Minggu, 21 Mei 2017

Sudah Sakit Alergi Obat Pula, Capek Deh.....


Setelah melahirkan anak pertama, tiba-tiba saya menjadi alergi antibiotik Pinicilin (dan sejenisnya, seingat saya Amoxicylin dan Amphycylin). Padahal dulu-dulunya tidak. Kalau sudah minum Pinicilin, belum juga obat sampai di lambung atau masih di kerongkongan; badan mulai gatal-gatal. Parahnya daun telinga dan hidung membesar, panas dan gatal. Lebih-lebih pernafasanku terganggu. Benar-benar payah.

Sekarang saya setiap periksa ke dokter selalu bilang di depan, maaf saya alergi pinicilin. Ya, beruntung saya tidak pernah lupa dengan peringatan alergi ini. Suatu saat saya sakit lagi, kepala dan perut saya sakit. Waktu itu saya meluncur ke Puskesmas terdekat. Maklumlah terasa sakit pagi hari, kira-kira dokter yang buka praktek di rumah sudah tutup dan harus dinas di rumah sakit atau puskesmas.

Sekali lagi, saya bilang ke perawatnya kalau saya alergi pinicilin. Tidak lama kemudian saya pulang setelah mendapatkan obat. Sampai di rumah saya segera meminum obat. Tiba-tiba telinga dan hidung saya terasa gatal, panas, dan membesar. Ini adalah tanda-tanda saya alergi obat. Saya tidak berlama-lama memikirkan ada apa denganku. Langsung kembali ke Puskesmas. Lewat komputer, obat saya dicek satu persatu. Ternyata tambah lagi, astaghfirulloh, saya alergi Antalgin.

Sampai di rumah saya merenung, ya Allah... andai saya kau uji dengan sakit, tunjukkan obatnya sekalian ya Allah. Kalau semua obat tidak bisa saya konsumsi karena saya alergi obat, lantas bagaimana saya bisa sembuh?

Suatu hari saya sakit, dan periksa ke dokter. Saya hanya ingat kalau alergi Pinicilin, saya lupa mengatakan kalau juga alergi Antalgin. Bisa ditebak badan saya gatal-gatal setelah mengkonsumsi obat. Saya kembali ke dokter tadi. Benar, dalam resepnya dokter menuliskan Antalgin. Untung dokternya baik hati, beliau tidak marah hanya mengingatkan. Lain kali bilang alergi obat apa gitu ya mbak. Soalnya bisa berakibat fatal.

Benar, setelah saya membaca dari berbagai sumber-sumber bacaan, akibat alergi yang paling fatal prosesnya, pasien shock, jalan pernafasan tertutup, pingsan lalu meninggal dunia. SEREM....

Saya enggak mau sakit. Soalnya kalau sakit saja obatnya sulit banget. Saya juga tidak dapat mengkonsumsi obat yang dijual di pasaran secara bebas. Kepala pusing saja, paling-paling minum teh kenthel, panas dan manis. Kalau gak sembuh juga baru minum paracetamol.

Alhamdulillah, Allah memang tahu kesulitan hambanya. Sekarang saya diberi sehat terus dan tidak gampang sakit. Bila ada sahabat Kompasianer yang juga alergi obat, bersabar saja ya.....
Semoga bermanfaat. Amin.

Karanganyar, 14 Juli 2013
Sumber: www.kompasiana.com/noerimakaltsum 

Minggu, 14 Mei 2017

Belajar Menahan Belanja Mulai Sekarang

Sudah beberapa tahun terakhir, saya memiliki kebiasaan  menyisihkan sebagian kecil dari gaji untuk saya tabung alias menabung di depan. Setelah itu, baru saya membelanjakan uang dengan hemat. Saya berbelanja atau mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan saja.
Sejak kecil saya memang gemi alias hemat. Saya tidak mengalami kesulitan untuk berhemat karena berhemat adalah kebiasaan saya waktu kecil. Kebetulan, saya juga tidak mudah terpengaruh, tidak suka membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Hasilnya, saya tidak banyak memiliki barang yang menganggur. Sebisa mungkin saya membeli barang yang benar-benar bisa saya manfaatkan sehari-hari.
Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Pada saat bulan Ramadhan, biasanya kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran lebih besar. Saya tetap berhemat. Kalau pengeluaran lebih besar disbanding bulan yang lain, Insya Allah karena untuk kepentingan akhirat.
Selama bulan Ramadhan, menu makan sahur dan berbuka, tidak ada yang istimewa. Saya jarang mengada-adakan makanan istimewa. Kalau berbuka puasa, saya juga tidak wajib menyiapkan kolak atau makanan pembuka yang manis-manis kecuali kurma dan kudapan seadanya.
Menjelang akhir Ramadhan, saya juga tidak sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Untuk pakaian, cukup mengenakan pakaian yang sudah saya miliki. Mungkin untuk 2 anak saya memerlukan baju ganti. Saya tidak menyediakan makan kecil secara berlebihan karena saya berlebaran di rumah orang tua alias mudik.
Saya berusaha menahan diri untuk belanja sebab kebutuhan hari esok lebih banyak dan benar-benar harus kita penuhi. Hemat bukan berarti pelit, irit bukan berarti pelit, karena hemat adalah gaya hidup.

Belajarlah menahan belanja mulai sekarang. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?

Jumat, 12 Mei 2017

Matic dan Keripik Jagung

Untuk menjamu tamu yang akan datang ke rumah, saya memerlukan pendapat dari teman. Sudah ada 2 makanan yang tidak biasa disuguhkan untuk tamu yang jumlahnya banyak. Saya memilih tahu bakso, cakwe dan bolang baling. Untuk yang renyah-renyah, ada beberapa pilihan. Pilihannya adalah kacang telur, kacang bawang, kacang kara, kacang kapri atau keripik jagung.
Seorang teman bertanya dengan kalimat bermakna konotatif.
“Yang diundang sebagian matic atau bukan?”
“Matic,”jawab saya.
“Kalau begitu pilihlah keripik jagung. Karena keripik jagung bersifat tidak keras. Matic saja kuat mengunyah.”

Apa hubungannya matic dengan keripik jagung? Matic = tanpa gigi. Selanjutnya, teruskan sendiri.

Kamis, 11 Mei 2017

(Belum) Berani Sekolah di Rumah (Homeschooling)

Sebenarnya, sejak Dhenok SD dahulu, saya menginginkan Dhenok sekolah di rumah saja. Ada beberapa pertimbangan, di antaranya waktunya fleksibel dan sesuai dengan karakternya. Namun, Dhenok tidak mau dengan alasan masak sih nggak sekolah. Yang kedua, keluarga besar saya pasti tidak setuju dengan berbagai alasan.
Waktu terus berlalu, sampai sekarang saya merasa Dhenok itu memang cocoknya sekolah di rumah. Tapi, sudahlah, semoga semua akan baik-baik saja.

Untuk si kecil, sepertinya cocok banget kalau sekolah di rumah. Sekolah di rumah membuat si kecil nyaman. Alhamdulillah, saya dan si kecil sudah melewati masa sulit. Hanya saja Ayah tidak setuju kalau si kecil sekolah di rumah.

Rabu, 03 Mei 2017

Mengikuti UN Merupakan Syarat Lulus Sekolah

Hari ini, Selasa 2 Mei 2017, bertepatan dengan memperingati Hari Pendidikan Nasional,  pengumuman kelulusan jenjang SLTA serentak dilaksanakan pada sore hari. Waktu yang dipilih untuk pengumuman adalah sore hari, dengan pertimbangan tidak ada konvoi setelah pengumuman. Namun, kenyataan berbicara lain. Pengumuman kelulusan diadakan pada sore hari pun, sebagian siswa sebagai peserta ujian tetap mengadakan konvoi naik sepeda motor dengan suara bising sebelum pengumuman.
Ada yang berbeda dari syarat lulus bagi siswa kelas XII. Kalau dahulu, UN merupakan penentu kelulusan, kemudian diubah menjadi penentu kelulusan adalah nilai rapor, US dan UN, sekarang syarat siswa lulus adalah mengikuti UN. Nilai UN bukan syarat mutlak kelulusan.
Dengan demikian, diharapkan siswa bisa lulus 100%, asal mengikuti ujian nasional (tentu saja nilai rapor terisi, dan mengikuti US/USBN). Syarat kelulusan pada tahun ini tidak membuat pendidik khawatir. Dengan demikian, mengikuti ujian dengan jujur lebih mudah terwujud. Apalagi sekarang ujiannya dengan UNBK. Tinggat kejujurannya tinggi.
Bagi saya, saya menyambut secara positif program syarat lulus adalah mengikuti UN. Sebagai guru di sekolah swasta (bukan sekolah favorit), dulu ketika nilai UN mutlak menjadi syarat kelulusan, saya sering menilai hal itu tidak adil. Maksudnya, bagi siswa yang sekolah di sekolah negeri, kemampuannya cukup, kemauan belajarnya cukup/lebih, wajar kalau kemudian lulus ujian dan lulus sekolah.
Akan tetapi, bagi siswa yang menuntut ilmu di sekolah swasta(dengan input pas-pasan), butuh perjuangan yang keras. Guru-gurunya juga ekstra keras dalam membimbing dan mengajar siswa demi memperoleh nilai UN yang tinggi. Kendala yang dialami siswa dan guru yang mengajar di sekolah swasta yaitu pertama kemampuan anak yang rata- rata di bawah, kedua motivasi belajar rendah, ketiga perhatian keluarga kurang, dan keempat pengaruh lingkungan.
Bagi siswa  kurang mampu (sekolah swasta), biasanya mereka sekolah sambil bekerja agar bisa mendapatkan uang saku dan membeli bensin. Kadang-kadang siswa lebih mengutamakan pekerjaan daripada sekolah sehingga mereka sekali dua kali membolos. Sudah menjadi rahasia umum, siswa yang bekerja ini banyak memberikan PR bagi gurunya. Guru harus mendatangi rumah siswa untuk bertemu orang tuanya.guru memberikan masukan kepada orang tuanya.
Tapi, bagaimana lagi kalau keadaan memang tidak bisa diubah? Kalau keadaan semacam ini bisa membuat siswa tetap bisa sekolah maka rasanya hal ini lebih baik. Kenyataan di lapangan, siswa tidak melanjutkan sekolah karena terkendala biaya sekolah dan uang saku harian. Bagi guru, siswa yang mengalami kesulitan ekonomi tetap diberi kesempatan untuk menyelesaikan sekolahnya sampai mengikuti ujian nasional. Dengan demikian siswa  mendapat kesempatan untuk lulus ujian dan tamat sekolah SLTA.
Faktor-faktor yang memengaruhi kelulusan siswa adalah Ujian Nasional (UNBK), siswa sudah menyelesaikan semua tahapan kegiatan belajar mengajar (dari kelas satu sampai kelas tiga), hasil ujian sekolah dan nilai perilaku siswa.
Kalau sekarang ujian nasional bukan merupakan momok bagi siswa peserta ujian, maka alasan apa lagi siswa takut mengikuti ujian nasional?

Karanganyar, 3 Mei 2017

Sabtu, 29 April 2017

Menulis Artikel Panjang Tidak Mudah, Harus Melalui Proses

Merdeka
dok.pri

Seorang teman guru pernah mengatakan bahwa beliau tidak bisa memberikan komentar dengan kalimat panjang. Beliau heran terhadap teman-teman yang bisa menulis komentar dengan kalimat-kalimat panjang. Dengan catatan komen di sini bukan sekadar copy paste. Teman saya juga heran dengan komentar saya dengan kalimat panjang dengan sedikit kesalahan.
Kalau menulis di hape, ikut mengomentari pesan WA teman, saya memang beberapa kali mengedit tulisan selayaknya membuat artikel untuk dikirimkan ke media. Akan tetapi, bila menulis status di facebook, statusnya cukup panjang, itu bukan berarti saya menuliskannya dari hape langsung. Biasanya, untuk menulis status yang panjang, terlebih dahulu saya menulis di laptop. Tulisan tersebut bukan sekali nulis terus diposting. Saya sering menyimpan tulisan tersebut barang semalam. Hari berikutnya barulah saya melakukan penyuntingan. Sebisa mungkin tidak banyak kesalahan dalam menulis.
Bisa saja saya menulis artikel sebanyak 5 halaman kuarto, kemudian saya posting di facebook. Bagi pembaca yang sealiran dengan saya (maksudnya suka membaca dan menulis), tulisan saya mungkin dianggap biasa saja dalam artian pembaca tidak merasa jenuh atau malas membaca. Akan tetapi, bagi para pembaca status fb kebanyakan, status saya dirasa terlalu panjang.
Ada seorang teman yang bilang ke saya, kalau nulis status itu mbok intinya apa gitu, jangan panjang-panjang. Saya jawab intinya: ya pokoke. Hahaha
Bagaimana kita mau menyampaikan sesuatu biar tidak ada lagi pertanyaan dari pembaca? Jawabnya adalah menulislah dengan jelas. Penjelasannya mudah dimengerti, kalau bisa ada acuan/referensi yang valid.
Kadang-kadang, pembaca menanyakan sesuatu yang sebetulnya pada tulisan itu sudah jelas ada. Oleh karena pembaca tidak membaca sampai selesai, maka mencari jurus jitu bertanya.
Alhamdulillah, kalau tulisan saya mendapatkan tanggapan dari pembaca, entah itu tanggapan positif atau kritik dan saran. Bagi saya, komentar dari pembaca adalah masukan yang sangat berarti. Saya sangat terbuka terhadap masukan untuk memperbaiki kualitas tulisan saya.
Kalau ada komentar yang cenderung negatif dan tidak layak, saya tidak akan menanggapi. Sebab, kalau komentar yang tidak layak tetap kita tanggapi, akhirnya membuka debat kusir.  
Bagi saya, menulis status fb atau artikel yang panjang adalah sarana untuk belajar menulis. Sudah lama saya ingin bisa menulis. Kalau saya tidak langsung praktek menulis, kapan lagi bisa menulis? Beruntung kegiatan menulis saya tidak mengganggu pekerjaan pokok dan pekerjaan IRT.
Ada waktu untuk menulis. Saya bisa bebas menulis kalau si kecil sudah istirahat, tidur malam. Kalau si kecil belum tidur, biasanya baru membuka laptop saja sudah diprotes,”Mami tidak boleh nulis.” Setelah itu tutup laptop, sambil memikirkan ide-ide yang bersliweran.

Karanganyar, 29 April 2017

Saltum (Salah Kostum)


Kalau Maharani atau yang lain salah kostum, pasti sudah dibunyi2in ketua guru. Pagi tadi ketua guru bertanya pada salah satu karywan "Bu, guru Sejarah India sudah diberi undangan belum ya kemarin?"
Yang ditanya menjawab sudah. Undangan jalan santai di kecamatan dengan kostum seragam olahraga.
Sampai menjelang berangkat ke lapangan, guru Sejarah India belum juga muncul. Akhirnya Maharani, guru lain dan Kwek-kwek berangkat ke lapangan.
Jalan santai selesai, perut kenyang sudah mampir nyoto, kembalilah Maharani dkk ke perguruan. Tak lama kemudian, guru Sejarah India datang dan taraaaaaa syalala seragam yang dikenakan adalah batik hitam yang biasa dipakai hari Sabtu.
La pa ya ora ngerti kalau ketua guru pakai seragam olahraga? Guru Sejarah India ini kan isterinya ketua guru. Kok ora kompak? Tralala nek Maharani saltum pasti sudah heboh. Tapi kalau guru Sejarah India yang saltum pasti ketua guru akan bilang luwes saja.
Malu aku malu #CeritaMaharani

Selasa, 25 April 2017

Ngoplo Bersama Noer Ima Kaltsum

Kemuning, Aku datang
dok.pri
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh
Bismillahirrohmannirrohiim. Selamat malam Ibu-ibu dan mbak-mbak yang bergabung di Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif. Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah karena sampai malam ini kita masih diberi nikmat kesehatan. Saya ucapkan terima kasih kepada mbak Widyanti Yuliandari yang telah memberikan waktu kepada saya untuk berbagi pengalaman menulis cerita humor. Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada mbak Siti Nurhasanah, Ketua IIDN Solo.

Sebelumnya, perkenalkan nama saya Noer Ima Kaltsum, biasa dipanggil mbak Ima. Profesi saya sebagai penulis dan mengajar mata pelajaran Kimia di SMK swasta di Kabupaten Karanganyar.

Saya bergabung dan aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo. Untuk kepenulisan, sebenarnya saya cenderung menekuni menulis cerita anak. Akan tetapi sekarang sedang senang-senangnya nulis cerita humor dan mengisi kolom Jurnalisme Warga di Koran Solopos (kalau tulisan saya dimuat). Di komunitas IIDN Solo, saya identik dengan Ngoplo dan wartawan ala IIDN Solo. Sebenarnya ngoplo itu apa sih? Wah, pasti ada yang penasaran.

Bagi sebagian anggota IIDN Solo, Ngoplo adalah hal yang biasa. Ngoplo bikin ketagihan.  Kalau sudah pernah Ngoplo lalu berhenti pasti akan merasa kehilangan sesuatu. Sedangkan bagi yang pelum pernah Ngoplo, pingin mencoba dan mencoba lagi. Tapi tunggu dulu, jangan berprasangka buruk dengan istilah Ngoplo ya.

Bagi Ibu-ibu IIDN Solo, Ngoplo itu artinya cerita humornya tembus di Koran Solopos (Koran lokal, sebagian besar pembacanya berasal dari Surakarta dan sekitarnya). Pada halaman pertama Koran Solopos, ada cerita humor dengan segmen Ah Tenane. Segmen Ah Tenane setiap hari selalu ada, kecuali hari Minggu.

Cerita humor ini adalah cerita yang diangkat dari peristiwa lucu dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan kisah nyata, bukan fiktif. Adapun tokohnya sudah ditentukan oleh redaksi dengan nama Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk dan Genduk Nicole.   Ah Tenane bernuansa Jawa sehingga bahasa tutur yang digunakan terdapat logat Jawa. Biasanya tokoh yang sering disebut adalah Jon Koplo.

Cerita lucu ini bisa menimpa pada pelaku atau korban, bisa merupakan cerita konyol, sedih, mengharu biru, dan gembira. Bisa merupakan kisah pribadi atau cerita orang lain. Pokoknya yang penting lucu.

Sebenarnya selain saya, sebagian dari anggota IIDN Solo pernah Ngoplo atau tulisannya dimuat di Ah Tenane, Solopos. Mereka yang pernah Ngoplo adalah mbak Candra, Siti Nurhasanah, Fitri, Arinta, Fafa, Ibu Astutiana, Yuni Astuti, Misb, Sholikhah, Zakiah, Yang Nofiar (yang belum saya sebut ngacung ya, halooo IIDN Solo). Menurut saya, terlalu berlebihan kalau saya dibilang Pakarnya Jon Koplo.

Saya memberanikan diri untuk menulis di sini setelah IIDN Solo berunding, siapa yang akan menampilkan tulisan tentang cerita humor ala Ah Tenane Jon Koplo. Kebetulan saya termasuk anggota IIDN Solo yang tulisannya sudah beberapa kali tembus di Ah Tenane. Oleh sebab itu saya dibilang sering ngoplo dan sering ketagihan. Jadi ngoplo di sini tidak ada kaitannya dengan obat-obatan terlarang.

Ada beberapa pokok tulisan yang bisa saya sampaikan, yaitu:

1.    Menangkap ide untuk Ngoplo
Ide Ngoplo bisa dari mana saja. Saya memang selalu membuka mata lebar-lebar dan pasang telinga, terutama kalau ada orang yang bercerita. Mungkin bagi orang lain adalah cerita dianggap biasa saja, tetapi bagi saya cerita yang biasa itu bisa saya kemas sedemikian rupa sehingga cerita tersebut benar-benar lucu.

Beberapa Ngoplo saya berasal dari cerita teman, dan sebagian pengalaman pribadi. Oleh sebab itu kadang teman-teman  meledek saya, atau dengan guyon mereka bilang kalau punya cerita lucu jangan cerita kalau ada bu Ima. Soalnya nanti bakal jadi duwit. Artinya, cerita lucu tersebut saya kemas dengan bahasa sederhana, bahasa ala saya. Hasilnya…. Tembus media lagi, Ngoplo lagi.

2.    Apakah tema yang ditampilkan?
Tema yang saya angkat waktu Ngoplo bermacam-macam. Tidak terikat dengan satu tema saja. Biasanya kalau ada tema yang lagi hangat dibicarakan dalam keseharian, lebih cepat dimuat di Ah Tenane. Ini bukan hanya pengalaman saya. Misalnya, pas ada gempa bumi, atau bintang jatuh, di cerita humor Ah Tenane ternyata kisahnya tentang peristiwa itu.

3.    Proses menulis/menuangkan ide
Menuangkan ide/gagasan bebas tanpa batas. Kita bisa menulis sebanyak-banyak apa yang akan diceritakan. Akan tetapi tulisan yang panjang tersebut juga harus memenuhi aturan penulisan di Ah Tenane. Di Ah Tenane, tulisan dibatasi hanya kurang lebih satu halaman kuarto dengan jarak antar baris 1,5. Oleh karena halamannya dibatasi, maka kita perlu mengedit. Bagian-bagian kalimat yang tidak efektif sebaiknya dihilangkan saja. Untuk memberikan kata kejutan, saya mengusahakan ada logat Jawa yang saya tampilkan. Kesan lucu akan terasa kalau kalimat tersebut disisipi logat Jawa (ditulis dengan huruf Italic). Meskipun cerita lucu tapi saya tetap memerhatikan aturan penulisan.

Pada akhir tulisan saya sertakan biodata, meliputi nama, alamat rumah, alamat surat, nomor rekening, NPWP.

4.    Ke mana tulisan Ngoplo dikirim
Setelah cerita lucu tersebut selesai ditulis, saya mengirimkannya ke Redaksi SOLOPOS. Alamat emailnya : redaksi@solopos.co.id atau redaksi@solopos.com, dengan subjek : Ah Tenane_Nama_Judul. Sebenarnya memakai surat (cetak/fisik) juga bisa tapi ongkosnya mahal (perangko mahal) dan sampai di redaksi agak lama. Kalau pakai surel, lebih praktis dan lebih murah.

Mengapa saya mengirimkan ke Solopos? Karena nama tokohnya sudah jelas, tokoh dalam cerita humor Ah Tenane milik Solopos. Di Solopos, cerita humor ini tayang setiap hari kecuali hari Minggu. Jadi peluang untuk dimuat banyak. Apalagi semakin banyak yang kita kirim, cerita kita akan lebih banyak peluangnya untuk dimuat.

5.    Pemuatan naskah Ngoplo
Berapa lama kita menunggu naskah kita dimuat? Itu tidak pasti. Kadang-kadang belum ada satu minggu naskah kita kirim, naskah sudah dimuat. Ada juga yang sudah enam bulan kita kirim, naskah baru dimuat.

Sayangnya, dimuat atau tidak naskah kita, tidak ada pemberitahuan dari Solopos. Kalau dimuat, kadang kita tidak tahu kalau tidak ada yang memberi tahu atau kita tidak membaca. Di kantor, saya aktif membaca Ah Tenane Jon Koplo. Kalau ada cerita teman IIDN Solo yang dimuat, biasanya saya beri tahu. Tulisan saya foto, lalu saya kirimkan lewat WA.

Pernah suatu hari saya repot mencari Koran karena di rekening terdapat tambahan rupiah. Ternyata naskah dimuat beberapa bulan sebelumnya. Hehe.

6.    Berapa honor yang kita terima dari Ngoplo ini?
Kalau cerita Ngoplo ini dimuat, pasti senang dong. Senang karena nama dan tulisan saya dibaca banyak orang. Paling tidak saya dikenal orang. Kalau dimuat kan teman-teman saya langsung minta traktir. Biasanya saya menunda untuk jajan bareng. Mengapa demikian? Karena keluar honornya tidak pasti waktunya. Kalau mau segera cair, ya diambil langsung ke kantor Redaksi, Jl. Adi Sucipto, Solo. Kadang-kadang honor dikirim lewat wesel, tapi lebih sering lewat rekening.

Ngomong-ngomong, berapa honornya? Untuk menulis satu halaman kuarto, honornya cukup lumayan, yaitu tujuh puluh lima ribu rupiah (lewat rekening atau ambil langsung di kantor), kalau lewat wesel, saya menerima antara Rp. 63.000,00- Rp. 65.000,00.

Berapapun honornya, bagi saya yang penting tulisan saya dimuat. Tulisan dimuat di Solopos tentang Ngoplo merupakan kebanggaan tersendiri bagi IIDN Solo. Kata teman-teman kalau sudah Ngoplo maka sudah sah menjadi anggota IIDN Solo (yang ini candaan teman-teman). 

Contoh cerita humor Jon Koplo yang pernah dimuat di Solopos:
Aksi Hanoman
Belum lama ini, Koplo, Gembus dan kawan-kawan mementaskan sendratari singkat Rama-Sinta. Pentas diadakan di Jl. Lawu, Jaten untuk menyambut datangnya Estafet Tunas Kelapa (ETK) dari Solo.
Di hadapan tamu undangan yang menunggu ETK, Koplo dan sohib-sohib beraksi, pertunjukan dimulai. Ada tiga kera, Hanoman, kera merah dan kera kuning. Saat itu waktu masih pagi. Karpet digelar di pinggir jalan. Pertunjukan sukses. Penonton dan tamu undangan bertepuk tangan.
Setelah ETK tiba di Jaten, ternyata Bapak Camat setempat meminta Koplo dan kawan-kawan pentas lagi. Koplo dan kawan-kawan beraksi lagi. Kali ini lebih semangat, bahkan permainan 3 kera termasuk Hanoman sangat aktif. 3 kera melompat ke sana-kemari dengan lincah.
Setelah pertunjukan selesai, akhirnya Koplo dan kawan-kawan meninggalkan panggung dadakan. Mereka kemudian maksi di warung makan.
“Kenapa kakinya pincang pak Koplo?”Tanya Cempluk
“Iya nih Bu Cempluk, tiga kera tadi kakinya lecet-lecet.”
“Pertunjukan yang sukses, bukan?”
“Jelas, donggg,”kata Gembus.
“Kita 2 kali main. Pertunjukan kedua lebih atraktif dibanding pertunjukan pertama.”
“Kenapa?”Tanya Cempluk penasaran.
“Pertunjukan pertama masih pagi, aspal belum panas. Nah pertunjukan yang kedua, udara panas, aspal panas, padahal karpetnya sempit. Kami tak memakai alas kaki. Nah, biar nggak kepanasan kakinya, kami lompat-lompat dengan sigap. Itu bukan atraktif/menghayati peran, tapi karena kepanasan. Hasilnya, kaki lecet-lecet.”
Oh, kirain atraktif dan menghayati peran, padahal menahan panas. Kasihan Koplo dan kawan-kawan.
00000

Demikian cerita perkoploan saya, cerita humor ala IIDN Solo yang semua ingin mencobanya. Semoga bermanfaat. Bila ada kekurangan dalam tulisan ini, mohon dimaafkan.
Selamat malam. Wassalamualaikum.

Sumber: FB Group Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif

Jumat, 14 April 2017

SEKOLAH NON FORMAL KEJAR PAKET JURUSAN LALU LINTAS


Maharani tersenyum membaca chat teman-teman tentang susah payahnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM).

@Yur
Merindukan SIM yang belum jadi. Gak lolos2 ujian praktek, lalu jatuh, ujian lagi, lalu ngidam, ujian ditinggal. Tapi kalau peserta lain yang sebulan lebih itu diajak ke belakang mobil lalu pergi (nahhh!). aku kok gak ya malah disuruh kir lagi, ujian lagi.

@Nof
Aku dulu SIM C nilai ujian tertulisnya mepet banget. Kalau ujian prakteknya pertama gak lulus gara2 nabrak pembatas kerucut itu. Sama pak polisinya aku disuruh besok ujian lagi. Tapi aku gak mau. taktunggu pak polisinya sampai semua peserta sudah pulang. Terus saya bantu pak polisi angkat-angkat peralatan tes sambil ngerayu minta dites ulang saat itu juga. Alhamdulillah, lolos.

@Neng
Ngantar anak lanang ujian praktek sampai tiga kali. Yang kedua kali aku nyoba ngajak kong kalingkong nembak saja, polisinya nggak mau. disuruh manut prosedur.

Ngantar anak wedok, sekali ujian praktek lulus, la kok aku dibisiki sama loketnya, biaya langsung ke kaur simnya. Biaya seperti aku nembak, gak sesuai tariff yang dipasang (wkwkwk)

@Rani
Beruntungnya saya. Sekitar 7 tahun yang lalu tanpa basa basi, suami bertemu seorang teman. Bisik-bisik, kir dokter juga Cuma ditanya berat badan dan tinggi badan. Besok paginya disuruh ke ruang ujian tulis. Ngisi data, dipanggil langsung foto. Kelar deh!

Tapi saya ditertawakan teman sekantor. Haha, bu Rani ki ora iso numpak pit kok duwe SIM. Jawab saya: kalau ada razia yang ditanyakan SIM-nya, bukan bisa naik motor atau tidak. Waktu itu bayar 250 ribu, untuk lima tahun. Berarti setahun 50 ribu. Jadi sebulan tidak sampai 5 ribu, murah bukan?

Waktu perpanjangan kan nggak mahal. Enaknya hidup saya, tapi gak berani jarak jauh. Maklum numpak sepeda mung nggo genep-genep biar tidak tergantung sama suami.

Bagi yang nembak membuat SIM sepertinya enggak berdosa deh. Coba dipikir, enggak ada pelajaran mengendari motor/mobil, tidak ada latihan tes tertulis, tidak tahu kisi-kisi soal, tau-tau disuruh tes. Yang namanya tes itu kalau sudah menerima materi pelajaran. Materinya adalah Lalu Lintas.

Kalau punya SIM sambil belajar naik motor atau nyopir mobil kan pas pas saja. Yang penting usianya sudah 17 tahun. Barulah kalau melakukan pelanggaran polisi bisa memberi surat tilang. #membela diri

Nyopir itu kalau sudah kulina ya bisa. Kalau nggak kulina (terbiasa) ya nggak bisa. Biar bisa ya sering nyopir, biar nggak ketilang, ya punya SIM #eh ngeyel.
00000

Usul untuk penguji praktek pembuatan SIM:
Mbok ya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas. Di situ diberi pelajaran tentang lalu lintas. Materinya dikelompokkan dalam beberapa bab. Satu bab bisa dipelajari lalu diujikan. Seperti anak sekolah formal itu lo. Ada pelajaran lantas tes. Tesnya bisa open book, hehe. Boleh njaplak atau mencontek.

Kalau seperti itu pasti meminimalkan gagal ujian tertulis. Setelah itu pelajaran mengendarai motor model sekolah akselerasi. Semakin cepat materi dikuasai maka ujian praktek bisa segera dilaksanakan. Ujian prakteknya jangan ada zig-zag atau berjalan jalur angka delapan. Kalau di jalan raya, mengendarai kendaraan dengan berjalan zig-zag itu berbahaya.

Ujian prakteknya cukup lewat jalan raya bareng-bareng. Karena kita biasa lewat jalan raya. Kalau kebetulan ada rintangan lalu kita harus jalan berkelok-kelok, ya pasti kita pelan-pelan dan berhitung secara cermat. Ujian yang ribet membuat grogi dan deg-degan.

Seandainya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas, pasti banyak yang ikut. Apalagi sekolahnya secara online hehe.


Karanganyar, 14 April 2017

PENULIS HARUS JELI MENANGKAP IDE

Dahulu, ketika laptop saya hilang dicuri maling, sehari kemudian saya dihubungi polisi. Tiga polisi langsung menuju sekolah tempat saya mengajar. Waktu itu, saya berada di rumah menenangkan diri untuk berdamai dengan musibah. Batin saya, kok polisi tahu kalau saya kehilangan laptop. Saya langsung mengambil kesimpulan kalau laptop sudah berada di tangan polisi kurang dari 24 jam. Padahal saya belum membuat laporan di kantor polisi.

Saat saya bertanya kok pak polisi tahu kalau saya kehilangan laptop? Salah satu di antara mereka bilang polisi itu duduk di kantor tapi telinganya ada di mana-mana.

Halah pak, pasti sampeyan sudah buka laptop saya kan? Saya kehilangan laptop di rumah. Kok sampeyan mencari saya di sekolah, padahal kita ndak saling kenal. Di laptop saya kan ada naskah-naskah dengan biodatanya dan alamat yang saya pakai/tulis adalah alamat sekolah.

Lupakan peristiwa saya kemalingan laptop. Sekarang fokus pada telinganya ada di mana-mana. Saya pernah diledek teman, katanya kalau punya cerita lucu jangan diceritakan keras-keras supaya saya tidak mendengar. Alasannya adalah karena apapun yang saya dengar dan bisa ditulis bisa mendapatkan uang. Tiga kali tulisan saya “Cerita Humor Jon Koplo” di Solopos dimuat. Ketiganya adalah hasil nguping cerita teman-teman.

Itu baru ide datang dari seputar sekolah. Belum lagi kalau saya berjalan-jalan atau makan-makan. Semua bisa saya tulis. Ide tulisan memang bertebaran di mana-mana tapi kalau kita tak jeli menangkap dan segera menuliskan, ide akan hilang begitu saja tanpa bekas.

Beberapa teman memang dengan suka rela mau menceritakan pengalamannya. Mereka sadar sepenuhnya kalau apa yang diceritakan akan saya tulis. Mereka senang-senang saja. Saya juga dengan ikhlas bagi-bagi jajanan dari honor pemuatan cerita lucu. Ada hubungan simbiosis mutualisme.

Untuk tulisan yang saya tayangkan di blog, bisa jadi tulisan tersebut hasil dari saya membaca, oleh-oleh dari jalan-jalan, peristiwa mengejutkan di kantor dan lain-lain. Oleh karena saya suka menulis tentang keseharian maka saya tidak membatasi hanya pada satu tema. Tulisan yang saya tulis temanya bermacam-macam. Semua saya tulis berdasarkan mood. Kalau sedang tidak mood, saya menulis hal yang ringan-ringan.

Saya termasuk orang yang rada heboh dan suka bercerita dengan menggebu-gebu. Tulisan saya cermin suasana hati saya. Pengalaman masa kecil, masa remaja, menjadi orang tua membuat saya mudah menyesuaikan diri. Dalam menulis, saya juga melakukan penyesuaian. Saya berusaha untuk menulis tidak monoton. Supaya tulisan saya bervariasi maka saya perlu mencari ide ke mana-mana.

Suami saya juga tahu akan kebutuhan mencari ide. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan ide cemerlang, suami rela mengantarkan saya mencari dan mengumpulkan ide. Yang penting idenya dituangkan dulu secara garis besar. Kalau perlu untuk membuat tulisan berkualitas, saya harus meluangkan waktu untuk sekadar mengembangkan ide tersebut.

Kalau kita belum ada ide, kita bisa keluar rumah, lalu naik sepeda ke jalan raya. Di luar  sana banyak yang bisa kita tulis. Kita tidak akan kehabisan ide selagi kita serius mau menulis.


Karanganyar, 14 April 2017

Rabu, 12 April 2017

Cara Mengedit Naskah oleh 3 Editor

Ketika kami berdiskusi tentang mengedit naskah atau tulisan, ada 3 narasumber yang ahli dalam bidangnya. Ketiga narasumber tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuannya sebab mereka bekerja sesuai bidangnya, yaitu sebagai editor.
Adapun ketiga narasumber tersebut adalah mbak Neng, mbak Misb, dan mbak Rien. Mbak Neng dan mbak Misb, spesialis mengedit naskah Lembar Kerja Siswa (LKS) dan mbak Rien spesialis mengedit naskah pada lomba dan naskah buku.
Setelah diuraikan panjang lebar, sungguh saya menjadi melongo dibuatnya. Ternyata pekerjaan editor “sangat kejam”. Akan tetapi kekejaman ini sebenarnya untuk kebaikan penulis. Mengapa demikian? Sebab tulisan yang diedit besar-besaran dengan cara yang “kejam” ini akan menghasilkan naskah akhir yang lebih baik.
Pesan ketiga editor kepada kami, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit atau media, sebaiknya diedit terlebih dahulu. Tugas editor memang mengedit naskah tapi jangan sampai merubah total naskah. Kami, anggota IIDN yang mengikuti kopdar menjadi lebih paham. Tugas editor ternyata berat juga.
Kami siap kecewa bila naskah atau tulisan kami dibantai habis-habisan. Oleh sebab itu jangan terlalu percaya diri setelah tulisan kita selesai dibuat. Tulisan yang kita anggap baik, belum tentu layak terbit atau layak tayang/dimuat di media.
Pesan mbak Neng adalah menulislah dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pakailah EYD, buatlah kalimat dengan pola SPOK. Menurut saya, menulis dengan pola SPOK sepertinya tulisan menjadi kaku. Lebih enak menulis dengan bahasa tutur yang mudah dipahami. Asal menuliskan tanda baca sesuai EYD maka tulisan akan memiliki makna.
Aktifitas menulis sangat menyenangkan. Seandainya jam terbang penulis sudah tinggi, kemungkinan kecil tulisannya banyak diedit sana-sini. Tapi ada kasus bahwa seorang editot ditantang untuk membuat tulisan. Ternyata seorang editor juga memiliki kesulitan untuk menulis. Buktinya, tulisan/naskah yang dibuat mengundang reaksi editor lain untuk mengoreksi.
Akan tetapi, seorang editor yang baik selalu berpesan kepada penulis-penulis. Pesannya adalah: jangan hanya karena dikririk, karya dibantai, lalu down, trauma berkepanjangan lalu tidak mau menulis lagi. Jadi penulis itu mesti tangguh. Setuju!
Untuk penulis pemula, segera menulis. Usahakan menulis sesuai bidangnya. Menulis mengalir begitu saja tidak perlu teori yang malah membuat kepala pusing. Kalau sudah menulis lalu dibaca kembali selanjutnya diedit. Tulislah materi yang ringan-ringan saja. Sebagai penulis pemula, tidak perlu menulis hal-hal yang berat.
Kalau kita menulis sesuai kata hati nurani, tentu saja tulisannya akan mengalir begitu saja. Memang kadang mengawali suatu tulisan tidaklah mudah. Semua butuh proses dan bisa dipelajari. Harapan kita tulisan kita mendekati sempurna dan berkualitas. Amin.

Karanganyar, 12 April 2017

Selasa, 11 April 2017

Jon Koplo : Dikerjai Kartu

Ceritanya Mbak Ima dan Mbak Daruti, kelihatan ndesitnya, hahaha
VERSI SOLOPOS Senin 3 April 2017
Jon Koplo
dok.pri
AH TENANE
Kartu Ajaib
Lady Cempluk, Genduk Nicole, Jon Koplo, dan lainnya mengikuti diklat di Semarang selama 2 hari. Setelah cek in, Cempluk dan Nicole menuju kamarnya di lantai 9.
Baru pertama kali ini Cempluk harus membuka pintu dengan kartu elektrik. Dikiranya ada lubang di pintu lalu kartu dimasukkan (seperti mesin ATM). Cempluk mencari lubang, kok nggak ketemu. Keduanya sempat mau turun lagi.
Tiba-tiba muncul 2 bapak-bapak penghuni kamar sebelah. Nicole tidak malu untuk minta tolong. Gembus meminta kartu pembuka pintu.
“Saya juga coba-coba. Mari kita coba,”kata Gembus.
Kartu hanya ditempelkan pada gagang/handle pintu. Pintu terbuka. Cempluk dan Nicole menarik napas lega.
“Makasih Pak Gembus.”
“Sami-sami.”
Cempluk dan Nicole 3 kali mencoba menutup dan membuka pintu. Yes, berhasil. Keduanya masuk. Setelah tas dimasukkan kamar, Cempluk memasukkan kartu di wadah dekat saklar. Byar, Alhamdulillah lampunya hidup.
Setelah diklat selesai, waktunya pulang. Tas Cempluk dan Nicole sudah dibawa keluar. Cempluk menerima telepon dari Koplo. Selesai terima telepon, pintu ditutup. Dan, hah kartunya mana?
“Kartunya mana Nic?”
“Lo, apa belum dibawa? Tadi yang bawa kan sampeyan.”
“Waduhhh, gimana nih ketinggalan di dalam?”
Akhirnya mereka turun dan laporan ke resepsionis.
“Ndak apa-apa, Bu. Kalau Ibu mau masuk kamar lagi, bisa pinjam kartu di sini.”

“Tidak kok, Cuma mau bilang kalau kartunya ketinggalan di kamar,”kata Cempluk tersipu malu. (SELESAI)

Sumber: Solopos, Senin 3 April 2017 Hal 1,6

PENULIS BERTUGAS MENGEDIT TULISAN


Kopdar IIDN Solo  pada hari Ahad, 9 April 2017 bertempat di Rumah Joglo, Makam Haji, dihadiri oleh 27 anggota IIDN Solo Raya. Kopdar kali ini memperkenalkan beberapa anggota baru. Anggota IIDN Solo Raya yang termuda adalah Zata kelas 6 SD (jelas belum Ibu-ibu dong).

Pada kopdar kali ini materi yang dibahas adalah mengedit tulisan.

Kita sering mendengar/membaca tulisan bahwa seorang penulis juga merupakan pembaca. Orang yang suka menulis tentu suka membaca. Dengan membaca, penulis tidak akan kehilangan ide. Dengan membaca, penulis tidak akan menulis sembarang tulisan tanpa dasar. Penulis yang baik akan mempertanggungjawabkan semua yang ditulisnya. Kritik, saran dan masukan dari pembaca, sangat dibutuhkan penulis.

Sebelum menayangkan sebuah tulisan, sebaiknya tulisan yang sudah jadi, diendapkan terlebih dahulu. Setelah diendapkan barang sehari, tulisan dibaca kembali. Penulis membaca kembali tulisannya yang sudah selesai. Dalam hal ini, penulis bertindak sebagai pembaca, bukan sebagai seorang penulis. Tujuan membaca kembali tulisan yang sudah dibuat adalah untuk mengedit tulisan.

Seorang pembaca biasanya sangat kritis. Pembaca akan menemukan tulisan-tulisan yang perlu diperbaiki walaupun bukan keseluruhan tulisan. Pembaca akan menilai sebuah tulisan secara obyektif. Meskipun tulisan yang diedit adalah tulisannya sendiri, tetapi pembaca yang baik akan menilai apa adanya suatu tulisan. Baik akan dikatakan baik, kurang juga akan dikatakan kurang.

Pembaca bertugas mengedit tulisan. Oleh karena tulisan yang dibaca adalah tulisan sendiri maka sudah semestinya seorang penulis memiliki tugas mengedit tulisannya sendiri. 

Ternyata mengedit tulisan adalah pekerjaan yang menyenangkan. Kita akan lebih tahu kekurangan kita. Mungkin kita akan menemukan kesalahan pada tanda baca, kata baku, kalimat tidak efektif dan korelasi antara kalimat satu dengan kalimat yang lain. Penulis juga akan menemukan kalimat/kata yang janggal dalam suatu tulisan, konsistensi penulisan juga dapat penulis temukan (misalnya: penggunaan kata ganti aku, saya).

Sebagai seorang penulis, kita memiliki kewajiban untuk membuat tulisan yang berkualitas. Tulisan yang berkualitas akan dapat kita buat seandainya kita banyak membaca. Dengan banyak membaca tulisan, buku atau karya orang lain, kita akan menemukan gaya tulisan kita sendiri. Kalau kita membuat tulisan sendiri, tidak sekadar copy paste, maka gaya tulisan yang terbentuk adalah gaya tulisan kita sendiri.

Penulis bisa mempelajari penulisan sambil membuat tulisan. Penulis memerlukan pedoman agar dapat membuat tulisan yang baik. Minimal ada 2 buku yang wajib dimiliki seorang penulis yang berkaitan dengan tugas penulis sebagai editor. Dua buku tersebut adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan buku pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Penulis dapat mengedit tulisannya sendiri. Namun, penulis harus bisa secara obyektif menilai tulisannya sendiri. Jangan sampai merasa tulisannya sudah baik dan tidak perlu diedit. Sebaik-baik tulisan kita, tetap perlu diedit terlebih dahulu.

Sebagian dari penulis, karena dikejar deadline maka tidak memiliki waktu untuk mengedit. Penulis memang berhasil menyelesaikan tulisan, tetapi belum tentu tulisan tersebut adalah hasil karya yang terbaik. Hal ini sering terjadi ketika penulis mengikuti lomba. Karena DL mendesak, jadilah tulisan apa adanya tanpa polesan sana sini.

Oleh sebab itu, untuk mendapatkan tulisan yang baik, sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk menyelesaikan tulisan. Nikmati proses menulis, lalu endapkan hasil tulisan selama sehari. Ketika kita mengedit tulisan rasakan sensasinya. Penulis memiliki kewajiban untuk mengedit tulisannya. Apapun tulisannya harus diedit.

Kopdar kali ini sangat seru, berbagi ilmu berbagi pengetahuan.

Karanganyar, 11 April 2017

Sumber tulisan : Tulisan Noer Ima Kaltsum dengan alamat: 

http://www.soloensis.com/11/04/2017/penulis-bertugas-mengedit-tulisan-1774.html

Sabtu, 08 April 2017

GROUP WA TEMPAT MENJALIN PERTEMANAN BUKAN TEMPAT UNTUK BERTENGKAR

Bismillah, Alhamdulillah, hari ini saya masih diberikan nikmat sehat dan umur panjang. Betapa saya sangat bersyukur karena mendapatkan oksigen secara gratis, dapat makan makanan tanpa berpantang. Syukur-syukur dapat makanan secara gratis/cuma-cuma.

Tidak lupa saya terus bersyukur diberi nikmat iman, rezeki barokah, saudara-saudara yang baik hati, keluarga yang senantiasa memberikan dukungan, dan teman-teman yang baik. Teman-teman yang saya maksud adalah teman di dunia nyata maupun teman di dunia maya.

Meskipun di dunia nyata belum pernah bertemu dengan teman di dunia maya, tapi saya berusaha untuk tetap santun dalam bergaul. Saya berusaha untuk mengikuti pertemanan dengan baik dengan teman di dunia maya.

Sudah umum, sebagian dari kita  memiliki alat komunikasi yang bisa terhubung dengan teman di dunia maya lewat WA. Mungkin dari kita masuk dalam group WA tertentu dengan berbagai kepentingan. Akan tetapi, jelas, keikutsertaan kita dalam suatu group WA memiliki niat yang baik yaitu menjalin komunikasi dengan teman secara baik.

Namun, kadang-kadang ada suatu hal yang membuat kita tidak merasa nyaman dengan pembicaraan/topik/tema/bahasan dalam obrolan. Biasa, itu wajar-wajar saja. Kalau sekiranya kita tidak sepaham dengan pendapat orang lain, maka langkah yang terbaik adalah diam. Tujuannya agar tidak terjadi gesekan antar anggota group.

Mungkin, kita merasa pendapat kita paling benar, tapi tahanlah. Apa yang kita anggap baik dan benar, belum tentu di mata orang lain kita 100% benar. Kalau kita merasa tidak cocok dengan seseorang (anggota group), bila ingin menegur atau mengingatkan, cukuplah dengan chat pribadi. Jangan sekali-kali menjatuhkan wibawa orang lain di hadapan orang banyak (dalam hal ini konteksnya di group WA, berarti tidak berhadap-hadapan).

Dalam berkomunikasi, meskipun tidak ada aturan tertulis hitam di atas putih, sebaiknya tetap menomorsatukan kebersamaan. Misalnya ada sendau gurau dan canda, jangan terlalu berlebihan. Sebab bercanda berlebihan justeru berakibat tidak baik. Jangan mudah tersinggung dan menyinggung perasaan anggota group. Sekali lagi, tahan!

Kalau semua bisa menahan diri untuk emosi, saya yakin, dalam suatu group akan memberikan manfaat dan memberikan kesan yang baik.

Ada suatu pengalaman: terpaksa saya mengundurkan diri dengan cara pamit, sebelumnya minta maaf dahulu. Penyebabnya adalah dalam group yang sering ada guyonan ini, ternyata ada yang tersinggung. Jadilah salah satu dari mereka marah-marah tak terkendali. Yang satunya lagi (merasa bersalah) minta maaf, baik di group maupun chat pribadi. Tetap saja yang satu marah-marah. Anehnya, kalimat yang dilontarkan tidak ada hubungan sama sekali dengan akar permasalahan.

Saya merasa kok tidak sehat lagi ya pembicaraannya. Saya tidak nyaman kalau seperti ini. Padahal anggoita group setiap hari bertemu di perguruan. Setelah diingatkan : jangan sampai pertengkaran di dunia maya dibawa ke dunia nyata. Yaelah, tetap saja yang terlanjur emosi menulis : jangan ikut campur urusan pribadi.

Mohon maaf, saya kok tidak nyaman ya. Bye-bye.
Ternyata, tidak gampang untuk menahan diri. Padahal, kalau setiap hari bertemu di perguruan, apakah nanti tidak merasa kikuk? Yang penting saya tetap berbuat baik pada seseorang meskipun orang tersebut pernah melukai saya.


Karanganyar, 8 April 2017

Rabu, 05 April 2017

Jangan Menghapalkan Rumus Kimia, Begini Cara Menguasai Penyelesaian Soal Kimia

Praktikum Kimia
dok.PLPG Agustus 2010

Sebagian siswa merasa malas untuk belajar kimia. Hal itu disebabkan karena rumus-rumus kimia yang banyak perlu dihapalkan dan sulit untuk dimengerti. Sebenarnya, rumus kimia tidak perlu dihapalkan dengan muka dilipat dan mulut sedikit monyong, santai saja. Semua bisa dipelajari dengan pembiasaan dan dengan hati riang.
Sebuah contoh seorang anak kecil yang sedang latihan berjalan. Meskipun  sering terjatuh ketika sedang latihan berjalan, anak tersebut tidak jera. Tetap saja anak tersebut berlatih berjalan. Dalam hitungan hari, anak sudah bisa berjalan dengan pelan-pelan tanpa jatuh lagi. Setelah itu, anak tersebut tidak mau lagi tinggal diam. Dia akan terus berjalan bahkan tanpa mengenal lelah.
Contoh yang lain adalah seorang anak yang belajar naik sepeda. Walaupun sering jatuh, kaki dan tangannya ada goresan luka, dia tetap semangat untuk berlatih. Apakah dia bosan atau takut untuk memulai naik sepeda? Pada umumnya anak yang belajar naik sepeda tidak takut memulai naik sepeda lagi. Memang, ada sebagian kecil yang mengalami trauma dan mogok, tak mau lagi berlatih naik sepeda.
Belajar kimia, kuncinya adalah berlatih dan terus berlatih. Sebelum mengerjakan latihan soal, siswa harus membaca buku terlebih dahulu. Kalau perlu, saat diterangkan oleh guru, siswa menuliskan hal-hal yang dianggap penting.
Kalau siswa memiliki kebiasaan untuk menuliskan apa yang sudah didengar atau dibaca, itu artinya lebih memudahkan untuk mempelajari pelajaran kimia lebih lanjut. Salah satu contoh kebanyakan siswa mengalami kesulitan untuk menghapalkan rumus kimia beserta nama senyawanya.
Salah satu dasar agar siswa bisa menuliskan rumus kimia dengan benar adalah siswa mengerti dan memahami anion dan kation. Untuk kation (logam), siswa harus bisa membedakan logam alkali dan alkali tanah. Mengapa demikian? Sebab bila siswa bisa mengelompokkan golongan alkali dan alkali tanah, siswa tahu jumlah muatan suatu logam dalam bentuk kation.
Seandainya materi kation dan anion sudah paham, siswa tinggal banyak latihan mengerjakan soal. Apabila belajar sendiri tanpa teman dan tidak didampingi tutor, siswa bisa membuka-buka buku sewaktu-waktu diperlukan.
Mengerjakan latihan dengan frekuensi banyak atau sering membuat siswa cenderung lebih mudah mengingat-ingat materi rumus kimia dan nama senyawa.
Untuk rumus yang berkaitan dengan hitungan kimia, awalnya harus tahu dasar penggunaan rumus. Seperti memahami satuan, memahami konversi dan tahu rumus. Banyak berlatih mengerjakan soal, selain menghapalkan rumus secara tidak langsung, juga tahu variasi soal. Semakin banyak berlatih, semakin hapal rumus yang akan digunakan sehingga mempercepat pengerjaan soal.
Saya suka mengerjakan soal yang berkaitan dengan hitungan kimia. Dari banyak berlatih ini, saya lebih cepat untuk mengerjakan soal. Kuncinya banyak berlatih.
Ketika saya mengikuti mata kuliah Kapita Selekta Kimia SMA, materi yang harus saya pelajari tidak ada (materi khusus). Hanya mengerjakan soal saja. Soal yang diberikan luar biasa banyak karena mencakup semua pokok bahasan kimia yang diajarkan di SMA. Menghapalkan materi kelas 1, 2, dan 3 SMA dalam waktu satu semester.
Biasanya soal-soal diberikan dengan bentuk dan bahasannya sama, hanya jawabannya dibolak-balik. Di sini saya harus memahami benar dasar materinya. Apakah saya bosan dengan mata kuliah yang membahas mengerjakan soal dengan cepat ini? Tidak, jawabannya. Dengan mengerjakan soal yang banyak ini, mau tidak mau saya jadi menghapal rumus.
Jadi menghapalkan rumus tidak perlu dengan mulut komat-kamit, bersemedi, tutup telinga agar tidak mendengarkan hal-hal lain.
Contoh soal matematika: tuliskan rumus luas lingkaran! Kalau sudah hapal rumus luas lingkaran, lalu terapkan dengan cara banyak berlatih mengerjakan soal tentang luas lingkaran. Mungkin yang ditanyakan jari-jari lingkaran, diameter dan luas lingkaran.
Mari, banyak berlatih mengerjakan soal kimia agar Anda bisa mengingat rumus kimia tanpa harus menghapalkannya.
Karanganyar, 5 April 2017

Sumber tulisan Noer Ima Kaltsum dalam:

http://www.soloensis.com/05/04/2017/jangan-menghapalkan-rumus-kimia-begini-cara-menguasai-penyelesaian-soal-kimia-1768.html