Kamis, 16 Maret 2017

Isteri Ikhlas Dipoligami

Hai suami!
Dahulu, dirimu bersusah payah, berjuang untuk bertahan, meniti segala macam usaha denganku. Jatuh bangun, terseok dan gagal bersamaku. Tapi kita tidak patah semangat dan tetap saling menguatkan.
Waktu kita habis untuk berusaha, berikhtiar dan berdoa. Siang dan malam, pagi dan petang, hujan dan panas tak kita hiraukan untuk memohon kepadaNya agar kita bisa bertahan. Lalu kita berhasil melewati masa sulit.
Hai Suami!
Kehidupan kita berangsur membaik. Apa yang kita cita dan idamkan terkabul. Lambat laun kebahagiaan itu mewarnai rumah sempit kita. Perekonomian semakin membaik bahkan kita bisa dibilang lebih mapan.
Hai Suami!
Tiba-tiba dirimu menjadi asing bagiku. Engkau ingin berbagi bahagia dengan perempuan yang lain. Sebelum berbagi bahagia, maka tengoklah ke belakang. Siapa yang mendampingimu bersusah payah? Kalau engkau mau berbagi bahagia, maka berbagi susah dan derita dahulu dengan orang lain. Apakah perempuan itu mau dan bisa?
Hai perempuan lain!
Maukah kamu bersusah-susah sekian puluh tahun sebelum berbahagia? Jangan lihat kebahagiaan seseorang di saat ini saja. Tapi lihat dan bacalah sejarah perjuangan seseorang di masa lampau! Bersama siapa dan siapa pendampingnya di saat dia berada di titik nol?
00000

Tulisan ini terinspirasi dari status FB seorang sahabat yang lagi membicarakan tentang poligami.