Minggu, 17 Januari 2016

Bahagia Itu Kalau Gak Punya Hutang

Inilah surat yang saya tujukan kepada Mas Saptuari Sugiharto:
Gambar 1. Ima dan Buku Kembali Ke Titik Nol
dok.pri
Assalamualaikum, mas Saptuari.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan buku KKTN dengan sukses. Kalau saya hitung-hitung total waktu membacanya adalah dari pulang sekolah (jam 2 siang) sampai jam setengah sepuluh malam (dikurangi waktu shalat dan ngurus si kecil dan nampleki nyamuk yang gigit badannya). Kebetulan ada beberapa tulisan dari KKTN yang pernah saya baca lewat facebook.
Tentang buku tersebut pertama yang akan saya komentari adalah buku yang pas buat saya dengan gaya bahasa yang aku banget, gaya bahasa saya yang asli Yogya. Bahasanya renyah, cethar-cether, tanpa tedheng aling-aling, gak peduli dengan pembaca. Saya suka banget. Gampang dipahami, dicerna dan insya Allah sebagian sudah saya praktekkan.
Yang kedua : isinya membuat saya tambah membuka mata. Alhamdulillah saya sudah lama meninggalkan transaksi hutang/riba. Walaupun sampai sekarang masih berhubungan dengan bank (punya rekening bank murni untuk menerima gaji dan tunjangan sertifikasi, tidak untuk mengambil bunganya). Membuka rekening di bank untuk mengamankan uang, kalau disimpan di rumah was-was rasanya. Soalnya rumah saya berada di tengah sawah, tetangga terdekat berjarak dua pathok. Lingkungan tidak aman karena jauh dari tetangga. Pernah suatu hari kemalingan laptop (padahal rumah saya jelek), tapi sehari kemudian laptop saya sudah ada di tangan polisi!
Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari testimony orang-orang yang meninggalkan riba. Saya bersyukur, suami saya juga ikut membaca. Semoga apa yang selama ini saya sampaikan tentang hutang dan menjauhi riba mengena di hati suami. Dan suami sepakat dengan ilmu tentang riba dan hutang serta menjauhinya.
Saya mau berbagi pengalaman berhutang dan bertransaksi dengan bank. Pertama kali saya mengambil hutang bank yaitu tahun 2002 ketika saya akan membangun rumah yanga akan saya tempati. Setelah lunas, saya tidak berhubungan dengan bank lagi. Tapi saya tetap hutang di koperasi sekolah untuk renovasi rumah.
Ketika hutang bank dan koperasi sudah lunas, ibu mertua saya sakit tumor limfa tahun 2008. Sebagai anak tertua, suami saya memiliki kewajiban untuk merawat ibu ( bapak mertua meninggal tahun 2006). Sebelum suami minta pendapat saya, saya justeru lebih dulu bilang pada suami bahwa hartamu semua adalah hak ibumu. Sudah menjadi kewajiban suami untuk membiayai pengobatan ibu. Kami tidak memiliki dana dan tak memiliki tabungan karena kehidupan kami biasa-biasa saja. Saya dan suami sepakat untuk mengambil hutang dari bank, untuk biaya pengobatan ibu mertua. Setiap 2 minggu sekali kami harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk kemoterapi. Kebetulan 3 adik suami dibebaskan (tidak dipaksa untuk patungan) memberi uang/tidak untuk pengobatan mertua.
Satu tahun berlalu, ibu mertua menjalani kemoterapi kurang lebih 10 kali. Ternyata tumor tersebut sudah mencapai stadium lanjut. Ibu mertua kelihatan sangat lemah. Saat itu bulan puasa, ibu dibawa ke rumah sakit. Hutang kami sudah banyak. Rencana suami mau mengambil hutang lagi di bank, tapi mendekati lebaran bank tutup libur cuti. Akhirnya suami meminjam uang di koperasi.
Setelah lebaran, ibu meninggal dunia. Uang koperasi masih utuh belum terpakai. Lalu uang koperasi dikembalikan dan tak memberikan jasa sedikitpun.
Tahun 2010, suami menerima tunjangan profesi (sertifikasi). Akhirnya pinjaman bank kami lunasi. Lega, plong! Setahun kemudian saya juga menerima tunjangan sertifikasi. Saat itu saya bilang pada suami untuk mendaftar ke tanah suci. Kata suami, dia ingin ke tanah suci bareng saya. Padahal uang kami hanya bisa untuk mendapatkan 1 porsi saja. Akhirnya kami sepakat untuk meminjam koperasi sekolah. Tahun 2012, kami mendaftar haji dan insya Allah berangkat tahun 2020.
Ketika kami sudah ada dana, pinjaman koperasi saya tutup, lunas. Ayem lagi gak punya hutang. Biarpun rumah selama 13 tahun ditempati hanya gitu-gitu tak ada peningkatan, tapi hati saya tenang. Meskipun saya dan suami hanya memakai motor lawas, kami syukuri. Allah sayang sama keluarga kami.
Suatu ketika saya disentil oleh teman kantor (sebut saja pak Sri). Katanya saya tidak mensyukuri nikmat. Lo, kok bisa? Iya bu, seharusnya rezeki yang diberi oleh Allah itu disyukuri dan ditunjukkan. Misalnya membeli kendaraan yang lebih baik. (hehe, suami saya dari tahun 1995 sampai sekarang memakai Yamaha alfa keluaran th 1993-an, suaranya memekakkan telinga trontong-trontong). Saya bilang, saya lebih tahu cara bersyukur untuk nikmat yang saya terima daripada sampeyan. Sampeyan tidak tahu apa yang saya lakukan dengan nikmat Allah yang saya terima. Setelah itu cep klakep, gak komen lagi.
Ada lagi yang bilang, wah garasinya gede… tinggal beli isinya. Herek-herek di bank langsung stang bunder. Saya jadi mikir, kok orientasi orang-orang kalau punya uang terus ujung-ujungnya punya mobil. Kalau gak punya mobil apa tabu? Saya dan suami cukup bahagia dengan 2 sepeda motor lawas. Masih senang ke mana-mana naik bus. Mudik harus berdesak-desakan dengan calon penumpang lain itu biasa.
Saya dan suami cukup hepi dengan kesederhanaan ini. Tidak punya hutang, bisa memberi sedikit gula dan teh untuk ibu dan bapak, bisa membelikan permen keponakan, bisa membawa nasi bungkus ke sekolah. Saya dan suami masih punya cita-cita, memiliki anak asuh di sekolah masing-masing ora ketang siji thok thil.
Saat ini memiliki sedikit uang untuk melunasi sisa ongkos naik haji yang belum terbayar. Semoga Allah secepatnya memanggil kami untuk menjadi tamu di tanah suci.
Dengan membaca KKTN, rasanya benar-benar disemangati lagi, dikompori dan dimotivasi untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Terima kasih mas Saptuari, bukunya kerennnn banget!
Wassalamualaikum.
Karanganyar, 7 Januari 2016
Noer Ima Kaltsum-Guru Kimia- SMK Tunas Muda Karanganyar

Jumat, 15 Januari 2016

Terapi Kelereng Pasca Operasi Tangan Patah

Gambar 1. Sondokoro, sambil terapi
dok.pri
Sekitar 2 bulan yang lalu, Faiz (5 tahun 6 bulan) mengalami patah tulang tangan kiri (atas siku). Faiz menjalani operasi pada pagi hari. Setelah operasi keadaan Faiz sehat. Tangan Faiz dibalut perban elastis. Sore harinya, seorang perawat (terapis) datang. Saya tidak tahu namanya, sebut saja Mas Ahmad. Mas Ahmad mulai mengajak ngobrol Faiz. Mungkin karena takut atau malu, Faiz tidak mau menurut apa yang dicontohkan Mas Ahmad.
Gambar 2. Sebelum operasi
dok.pri
“Dik Faiz, tangan kiri digerakkan seperti ini.” Mas Ahmad membuka tutup jari-jarinya. Faiz diminta untuk membuka menutup jari-jarinya. Faiz mau memraktekkan. Alhamdulillah
“Dik Faiz, ikuti saya ya. Pegang hidung, mulut, telinga. Kalau tidak bisa dibantu tangan kanan.”
Ya Allah, belum mencoba Faiz sudah bilang sakit.
“Sakit, sakit Mama.”
Mas Ahmad berkata,”Ibu, bapak, nanti kalau di rumah tolong dibiasakan memegang hidung, mulut dan telinga. Kalau anaknya tidak mau atau bilang sakit, jangan dimanjakan ya. Tetap harus dipaksa supaya tangannya tidak kaku. Kalau nanti gerakan-gerakan tersebut tidak dilakukan tangannya bisa ceko (thuing, mendengar kata itu langsung saya membatin ah, mosok bagus-bagus kok ceko. Ya Allah berilah kemudahan buat anakku).
Gambar 3. Setelah operasi
dok. Nur Laely Roza
Selama dua minggu nanti memang gerakan yang dilakukan adalah memegang hidung, mulut, telinga, pundak. Tangan memang ditekuk, tidak boleh diluruskan. Supaya posisi tangan ditekuk selama dua minggu, maka tangan digendong.
Sampai di rumah, ternyata Faiz dengan kesadaran sendiri mau melakukan terapi. Saya tidak memaksa, biarlah dia melakukan semampunya. Dalam waktu dua minggu Faiz sudah bisa melakukan gerakan-gerakan minimal yang harus dilakukan sesuai anjuran terapis. Saat mandi, tangan/luka tak boleh dibasahi/kena air. Jadilah Faiz hanya dilap bagian atas. Sedangkan bagian bawah tetap diguyur air.
Gambar 4. Sondokoro
dok.pri
Dua minggu setelah operasi, Faiz melakukan kontrol ke rumah sakit. Kali ini perban elastis dilepas tetapi masih memakai gendongan tangan. Terapi yang dianjurkan adalah memindahkan benda misalnya kelereng dengan tangan kiri terutama memindah ke atas. Luka/tangan boleh kena air. Melakukan gerakan tangan secara bebas.
Tidak gampang ternyata sebab jari telunjuk Faiz kalau digerakkan masih sakit. Selain telunjuk masih sakit, telapak tangannya juga dingin, pergelangan tangan masih biru. Saya memotivasi Faiz. Ada satu hal yang saya syukuri, yaitu Faiz tetap mau makan dalam jumlah banyak.
Lama-kelamaan jari telunjuk bisa digerakkan dan tidak sakit lagi. Telapak tangan tidak dingin dan warna biru pada pergelangan tangan hilang. Faiz masih memakai gendongan tangan. Ketika saya amati, bila memakai gendongan tangan, Faiz bebas menggerakkan tangan kirinya. Tangan kirinya bekerja sama dengan tangan kanan tatkala bermain. Begitu kain gendongan dilepas, Faiz malah takut menggerakkan tangannya. Tangan kirinya ditekuk takut bergerak.  Ya sudah, terserah anaknya saja. Dia bisa mengukur kemampuannya. Kalau merasa nyaman gerakan terus berlanjut. Bila sakit, dengan sendirinya berhenti bergerak.
Selama sebulan terapi memindahkan kelereng ke tempat yang tinggi atau memindah benda-benda kecil dengan cara memungut (tidak gampang lo!). Saya juga menyuruh Faiz untuk melakukan gerakan senam ringan, tujuannya ingin tahu apakah tangannya sudah bisa diluruskan. Lagi-lagi saya tidak memaksa. Rupanya dengan kemauannya sendiri, lumayan bisa diluruskan. Untuk keberhasilan-keberhasilan yang dilakukan saya selalu memberikan acungan jempol lalu memeluknya seraya mengucapkan,”Alhamdulillah.”
Gambar 5. Terapi kelereng
dok.pri
Sebulan terapi kelereng, lalu kontrol lagi. Alhamdulillah, perkembangannya bagus. Ketika dirontgen lagi, hasilnya bagus. Kali ini terapinya agak berat. Memindahkan bola voli dengan cara melempar. Wah, saya tidak berani mengajari yang satu ini. Kebetulan sang Ayah yang guru olahraga di rumah ada bola voli dan bola sepak. Ini jatahnya sang Ayah.
Pagi hari, Faiz sudah teriak-teriak girang main lempar bola voli bersama Ayah. Alhamdulillah, ternyata semua berjalan dengan lancar. Kini saya tak lagi mencemaskan Faiz dalam keadaan tidur. Maklum, anak kecil tidurnya tak terkendali gerakannya. Apalagi kalau tidur tak mau diselimuti. Apa yang ada di sekitarnya, tanpa disadarinya dilemparkan begitu saja.
Matur nuwun sampun kersa pinarak. Mugi-mugi wonten manfaatipun tulisan punika.

Karanganyar, 15 Januari 2016

Minggu, 10 Januari 2016

Rezeki Kursi Panjang

Gambar 1. Meja dan kursi
sumber: dok.pri
Hari Kamis, 7 Januari 2016 kesabaran saya diuji. Faiz, anak saya kedua pulang dari penitipan anak ikut saya menghadiri pertemuan PKK di RT. Namanya juga ibu-ibu, wajib ikut PKK meskipun tidak wajib datang setiap pertemuan sebulan sekali.
Setelah selesai PKK, Faiz mulai rewel. Yang ditanyakan adalah ayah. Selalu saja begitu, Faiz dekat dengan ayah. Bila tak ketemu ayah terus rewel, permintaannya macam-macam. Saya tidak mungkin mengajak Faiz ke tempat ayahnya tenis, takut ada apa-apa. Maklum, tangannya belum sembuh betul. Pen yang masih tertanam di tulang, membuat saya merasa eman-eman.
Kalimat berikutnya yang selalu saya duga pasti keluar adalah,”telpon ayah. Ikut ayah.” Saya tidak menjawab. Semoga usaha saya berhasil. Dengan naik sepeda motor, saya ajak Faiz keliling kampung, lalu lewat jalan raya. Saya kenalkan nama-nama kampung/tempat yang kami lewati. Tempat-tempat tersebut biasa kami lewati. Saya mendengarkan ceritanya. Tak lupa untuk meyakinkan dia kalau saya perhatian banget dengan ceritanya, kadang saya tertawa dan menimpali ceritanya. Rupanya Faiz melupakan “telpon ayah” lagu wajibnya.
Satu kampung terakhir saya lewati, motor saya pelankan jalannya. Sampailah pada suatu jembatan. Sebelum menyeberang, saya melihat seorang penjual kursi dan meja. Penjual tersebut duduk di dekat jembatan. Saya berhenti lalu melihat-lihat barang dagangannya.
“Kursi atau meja, Mbak?”Tanya penjual meja-kursi.
“Kursinya berapa, Pak?”Tanya saya basa-basi.
“Seratus lima puluh ribu, Mbak.”
“Pitu-lima (tujuh puluh lima),”saya mulai menawar.
“Masih jauh, Mbak.”
“Sangang puluh. Nek entuk taktuku, nek ora ya rasida tuku,”
(Sembilan puluh. Kalau boleh saya ambil, kalau gak boleh ya gak jadi beli)
“Walah, Mbak. Uang seratus saja kurang sepuluh. Seratus, Mbak.”
“Saya nggak maksa kok Pak. Itu sudah pol, beberapa waktu yang lalu saya beli juga Sembilan puluh.”
“Mbak, dari tadi sudah ada 3 orang nawar 90 ribu tidak saya berikan. Ya, sudahlah sepertinya rezekiku cuma 90 ribu. Rumahnya mana, Mbak?”
“Nyeberang sini, Pak. Ada perumahan.”
Saya meninggalkan penjual meja kursi. Di belakang saya, penjual tersebut membuntuti. Akhirnya sampai di depan rumah. Penjual tersebut menurunkan dagangannya. Saya memilih. Sambil ngobrol-ngobrol.
Ternyata penjual meja-kursi tersebut orang Boyolali, sama seperti penjual kursi beberapa bulan yang lalu. Katanya, saya dibilang nawarnya bisa minim. Itu rezeki saya. Padahal 3 orang yang nawar sebelumnya tidak bisa membawa pulang kursi panjang. Dia juga cerita beberapa waktu yang lalu dagangannya diborong orang dengan harga tinggi. Tapi dia tetap bersyukur, dagangannya akhirnya ada yang membeli.
Sejak awal sudah disepakati harganya 90 ribu, saya juga tidak memberi lebih. Penjual kursi mengatakan dia akan akan menjajakan meja-kursi sampai malam, baru pulang ke Boyolali. Baginya mencari rezeki harus sabar. Saat itu menjelang maghrib. Setelah menurunkan dan menata kembali meja-kursi, penjual tadi pamit.
Semoga mendapat rezeki yang barokah, Pak. Perlu diketahui bahwasanya saya tidak membutuhkan kursi panjang. Di rumah sudah ada 2 kursi panjang untuk santai-santai. Sebenarnya tadi saya hanya iseng-iseng menawar. Kalau disepakati Alhamdulillah, kalau tidak ya tak masalah. E, ternyata boleh. Ya sudah, akhirnya saya bayar juga, murah lagi. Toh suatu saat saya juga membutuhkan.
Namanya juga barang murah, tentu kualitasnya di bawah standar. Akan tetapi saya juga memiliki kursi panjang yang sama kualitasnya, sudah 13 tahun menemani saya di rumah tengah sawah. Sampai sekarang juga masih bisa dimanfaatkan.
Karanganyar, 10 Januari 2016

Selasa, 05 Januari 2016

REZEKI NGEBLOG DAN REZEKI TERBIT DI MEDIA

Gambar 1. Icon Gunung Kidul (tempat selfi laris)
Sumber: dok. Faiqah Nur Fajri
Bagi saya, tahun 2015 terasa sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Setelah saya kembali menekuni dunia menulis, ada beberapa tulisan yang sempat menghiasi Koran/majalah. Akan tetapi untuk tahun 2015, tidak ada satu pun tulisan saya yang dimuat di Koran/majalah.
Minggu terakhir bulan Desember 2015, saya berharap naskah saya dimuat di salah satu dari dua Koran langganan. Ternyata tidak! Saya tetap menulis, karena menulis adalah pekerjaan saya selain mengajar. Saya menulis di blog, mengisi tulisan di www.soloensis.com dan di www.kompasiana.com/noerimakaltsum.
Meskipun tahun 2015, tulisan saya tidak ada yang tembus media tapi saya tetap semangat, sebab dua kali saya memenangkan lomba ngeblog yang saya ikuti. Hadiahnya alat ibadah dan 2 novel. Bagi saya, prestasi yang lain yang tetap saya banggakan adalah saya menjadi contributor beberapa buku (masih contributor).
Pada tahun 2015 pula, saya banyak mengenal teman/sahabat (sesama penulis) di dunia maya yang memotivasi saya dalam hal menulis. Pokoknya, tahun 2015 tidak ada yang sia-sia. Ternyata rezeki bukan hanya materi, rezeki itu maknanya luas sekali.
Minggu terakhir bulan Desember 2015, saya mendapatkan wangsit (ah, jangan berpikiran negative, ini bahasa gaul saya kalau di sekolah). Saya membuat cerita anak dengan tema tahun baru. Mumpung masih dekat/suasana tahun baru, moga-moga tulisan saya dimuat.
Selesai menulis yang hanya tiga halaman tak penuh, malam itu juga tanggal 29 Desember 2015, saya kirimkan naskah saya ke SOLOPOS. Bismillahirrohmannirrohim. Saya berharap, Mas Redaktur… tolong deh, lirik tulisan saya lalu dikedipi dan dimuat.
Hari Minggu, 3 Januari 2016 saya menyuruh Nok Faiq untuk membeli SOLOPOS. Begitu saya buka pada rubric Anak, judul cerpen itu….. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, sudah Kau kabulkan doa saya. Suami dan anak-anak saya tersenyum ikut senang.
Pagi itu saking bahagianya, saya langsung nulis status. Pecah telur! Terharu saya, karena perhatian teman-teman penulis (IIDN Solo) kok luar biasa (padahal tulisannya hanya biasa). Ternyata memang kami, anggota IIDN Solo saling memotivasi dan memberi dukungan satu sama lain.
Malah ada seorang teman yang saya kenal di dunia maya (domisili Jawa Timur), sekarang sedang melaksanakan Praktek Lapangan di Thailand, juga memberikan motivasi. Rasanya gimana gitu (sedikit berlebihan).
Saya tak pernah menyerah, seperti awal menulis tahun 1989 (kelas 2 SMA), tetap menulis meskipun hanya satu dua yang dimuat. Saya tak akan menyerah dan saya tetap menulis karena saya penulis. Kalaupun saya tidak menulis di media paling tidak saya penulis RPP dan power point yang akan saya gunakan untuk pembelajaran. Ya, minimal menulis di blog untuk berbagi dan menulis status yang bermanfaat.

Karanganyar yang dingin setelah hujan deras disertai petir dan kilat, 5 Januari 2016 

Minggu, 03 Januari 2016

Pecah Telur Januari 2016

Hari ini saya menayangkan tulisan yang dimuat di SOLOPOS, Surakarta
Gambar 1. Cernak 1 Yang dimuat di SOLOPOS th 2016
Sumber : dok.pri


CERITA ANAK
TEROMPET TAHUN BARU
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Hanif menutupi terompet dagangannya dengan plastik ukuran besar. Langit abu-abu, mendung. Sebentar lagi hujan turun. Hari ini terompet-terompet Hanif belum terjual satu pun. Dengan sabar Hanif menunggu pembeli. Hanif memindahkan dagangannya di trotoar depan toko sepatu. Dia minta izin karyawan toko sepatu.
“Mbak, sebentar lagi hujan akan turun. Bolehkah saya menumpang berteduh?”Tanya Hanif.
“Boleh Dik. Tidak mengganggu kok.”
“Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama. Oh, ya apakah terompetnya sudah ada yang laku?”
“Belum Mbak. Saingannya banyak.”
“Yang sabar ya Dik. Moga-moga terompetnya ada yang memborong.”
“Amin.”
Tiba-tiba hujan turun. Para pedagang yang berjualan di Taman Pancasila menyelamatkan dagangannya. Mereka berusaha menyimpan dagangannya agar tidak basah. Hujan turun cukup lama.
Hanif putus asa. Hari ini dia pulang tak membawa uang hasil penjualan. Sampai di rumah, Hanif tak mendapati Bapak dan Ibu. Ke manakah mereka? Tiba-tiba datanglah Mbak Aan, tetangganya.
“Dik Hanif, Bapak dan Ibu tadi pergi ke tetangga yang rumahnya di kampung sebelah. Bapak dan Ibu diminta untuk membantu membuat cilok.”
“Terima kasih, Mbak Aan sudah memberi tahu.”
“Terompetnya ada yang laku atau tidak?”
“Hari ini tidak ada yang laku.”
“Sabar ya, Dik. “
“Iya, Mbak.”
Malam hari Bapak dan Ibu sudah pulang. Hanif membuatkan teh hangat untuk kedua orang tuanya. Bapak dan Ibu tersenyum.
“Pak, malam tahun baru tinggal besok. Terompet-terompet kita masih banyak. Kalau tak laku berarti terompet tersebut harus kita jual murah. Sama seperti tahun lalu.”
“Hanif tak usah bersedih. Tuhan sudah mengatur rezeki kita. Kalau terompet-terompet tersebut tak laku tidak perlu khawatir. Tuhan memberi rezeki yang lain.
Hari ini Bapak dan Ibu diminta untuk membuat cilok oleh tetangga. Rencananya cilok-cilok tersebut akan disantap besok malam tahun baru. Selain cilok, besok Bapak dan Ibu diminta untuk membuat siomay dan batagor. Kami mendapat upah lumayan, Hanif.”
Wajah Hanif berubah menjadi lebih ceria.
“Terima kasih Tuhan.”
00000
Sore ini Bapak dan Ibu repot membantu menyiapkan makanan untuk disantap malam hari nanti. Tentu saja Bapak dan Ibu tidak bisa berjualan terompet. Hujan turun dengan derasnya. Hanif tertahan di rumah. Hanif tidak memaksakan diri berjualan di taman.
Hanif memandangi terompet-terompet yang tertata rapi di bambu. Hujan belum juga reda. Malam semakin larut. Bapak dan Ibu pulang. Hanif dan Ika, adiknya berangkat tidur. Hanif tetap saja risau.
Dari jauh terdengar suara mercon dan kembang api. Meskipun hujan turun, suasana kota tetap ramai. Lama-kelamaan Hanif dan Ika tertidur.
Pagi harinya, Hanif menyimpan terompet-terompetnya dalam plastik besar. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Ibu membuka pintu. Ternyata Mbak Aan yang datang.
“Ibu, saya mengundang Hanif untuk datang ke rumah saya nanti sore.”
“Ada apa, Mbak Aan?”
“Keponakanku ulang tahun. Kamu datang, ya?”
“Tentu saja, dengan senang hati.”
Sore harinya, anak-anak kecil sudah berkumpul di rumah Mbak Aan. Mereka siap bernyanyi dan bersuka ria. Mereka akan makan-makan sepuasnya.
Anak-anak matanya tertuju ke luar rumah. Mereka langsung bersorak, hore! Mbak Aan bingung, ada apa ya? Mbak Aan lalu tersenyum. Mbak Aan menyambut kedatangan Hanif. Kedatangan Hanif sore ini teramat istimewa. Hanif membawa terompet dalam jumlah banyak.
“Aku mau… aku mau...,”teriak anak-anak.
“Ayo semua duduk yang rapi. Nanti semua kebagian. Tapi harus menyanyi dulu.”
“Siap….”
Hanif membawa terompet-terompet tersebut atas perintah Bapak. Sebenarnya terompet-terompet itu mau diberikan kepada Mbak Aan secara gratis. Tapi terompet-terompet itu akhirnya dibeli Mbak Aan.
“Hanif, terompet-terompet itu adalah daganganmu lo. Jadi, Mbak Aan borong ya.”
“Sebenarnya, ini mau dikasihkan buat ulang tahun keponakan Mbak Aan. Tapi, ya sudahlah. Terima kasih Mbak Aan mau memborongnya.”

Setelah makan-makan dan bernyanyi, anak-anak pulang. Masing-masing membawa kardus berisi nasi kuning dan makanan kecil, serta terompet. Keluar dari rumah Mbak Aan, anak-anak meniupnya dengan keras, bersahut-sahutan. Hanif dan Ika pulang dengan suka cita. (SELESAI)
Sumber tulisan : Koran Solopos, Rubrik Anak, Judul Cernak: Trompet Tahun Baru, Minggu, 3 Januari 2016
Kata terompet diedit menjadi trompet

Sabtu, 02 Januari 2016

NGEMIL IRIT

Gambar 1. Kudapan Sehat
Sumber: dok. Faiqah Nur Fajri
Sebagian orang tidak mau ngemil dengan alasan takut gemuk. Ada orang yang berpendapat gemuk itu bukan karena ngemil tapi memang sudah punya bakat gemuk. Sepertinya saya tetap aman bila ngemil karena bakatnya memang kurus eh bukan, yang benar langsing (kalau saya bilang langsing biasanya teman-teman kantor bilang huuuu).
Kalau saya ngemil tidak sembarang makanan saya santap. Makanan tertentu alias yang sesuai dengan kesukaan saya saja yang saya makan. Saya tidak pantang makan camilan berupa gorengan, rebusan atau makanan kering. Akan tetapi saya tetap menyeleksi makanan yang akan saya jadikan camilan. Tentu saja hanya camilan yang menyehatkan dan tidak repot kalau mau mengkonsumsi. Karena mengkonsumsi makanan yang menyehatkan adalah gaya hidup saya.
Jagung rebus, pisang kepok rebus, kacang rebus, dan ubi rebus adalah kesukaan saya. Kalau di Karanganyar makanan tersebut gampang kita dapatkan, tapi waktunya tertentu, misalnya sore hari. Akan tetapi kalau mau repot merebus sendiri asal pasokan di pasar atau tukang sayur ada, kita bisa menikmati makanan sehat ini kapan kita mau.
Bicara soal ngemil atau makan-makan di kantor tentu akan lebih seru. Kalau di kantor kita memang harus siap berbagi. Satu buah pisang bisa dipotong menjadi dua atau tiga, yang penting semua kebagian. Beberapa buah mangga akan dikupas lalu dipotong kecil-kecil. Tinggal disediakan batang lidi pasti semua kebagian. Kalau makanan yang digoreng jumlahnya banyak, teman-teman bisa memilih sesuka hati.
Saya dan teman saya sering membawa makanan kering atau biscuit. Supaya makanan kecil ini bisa rata dibagi yang waktu ngemilnya sesuka hati, kami menyediakan toples. Beberapa toples diisi makanan kering atau biscuit, lalu diletakkan di beberapa tempat strategis untuk diambil.
Bila kudapan berupa kacang rebus, ubi, ketela dan pisang rebus, biasanya ditaruh di atas piring. Ada lagi makanan yang akan disantap bukan berupa kudapan, melainkan mie, siomay atau bakso.  Kami biasa membagi rata makanan yang ada meskipun dapatnya hanya sedikit. Dengan demikian ngemil ala kami adalah ngemil irit, tidak berlebihan dan dijamin meski doyan ngemil badan tetap merit alias langsing.
Pada dasarnya manusia merasa cukup dengan apa yang sudah dijatahkan. Diberi sedikit atau banyak selalu saja cukup. Sama-sama cukup, kami punya prinsip yang sedikit dibagi rata. Nah, kalau banyak bagaimana? Tentu saja kalau banyak seandainya makanan kering jangan dihabiskan, tapi untuk persediaan besok (belum tentu besok ada acara makan-makan lo). Kalau makanan itu dalam 24 jam basi, maka untuk pengiritan dan kirmah (memikirkan yang di rumah), makan bisa dibawa pulang. Hore!
Kadang-kadang di kantor tidak hanya ngemil makanan ringan, tapi nasi bungkus. Biasanya nasi bungkus ini, porsi nasinya banyak. Saya dan beberapa teman tidak dapat menghabiskan nasi sampai tuntas. Bahkan teman saya yang mengidap diabetes, nasinya tidak disentuh sama sekali. Beliau hanya makan lauknya.
Lalu bagaimana nasib sisa-sisa nasi tersebut? Saya yang kirmah (memikirkan yang di rumah) biasanya mengumpulkan sisa nasi. Mungkin saya akan dibilang keterlaluan! Tenang saja, yang saya pikirkan di rumah adalah ayam-ayamnya dik Faiz. Jadi, bukan saya makan nasi sisa milik teman-teman ya.    
Saya membatasi ngemil yang berlebihan. Karena ngemil berlebihan berarti pemborosan. Selain itu juga tidak menyukseskan program tetap langsing tanpa diet. Jadi mulai sekarang lakukan aksi ngemil irit. Baik di rumah, di kantor atau di mana saja. Ngemil irit bukan berarti pelit lo!
Noer Ima Kaltsum, Guru Kimia SMK Tunas Muda, Kab. Karanganyar.
Karanganyar, 2 Januari 2016

Jumat, 01 Januari 2016

Menunda Pekerjaan vs Melakukan Aksi

Gambar 1. Taman Wisata Sondokoro
Pekerjaan rumah, pekerjaan kantor atau apa saja yang seharusnya kita kerjakan segera dimulai saja pekerjaannya. Pekerjaan, entah itu ditunda atau dikerjakan sekarang, toh akhirnya kita juga yang akan melakukan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Menunda pekerjaan maksudnya menunda melakukan suatu pekerjaan. Ada saja alasan yang kita buat untuk menghindari pekerjaan. Biasanya kita akan mengatakan nanti saja atau sebentar lagi, untuk melakukan pekerjaan. Apabila kita tidak segera melakukan aksi, pekerjaan tersebut akan terasa berat bila sudah menumpuk menjadi lebih banyak lagi.
Mulai sekarang segera lakukan aksi bila ada pekerjaan yang menanti kita untuk menyentuhnya. Untuk ibu-ibu atau para gadis, mengawali pagi hari dengan beres-beres rumah, seperti menyapu, mengatur ruangan, dan membereskan kamar. Lalu dilanjutkan dengan pekerjaan di dapur, yaitu memasak air, menanak nasi, memasak sayur dan membuat lauk.
Apabila di rumah ada mesin cuci, biasanya melakukan pekerjaan dapur sambil mencuci pakaian. Lalu diakhiri dengan mengepel (tapi urutan ini mestinya fleksibel). Yang penting segera melakukan aksi untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang optimal.
Libur 1 Januari 2016 ini atau tahun baru, saya tidak melakukan perjalanan wisata. Saya dan suami sepakat untuk tinggal di rumah, mengingat bila bepergian pasti ketemu dengan MACET. Daripada bepergian kok lelah antri karena jalanan macet, lebih baik mengerjakan sesuatu di rumah.
Kebetulan di depan rumah (halaman rumah) ada gundukan tanah uruk (grasak) yang dikirim dari seorang kenalan. Ceritanya seorang teman sedang membangun rumah. Ada sisa material/sisa tembok yang digempur berupa bata dan adonan pasir yang sudah menjadi remah. Volumenya lumayan banyak. Halaman rumah yang luas tertutup tanah uruk tadi.
Mumpung hari libur, saya memulai memilih batu dan bata untuk saya kumpulkan di halaman yang tanahnya masih dalam. Target saya, halaman rumah tingginya minimal sama dengan jalan depan rumah. Saya dan suami melakukan pekerjaan ini dengan segera. Aksi inilah yang saya lakukan agar pekerjaan cepat selesai. Atau minimal volume pekerjaan menjadi berkurang.
Dari gundukan tersebut kami sudah bisa memotong untuk kami pindah tanahnya ke tempat yang masih rendah. Memang perlu kesabaran yang tinggi. Kebetulan hari ini di Karanganyar tidak hujan, malah panas matahari begitu menyengat. Keringat yang bercucuran tak menghalangi kami untuk terus bekerja. Syukurlah, karena awalnya ada niat untuk segera melakukan aksi atas suatu pekerjaan, maka dengan ringan kami mengerjakannya.
Meskipun gundukan tanah uruk belum rata di halaman rumah, tapi kami berhasil mengurangi beban kerja kami untuk hari esok. Aksi, itu sangat perlu. Bagi saya menyegerakan melakukan aksi atau tak menunda pekerjaan, berarti kita sudah bisa menerapkan menejemen waktu.
Menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya adalah menguntungkan. Sebaliknya menunda pekerjaan berarti menyia-nyiakan waktu. Menyia-nyiakan waktu menyeret kita pada suatu kerugian. Waktu tak dapat kembali,
Mulai sekarang kita bisa segera melakukan suatu aksi dan jangan menunda pekerjaan. Kita tak tahu  bila kita menunda pekerjaan, apakah nanti kita masih bisa melakukannya atau tidak. Semoga bermanfaat. 

Karanganyar, 1 Januari 2016