Kamis, 20 Juli 2017

Menabung Setengah Gram Emas Secara Rutin Solusi Masalah Keuangan

 
Nabung emas di pegadaian
Hari Ahad, 16 Juli 2017 IIDN Solo mengadakan Kopdar dengan agenda khusus membicarakan atau berbagi, diskusi tentang menejemen keuangan keluarga. Kopdar kali ini bertempat di rumah mbak Candra. Nah, untuk nara sumber dipilih mbak Nurul Chomaria. Kebetulan mbak Nurul pernah menerbitkan buku yang ada kaitannya dengan menejemen keuangan keluarga muslim. Jadi, pas banget rasanya.

Banyak ilmu dan pengalaman yang dibagikan dalam kopdar kali ini. Akan tetapi, saya akan mengambil salah satu di antara materi yang disampaikan, yaitu menabung. Setiap keluarga sebaiknya menyisihkan sebagian hartanya untuk ditabung. Menabung, bukan lagi karena terpaksa. Sebenarnya kita membutuhkan tabungan. Dana tabungan ini  bisa kita gunakan pada keadaan darurat.

Dari beberapa penjelasan mbak Nurul tentang menabung, saya tertarik untuk menulis menabung emas. Lebih spesifik lagi yang akan saya sampaikan adalah tabungan berupa emas dan cara menabung emas. Mengapa saya tertarik untuk menulis lagi tentang tabungan emas? Ternyata memang banyak orang yang tertarik untuk menabung emas, tetapi belum tahu apa yang harus dilakukan. Sebabnya adalah sebagian orang membayangkan menabung emas harus mengeluarkan dana yang besar. Karena ada sesi Tanya jawab dan berbagi pengalaman mentang menabung emas, maka tulisan ini merupakan rangkuman diskusi selama kopdar berlangsung.

Ada pertanyaan, bagaiamana cara menabung emas dengan dana terbatas? Ada solusi bagi mereka yang akan menabung emas tapi dananya terbatas, caranya menabunglah di pegadaian. Menabung emas di pegadaian, tidak perlu dengan dana yang banyak. Dengan minimal enam ribuan, kita sudah bisa menabung emas. Atau, dengan uang lima puluh ribu perbulan secara konsisten, kita bisa memiliki emas. Tentu saja uang lima puluh ribu per bulan tidak memberatkan kita untuk menabung. Hanya saja, kalau menabung emas di pegadaian, kita tidak serta merta langsung membawa pulang emas fisik. Seandainya kita menginginkan emas fisik, kita bisa mencetak terlebih dahulu (kita harus membayar ongkos cetak)

Kalau kita tidak mau repot menabung emas di pegadaian, tetapi dana kita terbatas, tetap saja bisa kita lakukan. Caranya kita kumpulkan sejumlah tertentu uang (menabung uang di rumah saja, soalnya kalau di bank ada biaya administrasi). Kalau uang sudah terkumpul (kita sudah tahu harga emas di pasaran), kita bisa membeli emas dengan berat seperempat gram, setengah gram, satu gram dan seterusnya. Hanya saja, kalau kita membeli emas di toko emas berupa perhiasan, akan dikenakan biaya pembuatan.

Saya sendiri memiliki tabungan emas di pegadaian (tidak secara fisik) dengan kadar 24 karat dan emas fisik (perhiasan) beberapa gram saja. Saya tertarik menabung emas karena menabung emas dalam jangka panjang justeru menguntungkan. Pengalaman orang tua yang menabung emas beberapa waktu yang lalu saya jadikan contoh.

Kembali pada pembahasan Mbak Nurul tentang menabung. Mbak Nurul memberi contoh seorang siswa yang mengumpulkan uang saku lalu dibelikan emas setengah gram. Setiap uang saku sudah terkumpul dan bisa dibelikan emas setengah gram, maka segera dibelikan emas. Dalam kurun waktu tertentu, tak terasa emas yang terkumpul jumlahnya banyak dan harganya terus meningkat. Hasilnya, tabungannya sangat berarti di saat ada kebutuhan mendesak.

Kadang-kadang kita memiliki suatu keinginan. Tapi keinginan tersebut tidak pernah terwujud karena ketidaktahuan kita atau terbatasnya pengetahuan kita. Kita memerlukan ilmu dari orang lain. Berkomunikasi dengan orang lain menambah pengetahuan dan wawasan. Dengan komunikasi, kita bisa memecahkan masalah, bisa mewujudkan mimpi, keinginan dan cita-cita kita.

Pada saat sekarang, menabung merupakan kebutuhan kita. Menabunglah mulai sekarang juga, jangan tunda-tunda lagi. Silakan pilih sendiri, mau menabung uang, barang, property, tanah,  perhiasan atau emas. Memang, sebaiknya kita memiliki tabungan emas meskipun membelinya hanya setengah gram- setengah gram.

Ternyata, topik tabungan ini sangat menarik perhatian anggota IIDN Solo. Buktinya mereka sangat antusias menyimak penjelasan Mbak Nurul dan ada Tanya jawab yang sangat seru. Bagi saya ilmu bisa dicari di mana saja dan ilmu baru menejemen keuangan keluarga ini sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih saya ucapkan pada mbak Nurul yang sudah meluangkan waktu mengisi acara kopdar IIDN Solo. Semoga yang panjenegan (mbak Nurul) sampaikan menjadi amal jariyah dan Insya Allah bermanfaat. 

Akhirnya, tulisan ini harus segera saya akhiri dahulu. Kalau membicarakan tabungan emas, rasanya tak ada habisnya.


Karanganyar, 20 Juli 2017

Senin, 17 Juli 2017

Nilai Mapel Pendidikan Agama Bukan Sekadar Angka-angka



Beberapa tahun yang silam, teman saya Guru Agama Islam bercerita. Selama beliau menjadi Guru dan mengajar, bila seorang siswa tidak “sangat keterlaluan” maka pantang baginya memberikan nilai enam ke bawah. Paling tidak beliau akan memberi nilai tujuh.

Teman saya percaya, seandainya siswanya tidak bisa mengerjakan soal ulangan harian, tes semester atau tes kenaikan kelas, tapi siswa tersebut bisa membaca surat Al Fatihah, surat-surat pendek, bisa shalat, dan benar bacaannya serta mengerjakan puasa. Nilai ulangan atau tes yang jeblok atau jatuh bisa ditolong dengan remidi dan amalan lainnya. Maka, tidak ada yang aneh kalau nilainya minimal tujuh.

Teman saya tidak pelit memberi nilai dalam bentuk angka. Harapannya, setiap Guru Agama Islam, juga akan melakukan hal yang sama dengan beliau. Tapi apa yang terjadi? Nilai Agama Islam pada rapor putrinya hanya enam. Teman saya tidak marah, hanya kaget saja. Mosok, Bapaknya Guru Agama Islam, anaknya rajin shalat, puasa, menangkap pelajaran juga tidak bodoh-bodoh amat, kok nilai Agama hanya enam.

Menurut saya, benar apa yang dikatakan teman saya. Mapel Agama Islam, cara menilainya bukan dari gabungan angka-angka saja. Seharusnya ada faktor X yang membuat nilai itu angkanya “enak dan manis dipandang mata”, paling tidak tujuh.

Contoh lagi, seorang anak berbudi pekerti baik, tapi karena belum fasih baca tulis, nilai akhlak di rapor hanya 55. Anak setiap zuhur dan asar di sekolah mengikuti shalat berjamaah, mengikuti doa bersama, bisa membaca dengan benar bacaan dalam shalat, bisa melakukan wudhu sebelum shalat, nilai fikihnya 50. Apakah amal dan perbuatan baik anak tadi, tidak diikutkan dalam penilaian? Apakah nilai ini hanya didapat dari ulangan harian, tes semester atau kenaikan kelas saja? Apakah tidak ada unsur lain yang bisa untuk mengangkat nilai anak tersebut menjadi lebih tinggi?

Benar juga kata kenalan Guru yang sudah senior, biji ora kulakan we kok pelit-pelit dikasih ke siswa. Bukan berarti mengabaikan proses penilaian, tapi mari kita cermati lagi. Sudah pantaskah kita memberi nilai hanya sekadar angka tanpa mempertimbangkan akhlak, amal perbuatan, kebiasaan anak-anak didik?

Saya kira memberi nilai pada rapor untuk pelajaran Agama, akan berbeda dengan memberi nilai untuk pelajaran matematika.

Pantas saja teman saya (Guru Agama Islam) kaget, mendapatkan nilai 6 pada rapor anaknya, puluhan tahun yang silam.


Karanganyar, 17 Juli 2017

Minggu, 16 Juli 2017

Ayo Menabung!

Buku Rekening

Menabung itu awalnya dipaksakan, tapi seiring berjalannya waktu tentu saja pemikiran kita akan berubah. Kini tidak lagi menabung karena terpaksa atau dipaksa, melainkan menabung adalah kebutuhan kita. Dengan menabung rutin berarti kita bisa memecahkan masalah keuangan ketika genting.

Apakah yang bisa kita tabung? Kita bisa menabung dalam bentuk uang, tanah, perhiasan atau emas.

Di manakah tempat untuk menabung (menyimpan uang dan perhiasan)? Pada umumnya, kita menabung uang di rumah atau bank. Kalau untuk menabung perhiasan, selain di rumah, tempat untuk menabung perhiasan adalah pegadaian. Ternyata, sekarang ada juga bank yang melayani untuk menabung emas.
 
Nabung uang receh


Kalau bisa, segala macam transaksi kita bebas dari riba. Oleh sebab itu, sebelum menabung di suatu tempat baik dalam rupiah (uang) maupun emas, kita harus tahu ada riba atau tidak dalam transaksi tersebut. Sebagai muslim, kita harus menjauhi riba.

Bagaimanapun, menabung memang kita perlukan dan harus kita lakukan. Kalau kita belum memiliki tabungan sama sekali, mari kita awali saat ini dengan menabung uang recehan. Insya Allah, tabungan kita bermanfaat.

Selamat menabung.

Kamis, 13 Juli 2017

Pedagang Tahu Bulat di Bus AKAP


Perjalanan pulang dari Yogyakarta sampai Solo memakan waktu lama karena macet. Sampai Solo kemalaman. Sebelum memasuki Solo, naiklah seorang laki-laki pedagang tahu bulat. Laki-laki itu menawarkan dagangannya dengan ramah. Salut aku, zaman sekarang ada anak muda menawarkan dagangan dengan ramah. "Kalau tidak dibeli, silakan dikembalikan."

Setelah membeli dua bungkus tahu bulat @2000 rp, aku minta izin memotretnya.
"Pakai kamera saya saja mbak. Punya mbak blitznya tidak hidup."
Akhirnya Faiq memotret mas pedagang tahu bulat. Melalui blutut, gambar dikirim. "Makasih ya mas. Semoga laris."

Matur nuwun. Ada senyum mengembang karena malam ini tahu bulatnya laku banyak. Ternyata rasa tahu bulatnya enak.

Karanganyar, 13 Juli 2017

Rabu, 12 Juli 2017

Jumat, 07 Juli 2017

Berbagi Peran Dengan Pasangan di Rumah


Berbagi peran dengan pasangan di rumah, sebenarnya mudah dilakukan. Hal ini bisa terjadi bila masing-masing memiliki kesadaran untuk mengambil tugas bukan karena terpaksa. Contoh, saya biasa melakukan pekerjaan tumah tangga seperti mencuci, memasak, menyetrika pakaian, membersihkan rumah, merapikan rumah dengan tidak merasa terbebani. Saya bekerja di luar rumah, dari pukul 06.30 – 14.00 WIB. Oleh karena semua sudah berjalan lama, maka saya melakukan dengan hati senang.

Suami memiliki tugas sendiri. Tugas di rumah adalah membersihkan halaman, sekitar rumah, dan kebun belakang rumah. Saya dan suami sama-sama mengajar dan memiliki jadwal yang sama di sekolah. Tanpa diminta, suami juga mau mencuci pakaian, membersihkan dalam rumah dan menyetrika. Untuk urusan konsumsi, suami juga tidak canggung untuk membelikan lauk pauk buat keluarga saat dibutuhkan.

Untuk urusan anak-anak yang berkaitan dengan pelajaran memang saya lebih banyak mengambil peran. Saya lebih sabar menghadapi atau mendampingi anak-anak belajar. Saya juga lebih sabar menunggu anak-anak ketika mereka melakukan aktifitas di rumah selain belajar. Saya paling suka mendampingi si kecil Faiz, bermain, terutama bermain di luar rumah. Saya harus berada di luar rumah ketika Faiz bermain di luar. Rumah kami berada di dekat sawah. Kiri, kanan, depan dan belakang rumah adalah sawah. Memang di depan rumah saya ada jalan permanen, jalan yang menghubungkan jalan raya dengan perumahan dan kampung. Kalau si dhenok Faiq, sukanya curhat atau cerita. Biasanya Faiq juga ikut berada di luar kalau adiknya di luar.

Faiq dan Faiz, dua anak saya juga dekat dengan Ayahnya. Faiz suka ikut Ayahnya berada di lapangan untuk badminton atau tenis. Sedangkan Faiq suka pergi dengan Ayahnya untuk keperluan membeli buku dan barang kesukaannya di Solo.

Dahulu, ketika Faiq belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), saya dan suami berbagi tugas untuk antar jemput Faiq sekolah maupun les. Demikian juga dengan Faiz, kami bergantian mengantar dan menjemput Faiz.

Saya tipe Ibu rumahan. Saya juga membiasakan diri untuk segera berkumpul dengan anak-anak dan suami. Kalau suami memiliki kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, maka saya akan mengantar-jemput Faiq-Faiz. Saya selalu ingin anak-anak merasa aman dan nyaman bersama saya di rumah. Kalau saya memiliki kepentingan dan tidak bisa menjemput Faiq-Faiz maka saya akan minta bantuan suami untuk mengurus Faiq-Faiz. Jangan sampai karena kedua orang tua sibuk, Faiq-Faiz jadi tidak terurus.

Bila suatu saat saya ada keperluan dengan teman-teman, tetapi tidak terlalu penting, bila saatnya menjemput anak-anak, saya pasti izin pulang duluan. Teman-teman juga tahu, kerepotan saya seandainya suami sedang dinas di luar kota..

Sekarang Faiq sudah memiliki SIM, ke sekolah dan mengikuti les, Faiq mengendarai sepeda motor sendiri. Saya selalu berpesan untuk selalu hati-hati dan tidak perlu tergesa-gesa. Tugas saya mengantar dan menjemput Faiq, sudah tidak ada. Tinggal antar jemput Faiz.

00000

Sejak sebelum menikah sampai sekarang, saya tidak suka keluar rumah kalau tidak untuk hal penting. Saya tidak suka jalan-jalan, berbelanja, atau melakukan aktifitas yang mengeluarkan banyak uang. Bagi saya, bekerja, mengurus anak, menulis, menyalurkan hobi dan melakukan perjalanan, sudah cukup menyita waktu. Saya tidak akan melakukan kegiatan “me time” tetapi mengorbankan anak-anak.

Bagi saya, anak-anak adalah segalanya. Saya dan suami akan berbagi tugas. Kami sadar, semua pekerjaan tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Kalau sekali tempo, kami harus melakukan semuanya, itu karena pasangan ada tugas keluar kota atau tugas sampai menginap.

Anak-anak biasa, kalau masuk rumah, salah satu di antara Ayah dan Mami, tidak ada di rumah, mereka pasti bertanya,” Ayah mana? Mami mana?”

Kalau kami lengkap, saya, suami, Faiq-Faiz, berada di rumah, ternyata banyak hal bisa kami lakukan bersama. Kami kompak dalam hal berbagi peran.


Karanganyar, 7 Juli 2017

Rabu, 05 Juli 2017

Reuni Dan Kaos Seragam Reuni

Seragam keluarga bukan seragam reuni

Sebenarnya tidak ada aturan yang mengharuskan reuni dilakukan saat-saat momen lebaran. Reuni, mau diadakan kapan saja boleh dan sah-sah saja. Seandainya reuni diadakan bukan saat (nuansa) lebaran, ya silakan. Pokoknya waktu reuni itu tidak mengikat. Yang penting saat reuni ada peserta yang datang. Reuni, tidak perlu harus mendatangkan sekian orang. Bertiga, berempat atau berlima, reuni tetap bisa jalan (kalau satu orang, bukan reuni dong hahaha).

Untuk mengumpulkan banyak orang pada saat tertentu bukan perkara mudah. Antara satu orang dengan lainnya memiliki kepentingan dan acara berbeda. Kalau saat reuni ada teman yang tidak bisa datang, tentu saja kita harus maklum. Kita tidak bisa memaksa orang lain agar sama dalam hal waktu luang. Berpikiran positif saja terhadap teman-teman yang tidak bisa menghadiri reuni.

Reuni digunakan untuk sarana silaturahmi. Reuni jangan digunakan untuk pamer. Pokoknya sembarang pamer tak perlu dilakukan saat reuni. Jabatan, kekayaan, prestasi, anak, pasangan dan lain-lain tak perlu dipamerkan. Reuni bukan ajang pamer, reuni juga bukan ajang berkeluh kesah. Reuni bukan untuk mengungkit sesuatu yang menyakitkan atau reuni bukan untuk menyemaikan kembali cinta yang telah lalu. (Karena yang saya sebut yang terakhir, kadang terjadi pada dua insan yang pernah jadian. Jadian apa sih? Silakan diterjemahkan sendiri).

Kalau pada saat reuni ternyata ada teman yang bisa membantu atau kita bantu dalam hal mendapatkan pekerjaan, ya baguslah kalau begitu. Inilah sisi positif dari reuni. Senang rasanya bila melihat teman-teman kita sukses dan bisa menyukseskan teman yang lain.

Reuni bisa dilaksanakan di mana saja. Masalah tempat bisanya dipilih posisi di tengah-tengah. Maksudnya, tempatnya bisa terjangkau dari berbagai penjuru. Biasanya teman-teman kan rumahnya tidak berdekatan. Reuni bisa dilaksanakan di rumah, menyewa rumah makan, menyewa gedung, atau di tempat wisata tertentu. Semua tergantung kesepakatan.

Untuk mengenal peserta reuni (kalau pesertanya banyak), biasanya ada seragam reuni. Kadang-kadang, saat reuni peserta juga mengajak pasangannya. Misalnya 20 sampai 30 tahun tidak pernah bertemu, mungkin kita pangling pada teman. Kalau pasangan (bukan dari sekolah yang sama) memakai seragam, nanti bakalan keliru dan omongannya mungkin tidak nyambung dong.

Yang paling praktis seragamnya adalah kaos dengan tulisan tertentu dan ada tahun reuni. Dengan demikian, terkesan ada kekompakan meskipun sudah lama berpisah. Kalau mau mengikuti, ada reuni bersama teman SD, SMP maupun SMA. Bila pada tahun yang sama, reuni pada ketiga jenjang kita ikuti, dan saat reuni memakai seragam, berapa seragam reuni yang kita miliki? Kalau reuni dilakukan tiap tahun, berapa seragam yang kita miliki? Dan jangan lupa seragam itu hanya dipakai bareng dengan banyak orang pada saat reuni. Selebihnya kita pakai sebagai pakaian harian. Atau kita pakai saat bertemu teman tertentu dan sudah janjian memakai kostum tertentu, misalnya.

Saya bukan anti seragam. Saya juga tidak tiap tahun menghadiri acara reuni. Yang saya ingat, sejak lulus SD tahun 1984 saya baru mengikuti sekali reuni SD. SMP lulus tahun 1987, sampai sekarang saya belum pernah mengikuti reuni (Padahal hanya di Yogyakarta, tiap tahun diadakan pertemuan rutin). SMA lulus tahun 1990, baru tiga kali saya mengikuti reuni. Bahkan dengan teman kuliah (lulus tahun 1993) saya belum pernah bertemu dengan teman-teman D3 Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Negeri Yogyakarta. Bagi saya bertemu teman lama itu penting tetapi tidak paling penting. Kalau memang waktunya memungkinkan, saya juga berusaha untuk mengikuti reuni.

Kembali pada seragam untuk reuni. Bila tiap reuni kita harus membeli seragam, berapa banyak akan kita miliki seragam reuni? Belum lagi kalau ternyata seragam yang digunakan reuni SD, SMP atau SMA warnanya sama. Rasanya kok menumpuk-numpuk pakaian. Apakah tidak lebih baik kalau pakaian yang dikenakan saat reuni memakai dresscode saja. Bisa saja warna pakaiannya sama atau senada, entah itu polos, bercorak dan lain-lain. Lebih hemat dan tidak mubazir. Wahhhh, nggak kompak dong? Ya, silakan saja kalau mau memakai seragam. Saya cenderung suka memakai pakaian yang warnanya senada. Dengan memakai dresscode, bisa saja kita tak perlu membeli baju/kaos lagi karena kita sudah punya pakaian yang dimaksud dan tinggal memakai.

Seandainya seragam reuni diberikan secara gratis karena ada sponsor, saya mau-mau saja. Ya, barangkali suatu saat pada pelaksanaan reuni ada sponsor yang akan memberikan seragam secara gratis. Wah, ngarep banget!


Karanganyar, 5 Juli 2017 

Lebaran dan Pantai Goa Cemara Kabupaten Bantul, DIY

Noer's Dynasty

Bagi saudara-saudara saya yang tinggal di DIY dan keluarga kakak saya yang tinggal di Kabupaten Blora, Jateng, berlibur ke pantai selatan itu hal biasa. Mereka bisa pergi ke pantai sewaktu-waktu. Berbeda dengan saya, suami dan anak-anak. Harap maklum, saya tidak memiliki kendaraan roda empat yang bisa membawa kami sekeluarga berlibur ke pantai. Paling tidak, salah satu dari kami (saya atau Faiq) harus tinggal di rumah Ibu. Biasanya yang bisa pergi dengan sekali angkut ayah, saya dan si kecil. Atau, Faiq, ayah dan si kecil.

Kali ini, anak, menantu  dan cucu Ibu bisa kompak berlibur ke pantai Goa Cemara. Pantai Goa Cemara, Kabupaten Bantul, DIY terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis. Alhamdulillah, senang rasanya bisa bepergian bersama keluarga besar dengan kostum yang sama. Adik saya memunyai ide membuat seragam kaos yang digunakan untuk lebaran. Dua kakak saya yang lain dengan pasangannya tidak ikut ke pantai karena ada suatu keperluan.
Menyendiri memandang laut lepas

Awalnya, kakak saya kedua, mbak Anna mengutarakan ingin bepergian bersama tetapi di tempat wisata yang tidak ramai, dan bebas macet. Maka pantai Goa Cemara pilihannya. Sebelum berangkat, kami membawa bekal makanan ringan, minuman dan buah-buahan. Langkah ini kami tempuh agar pengeluaran tidak begitu banyak. Maklum saja, suasana lebaran, makanan dan minuman yang dijual di tempat wisata, tidak ada yang murah. Untuk makan berat, kakak saya memesan di lesehan sekitar pantai, yang harganya masih terjangkau dan tidak “ngepruk”/terlalu mahal.

Biaya retribusinya juga murah, yakni empat ribu rupiah per orang. Kebetulan saya dan suami naik sepeda motor, parkir sepeda motor tiga ribu rupiah. Masih terjangkau dan tidak mahal.

Sampai di pantai memang pengunjungnya sudah banyak, tapi tidak berjubel. Kami menggelar dua tikar lalu memandang ke pantai dengan nyaman. Meskipun ramai, tapi keberadaan pengunjung tidak menghalangi kami melihat pantai dari kejauhan.
Dilarang mandi di laut


Saya harus mengawasi Faiz, si kecil yang sangat aktif dan tidak mau diam. Bagaimanapun, Faiz adalah tanggung jawab saya sebagai Ibunya. Memang di banyak tempat ada peringatan untuk menjauh dari pantai. Artinya, kami tidak boleh bermain air. Gelombang besar kadang datang tanpa bisa kita duga sebelumnya. Untuk mengantisipasi agar Faiz tidak mendekati air, saya ajak dia bermain pasir.  Faiz membuat cetakan bangunan pasir dengan wadah po* mie. Setelah itu Faiz dan keponakan saya, Icha yang kecil mungil mencari daun cemara lalu ditusukkan di atas bangunan pasir. Mereka berlari ke sana kemari dengan riang. Saya, kakak, adik dan suami tetap memperhatikan Faiz dan Icha. Kami tidak boleh lengah.

Ketika merasa sudah cukup kami menikmati udara sejuk, menikmati makanan ringan dan menikmati suasana yang nyaman, kami harus membereskan bawaan. Tidak lupa, sampah-sampah yang kami hasilkan, kami buang di tempatnya. Senang rasanya berada di tempat yang menyediakan tempat sampah di mana-mana. Dengan tempat sampah yang tersedia ini, jelas membuat tempat wisata menjadi bersih. Saya amati, sebagian besar pengunjung juga membuang sampah pada tempatnya. Memang menjaga kebersihan adalah gaya hidup kita. Apalagi sebagai seorang muslim, tentu mengutamakan kebersihan.

Kami menuju warung makan lesehan. Nasi hangat, oseng kangkung, cumi asam manis, ikan bakar, lalapan, sambal kecap sudah tersedia. Waktunya makan! Seperti biasa, kakak saya selalu minta wadah plastik atau kertas minyak untuk membungkus makanan yang tidak habis.

Pantai Goa Cemara tidak terlalu jauh dari rumah saya. Waktu yang kami tempuh hanya satu jam. Alhamdulillah, ketika berangkat dan pulang, kami terhindar dari macet. Sampai di rumah Ibu, azan asar berkumandang.

Bagi saya, orang asli Yogyakarta, melakukan perjalanan wisata ke pantai selatan amat menyenangkan meskipun saya takut air.  Meskipun saya asli Yogya, tapi pantai yang saya kunjungi baru sebagian kecil saja, Pantai Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Depok, Pantai Parangtritis, Pantai Samas, Pantai Kwaru, Pantai Baru, dan Pantai Goa Cemara. Bukan berarti saya kurang piknik, alasan saya adalah saya takut air. Semoga di masa yang akan datang, masih ada waktu untuk saya menjelajahi pantai-pantai yang ada di Bantul dan Gunungkidul.

Bagi saya, lebaran kali ini adalah pertama kali piknik bersama keluarga besar.


Karanganyar, 4 Juli 2017
Sumber: www.kompasiana.com/noerimakaltsum

Minggu, 02 Juli 2017

Lebaran Dan Ibu


Hari Jumat, 23 Juni 2017 malam, Faiq yang sudah duluan mudik di rumah Ibu dan Bapak tiba-tiba mengirimkan foto sepiring ketupat, opor dan sambal goreng. Masih hari Jumat, kok sudah ada opor ayam dan sambal goreng, makan-makan acara apa itu? Kata anak saya,”Nggak tahu, Ma. Pokoknya simbah putri masak itu.”  Saya tak perlu bertanya lebih jauh lagi. Toh hari Sabtu saya mau mudik, tanyanya besok saja kalau sudah sampai rumah Ibu dan Bapak.

Malam takbiran, biasanya opor ayam dan sambal goreng masih fresh ngejreng, tapi kali ini tidak. Opor ayam dan sambal goreng sudah mengalami penghangatan dua kali. Bahkan untuk ketupat juga sudah basi karena tidak disimpan di dalam kulkas.

Ternyata oh ternyata, begini kisahnya:

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, Ibu sekarang daya ingatnya berkurang. Bahkan Ibu juga tidak bisa mengingat-ingat hari dan tanggal. Pagi-pagi, Ibu berbelanja di pasar diantar Bapak. (Yang saya herankan, Bapak kok ya tidak mengingatkan Ibu. Padahal Bapak tahu kalau lebaran masih 2 hari lagi) Ibu berbelanja bermacam-macam bumbu, telur, daging ayam, krecek dan lain-lain. Ketika Ibu sudah mengumpulkan belanjaan jadi satu, Ibu belanja bumbu lagi (lupa padahal barang tersebut sudah dibeli beberapa menit sebelumnya). Jadilah, bumbu dapur berlimpah dalam plastik bawaan.

Begitu mulai meracik bumbu, barulah Ibu diberi tahu kalau lebaran masih dua hari lagi, bukan besok. Karena sudah terlanjur dibeli, ya sudah akhirnya dimasak. Jadilah, santap opor dan sambal goreng sebelum lebaran. Namanya juga pelupa, ya……diterima saja. Saat lebaran, opor dan sambal goreng sudah melalui proses penghangatan berulang-ulang.

Nah ini ada kejadian tak terduga. Ibu menawari adik saya dan keluarga kecilnya untuk makan siang. Adik saya langsung bilang ke Ibu sayurnya tidak usah dipanaskan. Entah mengapa beberapa saat kemudian aroma gosong tercium. Mungkin, Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anak cucunya. Maksud Ibu dengan sayur dipanaskan nanti akan menggunggah selera saat menyantap nasi dan sayurnya. Tapi Ibu lupa, benar-benar lupa (dan kami tetap memakluminya), setelah menghidupkan kompor beliau kemudian merebahkan badannya. Perasaan Ibu rebahannya hanya sebentar, tapi cukup menggosongkan sambal goreng. Tidak ada yang marah, semua menerima apa adanya. Ya, mau bagaimana lagi? 

Bapak dengan sabar bilang,”Ibu sudah diingatkan jangan menghidupkan kompor. Biarlah yang memanasi sayur Bapak saja.”
Ibu hanya tersenyum.

00000

Hari Selasa, kakak saya yang tinggal di Blora datang. Ibu siap-siap memasak sambal goreng lagi padahal anak-anak Ibu yang lain bersiap ke pantai. Itu artinya kami tidak makan siang di rumah. Ketika Ibu dilarang memasak lagi, beliau bilang,”yang mau pergi, pergi saja. Aku mau masak, kalau aku tidak masak nanti tidak ada lauk.” Semua diam. Ya sudah, pasti Ibu masaknya juga banyak.

Lebaran dan Ibu,
Mungkin karena kebiasaan Ibu sejak dahulu selalu menyiapkan makanan istimewa saat lebaran  untuk anak-anaknya. Ibu terbiasa melakukan semua sendiri. Kami, anak-anaknya hanya membantu seperlunya saja. Tapi sekarang kondisinya berbeda dengan dahulu.

Bagi kami, Ibu adalah orang yang harus dimuliakan. Ibu tak perlu bersusah payah lagi menyiapkan makanan saat lebaran. Kami merasa bisa mengurus diri kami. Kami bisa saling membantu satu sama lain untuk menyiapkan makanan dan semuanya. Sebenarnya kami tak ingin merepotkan Ibu. Kami cukup tahu diri. Tapi menurut saya, Ibu hanya menjalankan kebiasaan yang telah berjalan puluhan tahun. Ibu ingin anaknya bisa makan bareng dengan penuh suka cita.

Tentang Lebaran dan Ibu, sebenarnya banyak yang akan saya ceritakan. Waktu saya tiba di rumah Ibu yang lalu, saya bertanya (ngetes Ibu),”Hayo, saya siapa?” Jawab Ibu,”Kamu, ya Ima.” Saya kejar lagi dengan pertanyaan berikutnya,”Ima anak nomor berapa?” Ibu tersenyum,”Pira ya.” Saya membantu menyebutkan urutan nama anak-anak. Sambil tersenyum beliau bilang,”Kamu nomor empat.” Tidak berhenti sampai di situ, saya bertanya lagi,”Anak nomor lima siapa hayoooo.” Jawab Ibu,”Ovi.” Saya meluruskan,”Nomor lima Lely, nomor enam Ovi.” Ibu tersenyum.

Sehat selalu ya Buk, maaf kemarin uang bulanannya lupa belum saya serahkan.

Karanganyar, 2 Juli 2017

Sabtu, 01 Juli 2017

Lebaran Momentum Silaturahmi di Masjid


Hari Ahad, 25 Juni 2017 kami menuju lapangan Minggiriran untuk menunaikan shalat Id. Meskipun berhalangan untuk shalat, Faiq tetap turut serta ke lapangan. Sengaja kami datang lebih pagi. Alhamdulillah, kami berada di shaf pertama untuk perempuan.

Kami melantunkan takbir sembari menunggu jamaah shalat Id yang datang. Udara begitu sejuk, tidak panas. Pukul tujuh lebih, shalat Id dimulai. Pada rakaat kedua, saya mendengar Imam membaca ayat-ayat akhir dari surat Al Ghasyiyah dengan suara bergetar, tercekat, sepertinya menangis. Demikian dalam makna dari surat tersebut.

Usai shalat Id, kami mendengarkan khutbah sampai selesai. Zaman sekarang, kesadaran umat muslim sudah demikian tinggi. Ketika saya masih kecil, bila shalat telah selesai, para jamaah banyak yang meninggalkan lapangan untuk pulang. Hampir separo jamaah yang tidak mendengarkan khutbah sampai selesai. Sekarang pengetahuan jamaah sudah bertambah baik. apalagi sebelum shalat, panitia memberitahukan kepada jamaah untuk tidak meninggalkan khutbah. Khutbah diikuti sampai selesai. Toh, khutbah juga tidak terlalu lama.

Sampai di rumah, saya kemudian memesan mie ayam di warung tetangga. Mengawali bulan Syawal dengan mengkonsumsi mie ayam, bukan opor ayam, lontong dan ketupat. (ada cerita lain mengapa hari nan fitri ini tidak diawali dengan makan opor ayam dan ketupat).

Baru saja akan menyantap mie ayam, para tetangga datang ke rumah untuk bermaaf-maafan dengan Ibid an Bapak serta kami, anak-anaknya. Dari tahun ke tahun, semakin banyak yang bersilaturahmi ke rumah Bapak. Tentu saja, yang dulu remaja, kini sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Pukul Sembilan, saya, Ibu dan Bapak menuju Masjid Al Ikhwan. Masjid Al Ikhwan adalah tempat saya menimba ilmu agama dan berbagi ilmu. Di tempat inilah, dahulu saya belajar banyak hal, belajar banyak karakter orang.

Di masjid berkumpul jamaah yang akan bersilaturahmi, merayakan Idulfitri dan saling bermaaf-maafan. Ibu masuk masjid kemudian panitia menempatkan Ibu di dekat Ibu-ibu yang sudah sepuh. (di dalam masjid khusus perempuan, sedangkan laki-laki berada di luar). Saya harus mengawasi Ibu. Maklum, Ibu sudah banyak lupa. Jadi, agar Ibu tidak bingung, saya harus menuntun Ibu.

Saya memperhatikan orang-orang yang berada di dalam masjid. Anak-anak, remaja, dewasa, dan tua, menjadi satu dalam suasana suka cita. Beberapa dari Ibu-ibu sepuh, saya masih mengenalnya. Beberapa orang yang dulu masih imut sekarang sudah dewasa, atau yang seusia dengan saya, saya juga mengenalnya. Sekitar 20 tahun lamanya kami tak bersua. Ternyata, wajah saya tidak berubah. Mereka sangat mengenal saya di usia yang tak muda lagi.

Ibu berusia 71 tahun, badannya masih sehat tapi daya ingatnya sudah berkurang. Ibu cenderung menjadi pelupa. Bagi yang tidak sabar menghadapi orang tua yang pelupa, pasti bawaannya akan marah. Sebenarnya alasan apakah yang membuat orang mudah marah menghadapi orang tua yang pelupa? Sederhana saja, biasanya apa yang diutarakan orang tua tidak sejalan dengan jalan pikiran kita.

Ketika silaturahmi di masjid, saya melihat Ibu-ibu yang usianya sebaya dengan Ibu juga bermacam-macam kondisinya. Ada yang sakit-sakitan, ada yang hidupnya tergantung dengan obat, ada yang hidupnya tergantung dari transfuse darah dan lain-lain. Dengan melihat dan mendengar cerita beberapa orang yang saya temui, saya tetap bersyukur. Meskipun sekarang menjadi pelupa, tapi Ibu tetap sehat dan diberi umur panjang. Shalat dan puasa juga tidak ditinggalkan Ibu. Bahagianya saya mendapatkan Ibu dengan kondisi seperti ini. Tetap sehat ya Bu…..

Akhirnya saya, Ibu dan Bapak meninggalkan masjid dan pulang. Ibu dan Bapak mampir ke rumah tetangga non muslim. Tetangga non muslim juga kedatangan tamu-tamu muslim. Ada apakah ini? Biasa, tetangga non muslim juga terbuka menerima tamu muslim atau bertamu ke rumah tetangga muslim di saat lebaran. Tidak bermaksud apa-apa, hanya bermaaf-maafan saja.

Selanjutnya, Ibu dan Bapak menuju rumah Mbah Wazilah Wido Suroto (mbah putri). Pada hari-hari biasa, Bapak sering mengisi pengajian yang diselenggarakan di rumah mbah Wido. Mbah Wido usianya lebih dari 80 tahun dan masih sehat.

Semoga tahun lebaran ini lebih bermakna dari tahun sebelumnya. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqoballah minna wa minkum.


Karanganyar, 1 Juli 2017 

Jumat, 30 Juni 2017

Libur Akhir Puasa


Bagi saya dan teman-teman guru, libur akhir puasa adalah saat yang ditunggu-tunggu. Dua tahun yang silam, bagi kami libur akhir puasa tetap saja kami suka cita kalau piket di sekolah. Berbeda dengan dua tahun terakhir. Kami ingin secepatnya libur dan masuk sekolah lagi sesuai jadwal yang telah ditentukan pemerintah.

Ada sesuatu yang membuat kami ingin menikmati libur akhir puasa, yakni ingin melepaskan penat saja. Sebelum bulan puasa tiba hingga tiga minggu puasa telah kita jalani, kami harus lembur-lembur di sekolah. Bahkan saya selama itu tidak mengurus anak-anak.

Begitu ketua guru memberitahukan libur, hati kami plong. Komunikasi kami (sesama guru dan karyawan) lakukan lewat WA dan kami tetap merasa dekat satu sama lain. Hingga akhirnya lebaran tiba.

Hari terakhir puasa, saya, suami dan si kecil melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman (Yogyakarta). Setelah asar kami berangkat. Perjalanan sore hari memang mengasyikkan. Cuaca tidak terlalu panas. Kecepatan sepeda motor juga alon-alon waton klakon.
Sampailah kami di perbatasan Klaten dan Prambanan. Kami singgah di Rumah Makan Minang Masakan Padang. Bagi saya dan suami, masakan padang adalah menu yang netral. Dan rasanya juga tidak mengecewakan.

Kami melanjutkan perjalanan. Sampai di Janti, kami tidak belon ke kiri, melainkan lurus. Benar-benar perjalanan yang tidak saya duga, sebab kami lewat Tugu Yogyakarta ke barat (perempatan Pingit).

Alhamdulillah, kami benar-benar terhindar dari macet. Ini semua berkat suami yang bisa membaca kondisi jalanan. Akhirnya sampailah di rumah Ibu dan Bapak. Saat itu azan Isya berkumandang.
00000
Kebetulan saya dan adik saya yang tinggal di Rejodani tiba di rumah Ibu hampir bersamaan. Bapak langsung membuatkan kami minuman kesukaan yaitu teh panas.

Ada yang harus adik saya lakukan mala mini, yakni mencarikan obat buat Ibu. Ibu memang rutin mengkonsumsi obat darah tinggi. Kebetulan dua hari sebelumnya obat sudah habis, padahal dokter langganan sudah cuti. Adik saya berusaha mencarikan obat di apotek. Hanya saja, bungkus obat tidak utuh, jadi nama obatnya tidak begitu jelas. Menurut apotekernya, obat tersebut adalah XYZ. Di apotek tersebut XYZ tidak ada. Obat lain yang khasiatnya sama dengan XYZ memang ada (beda pabrik). Tidak mau ambil resiko, adik saya tidak jadi membeli obat di apotek buat Ibu.

Kami menuju PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Adik dan ipar saya biasa memeriksakan Ibu secara rutin di PKU. Berharap semua bisa teratasi, kami optimis mendapatkan obat. PKU Muhammadiyah, tidak jauh dari rumah kami. Tapi kami tetap saja tidak bisa lancar jaya untuk sampai PKU. Mengapa demikian? Malam takbiran di Yogyakarta memang beda. Jalan raya macet saat takbir keliling, itu hal biasa. Dan kami kena macet. Kami harus sabar menunggu peserta takbir keliling yang melakukan atraksi. Bosan, tidak sabar, marah-marahkah kami? Tidak! Kami menikmati macet, kami menikmati atraksi tersebut setelah sampai di PKU Muhammadiyah, Jl. Kauman.

Menunggu proses untuk mendapatkan obat yang tidak sebentar, tak terasa perut keroncongan dan haus. Oi, di seberang jalan ada penjaja wedang ronde. Dengan semangat, Faiq dan keponakan saya menyeberang jalan untuk mendapatkan wedang ronde. Hasilnya zonk, wedang ronde habis. Nasib kami!

Perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah dibuat hepi. Mampir dulu di angkringan untuk mendapatkan teh panas. Alhamdulillah, plong rasanya. Sampai di timur Bugisan, ternyata ada barisan takbir keliling dari kampung Suryowijayan. Lumayan panjang, dari timur perempatan Bugisan sampai Pojok Beteng Kulon. Padahal sudah jam sepuluh lebih. Mereka tetap semangat. Anak-anak, remaja dan dewasa berbaur. Masya Allah, luar biasa! Inilah Yogyakarta. Inilah hari terakhir bulan Ramadhan. Besok pagi kita akan melakukan shalat Idulfitri.

Karanganyar, 30 Juni 2017

Rabu, 21 Juni 2017

Tips Agar Bisa Menulis Secara Konsisten

Guru juga penulis
dok.pri

Menulis, bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan dalam kondisi apa saja. Adanya gadget memungkinkan kita bisa menulis tanpa harus duduk di ruang kerja. Kalau kita sudah percaya diri dengan sebutan penulis maka kita memiliki konsekuensi mampu menjaga konsistensi untuk menulis.
Kesibukan, kadang-kadang menjadi alasan mengapa kita tidak menulis. Sebenarnya menjaga agar kita konsisten bisa menulis itu mudah. Kita hanya perlu memperkecil target-target besar yang harus kita capai. Sebagian besar (terutama penulis pemula) ingin mencapai target yang besar, tapi sayang keinginan yang menggebu-gebu tersebut ingin secepatnya diraih. Kalau target tidak dapat tercapai, maka timbul kejenuhan/bosan/kecewa dan meninggalkan kegiatan positif tersebut.
Ada tips agar bisa menulis secara konsisten, di antaranya:
1.      Buatlah agenda harian untuk menulis
2.      Menulislah tentang sesuatu yang ringan
3.      Batasi menulis kita dengan menulis beberapa menit, menulis beberapa paragraph atau menulis beberapa kata.
Dengan batasan yang ringan ini, insya Allah tidak memberatkan kita dan kita meiliki rasa sayang kalau melewatkan satu hari tanpa menulis.
Masih tidak mau menulis pada hari ini dengan alasan yang hanya dibuat-buat? Jangan tunda-tunda lagi, menulislah hari ini. Hari ini menulis, hari ini berbagi manfaat. Kita boleh miskin materi, tapi kita tetap bisa berbagi dengan tulisan.
Karanganyar, 21 Juni 2017

Selasa, 20 Juni 2017

Akreditasi Sekolah, Bimtek Kurtilas, dan Nulis di Blog

Akreditasi Sekolah
dok.pri

Ternyata sudah hampir satu bulan, saya tidak menulis dan memosting tulisan di blog. Cukup beralasan mengapa saya tidak menulis dalam waktu yang lama. Tidak biasanya! Mungkin alasan ini cukup klise, tidak ada waktu. Benar-benar tidak ada waktu. Sebulan penuh saya mempersiapkan akreditasi sekolah. Melengkapi administrasi yang masih kurang di sana sini. Bukan hanya administrasi milik saya pribadi, melainkan milik teman-teman satu tim akreditasi sekolah.
Jangankan untuk menulis di blog, menulis untuk membuat kelengkapan administrasi sekolah saja, saya harus lembur. Belum lagi, saya harus meninggalkan/tidak memperhatikan kedua anak saya. Semua yang berkaitan dengan anak-anak saya dan pekerjaan rumah, saya pasrah bongkokan pada suami. Memang, untuk urusan pakaian (mencuci dan setrika tetap saya yang melakukan). Saya harus berbagi tugas dengan suami.
Akreditasi sekolah selama seminggu, cukup menyita waktu. Kalau ada tugas dari assessor dan harus dikumpulkan keesokan harinya, saya akan lembur. Itu artinya saya tidak bisa diganggu gugat. Lega rasanya begitu mendekati hari kelima, sudah hampir selesai.
Tapi ternyata perkiraan kami meleset. Kami, saya dan sebagian teman-teman mendapat undangan untuk mengikuti BIMTEK KURTILAS di SMK N 2 Karanganyar. SMK N 2 Karanganyar terletak di sebelah timur sekolah saya. BIMTEK dilaksanakan satu minggu. Dari pukul setengah delapan sampai setengah empat sore. Dari kegiatan ini, setiap keluar dari kelas pasti ada tugas dan harus dikumpulkan keesokan harinya.
Saya bilang pada suami, maafkan daku. Bagaimana lagi, ini tugas Negara. Mau tidak mau, saya tidak mengurus kebutuhan anak-anak lagi. Sebenarnya saya merasa bersalah pada anak-anak, tapi semua tidak bisa ditawar. Saya bersyukur, anak-anak memaklumi kegiatan maminya yang super padat.
Pinginnya, malam hari setelah shalat tarowih, saya bisa nulis dan posting tulisan. Ternyata, mata ini sulit diajak kompromi kalau sudah pukul sembilan malam. Selama bulan Ramadhan, Alhamdulillah, saya bisa bangun pukul tiga pagi dan setelah makan sahur saya tidak tidur kembali.
Pulang dari sekolah atau BIMTEK, saya juga tidak bisa memejamkan mata barang sebentar. Kalau malam, benar-benar rasanya merdeka bila tidak ingat lagi diktat, laptop dan flasdisk.
Setelah semua selesai, kini waktunya menulis lagi. Semoga sindiran-sindiran yang beredar di facebook : jadi penulis kok nggak nulis-nulis, tidak terjadi pada saya. Hari ini saya memerlukan agenda harian untuk menulis. Mau menulis apakah hari ini hingga seminggu yang akan datang? Satu per satu ingin segera saya wujudkan. Paling tidak di bulan Juni ini masih ada beberapa hari, ada kesempatan untuk menulis.
Penulis itu tugasnya menulis!

Karanganyar, Ramadhan yang mengesankan, 20 Juni 2017 

Jumat, 26 Mei 2017

Presentasi Sarana Belajar Penuh Percaya Diri

Beberapa hari terakhir, saya dan teman-teman guru mendapatkan tugas untuk presentasi dan promosi ke SMP/MTs baik negeri maupun swasta di wilayah Karanganyar dan sekitarnya. Bagi saya, presentasi ini adalah tugas lapangan yang menyenangkan. Di sini, saya diberi tantangan yang tidak ringan. Alhamdulillah, saya bisa melaksanakan tugas dengan baik.
Pada dasarnya, saya ini demam panggung alias grogi bila berhadapan dengan orang banyak. Seiring berjalannya waktu, saya bisa mengatasi semua dengan sukses. Ada yang membuat saya suka melaksanakan tugas presentasi, yaitu saya bisa belajar percaya diri.
Kalau pasangan (patner) saya membawa laptop dan LCD, biasanya dalam perjalanan menuju sekolah yang akan dipresentasi, kami mengadakan perjanjian. Ada 2 alternatif, yang pertama saya membuka presentasi dengan memperkenalkan diri dan memberi gambaran secara umum SMK Tunas Muda Karanganyar sedangkan teman saya menyiapkan laptop dan LCD dan menghidupkannya. Atau pilihan yang kedua, saya menyiapkan laptop dan LCD, menghubungkan kabel-kabel dan menyambung kabel ke sumber arus sedangkan teman saya membuka presentasi dengan perkenalan.
Setelah itu, saya akan membagikan brosur. Dalam presentasi ini, bila kami membawa media yang cukup, selalu ada perhatian dari anak-anak SMP/MTs. Biasanya anak-anak suka kalau diperlihatkan video hasil karya siswa multimedia yang telah menempuh ujian praktek.
Anak-anak sangat suka dan tertarik dengan video yang dibuat oleh Mas Paryono dengan pemain Mas Kastolani. Untuk video tanpa komunikasi, anak-anak suka dengan pemeran Mas Yongki.
Dengan media yang kami bawa dan materi yang kami sampaikan, harapan kami, anak-anak banyak yang tertarik bergabung di SMK Tunas Muda. SMK Tunas Muda Karangnayar terletak di Jl. Dr. Rajiman, Ngijo, Kecamatan Tasikmadu (tepatnya sebelah barat Rumah Sakit Umum Daerah yang dikenal dengan Kartini, atau RS Jengglong). Sekolah kami membuka 3 jurusan, yaitu Teknik Pemesinan, Teknik Kendaraan Ringan dan Multimedia.
Keuntungan menimba ilmu di SMK Tunas Muda di antaranya adalah bagi anak yang mengikuti ektrakurikuler Jurnalistik akan diajari menulis untuk dikirim ke media massa.
Nah, guru yang membimbing Ekskul Jurnalistik ini sudah tidak asing dengan dunia tulis menulis. Pingin tahu siapa pembimbingnya? Ayo, bergabunglah ke SMK Tunas Muda Karanganyar.
Demikianlah cara saya menarik simpati anak-anak SMP/MTs. Oleh karena saya setiap hari bergelut dengan dunia tulis-menulis, maka saya juga harus bisa menyampaikan isi tulisan saya. Tidak gampang bicara di depan umum, tapi setidaknya bisa dipelajari.
Beruntung, saya sering berinteraksi dengan teman-teman di sekolah. Dengan banyak interaksi, kosa kata saya juga bervariasi. Kalau ditanya tentang sesuatu, setidaknya saya bisa menjawab dengan tidak sekedar sok tahu.
00000                                 

Karanganyar, 26 Mei 2017

Minggu, 21 Mei 2017

Sudah Sakit Alergi Obat Pula, Capek Deh.....


Setelah melahirkan anak pertama, tiba-tiba saya menjadi alergi antibiotik Pinicilin (dan sejenisnya, seingat saya Amoxicylin dan Amphycylin). Padahal dulu-dulunya tidak. Kalau sudah minum Pinicilin, belum juga obat sampai di lambung atau masih di kerongkongan; badan mulai gatal-gatal. Parahnya daun telinga dan hidung membesar, panas dan gatal. Lebih-lebih pernafasanku terganggu. Benar-benar payah.

Sekarang saya setiap periksa ke dokter selalu bilang di depan, maaf saya alergi pinicilin. Ya, beruntung saya tidak pernah lupa dengan peringatan alergi ini. Suatu saat saya sakit lagi, kepala dan perut saya sakit. Waktu itu saya meluncur ke Puskesmas terdekat. Maklumlah terasa sakit pagi hari, kira-kira dokter yang buka praktek di rumah sudah tutup dan harus dinas di rumah sakit atau puskesmas.

Sekali lagi, saya bilang ke perawatnya kalau saya alergi pinicilin. Tidak lama kemudian saya pulang setelah mendapatkan obat. Sampai di rumah saya segera meminum obat. Tiba-tiba telinga dan hidung saya terasa gatal, panas, dan membesar. Ini adalah tanda-tanda saya alergi obat. Saya tidak berlama-lama memikirkan ada apa denganku. Langsung kembali ke Puskesmas. Lewat komputer, obat saya dicek satu persatu. Ternyata tambah lagi, astaghfirulloh, saya alergi Antalgin.

Sampai di rumah saya merenung, ya Allah... andai saya kau uji dengan sakit, tunjukkan obatnya sekalian ya Allah. Kalau semua obat tidak bisa saya konsumsi karena saya alergi obat, lantas bagaimana saya bisa sembuh?

Suatu hari saya sakit, dan periksa ke dokter. Saya hanya ingat kalau alergi Pinicilin, saya lupa mengatakan kalau juga alergi Antalgin. Bisa ditebak badan saya gatal-gatal setelah mengkonsumsi obat. Saya kembali ke dokter tadi. Benar, dalam resepnya dokter menuliskan Antalgin. Untung dokternya baik hati, beliau tidak marah hanya mengingatkan. Lain kali bilang alergi obat apa gitu ya mbak. Soalnya bisa berakibat fatal.

Benar, setelah saya membaca dari berbagai sumber-sumber bacaan, akibat alergi yang paling fatal prosesnya, pasien shock, jalan pernafasan tertutup, pingsan lalu meninggal dunia. SEREM....

Saya enggak mau sakit. Soalnya kalau sakit saja obatnya sulit banget. Saya juga tidak dapat mengkonsumsi obat yang dijual di pasaran secara bebas. Kepala pusing saja, paling-paling minum teh kenthel, panas dan manis. Kalau gak sembuh juga baru minum paracetamol.

Alhamdulillah, Allah memang tahu kesulitan hambanya. Sekarang saya diberi sehat terus dan tidak gampang sakit. Bila ada sahabat Kompasianer yang juga alergi obat, bersabar saja ya.....
Semoga bermanfaat. Amin.

Karanganyar, 14 Juli 2013
Sumber: www.kompasiana.com/noerimakaltsum 

Minggu, 14 Mei 2017

Belajar Menahan Belanja Mulai Sekarang

Sudah beberapa tahun terakhir, saya memiliki kebiasaan  menyisihkan sebagian kecil dari gaji untuk saya tabung alias menabung di depan. Setelah itu, baru saya membelanjakan uang dengan hemat. Saya berbelanja atau mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan saja.
Sejak kecil saya memang gemi alias hemat. Saya tidak mengalami kesulitan untuk berhemat karena berhemat adalah kebiasaan saya waktu kecil. Kebetulan, saya juga tidak mudah terpengaruh, tidak suka membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Hasilnya, saya tidak banyak memiliki barang yang menganggur. Sebisa mungkin saya membeli barang yang benar-benar bisa saya manfaatkan sehari-hari.
Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Pada saat bulan Ramadhan, biasanya kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran lebih besar. Saya tetap berhemat. Kalau pengeluaran lebih besar disbanding bulan yang lain, Insya Allah karena untuk kepentingan akhirat.
Selama bulan Ramadhan, menu makan sahur dan berbuka, tidak ada yang istimewa. Saya jarang mengada-adakan makanan istimewa. Kalau berbuka puasa, saya juga tidak wajib menyiapkan kolak atau makanan pembuka yang manis-manis kecuali kurma dan kudapan seadanya.
Menjelang akhir Ramadhan, saya juga tidak sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Untuk pakaian, cukup mengenakan pakaian yang sudah saya miliki. Mungkin untuk 2 anak saya memerlukan baju ganti. Saya tidak menyediakan makan kecil secara berlebihan karena saya berlebaran di rumah orang tua alias mudik.
Saya berusaha menahan diri untuk belanja sebab kebutuhan hari esok lebih banyak dan benar-benar harus kita penuhi. Hemat bukan berarti pelit, irit bukan berarti pelit, karena hemat adalah gaya hidup.

Belajarlah menahan belanja mulai sekarang. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?

Jumat, 12 Mei 2017

Matic dan Keripik Jagung

Untuk menjamu tamu yang akan datang ke rumah, saya memerlukan pendapat dari teman. Sudah ada 2 makanan yang tidak biasa disuguhkan untuk tamu yang jumlahnya banyak. Saya memilih tahu bakso, cakwe dan bolang baling. Untuk yang renyah-renyah, ada beberapa pilihan. Pilihannya adalah kacang telur, kacang bawang, kacang kara, kacang kapri atau keripik jagung.
Seorang teman bertanya dengan kalimat bermakna konotatif.
“Yang diundang sebagian matic atau bukan?”
“Matic,”jawab saya.
“Kalau begitu pilihlah keripik jagung. Karena keripik jagung bersifat tidak keras. Matic saja kuat mengunyah.”

Apa hubungannya matic dengan keripik jagung? Matic = tanpa gigi. Selanjutnya, teruskan sendiri.