Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2019

Keseruan Mencari Teman 26 Tahun Terpisah, Tanpa Bekal Alamat Rumah


Zaman sekarang, lazimnya orang memiliki nomor telepon yang bisa dihubungi. Bagaimana cara mencari teman yang selama 26 tahun berpisah, dengan kondisi tidak tahu alamatnya, dan tidak ada teman yang mengetahui keberadaannya? Inilah cerita seruku, mencari teman dengan bekal info yang sangat minim.

Baiklah, aku mau mencari temanku bernama Ahmad Muhari, Jurusan Pendidikan Kimia D3 angkatan 1990. Aku hanya ingat dulu bila pulang kuliah naik bus turunnya adalah perempatan Tungkak, Yogyakarta. Muhari ganti bus jurusan Imogiri, aku naik bus  jurusan Jalan Bantul. Biasanya Muhari naik bus bersama kakak tingkat bernama Puji Hantara.

Baiklah, karena teman-teman satu angkatan juga belum menemukan keberadaan Muhari, maka aku mulai beraksi. Mula-mula aku menghubungi sahabatku, Rahmi. Aku  bertanya pada Rahmi tentang Mas Puji. Ternyata Rahmi sering bertemu Mas Puji saat MGMP Kimia, di Bantul. Rahmi memberikan nomor telepon Mas Puji.

Tentu saja angin segar ini tidak boleh lewat begitu saja. Aku  menghubungi Mas Puji dan sedikit berbasa-basi. Baru setelah itu menanyakan alamat rumah Muhari.

“Kalau rumahnya, aku tidak tahu. Tapi kalau Kliwon, kamu bisa mencarinya di Pasar Manuk Pasar Bantul.”

Alhamdulillah, aku mengucapkan terima kasih. Hari Sabtu, aku dan keluarga mudik ke Yogyakarta. Suami berjanji akan mengantarkan aku ke Pasar Bantul.

Mula-mula aku bertanya pada penjual burung merpati.
“Maaf Mbak. Saya tidak kenal. Biasanya pedagang burung merpati lainnya juga tidak mengenal. Soalnya tempatnya berbeda. Di sini khusus burung merpati. Kalau burung lainnya di dalam pasar.”
“Matur nuwun, Mas.”

Beberapa pasang mata milik para lelaki melihatku. Aku cuek, seperti biasanya. Toh setelah ini juga tidak bertemu mereka lagi. Aku berpindah tempat, masuk ke dalam pasar. Kutemui seorang lelaki penjual pakan burung yang sedang menggelar dagangannya.

“Maaf, Pak, mengganggu sebentar.”

Setelah aku memperkenalkan diri, Bapak tadi langsung bercerita panjang lebar.

“Mas Muh lulusan UNY, ya?”
“Ya, Pak.”
“Mas Muh sekarang tidak jualan burung. Sekarang jualan mainan anak-anak secara keliling. Berhentinya Mas Muh jualan burung, itu atas saran dokter. Waktu itu anaknya Mas Muh masih bayi mengalami sesak napas. Setelah diperiksakan ke dokter dan ditanya riwayat kehamilan istrinya.”
                                                                                                     
Dengan info alamat rumah dari pedagang manuk yang tak kukenal, kutemukan rumahmu. Ternyata kamu sedang dodolan. Padahal kamu nggak punya hp (zaman now nggak punya hape, dengan alasan tertentu). "Bapak jualan di Bondalem."

Setelah muter-muter Bantul nganti tekan Imogiri barang, akhirnya kutemukan suatu keramaian. Kudekati pedagang mainan anak.

"Mas mas."
"Weh. Kowe karo sapa?"
"Pa kelingan aku?"
"Kamu Ima."

Semoga rezekimu lancar ya mas. Zaman saiki ora nggawa hp, dia bilang sing penting aku pamit dodolan keluargaku ngerti. Nek nggoleki aku, jadwalku dina kuwi nengendi mesti ketemu. Aku mau jane arep pindah nggon. Untung ra sida. Nuwum ya Im.

Catatan:
Ahmad Muhari teman seangkatan Kimia D3 '90 IKIP N Yogyakarta sekarang UNY. Muhari lulusnya tidak bareng aku. Sejak sekitar tahun 1993 atau 1995 sampai kemarin sudah tidak pernah bertemu lagi. Hari ini Allah memberi kesempatan padaku untuk bertemu Muhari.

Minggu, 29 Oktober 2017

DUDU BOJO GALAK, BOJOKU BAGUS


Dina iki dak nyetatus nganggo basa Jawa, ben ketok kekinian. Judul tulisan iki ojo diprotes. Aku nulis, nulis karepku dewe, terinspirasi saka obrolane kanca-kancane bojoku. (sik sik, tak siapke kaca pengilon karo bedak…)

Mau bengi, aku lan anakku lanang sing bagus dewe dijak bojoku reuni karo kanca-kanca SMA-ne. Gandheng aku ya wis kenal karo kanca2ne bojoku, aku ora duwe rasa kikuk babarblas.

Kanca-kanca SMA sing arang-arang ketemu bojoku, mesthine nyawang bojoku saiki karo jaman 27 taun kepungkur  rumangsa beda banget. Malah ana sing pangling, ora kelingan blas.

Pancen dak akoni, beda adoh. Ora usah dak sebut bedane neng endi. Njaluk ngapura, foto orasah dak pajang, mengko ndhak padha kaget lan takjub. Wowwww, mripate terus dadi bunder kepleng.

Sing marai mrinding lan ser-seran atiku ukarane kanca-kancane bojoku, ngene iki,
“Budi ki mbiyen zaman SMP lan SMA bagus banget. Nganti akih sing naksir.”
Mak prempeng, dak akoni bojoku pancen bagus.

Foto zaman SMP, SMA lan kuliah dijejer jentrek-jentrek. Dhenok karo thole nate takon,
“Mi, niku fotone sinten?”
“Tanglet Ayah mawon.”
Sing rumangsa duwe foto rada-rada GR mesam-mesem.
Wis, aku mung arep nyetatus BOJOKU BAGUS.

*****
Mula aku gumun karo lagu sing mbukak aib bojo lan kawuarga neng umum. Lagu sing kerep aku krungu. Gek malah mau bengi nunut numpak mobil kancane bojoku, lagu sing diputer bola-bali, yaiku : BOJO GALAK. Ora, bojoku ora galak, ananging BOJOKU BAGUS..

#kahfinoer