Jumat, 24 Maret 2017

Keuntungan Menanam Dan Panen Sayuran Belakang Rumah

            MENANAM KACANG HIJAU
Sewaktu aku masih mengajar dan tinggal di Blora, suami mengatakan menanam kacang hijau di sawah. Biaya untuk tenaga, benih, pupuk dan lain-lain jumlahnya luar biasa banyak. Karena aku tidak tahu-menahu tentang pertanian, aku sempat protes dan keberatan. Aku tidak mau apa yang aku lakukan tidak punya dasar. Kalau dasarnya hanya ikut-ikutan pada orang yang berhasil, tanpa memiliki ilmu sedikit pun berarti siap untuk gagal total.
Honor-honor yang aku terima selama mengajar di Blora setelah menikah, masuk dalam biaya-biaya pertanian. Aku pasrah. Sebenarnya ide terjun ke dunia pertanian sudah sejak lama suami utarakan. Bahkan katanya kelak biaya sekolah untuk “anak-anak” berasal dari bercocok tanam. Aku manut saja. Toh percuma saja kalau aku tidak setuju atau membantah.
Setelah tinggal di Karanganyar, waktu itu usia kandunganku sudah cukup kuat untuk diajak “bekerja keras”, kacang hijau mulai panen. Jarak antara rumah dan sawah cukup jauh. Belum lagi dalam kondisi hamil aku tidak mungkin berpanas-panas untuk memanen kacang hijau. Kami berinisiatif memanen kacang hijau pada sore hari setelah matahari tidak terik lagi. Karena mulai memanen kacang hijau sudah sore, maka sebantar saja sudah maghrib. Kami tak membawa hasil panen dalam jumlah banyak.
Sabar, itulah kuncinya. Setiap pulang mengajar mengupas polong-polong kacang hijau, lalu menjemurnya. Namum suami ternyata bukan orang yang sabar lagi telaten. Kacang hijau dipanen harus tepat waktu. Kalau waktunya panen tidak segera dipetik, maka esok harinya polong kacang hijau akan pecah dan isinya tumpah jatuh di atas tanah dengan sendirinya. Malah suami bosan memanennya.  
Setelah hasil panen dikumpulkan semua dan dijual, hasilnya jauh dari harapan. Jangankan untung, balik modal saja tidak. Suami bilang,” maaf ya dik kita kali ini belum berhasil.” Kecewa, itulah kata-kata yang ada dalam hatiku. Bagaimana tidak? Seandainya uang yang digunakan untuk membiayai “kebun” itu aku gunakan untuk kepentingan keluarga maka aku tak perlu berhutang koperasi untuk menyiapkan perlengkapan bayi.

MENANAM PADI
Setelah anakku lahir, suami disuruh mertua untuk menanam padi. Bayanganku kali ini masih negatif. Bagaimana tidak?  Menanam padi seluas 3500 meter persegi. Kalau gagal lagi atau maksimal impas, aku katakan merugi. Usaha yang dibangun kok merugi alias tidak mendapatkan untung, maka perlu belajar dulu tentang usaha yang akan dijalani.
Usaha yang luar biasa, dan suami kadang begadang demi “mendapatkan air jatah” untuk sawah. Sebab bila air jatah tidak ditunggui maka akan dialirkan ke sawah lain oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak heran sering terjadi bentrok antara petani satu dengan yang lain  karena berebut air. Sepulang dari mengajar suami juga langsung ke sawah untuk melihat tanamannya.
Perjuangan dan pengorbanan suami tidak sia-sia. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Dari hasil panen ini kami bisa menabung kayu, besi dan material lain yang akan digunakan untuk membangun rumah.

MENANAM JAGUNG
Setelah merasa berhasil menanam padi, mertua menyuruh kami untuk mencoba komoditas lain. Pada musim kemarau di nama air tidak begitu melimpah, menanam jagung pilihan yang tepat.
Kunci utama dari bercocok tanam adalah rajin merawat dan “menyambangi” sawah. Dengan sering menengok sawah, kami jadi tahu perkembangan tanaman. Atau kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tanaman bisa segera diatasi.
Saat panen jagung, sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Panen hanya mengandalkan keluarga, yaitu suami, adik ipar dan pembantu (aku ganti yang momong anakku, karena pembantu memilih ikut panen). Dari hasil penjualan jagung kering, kami bisa mencukupi konsumsi untuk tukang-tukang kami yang bekerja membangun rumah.

MENANAM KACANG TANAH
Sukses menanam padi dan jagung, suami mencoba menanam kacang tanah. Akan tetapi sayang, ketika tanaman kelihatan bagus hasilnya, mertua meminta pada suami supaya tanaman kacang tanah diteruskan mertua. Ikhlas, itu yang harus aku lakukan. Bagaimanapun sawah itu juga milik mertua. Kami hanya diberi ijin untuk mengelolanya.
Setelah kacang tanah dipanen, dan kami menempati rumah kami sendiri (masih di lingkungan sawah tempat kami bercocok tanam), kami mulai memikirkan usaha sendiri. Walaupun sawah letaknya hanya di belakang rumah kami, bukan berarti kami bisa seenaknya menanam sayuran atau apa saja. Semua harus minta ijin pada mertua lebih dahulu.

MENANAM LOMBOK
Setelah Bapak mertua meninggal, sawah yang biasanya digarap Bapak sendiri kini tidak diolah sendiri melainkan dengan sistem bagi hasil dengan petani penggarap. Ibu mertua tidak repot mengurus ini-itu untuk sawah yang akan ditanami padi. Ibu cukup menyumbang separo pupuk, bila telah panen Ibu mendapatkan separo bagian (untuk biaya panen ditanggung Ibu dan petani penggarap sawah).
Khusus untuk belakang rumah (yang berimpit dengan rumah), suami diperbolehkan menanam sayuran. Setelah belajar pada orang yang sudah berpengalaman, suami akhirnya mencoba menanam lombok merah. Dari menanam lombok ini, aku jadi tahu istilah-istilah pertanaian serta hama penyakit yang menyerang tanaman. Ada lalat buah, layu fusarium, cambuk, dan lain-lain.
Dengan harga stabil relatif tinggi, sungguh aku tak pernah menduga sama sekali kalau untungnya “luar biasa”. Karena perawatannya optimal, jumlah panennya maksimal. Teman suami yang memberikan “pelajaran lombok” mengatakan kami termasuk pemain baru yang berhasil.
Pada saat menanam lombok, ini merupakan tamanan pertama yang kami usahakan setelah menempati rumah di dekat sawah. Ada perbedaan yang kami lakukan saat panen kali ini, tidak seperti panen sebelumnya. Yaitu kami menyedekahkan sebagian panen kami untuk orang lain (teman guru, tetangga dan saudara), sebelum kami menjualnya. Artinya sedekah pada saat panen pertama. Uniknya, teman-teman atau tetangga datang dan memanen sendiri.

MENANAM KACANG PANJANG
Akhirnya tanaman lombok mulai tua dan buahnya mulai kecil-kecil. Setelah menimba ilmu pertanian dari “orang pintar”  bertani, kami disarankan menanam kacang panjang. Untuk kacang panjang, umurnya relatif pendek. Buah mulai dipanen pada umur 45 hari setelah tanam.
Ternyata memperlakukan tanaman kacang panjang tidak sama dengan lombok. Kalau yang ini lebih ekstra. Mulai menanam bibit, memasang turus, mengikat antara turus satu dengan yang lain, merempel daun bagian bawah dan mengkondisikan tanaman untuk membelilit pada turus.
Sayang, tanamannya terlalu subur, terlalu banyak pupuk. Saking suburnya, tanaman rimbun sekali. Begitu terserang hama; ulat dan cambuk, kami kewalahan untuk mengusir secara alami. Kami mulai melirik berorganik.
Sewaktu panen perdana, kami mengundang tetangga dan teman-teman guru untuk memetik polong kacang panjang. Semua bisa mengambil sepuasnya. Bagi kami kacang panjang yang dipetik akan memberikan polong berikutnya lebih banyak.
Karena polongnya banyak, kadang-kadang kami tidak dapat menyelesaikan panen dalam satu kali panen. Apalagi waktu hujan turun dengan deras. Jelas, kami tidak dapat berbuat banyak. Lebih baik menghentikan kegiatan memanen dari pada kena resiko. Padahal kacang panjang yang tidak segera dipanen, keesokan harinya ukurannya terlalu besar dan tidak laku dijual.
Hari berikutnya kami menyiasati dengan memanen sebagian di pagi hari dan sebagian dipanen sepulang mengajar. Dengan cara seperti ini kami bisa menyelesaikan panen dalam satu waktu panen.
Kacang panjang jenis hijau yang kami usahakan ini termasuk komoditas yang laku di segala cuaca. Tidak heran, sejelek-jelek harga kacang panjang kami tetap untung. Akhirnya aku menyadari bahwa Allah memberikan jalan pada kami. Usaha kami di bidang pertanian ini termasuk bisa diperhitungkan. Dengan seperti ini semoga harapan suami dahulu yakni ingin menyekolahkan anak-anak dari hasil pertanian bisa terwujud.

MENANAM MENTIMUN
Setelah panen kacang panjang berakhir, kami menanam mentimun. Untuk tanaman mentimun karena diusahan tegak, tidak dibiarkan menjalar di atas tanah, maka kami harus mengikat batang mentimun pada turus. Mengikat batang mentimun pada turus sangat menyita waktu.
Mentimun mulai dipanen saat usia 40 hari setelah tanam. Mentimun termasuk sayuran umur pendek. Memanen mentimun memerlukan tenaga besar. Ya, karena buahnya yang berat, kandungan airnya tinggi. Kami harus memindahkan mentimun tersebut dari sawah ke halaman rumah. Sedikit demi sedikit memindahkan hasil panen. Ya, kami harus sabar.
Waktu itu harga jual mentimun dari aku seribu rupiah per kilogram. Pedagang pasar menjual kembali dua ribu rupiah per kilogram. Total hasil panen lebih dari dua ton. Lebih dari dua juta uang yang kuterima. Kebetulan pedagang yang aku setori hasil panen masih saudara sendiri.
Dengan modal satu jutaan, kami mendapatkan untung lebih dari satu juta. Uang dapat balik kurang dari dua bulan. Dengan keberhasilan ini semakin mengukuhkan niat kami untuk terus mengolah sawah/kebun untuk sayuran.
Dari beberapa tanaman yang telah kami usahakan, kami jadi lebih paham tentang pertanian. Dari penyediaan bibit, mengolah tanah, memupuk, merawat, membasmi hama, memanen dan analisis keuangannya. Walaupun tidak terlalu detail yang aku tulis, tapi cukup memberikan informasi tentang setiap tanaman. Mulai menanam sampai memanen dan memasarkan.
Dengan menuliskan setiap  kali menanam sayuran, sedikit banyak menambah pengetahuan. Bila diperlukan setiap saat, aku memiliki catatan. Sayangnya catatan kecil itu sering hilang karena buku yang dipakai juga buku campur sari. 

Nah, ini pengalaman saya menanam sayuran. Sebenarnya sekarang ingin memulai menanam sayuran lagi, tapi waktunya perlu diatur sedemikian rupa agar kegiatan harian bisa tertata rapi. bagi yang ingin mencoba menanam sayuran, silakan mulai dari skala kecil. Tapi kalau sudah niat terjun bisnis sayuran, mangga mawon kalau langsung dalam jumlah yang besar.