Jumat, 09 Maret 2018

MENDADAK MENIKAH




Tanpa Hakim, Umar dan Marwan, Fitri berada di lesehan ayam goreng. Rasanya ingin segera menuliskan kejadian beberapa minggu terakhir. Sambil menunggu pesanan karena antriannya terlalu banyak, Fitri membuka laptop.

Fitri menerima panggilan telepon seluler dari Santi. Sebentar kemudian Fitri menutup teleponnya. Fitri mulai membuka file demi file. Belum sempat menambah tulisan, Santi sudah berada di dekatnya.

“Kamu semakin ceria. Tidak seperti waktu yang kujumpai pertama kali,  tiga tahun silam. Sepertinya ada yang membuatmu berubah,”kata Fitri.
“Berkat kamu, Fit.”
“Kok, bisa aku. Alasannya kenapa?”
“Banyak yang bisa aku ceritakan. Aku mengganggu tidak?”
“Nggaklah. Aku pingin segera mendengarnya.”
“Beberapa waktu yang lalu, aku memutuskan mengundurkan diri dari kantor, aku memiliki alasan tertentu.”

Fitri mulai memasang telinga lebar-lebar.
“Aku bingung mau memulai cerita dari mana. Sepertinya kilas balik saja,”Santi mulai bercerita.
“Hari Minggu yang akan datang, aku menunggu kedatanganmu di rumahku. Kali ini kamu harus datang sebab kemarin kamu tidak memenuhi undanganku.”
“Kamu kok memaksa banget sih, San?”
“Aku mau menikah.”

Fitri semakin kaget. Ada wajah seseorang yang tiba-tiba hadir. Marwan! Beberapa waktu yang lalu Marwan mengatakan kalau setiap dekat dengan Santi akhir-akhir ini, perasaannya tidak terkendali. Marwan tahu, seandainya Santi tahu perasaan yang sebenarnya, pasti Santi akan menjauh dan memutuskan hubungan persahabatan.

Benar, Santi akhirnya menjauh lalu akan menikah. Semoga Marwan bisa menerima kenyataan. Benar, Marwan telah berkeluarga. Apakah alasan Marwan sudah bukan sendiri lagi, lantas Santi menjauh?  (BERSAMBUNG)

00000

MARWAN DAN SECANGKIR KOPI SUSU






Sudah 19 tahun mereka bersahabat. Sembilan belas tahun, bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu tersebut, tentu saja banyak hal sudah dibagi termasuk pengalaman. Ada yang unik dalam persahabatan ini. Meskipun dekat sudah lama, bersyukur tidak ada hal-hal yang membuat mereka jauh. Meski bersahabat dan akrab, tetap saja mereka membatasi diri untuk hal yang sangat pribadi.

Fitri, Marwan, Umar dan Hakim. Empat cangkir kopi susu tertata di atas meja. Berempat mereka memainkan cangkir masing-masing. Fitri mengambil kopi susu dengan sendok kecil lalu diseruputnya. Hakim menuangkan sedikit kopi susu di atas lepek. Umar menghangatkan telapak tangannya dengan memegang cangkir. Marwan langsung mengambil cangkir dan meniup kopi susu panas.

“Kopi susu buatan Marwan memang mantap tiada duanya,”puji Fitri.
“Nikmatnya tiada tara karena tak berbayar,”Umar menimpali.
“Apalagi menyeduhnya dengan sejuta cinta,”Hakim mulai menggombal.
“Nggak usah menyanjung berlebihan. Ada berita baru nih,”kata Marwan
“Gosip apaan?”
“Kemarin, istriku dapat hadiah berupa kopi susu. Nah, biar adil, sekarang aku kasih sendiri-sendiri saja. Mulai besok, kita buat kopi susu sendiri,”kata Marwan
“Ooooo, tidak bisa.” Terdengar koor dari Fitri, Umar dan Hakim.

Fitri tersenyum. Marwan dan secangkir kopi susu adalah perpaduan yang pas. Untuk mendapatkan kopi susu yang sama nikmatnya, sudah sepantasnya kalau mereka bertiga kamu buatkan.
Pisang rebus dan kacang rebus sudah menipis. Fitri memberi kode untuk menghabiskan kopi susu dan kembali untuk mengerjakan pekerjaannya.

00000

MENGUNDURKAN DIRI DARI PEKERJAAN




Tiba-tiba Santi datang ke rumah Fitri tanpa memberi tahu lebih dahulu. Fitri memberi isyarat kepada anak-anaknya untuk masuk ke rumah. Santi diterima di ruang santai samping rumah.

“Aku mau mengundurkan diri dari kantor. Tepatnya besok pagi,”kata Santi.
“Kenapa tiba-tiba? Memang ada apa?”
“Aku mau fokus pada satu pekerjaan saja.”

Fitri semakin tidak mengerti. Bukankah di kantor Santi nyaman-nyaman saja? Fitri mengaitkan pengunduran diri ini dengan masalah asmara kemarin. Jelas itu!

“Kamu bisa membagi waktu. Selama ini semua berjalan dengan baik. Santi, jujurlah padaku.  Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” Atau, kamu sedang menghindari seseorang?”
“Maksudmu siapa Fit?”
Santi menatap Fitri seolah ingin meminta penjelasan. Fitri tersenyum lalu berkata,”Lupakanlah!”

00000

Kamis, 08 Maret 2018

BUKAN JATUH CINTA BIASA



Santi menghampiri meja Fitri. Setengah berbisik Santi bilang,”aku mau curhat.” Fitri menghentikan pekerjaannya. Keningnya berkerut.

“Waktuku banyak. Kalau mau curhat, silakan.”
“Tapi bukan di sini tempatnya. Di lesehan tempat kita biasa makan bareng.”

Fitri mematikan laptopnya. Dia meraih tas dan rompinya lalu bergegas meninggalkan ruangan. Santi mengikutinya.  Kurang dari sepuluh menit, mereka sudah sampai di warung makan lesehan.

Sambil menunggu pesanan datang, Santi mulai membuka pembicaraan.
“Aku tidak bisa berbohong pada suara hatiku. Aku menyukainya, tepatnya jatuh cinta padanya.”
“Wajar, kamu sebagai perempuan dewasa merasakan jatuh cinta. Menurutku baik dan perlu dirayakan.”
“Masalahnya aku jatuh cinta pada orang yang keliru.”
“Kenapa?”Tanya Fitri
“Witing tresna jalaran saka kulina,”kata Santi.
“Bagus. Artinya kamu sudah mengenalnya lebih dekat.”

Makanan yang dipesan telah datang. Kedua perempuan itu menghentikan pembicaraan dan fokus menyantap makan siang. Fitri melihat wajah Santi berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ah, wajar. Namanya juga orang sedang jatuh cinta. (BERSAMBUNG)

00000

KORBAN KAPSTER PEMULA




Beberapa hari ini, pada siang hari udara terasa gerah. Seperti biasa, rambut yang mulai memanjang rasanya lepek. Oleh karena saya terbiasa dengan rambut pendek (sangat pendek, seperti Demi Moore pada film Ghost), saya ingin memendekkan rambut.

Sayangnya, saya tidak ada waktu untuk datang ke salon. Padahal kalau saya mau, tinggal duduk manis, bilang Demi Moore, kapster sudah tahu kemauan saya. pada akhirnya, tanpa diundang ada kapster yang menawarkan diri.

Kain panjang dipasang menutupi badan. Rambut diikat karet lalu mulai kres-kres, gunting menari-nari di atas kepala. Sang kapster banyak omong, tidak seperti yang lain.

“Ibu, rambutnya diblow saja, ya.”

Saya diam, saya sudah curiga. Pasti hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ketika memotong bagian depan, sempat saya protes kurang pendek, masih kepanjangan.

Dalam memotong rambut bagian belakang, sang kapster juga tidak luwes. Malah sempat saya bilang,”potong bathok saja.” (artinya, tempurung kelapa digunakan untuk cetakan potongan rambut dengan cara ditaruh di atas kepala. Setelah itu, rambut-rambut yang kelihatan dipotong/dihilangkan).

Kapsternya tertawa. Ini agak tidak beres. Beberapa saat kemudian, selesai. Saya bercermin! Benar-benar tidak seperti yang saya harapkan, saya minta potong pendek, hasilnya rambut model blow dan panjangnya tidak rata.

Kain dilepas. Rambut saya disisiri dengan pelan-pelan.

“Bu, gratis nggak usah membayar.”
“Kalau disuruh membayar saya juga tidak bakalan mau. Ealah, di salon membayar delapan ribu rupiah hasilnya bagus. La ini, hasil kerja kapster tidak professional.”

Faiq anak gadis saya terkekeh tanpa merasa berdosa telah mengeksekusi rambut Ibunya. Saya berseru,”Rambut ini adalah korban kapster pemula.” Ya, kapster pemula itu adalah Faiq anak gadis saya.  Namanya juga gratisan, tak apalah hasilnya seperti apa. Yang penting rambut saya tidak mudah lepek lagi.

Rabu, 07 Maret 2018

PENULIS PEMULA TIDAK BOLEH PUTUS ASA

dokumen noerimakaltsum


Biar kelihatan masih muda dan tidak merasa bersalah, lebih baik saya mengaku sebagai penulis pemula walaupun mulai menulis kembali tahun 2013. Saya menulis hampir setiap hari. Dari puisi, cerita humor, nulis nota/kuitansi, nulis RPP, soal, cerpen, artikel dan lain-lain. Yang penting setiap hari nulis.

Untuk menyebarkan virus menulis, kadang-kadang saya perlu membuat status tentang menulis. Selain membuat status di FB, saya juga mengisi blog agar bisa berbagi sesuatu yang manfaat atau hanya sekadar curhat.

Oleh karena menulis diniatkan untuk berbagi, maka saya juga ingin menulis di media cetak. Meskipun tidak gampang, saya tetap berusaha untuk mengirimkan naskah ke media cetak. Saya tidak pernah putus asa meskipun keberhasilan dan nasib baik belum menghampiri saya.

Tugas penulis adalah menulis, selebihnya berjodoh dengan siapa tulisan kita, terserah Allah yang mengatur. Selain menulis naskah lalu mengirimkannya ke media cetak (berharap untuk dimuat), saya juga sering mengikuti lomba penulisan. Hanya sesekali memenangkan lomba penulisan, itupun mungkin karena POWER OF BEGJA alias kebetulan saja.

Seperti beberapa waktu yang lalu. Sebulan yang lalu IIDN Pusat mengadakan lomba menulis (status FB atau blog) selama 14 hari berturut-turut. Caranya setiap peserta lomba menulis artikel tematik (tiap hari tema sudah ditentukan) lalu diposting. Setelah memosting tulisan dan dibagikan kembali, peserta menyetorkan link share tulisan. Setiap hari menyetorkan link share tulisan dengan waktu dibatasi sampai pukul sepuluh malam saja.

Saya mencoba ikut lomba menulis ini. Saya berkomitmen bisa menulis dengan tema tertentu setiap hari selama 14 hari berturut-turut dan tidak terlambat untuk membagikan link tulisan.

Ada tips dari penulis senior yaitu dengan menulis status FB atau mengisi blog secara konsisten. Artinya, bila kita belum bisa menuliskan ide yang sudah ada ke blog kita, kita bisa menuangkan ide sebagai status FB lalu link tersebut kita setor ke alamat yang telah ditentukan (alamat : status FB pengurus IIDN Interaktif pada hari itu). Bila kita sudah memiliki waktu luang, status FB ini bisa kita edit lalu kita post di blog kita.

Rupanya, saya juga menerapkan saran dari penulis senior ini. Seperti saat menyetorkan link status FB tentang membuat mainan dari kaos kaki bekas. Kebetulan, teman saya memberi tugas siswa-siswa di sekolah membuat boneka dari kaos kaki bekas. Boneka buatan siswa-siswi saya potret, lalu saya berikan narasi. Sambil menunggu jam kosong, saya berhasil menulis satu status. Hari berikutnya, tugas saya adalah membuat tulisan yang sama lalu saya posting di blog.

Saya melakukan saran dari penulis senior ini dengan pertimbangan, pertama segera eksekusi ide yang ada lalu posting, kedua memanfaatkan waktu luang, ketiga mumpung koneksi internetnya lancar, keempat tidak mepet deadline.  

Tidak hanya sekali saya mengirim link status FB ke “admin lomba”. Beruntung sekali saya tidak memaksakan diri untuk memosting tulisan di blog lalu membagikan link blog tersebut ke FB. Suatu hari sepulang sekolah, listrik mati sampai hampir pukul sepuluh malam. Oleh karena listrik mati sejak sore, saya tidak bisa menulis akhirnya tertidur. Ketika saya bangun sudah hampir pukul dua belas malam, lampu sudah menyala.

Alhamdulillah, usaha saya tidak sia-sia. Lomba menulis yang diikuti ratusan orang ini, diambil 11 orang pemenang dan saya termasuk pemenangnya. Saya tahu, penulis pemula seperti saya bisa memenangkan suatu perlombaan itu berkat POWER OF BEGJA. Unsur keberuntungan berperan aktif, mengingat penulis-penulis yang mengikuti lomba sebagian besar sudah senior.

Beruntung, penulis pemula semacam saya tidak putus asa. Beruntung, beberapa penulis senior yang ikut lomba ada yang tidak melanjutkan keikutsertaannya.

Saya memang tidak mudah putus asa, saya tetap berusaha semaksimal mungkin menulis selesai dengan baik. Semoga apa yang telah saya lakukan dan berhasil, membuat saya lebih semangat dalam menulis.

Semoga bermanfaat. Ayo, terus menulis dan jangan mudah putus asa wahai penulis pemula.

Selasa, 06 Maret 2018

SEDIAKAN MASKER KETIKA DI PERJALANAN

dokumen noerimakaltsum

Di Karanganyar, setiap pagi atau jam pulang sekolah (kantor), udara di jalanan tercemar asap knalpot. Kualitas udara semakin memburuk pada saat udara panas di siang hari. Apalagi di sepanjang jalan, pohon-pohon  sudah semakin berkurang.

Udara yang kotor bila terhirup akan membuat masalah bagi kesehatan kita. Untuk itu, kita memerlukan pelindung agar udara kotor tidak secara langsung kita hirup. Kita memerlukan masker, pelindung hidung dan mulut. Memang masker tidak 100% bisa menjamin udara yang kita hirup menjadi bersih, setidaknya mengurang volume udara kotor yang kita hirup.

Kalau menggunakan masker dianggap pemborosan, maka sebagai pengganti masker bisa menggunakan tutup hidung sapu tangan atau kain. Sapu tangan atau kain bisa digunakan berulang-ulang, tidak seperti masker yang sekali pakai langsung dibuang

Bila kita menggunakan masker, sebaiknya memenuhi syarat berikut:
1.    Nyaman digunakan,
2.    Menutup hidung dan mulut secara sempurna,
3.    Bernafas lebih lega, dan
4.    Tidak tembus percikan air.

Semoga polusi udara bisa segera diatasi dan udara yang kita hirup adalah udara yang bersih.