Tampilkan postingan dengan label pramuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pramuka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

Mahendra Tak Kunjung Pulang, Maharani Nekat…..| Kahfi Noer

Kalau Raju menanyakan sang guru tenisnya tanpa henti, bahkan pakai edisi mewek juga, Maharani tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun Mahendra sudah berulang-ulang ditelepon, tetap saja tidak diangkat. Dan seperti biasa, pesan sms juga tidak segera dibalas. Maharani memberikan alasan yang agak masuk akal. Tidak ada sinyal.
Raju memang sangat dekat dengan guru olahraganya daripada dengan guru kimia. Bila guru olahraga belum ada di rumah, sudah pasti Raju akan rewel. Tapi, bila guru kimia tidak ada di rumah, Raju tak begitu mempersoalkan. Akan tetapi ada perkecualiannya lo, yaitu ketika sakit tetap saja Maharani yang dicari.
Seperti biasanya bila hari Sabtu, Mahendra pulang agak sore. Mahendra mendampingi siswanya yang latihan Pramuka.  Oleh karena tidak begitu repot, kadang Maharani mengantar Raju untuk menemui ayahnya di perguruan. Maharani terus pulang, beres-beres rumah dan mengerjakan pekerjaan lainnya.
Yang jadi masalah kalau Mahendra mendampingi kegiatan siswa-siswanya di luar sekolah. Seperti kemah dan Jumbara beberapa waktu yang lalu. Maharani bukan tidak percaya pada Mahendra. Demi sang buah hati, Maharani nekat untuk ikut serta dalam kegiatan Mahendra. Semua dilakukan agar Raju tidak rewel.
Tiap acara kemah, Mahendra selalu pulang tengah malam atau dini hari. Sebelumnya, siangnya tidak bertemu Raju. Jadilah Raju rewel, kehilangan pegangan (halah, pegang tangan Maharani juga bisa kok).  
Bila ikut serta di bumi perkemahan atau tempat kegiatan, Raju tidak bisa diam. Selalu saja ke sana kemari. Maharani melihat Raju rasanya lelah sekali, tapi sepertinya Raju biasa-biasa saja.
Waktu Jumbara, Mahendra sulit dihubungi. Biasanya pulang tengah malam. Tapi sudah jam setengah empat pagi, Mahendra belum juga pulang. Maharani menelepon Mahendra. Ketika diangkat, Maharani minta Mahendra segera pulang karena Raju rewel.
00000
Hari Sabtu, Maharani dan Raju libur. Maharani ingin ikut ke tempat diselenggarakannya Jumbara. Mahendra mengizinkan. Jadilah mereka bertiga melakukan perjalanan ke desa. Hari Sabtu itu, acara penutupan Jumbara.
Ternyata waktu yang ditempuh lama, jalannya juga menanjak tajam. Maharani mengajak ngobrol Raju dan menjelaskan tentang pekerjaan Ayahnya.
“Kasihan Ayah.”
“Iya, oleh sebab itu kalau Ayah bekerja dan tak segera pulang, kamu jangan rewel. Lihat, jalannya seperti ini. Kalau malam gelap gulita.”
Sampai di lokasi, tenda-tenda sudah dilipat. Peralatan yang digunakan sudah dikemasi, tinggal menunggu mobil jemputan. Sore sebelumnya sampai malam hari hujan turun deras. Jadilah lapangan becek.
Meskipun becek, Raju tetap saja mengikuti langkah Mahendra. Pada akhirnya baju kotor kena cipratan air campur tanah, sepatu kotor.
Semakin siang semakin panas. Raju tetap tidak bisa diam. Setelah upacara penutupan selesai, Raju ikut mobil yang menjemput peserta Jumbara. Mobil tersebut milik adik Mahendra.
Sesekali Maharani dan Raju ikut serta dalam kegiatan Mahendra. Tujuan Maharani mengikutsertakan Raju dalam kegiatan tak resmi ini agar Raju tahu pekerjaan guru tenisnya. Tidak hanya rewel kalau ditinggal guru tenisnya yang super sabar ini.
Walapun Raju belum sepenuhnya paham, paling tidak sedikit-sedikit tahu pekerjaan Ayahnya.
00000
Karanganyar, 16 Oktober 2016

Minggu, 11 September 2016

Estafet Tunas Kelapa, Lingkungan Tetap Bersih

Semangat!
dok.pri
Estafet Tunas Kelapa, Lingkungan Tetap Bersih
Saya sering mengerjakan sesuatu untuk dicontoh. Istilahnya adalah mengajak. Kegiatan mengajak adalah kegiatan yang kita lakukan untuk ditiru orang lain. Saya cenderung tidak memerintah. Kepada anak-anak dan suami, saya juga tak mau menyuruh.
Mungkin saya sudah berulang-ulang menuliskan tentang kebaikan membuang sampah pada tempatnya dan dipilah-pilah terlebih dahulu. Sampah dipilah dan dikelompokkan menjadi sampah organic dan non organic.
Kalau yang organic, bila masih memungkinkan maka ini jatahnya ayam-ayam Thole. Sedangkan yang non organic saya kelompokkan ke dalam plastic, kertas dan bukan plastic-kertas. Tentu saja yang tak bisa saya manfaatkan lagi, saya buang di tempat sampah akhir. Yang masih bisa dimanfaatkan, biasanya saya kumpulkan. Bukan saya bawa ke bank sampah, melainkan saya tawarkan kepada pemulung yang biasa lewat. Biarlah mereka memanfaatkan barang yang sudah tak saya pakai lagi.
Semua itu saya lakukan bila berada di rumah. Kalau di tempat lain/tempat umum, paling tidak saya hanya akan membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Bila tak ada tempat sampah, sampah akan saya bawa pulang. Kebiasaan ini ternyata diikuti kedua anak saya.
Hari Rabu, 7 September 2016 di Karanganyar ada kegiatan yang menyita perhatian banyak orang. Baik dunia pendidikan maupun non pendidikan. Ya, ada Estafet Tunas Kelapa  (ETK) yang merupakan Gerakan Pramuka yang diselenggarakan tiap tahun. Jadi ini merupakan rutinitas.
Dua hari sebelumnya di sekolah diadakan diskusi untuk menyambut ETK. Ada beberapa guru yang bertugas untuk memberikan air mineral buat peserta ETK. Ada yang lucu, yakni usul seorang teman untuk peserta yang telah minum air untuk membuang kemasan plastic di pinggir jalan. Saya langsung protes.
“Saya tidak setuju. Sebaiknya dari kita dibagi, ada yang menyerahkan air mineral dan ada yang mengumpulkan kemasan plastic, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastic. Atau biarlah wadah yang sudah kosong dimasukkan ke dalam kantong celana peserta ETK.”
Akhirnya disepakati, sebagian guru mengumpulkan wadah plastic dari peserta ETK dan dimasukkan dalam kantong plastic. Inilah perilaku cinta lingkungan. Cinta lingkungan sebagian dari Iman.
Setelah berada di lapangan, ternyata sebagian anggota Pramuka sebagai relawan mengumpulkan botol bekas, wadah plastic yang digunakan peserta ETK. Cinta lingkungan, membuang sampah pada tempatnya adalah gaya hidup. Gaya hidup sehat mulai dari diri sendiri. (SELESAI)
Karanganyar, 11 September 2016
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/estafet-tunas-kelapa-lingkungan-tetap-bersih_57d578dc6323bd584a80c648

Sabtu, 10 September 2016

Tips Merawat Tenda Agar Awet

Tenda Biru
dok.pri
Tips Merawat Tenda
Bagi orang yang aktif melakukan kegiatan di lapangan khususnya di alam terbuka, seperti kegiatan Pramuka, tenda merupakan salah satu barang yang sangat penting. Keberadaan tenda sangat diharapkan. Apalagi bila awal tahun ajaran baru, bulan Agustus, dan akhir tahun.
Bila ketersediaan tenda tidak banyak atau tidak mencukupi, biasanya orang akan meminjam tenda ke sekolah-sekolah. Hal ini berlaku secara luas. Artinya pinjam-meminjam tenda, itu merupakan hal biasa.
Tenda yang sekarang banyak digunakan ada 2 jenis, yaitu dari kain dan dari bahan parasut. Kalau bahan baku tenda tersebut adalah kain, maka siap-siap atau menyediakan plastic/terpal/deklit untuk mengantisipasi hujan.
Kalau hujan deras, tentu saja kemah pindah ke tempat yang lebih aman alias rumah permanen. Meskipun memakai tenda anti air, tetap saja tidak aman. Pada musim hujan, tenda yang digunakan untuk kemah mudah kotor. Basah, kena tanah basah dan  nodanya bandel. Untuk itu tenda memerlukan perawatan dengan segera.
Tips merawat tenda berbahan kain di bawah ini bisa dicoba agar tenda awet:
1.      Bila kotor segera dicuci agar noda mudah dihilangkan.
2.      Bila robek segera ditutup agar robekannya tidak menjalar ke mana-mana.
3.      Bila basah segera dikeringkan agar tidak berjamur
4.      Bila ada kerusakan sedikit segera perbaiki
5.      Simpan di tempat yang sejuk dalam keadaan aman
Tips merawat tenda berbahan parasut di bawah ini bisa dicoba agar tenda awet:
1.      Bila kotor segera bersihkan dengan cara dilap dengan spon basah. Misalnya menggunakan sabun, maka pakailah sabun yang lembut. Atau dibersihkan dengan menggunakan sampo.
2.      Bila robek segera ditutup dengan rapat agar robekannya tidak semakin besar.
3.      Bila basah segera dikeringkan di tempat yang tidak kena sinar matahari langsung agar tenda tidak cepat rusak. (Tenda yang disimpam dalam keadaan lembab/basah, gampang berjamur)
4.      Bila ada kerusakan sedikit segera diperbaiki, misalnya retsleting atau kancing.
5.      Tiang-tiang menyangga dari logam segera dikeringkan agar tidak berkarat.
6.      Simpan di tempat yang sejuk dalam keadaan aman.
Kalau kita tak bisa mencuci/membersihkan tenda karena repot, segera masukkan ke Laundry. Sekarang banyak jasa Laundry melayani perawatan/pencucian tenda. Di samping lebih praktis, ternyata jasa Laundry ongkosnya terjangkau.
Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 10 September 2016

Rabu, 07 September 2016

Estafet Tunas Kelapa Kabupaten Karanganyar 2016

dok.pri
Estafet Tunas Kelapa Kabupaten Karanganyar 2016
Estafet Tunas Kelapa (ETK) Kwartir Daerah Jawa Tengah Tahun 2016 sudah memasuki wilayah Kabupaten Karanganyar, Rabu (07/09) pagi, yang dimulai dari 14 titik pemberangkatan Kwarcab Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.
Masuknya ETK diserah terimakan lintas Kwarcab, terbagi dalam tiga lokasi, yakni di Jurug berbatasan dengan Kota Surakarta, perempatan Sukosari, Kecamatan Jumantono berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo, dan Waduk Botok, Kecamatan Kerjo berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sragen, untuk menuju sampai tempat persemayaman di SMP Negeri 2 Bangsri, Kecamatan Karangpandan. Diperkirakan pukul 15.00 WIB sudah tiba di lokasi.
Sebelum sampai dengan tempat persemayaman, terdapat etape-etape yang harus dilalui dan dilakukan serah terima. Untuk serah terima di Jurug, diserahkan pasukan ETK Kota Surakarta oleh Wakil Wali Kota Surakarta,  Achmad Purnomo, untuk diteruskan kepada Kabupaten Karanganyar, yang diterima Bupati Karanganyar, Juliyatmono.
Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Karanganyar, Samsi mengatakan, ETK ini diadakan untuk memasyarakatkan Gerakan Pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda, meningkatkan pembinaan khususnya pada Gerakan Pramuka di Jawa Tengah.
“Ini juga sebagai menyemarakkan 55 Tahun Gerakan Pramuka. Kegiatan yang diadakan setiap tahun merupakan tradisi yang dipertahankan dan ditingkatkan untuk membentuk manusia yang berkarakter,” kata Samsi.
Sumber: 
dok.pri

dok.pri
Hari ini, Rabu, 7 September 2016 di Kabupaten Karanganyar ada peristiwa penting. Peristiwa ini berkaitan dengan kegiatan kepramukaan. Semua yang terlibat di dalamnya sibuk. Ya, Estafet Tunas Kelapa. Kebetulan sekolah tempat saya mengajar terletak di Kecamatan Tasikmadu. Dengan demikian, Estafet Tunas Kelapa diterima di perbatasan Kecamatan Jaten dan Kecamatan Tasikmadu.
Di tempat penerimaan ETK ini disediakan panggung kehormatan dan ada tamu undangan. Guru-guru dari SMK Tunas Muda Karanganyar menampilkan sendratari singkat Rama-Sinta.
Rama-Sinta
dok.pri
Seperti biasa, saya mendapatkan tugas mengambil gambar/memotret. Sayang, saya tidak ditempatkan di tempat serah terima ETK. Jadi, saya tak bisa mengambil gambar prosesi serah terima ETK. Saya dan teman-teman yang lain mendapatkan tugas untuk memberikan minuman bagi peserta ETK.
Dari Jaten, peserta ETK berjalan menuju Karanganyar Kota. Di alun-alun, ETK diserahkan.  Saya melihat masyarakat luas sangat antusias melihat/menyaksikan/ terlibat langsung. Ternyata barisan pagar betis tak gentar kena terik sinar matahari. Kebetulan siang ini sangat panas. Semangat adik-adik dan masyarakat sangat luar biasa. Terbukti, sampai di alun-alun masyarakat memadati sekitar tempat yang dilewati ETK.
Rama-Trio Kwek-kwek
dok.pri
Alhamdulillah, sampai di Karanganyar Kota peserta ETK bisa melaksanakan tugas dengan sukses. Tak ada halangan/rintangan yang berarti.  Meskipun udara panas dan sinar matahari mampu membuat kulit gosong namun tak menyurutkan semangat mereka. Semangat-semangat dan selamat menyemarakkan 55 tahun Gerakan Pramuka.
Setelah tugas saya selesai, untuk menghilangkan dahaga dan lapar, saya dan teman-teman, termasuk pemain sendratari makan siang di Sambal Layah Batas Kota.
Karanganyar, 7 September 2016 

Catatan : Awal tulisan, berita saya ambil dan sumbernya ada pada link. Semua foto-foto merupakan dokumen pribadi.

Jumat, 12 Agustus 2016

Faiz Saat Hari Pramuka di Bumi Perkemahan

Kemah di rumah
dok.pri
Faiz Saat Hari Pramuka di Bumi Perkemahan
Sore ini, Faiz ikut ayah ke bumi perkemahan, Delingan, Kabupaten Karanganyar. Saya tidak ikut serta sebab saya harus menjemput kakak Faiq yang mengikuti les tambahan. Biasanya, ayah pulang ke rumah setelah Isya’. Istirahat di rumah sebentar lalu kembali ke buper lagi.
Tepat satu tahun yang lalu, saya dan Faiz ikut di buper sejak sore. Ayah menyiapkan semuanya untuk murid-muridnya, terutama menyiapkan lampu penerangan. Giliran saya mengikuti Faiz ke mana dia melangkah. Saya khawatir, meskipun buper terang tetap saja situasinya lain.
Tiba-tiba Faiz rewel, mulai minta yang aneh-aneh. Memang di buper banyak pedagang yang berjualan makanan dan minuman. Saya tidak terbiasa membelikan Faiz jajanan di keramaian. Tujuannya agar Faiz tidak sering minta jajan bila bepergian.
Memang Faiz tidak minta makanan dan minuman, dan inilah anehnya. Faiz menunjuk suatu arah. Katanya tempatnya terang, ada penjual mainan. Saya bilang gak ada. Taapi dia tetap ngotot. Padahal yang ditunjuk bukan tempat yang terang benderang. Dan saya berusaha mengikutinya.
“Itu tempat yang gelap, Le.”
“Mama ki lo. Itu ada penjualnya, yang membeli juga banyak.”
“Mana? Nggak ada.”
Saya mengikuti langkahnya. Lalu saya bilang dengan tegas. “Faiz, itu tempatnya gelap. Gak ada pedagangnya.”
“Tadi di sini ada rame-rame. Ada yang membeli jajanan.”
Faiz saya pegang, lalu saya gendong.
“Faiz, dengarkan mama. Ini tempatnya gelap. Faiz bilang terang. Yang terang sebelah sana.”
Saya menunjuk tempat yang terang. Ada banyak pedagang yang menjajakan dagangannya.
“Ah aku salah, Ma.”
Saya lega. Ternyata tidak seperti yang saya duga sebelumnya. Saya takut Faiz bisa melihat “sesuatu” lagi seperti ketika masih kecil.
Akhirnya, saya harus membelikan minuman untuk Faiz. Agar dia tak rewel lagi. Ketika saya ceritakan kejadian barusan pada suami, suami tersenyum.
“Gak papa. Maksudnya Faiz barangkali mau menunjuk tempat orang jualan makanan dan minuman. Nah karena saking banyaknya orang, saking banyaknya tempat yang terang, saking banyaknya suara dan pengeras suara itulah yang membuatnya bingung,”kata suami.
00000
Hari ini saya sempat khawatir, Faiz dan suami belum juga pulang. Pikiran saya, kalau di jalan nanti mengantuk terus bagaimana? Saya mengirim pesan lewat sms. Sms tidak dibalas, tidak sampai 10 menit kemudian, suara sepeda motor masuk garasi terdengar. Alhamdulillah, mereka sudah sampaai rumah.
Faiz saya ajak tidur. Setelah istirahat sebentar, suami pamit akan ke buper lagi. Semoga selamat sampai tujuan. Sebenarnya saya kasihan pada suami. Tiap ada kegiatan sekolah/kecamatan selalu kurang istirahat. Tapi suami selalu menenangkan saya,”Namanya juga bekerja. Sudah dibayar Negara, ya harus bertanggung jawab.”
00000
Karanganyaar, 12 Agustus 2016