

            MENANAM KACANG HIJAU
Sewaktu aku masih mengajar dan tinggal di Blora, suami mengatakan menanam kacang hijau di sawah. Biaya untuk tenaga, benih, pupuk dan lain-lain jumlahnya luar biasa banyak. Karena aku tidak tahu-menahu tentang pertanian, aku sempat protes dan keberatan. Aku tidak mau apa yang aku lakukan tidak punya dasar. Kalau dasarnya hanya ikut-ikutan pada orang yang berhasil, tanpa memiliki ilmu sedikit pun berarti siap untuk gagal total.
Honor-honor yang aku terima selama mengajar di Blora setelah menikah, masuk dalam biaya-biaya pertanian. Aku pasrah. Sebenarnya ide terjun ke dunia pertanian sudah sejak lama suami utarakan. Bahkan katanya kelak biaya sekolah untuk “anak-anak” berasal dari bercocok tanam. Aku manut saja. Toh percuma saja kalau aku tidak setuju atau membantah.
Setelah tinggal di Karanganyar, waktu itu usia kandunganku sudah cukup kuat untuk diajak “bekerja keras”, kacang hijau mulai panen. Jarak antara rumah dan sawah cukup jauh. Belum lagi dalam kondisi hamil aku tidak mungkin berpanas-panas untuk memanen kacang hijau. Kami berinisiatif memanen kacang hijau pada sore hari setelah matahari tidak terik lagi. Karena mulai memanen kacang hijau sudah sore, maka sebantar saja sudah maghrib. Kami tak membawa hasil panen dalam jumlah banyak.
Sabar, itulah kuncinya. Setiap pulang mengajar mengupas polong-polong kacang hijau, lalu menjemurnya. Namum suami ternyata bukan orang yang sabar lagi telaten. Kacang hijau dipanen harus tepat waktu. Kalau waktunya panen tidak segera dipetik, maka esok harinya polong kacang hijau akan pecah dan isinya tumpah jatuh di atas tanah dengan sendirinya. Malah suami bosan memanennya.  
Setelah hasil panen dikumpulkan semua dan dijual, hasilnya jauh dari harapan. Jangankan untung, balik modal saja tidak. Suami bilang,” maaf ya dik kita kali ini belum berhasil.” Kecewa, itulah kata-kata yang ada dalam hatiku. Bagaimana tidak? Seandainya uang yang digunakan untuk membiayai “kebun” itu aku gunakan untuk kepentingan keluarga maka aku tak perlu berhutang koperasi untuk menyiapkan perlengkapan bayi.

MENANAM PADI
Setelah anakku lahir, suami disuruh mertua untuk menanam padi. Bayanganku kali ini masih negatif. Bagaimana tidak?  Menanam padi seluas 3500 meter persegi. Kalau gagal lagi atau maksimal impas, aku katakan merugi. Usaha yang dibangun kok merugi alias tidak mendapatkan untung, maka perlu belajar dulu tentang usaha yang akan dijalani.
Usaha yang luar biasa, dan suami kadang begadang demi “mendapatkan air jatah” untuk sawah. Sebab bila air jatah tidak ditunggui maka akan dialirkan ke sawah lain oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak heran sering terjadi bentrok antara petani satu dengan yang lain  karena berebut air. Sepulang dari mengajar suami juga langsung ke sawah untuk melihat tanamannya.
Perjuangan dan pengorbanan suami tidak sia-sia. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Dari hasil panen ini kami bisa menabung kayu, besi dan material lain yang akan digunakan untuk membangun rumah.

MENANAM JAGUNG
Setelah merasa berhasil menanam padi, mertua menyuruh kami untuk mencoba komoditas lain. Pada musim kemarau di nama air tidak begitu melimpah, menanam jagung pilihan yang tepat.
Kunci utama dari bercocok tanam adalah rajin merawat dan “menyambangi” sawah. Dengan sering menengok sawah, kami jadi tahu perkembangan tanaman. Atau kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tanaman bisa segera diatasi.
Saat panen jagung, sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Panen hanya mengandalkan keluarga, yaitu suami, adik ipar dan pembantu (aku ganti yang momong anakku, karena pembantu memilih ikut panen). Dari hasil penjualan jagung kering, kami bisa mencukupi konsumsi untuk tukang-tukang kami yang bekerja membangun rumah.

MENANAM KACANG TANAH
Sukses menanam padi dan jagung, suami mencoba menanam kacang tanah. Akan tetapi sayang, ketika tanaman kelihatan bagus hasilnya, mertua meminta pada suami supaya tanaman kacang tanah diteruskan mertua. Ikhlas, itu yang harus aku lakukan. Bagaimanapun sawah itu juga milik mertua. Kami hanya diberi ijin untuk mengelolanya.
Setelah kacang tanah dipanen, dan kami menempati rumah kami sendiri (masih di lingkungan sawah tempat kami bercocok tanam), kami mulai memikirkan usaha sendiri. Walaupun sawah letaknya hanya di belakang rumah kami, bukan berarti kami bisa seenaknya menanam sayuran atau apa saja. Semua harus minta ijin pada mertua lebih dahulu.

MENANAM LOMBOK
Setelah Bapak mertua meninggal, sawah yang biasanya digarap Bapak sendiri kini tidak diolah sendiri melainkan dengan sistem bagi hasil dengan petani penggarap. Ibu mertua tidak repot mengurus ini-itu untuk sawah yang akan ditanami padi. Ibu cukup menyumbang separo pupuk, bila telah panen Ibu mendapatkan separo bagian (untuk biaya panen ditanggung Ibu dan petani penggarap sawah).
Khusus untuk belakang rumah (yang berimpit dengan rumah), suami diperbolehkan menanam sayuran. Setelah belajar pada orang yang sudah berpengalaman, suami akhirnya mencoba menanam lombok merah. Dari menanam lombok ini, aku jadi tahu istilah-istilah pertanaian serta hama penyakit yang menyerang tanaman. Ada lalat buah, layu fusarium, cambuk, dan lain-lain.
Dengan harga stabil relatif tinggi, sungguh aku tak pernah menduga sama sekali kalau untungnya “luar biasa”. Karena perawatannya optimal, jumlah panennya maksimal. Teman suami yang memberikan “pelajaran lombok” mengatakan kami termasuk pemain baru yang berhasil.
Pada saat menanam lombok, ini merupakan tamanan pertama yang kami usahakan setelah menempati rumah di dekat sawah. Ada perbedaan yang kami lakukan saat panen kali ini, tidak seperti panen sebelumnya. Yaitu kami menyedekahkan sebagian panen kami untuk orang lain (teman guru, tetangga dan saudara), sebelum kami menjualnya. Artinya sedekah pada saat panen pertama. Uniknya, teman-teman atau tetangga datang dan memanen sendiri.

MENANAM KACANG PANJANG
Akhirnya tanaman lombok mulai tua dan buahnya mulai kecil-kecil. Setelah menimba ilmu pertanian dari “orang pintar”  bertani, kami disarankan menanam kacang panjang. Untuk kacang panjang, umurnya relatif pendek. Buah mulai dipanen pada umur 45 hari setelah tanam.
Ternyata memperlakukan tanaman kacang panjang tidak sama dengan lombok. Kalau yang ini lebih ekstra. Mulai menanam bibit, memasang turus, mengikat antara turus satu dengan yang lain, merempel daun bagian bawah dan mengkondisikan tanaman untuk membelilit pada turus.
Sayang, tanamannya terlalu subur, terlalu banyak pupuk. Saking suburnya, tanaman rimbun sekali. Begitu terserang hama; ulat dan cambuk, kami kewalahan untuk mengusir secara alami. Kami mulai melirik berorganik.
Sewaktu panen perdana, kami mengundang tetangga dan teman-teman guru untuk memetik polong kacang panjang. Semua bisa mengambil sepuasnya. Bagi kami kacang panjang yang dipetik akan memberikan polong berikutnya lebih banyak.
Karena polongnya banyak, kadang-kadang kami tidak dapat menyelesaikan panen dalam satu kali panen. Apalagi waktu hujan turun dengan deras. Jelas, kami tidak dapat berbuat banyak. Lebih baik menghentikan kegiatan memanen dari pada kena resiko. Padahal kacang panjang yang tidak segera dipanen, keesokan harinya ukurannya terlalu besar dan tidak laku dijual.
Hari berikutnya kami menyiasati dengan memanen sebagian di pagi hari dan sebagian dipanen sepulang mengajar. Dengan cara seperti ini kami bisa menyelesaikan panen dalam satu waktu panen.
Kacang panjang jenis hijau yang kami usahakan ini termasuk komoditas yang laku di segala cuaca. Tidak heran, sejelek-jelek harga kacang panjang kami tetap untung. Akhirnya aku menyadari bahwa Allah memberikan jalan pada kami. Usaha kami di bidang pertanian ini termasuk bisa diperhitungkan. Dengan seperti ini semoga harapan suami dahulu yakni ingin menyekolahkan anak-anak dari hasil pertanian bisa terwujud.

MENANAM MENTIMUN
Setelah panen kacang panjang berakhir, kami menanam mentimun. Untuk tanaman mentimun karena diusahan tegak, tidak dibiarkan menjalar di atas tanah, maka kami harus mengikat batang mentimun pada turus. Mengikat batang mentimun pada turus sangat menyita waktu.
Mentimun mulai dipanen saat usia 40 hari setelah tanam. Mentimun termasuk sayuran umur pendek. Memanen mentimun memerlukan tenaga besar. Ya, karena buahnya yang berat, kandungan airnya tinggi. Kami harus memindahkan mentimun tersebut dari sawah ke halaman rumah. Sedikit demi sedikit memindahkan hasil panen. Ya, kami harus sabar.
Waktu itu harga jual mentimun dari aku seribu rupiah per kilogram. Pedagang pasar menjual kembali dua ribu rupiah per kilogram. Total hasil panen lebih dari dua ton. Lebih dari dua juta uang yang kuterima. Kebetulan pedagang yang aku setori hasil panen masih saudara sendiri.
Dengan modal satu jutaan, kami mendapatkan untung lebih dari satu juta. Uang dapat balik kurang dari dua bulan. Dengan keberhasilan ini semakin mengukuhkan niat kami untuk terus mengolah sawah/kebun untuk sayuran.
Dari beberapa tanaman yang telah kami usahakan, kami jadi lebih paham tentang pertanian. Dari penyediaan bibit, mengolah tanah, memupuk, merawat, membasmi hama, memanen dan analisis keuangannya. Walaupun tidak terlalu detail yang aku tulis, tapi cukup memberikan informasi tentang setiap tanaman. Mulai menanam sampai memanen dan memasarkan.
Dengan menuliskan setiap  kali menanam sayuran, sedikit banyak menambah pengetahuan. Bila diperlukan setiap saat, aku memiliki catatan. Sayangnya catatan kecil itu sering hilang karena buku yang dipakai juga buku campur sari. 

Nah, ini pengalaman saya menanam sayuran. Sebenarnya sekarang ingin memulai menanam sayuran lagi, tapi waktunya perlu diatur sedemikian rupa agar kegiatan harian bisa tertata rapi. bagi yang ingin mencoba menanam sayuran, silakan mulai dari skala kecil. Tapi kalau sudah niat terjun bisnis sayuran, mangga mawon kalau langsung dalam jumlah yang besar.