Sabtu, 12 Agustus 2023

Bolehkah Umroh Sebelum Menunaikan Ibadah Haji?


Ada seorang kenalan bertanya  "Bolehkah saya umroh sebelum menunaikan ibadah haji?" Jawabannya adalah boleh.

Tahun 2012, 6 Januari saya dan suami mendaftar haji. Pegawai kemenag dan bank memberikan perkiraan keberangkatan kami. Lama tunggu sekitar 8 tahun. Bisa maju, bisa juga mundur. Artinya, perkiraan berangkat tahun 2020. 

Tahun 2019, saya dan suami mendapat panggilan dan tawaran untuk mengikuti bimbingan manasik haji. Sebab, saya dan suami masuk kuota pemberangkatan tahun 2020. 

Saat mengikuti bimbingan di salah satu KBIH, beberapa pemateri mengajak dan menyarankan pada kami para jemaah haji tahun 2020 untuk "mengajak" saudara, kerabat, teman, atau tetangga untuk mendaftar haji (bukan umroh). Bila sudah mendaftar haji, tapi umur belum sampai dan meninggal sebelum bertngkat maka jemaah tersebut telah mendapatkan pahala "haji" karena selain niat juga sudah melakukan aksi. 

Setelah mendaftar haji, sambil menunggu "berangkat", jemaah bisa berumroh. Yang penting daftar haji dulu.

Namun, sekarang daftar tunggu makin panjang dan masa tunggunya bisa lama. Dengan pertimbangan umur dan kesehatan, sekarang saran  dari KBIH adalah jemaah yang penting seumur hidup minimal satu kali ke tanah suci.

Mumpung sehat, segera berangkat. Tidak harus menunggu kalau sudah mendaftar haji, lalu umroh.

Saya sampaikan ke kenalan, "umroh dulu. Jangan sampai maunya berhaji dulu, antrean panjang, umur nggak nyampai."

Kalau sudah sampai Mekah lalu berdoa, minta pada Allah agar dimudahkan segala urusan. 


00000


Jumat, 11 Agustus 2023

Menjaga Kemabruran Haji


Suatu hari saya dan suami kedatangan dua orang kenalan. Alhamdulillah, mereka adalah orang-orang yang sederhana meskipun sudah bolak balik ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Maklum, mereka memang "petugas" dan "pendamping".

Pengalaman mereka sudah tidak diragukan lagi. Rupanya mereka akan kroscek pada kami. Apa yang kami lakukan di sana, terkait ibadah sosial. Kalau ibadah secara personal malah tidak ditanyakan.

"Pak Bud, pripun? Kebiasaannya di sini juga dilakukan/dipraktikkan di sana, apakah mengalami kendala?"

"Alhamdulillah, kemampuan memijat tetap saya praktikkan. Siapa pun yang membutuhkan, saya bantu."

"Istrinya protes atau tidak?"

"Nggak, Pak. Sebab, sejak dari rumah kami memang bersepakat untuk membantu orang sesuai dengan kemampuan kami masing-masing." Jawab saya dengan lugu.

"Nah, kemarin itu sudah menjadi isu nasional kejadian di Muzdalifah. Bagaimana dengan njenengan berdua?"

"Di Muzdalifah, saya dan istri sepakat untuk berpisah "

"Maksudnya?"

"Karena kondisi saat itu tidak memungkinkan kami ke mana-mana harus berdua. Kami sepakat, saya mendampingi lansia dan istri juga mendampingi lansia. Kami tidak mungkin akan berempat. Lebih baik berpisah dan mencari "jalan keluar" dari Muzdalifah berdua berdua. Dengan seperti ini, alhamdulillah istri dan lansia yang didampingi lebih duluan mendapatkan bus yang membawa ke Mina. Sekitar jam 11-an. Sedangkan saya dengan bapak lansia sekitar jam setengah satu baru mendapatkan bus. Tetap bersyukur karena sampai Mina masih cukup waktu."

"Syukurlah, panjenengan masih sempat memikirkan orang lain. Muzdalifah adalah ujian bagi semua orang, sifat orang kelihatan saat di Muzdalifah."

Ujian? Ya, Muzdalifah adalah tempat ujian sesungguhnya. Saat itu bekal air habis. Kalaupun masih ada tentu jumlahnya terbatas. Air kran diminum juga tak masalah. Panas matahari benar-benar terik. Tidak ada pohon dan tenda di tengah tanah lapang yang luas. Hanya ada tenda tenda kecil tempat untuk antre menunggu bus.

Di Muzdalifah banyak orang sudah tidak peduli dengan yang lain. Namun, bagi saya dan suami, Muzdalifah adalah ladang amal. Kami hanya mendampingi, ikut mengantre menunggu bus agar lansia-lansia segera bisa ke Mina. Suhu udara sekitar 45 dersel, bukanlah suhu yang sejuk dengan angin sepoi sepoi. Suasana panas, hati panas, pikiran kemrungsung, panik, dan lain-lain.

"Pak Bud, haji mabrur itu bukan sebatas di tanah suci khatam baca Qur'an berkali-kali, tiap hari tahajud dan salat di Masjidil Haram, umroh sunnah tak terhitung, dapat mencium hajar aswad, menyentuh pintu Ka'bah, Multazam, maqam Ibrahim, salat di Hijr Ismail. Mabrur itu seberapa banyak kita bermanfaat bagi orang lain, tetap istiqamah melakukan salat berjemaah atau melakukan amalan secara rutin, khususnya setelah kita kembali ke tanah air."

Benar juga, bila mabrur hanya sebatas ini dan itu, kasihan orang lanjut usia, dissabilitas, dan orang yang mendampingi lansia yang terbatas bisa ke Masjidil Haram.

Menjaga kemabruran, ya di tanah air inilah apa yang bisa kita perbuat.

00000

Buka Rekening Tabungan Haji


Seorang kenalan menceritakan keinginannya untuk naik haji. Saya antusias mendukungnya. Saya sarankan untuk segera menabung di bank khusus tabungan haji.

"Tapi suamiku nggak mau nabung. Katanya kalau uangnya sudah cukup, dia akan mendaftar haji langsung."

"Ya, nggak apa."

"Kemarin aku ke bank syariah dan membuka rekening tabungan haji. La kok ditanya suaminya mana?"

"Kamu kan perempuan, bersuami pula. Kalau perempuan naik haji kan dengan muhrimnya. Maksudnya suami ditanyakan itu kelak mau berangkat berdua atau tidak."

"O, gitu ya."

"Yang penting ada niat, lillahi ta'ala, action. Actionnya ya segera nabung atau ngumpulin uangnya."

"Nambah saldonya tiap bulan nggak perlu banyak, kan?"

"Kalau uangnya belum cukup banyak, saranku nggak usah dibawa ke bank dulu. Sebab, ngantre kita lama, cuma mau nabung sedikit. Sayang waktunya. Mending dikumpulkan di rumah dulu, lalu dibawa ke bank."

"Makasih atas sarannya, ya."

"Sama-sama."

Tiap orang akan diuji. Ujiannya macam-macam. Ada yang pasangan suami istri yang sefrekuensi. Ada yang istrinya lebih sholeh dari suaminya atau sebaliknya. Tak apa, yang penting aqidah tetap terjaga.

Ada yang pasangan suami istri sudah klik untuk menunaikan ibadah haji. Ada yang istrinya sudah siap, sedangkan suaminya belum. Atau sebaliknya. Yang penting sabar dan berdoa, semoga Allah memudahkan kita untuk menunaikan ibadah haji dan umroh.

Jangan lupa, nabung untuk berhaji dan umroh ya.

00000

Kamis, 10 Agustus 2023

Bila Sudah Berniat Segera Buka Rekening Tabungan Haji

 


Rukun Islam kelima adalah haji. Naik haji bagi yang mampu. Mampu di sini artinya mampu secara finansial, kesehatan, dan perjalanan aman. Siapa pun bisa menunaikan ibadah haji asal Allah memanggilnya untuk berangkat ke tanah suci. 

Ada orang yang hidupnya sederhana, cukup, bahkan tergolong pas-pasan, namun bila Allah telah berkehendak, bisa saja orang tersebut segera menunaikan ibadah haji. Entah karena mendapat hadiah atau sebab lain.

Bagi teman-teman yang ingin segera ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, bisa segera membuka rekening tabungan haji. Silakan datang ke bank syariah (jangan konvensional). Setoran awal tidak memberatkan kok, tergantung aturan bank yang berlaku saat ini.

Tambahlah saldo secara rutin. Semampunya saja. Kalau bisa menabung dalam jumlah besar, silakan. Namun, bila jumlahnya sedikit, sebaiknya uang dikumpulkan dulu di rumah. Tujuannya agar waktu antre kita lebih bermakna bila kita menyetorkan uang tabungan dalam jumlah banyak.

Yang penting niat beribadah haji ini segera direalisasikan dengan menabung. Insya Allah nanti dimudahkan dan rezeki dicukupkan untuk membayar setoran awal ONH sebesar 25 juta rupiah. 

Jangan bilang masih banyak utang, kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak-anak masih banyak sehingga menunda menabung di bank.

Ini hanya sebagai ajakan, bukan memaksa. Dulu tahun 2012 saya dan suami juga "berani" membuka rekening tabungan haji. Alhamdulillah, akhirnya bisa berangkat ke tanah suci.

Jadi, niat saja belum cukup, harus dibarengi dengan aksi.

00000


Minggu, 06 Agustus 2023

Jemaah Haji Reguler Perlu Membawa Beras




Jemaah haji tahun 2023 mendapatkan makanan pagi, siang, dan sore/malam. Makanan terjamin enak. Namun, kadang ada sedikit error dalam memadupadankan antara nasi, sayur, dan lauk untuk sarapan pagi. Contoh salah satu menu sarapan pagi: nasi kuning lauk kering kacang dan teri.  (Misalnya, nasi kuning, kering kacang dengan secuil telur kan Indonesia banget, kayak mau ulang tahun gitu 😂😂😂). Sarapan pagi dengan menu: nasi uduk lauk oseng tempe (cenderung seperti bacem, pedas enggak manis juga enggak).

Kalau siang lauknya berlimpah, seperti ayam goreng, ayam bumbu kecap, ayam bumbu rica, patin, daging sapi, dan lain lain. Nah, kalau protein hewani berlimpah, biasanya dikumpulkan kemudian esoknya dibuat makanan lagi agar nafsu makannya bertambah. Remake. 

Tiga hari terakhir, suplai makanan agak tersendat. Maka dari pihak pemerintah mengambil solusi, selama 2 hari pagi sarapan berupa paket indomi dalam wadah sejenis popmi, dan 2 buah roti selai. Siang dan sore hari ada nasi dan lauk. Hari ketiga tidak ada logistik. Sebab itulah rombongan sepakat untuk menanak nasi yang ramah lansia.

Sayangnya, dari tanah air sudah diberi tahu bahwa makanan terjamin dan tidak bakal kekurangan. Kenyataannya di lapangan, tanggal 7, 14, 15 Dzulhijah tidak ada suplai makanan. Mau tidak mau harus beli nasi lewat katering atau jalan keluarnya memasak nasi dan lauk ramai-ramai.

Kalau pakai katering, satu porsi sarapan dengan lauk standar protein hewani jemaah haji harus mengeluarkan uang 15 riyal. Ada juga yang per porsi harganya 20 riyal.

Untuk pengiritan sana sini, langkah cerdasnya adalah memasak bareng-bareng. Dana diambilkan dari iuran rombongan. Alhamdulillah, semua bisa teratasi dan makanan benar-benar ramah lansia.

Pesan untuk teman-teman yang akan berangkat haji tahun 2024 tetap bawa beras ya, setidaknya bawa 1 kg. Bawa 1,5 kg lebih aman. Masaknya pakai mejikom. Mejikom bisa dibeli di tanah suci. 

Selain beras, apa saja yang harus dibawa? Nantikan tulisan berikutnya.

00000

Sabtu, 05 Agustus 2023

Kembali ke Baitullah



Bagi teman-teman yang sudah menunaikan haji dan umrah, saya yakin pasti mereka ingin kembali ke Baitullah. Sebab, sebelum mereka ke tanah suci saja sudah rindu Baitullah, apalagi sudah pernah berhaji dan umrah.

Bila daftar tunggu untuk menunaikan ibadah haji cukup lama, sementara ada cukup uang maka umrah bisa segera dilaksanakan tanpa harus menunda lagi. Teman-teman nanti akan "tuman" alias ketagihan untuk berlama-lama di Baitullah. 

Di Baitullah hati lebih tenteram, tenang, dan damai. Hati terpaut. Tiap mulut melantunkan doa, ada tetes air mata. 

Untuk itu, segeralah ke Baitullah bila secara finansial teman-teman mampu. Setelah mendaftar umrah, juga ikut bimbingan manasik umrah. Semoga semuanya lancar.

Rabu, 21 Juni 2023

Makanan yang Perlu Dibawa Saat Naik Haji Reguler



Alhamdulillah, tahun 2023 ini jemaah haji Indonesia mendapatkan makan tiga kali dalam sehari. Menunya juga enak-enak, tapi sayangnya padu padannya kurang greget. Misal pagi hari nasi kuning lauknya kering kacang dan teri. Siangnya sudah cocok, malqm hari menunya sedikit aneh. Hari berikutnya, pagi hari menu sarapan nasi uduk lauknya oseng tempe bumbu kecap. 

Meskipun sudah ada daftar menu untuk seminggu, tetap saja kalau buka kotak aluminium foil rada kaget juga. Maka salah satu cara agar makannya tetap lahap adalah makanan/lauk kering yang dibawa dari tanah air dieksekusi. Biasanya sambal pecel tak pernah ketinggalan. Ada juga abon, kering tempe, serundeng, sambal terasi/tomat, kecap dan mi instan atau mi gelas. 

Bagi Anda yang akan naik haji pada tahun yang akan datang, mangga bisa dibaca. Siapa tahu bermanfaat.

Lauk kering:
Kering tempe mix kacang atau teri, abon ayam/sapi, serundeng ori/pedas, sambal pecel, tempe keripik, rempeyek, dan makanan kering kesukaan ya.

Makanan/camilan:
Biskuit, enting-enting, keripik jagung  onde-onde mini, slondok.

Minuman instan:
Jahe, susu jahe, energen, kopi, teh, gula pasir, gula jawa, dan lain-lain. 

Permen:
Kopiko, relaksa, kiss, permen jahe, atau permen kesukaan. 

Makanan/camilan dan permen selain dikonsumsi sendiri juga bisa disedekahkan saat berada di Masjidil Haram atau masjid terdekat.

Saya selalu bawa tas ransel kecil berisi bikuit dan permen. Makanan tersebut saya bagikan pada orang yang saya temui.

Suatu hari saya berjemaah di masjid dekat hotel. Ketika pulang, saya berbagi permen pada perempuan berkulit hitam. Tiba-tiba ada laki-laki berkulit bersih menunjuk permen yang saya beriksn pada perempuan tadi. Buru-buru saya ulurkan 2 buah permen. Laki-laki itu memberi kode kurang. Maka saya berikan 2 buah lagi. Dia tersenyum memberi isyarat terima kasih.

Dari pengalaman itu, saya sarankan untuk membawa camilan atau permen dalam jumlah banyak untuk berbagi. Berbagi tidak membuat kita miskin. Berbagi membuat kita lebih kaya. 

00000