Selasa, 05 April 2016

Happy Writing, Andrias Harefa (Bagian 3)


Artikel adalah …..
Jika dilihat dari cirri-cirinya, artikel adalah karya tulis, non fiksi, tak tentu panjangnya, bertujuan untuk mendidik, meyakinkan atau menghibur, dimuat di media cetak dan elektronik, dan bisa berupa berita atau bukan berita, obyektif berdasarkan data dan fakta, logis dan bisa diuji, tidak emosional, menggunakan tanda baca dan bahasa yang baku.
Secara praktis, di komunitas Writer Schoolen, artikel diberi makna sebagai tulisan yang lengkap dan utuh di luar berita dalam media massa yang mengkin disumbang oleh penuliis dari luar (bukan pekerja media tersebut). Artikel mencakup beberapa kategori, antara lain opini, tinjauan (review), tulisan ilmiah populer dan profil.
Produktivitas peneliti
Produktivitas peneliti Indonesia menulis artikel (ada 155.000 dosen) 0,85 artikel per sejuta penduduk. India 12, Malaysia 21,3.  (Tempo edisi akhir Mei 2009). Sejumlah data terpampang di sana dan perbandingan tersebut sangat memprihatinkan. Indonesia tertinggal dari India dan Malaysia, padahal konon India dan Malaysia pernah belajar dengan giat dari perguruan tinggi Indonesia pada tahun 1970-an.
Di masa yang akan datang, komunitas Writer Schoolen (yang berdiri sejak 1 Mei 2007) juga akan masuk ke kampus-kampus untuk menawarkan paket pelatihan menulis bagi para dosen dan peneliti. Mudah-mudahan orang-orang pintar itu bersedia membuka diri dan belajar meningkatkan produktivitas mereka dalam menghasilkan karya tulis.
BAGIAN 4
Tidak nonton teve
Bagaimana pendapat Anda? Maukah Anda mematikan pesawat teve sepanjang minggu ini dan melakukan kegiatan membaca dan menulis sebagai gantinya?
Jangan-jangan sebagian orang yang tidak pernah menulis terperangkap oleh tontonan televise. Dan jangan-jangan setiap orang yang bersedia mengganti waktu nonton teve menjadi waktu untuk menulis akan menjadi penulis-penulis produktif di negeri ini.
Bapak Paulus Bambang WS, salah satu contoh penulis yang hampir tak pernah menonton teve. Waktunya dihabiskan untuk membaca dan menulis. Menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan. Dan tulisan-tulisannya enak dibaca dan memiliki pesan yang mendalam.
Merdeka untuk menulis
Kemerdekaan penting untuk menunjukkan kepedulian. Dan kepedulian yang kuat digerakkan oleh cinta. Cinta membuat kita mau mengalah, memberi tempat kepada mereka yang membutuhkan.
Cinta itu pula yang seharusnya menggerakkan tangan kita menorehkan pena, memencet papan kibor, menyampaikan gagasan, menulis. Nyatakan kepedulian dan sebarkan semangat lewat tulisan. Jalin silaturahmi lewat tulisan. Dan, kemerdekaan dan cinta, bisa jadi alasan kuat untuk menulis.

(BERSAMBUNG)

Senin, 04 April 2016

Happy Writing, Andrias Harefa (Bagian 2)

Gambar 1. Buku Happy Writing
dok.pri

Impresi vs ekspresi
Bagi sebagian orang, menulis dianggap sulit. Salah satu alasan yang bisa kita lihat adalah orang tidak berani jujur, terkait dengan mengapa ia menulis. Ada sebagian orang yang ingin membuat orang lain terkesan dengan apa yang diucapkan. Apabila tulisannya tidak dapat memberikan kesan kepada orang lain maka ia merasa tulisannya membahayakan nama besarnya dan ia takut mencelakakan dirinya sendiri. Maka ia berpendapat lebih aman kalau tidak menulis.
Sebaliknya, sebagian orang produktif dalam menulis. Tujuannya menulis adalah mengekpresikan gagasan, pendapat dan pandangan tertentu. Ia ingin menyampaikan pesan tertentu melalui tulisan. Tujuan ia menulis adalah bukan untuk membuat orang lain terkesan, melainkan untuk membuat orang lain memahami idenya, gagasannya, dan posisi yang dipilihnya mengenai suatu persoalan.
Salah itu sulit
Membuat tulisan yang salah itu lebih sulit daripada membuat tulisan yang benar. Oleh sebab itu, menulis salah secara konsisten ternyata sulit. Dengan keyakinan menulis dengan salah itu sulit, membuat semangat dan gairah untuk segera menuntaskan tulisan yang tertunda atau memulai tulisan yang baru.
Salah definisi
Sebagian orang tidak berhasil menumbuhkan ketempilan menulisnya karena menganut definisi yang salah tentang apa itu menulis. Definisi menulis untuk setiap orang berbeda-beda. Definisi menulis yang benar adalah definisi emosional yaitu definisi yang mendorong kita menulis dan terus menulis.
Penulis bukan penyunting
Penulis tugasnya menulis. Sementara penyunting tugasnya memastikan tulisan menjadi layak terbit dalam arti yang seluas-luasnya. Secara profesi penulis dan penyunting itu berbeda, pada kenyataannya dalam diri kita ada penulis dan penyunting sekaligus.
Apabila keduanya tidak diatur secara baik, banyak gagasan yang ingin dituangkan menjadi tulisan telah terbunuh sebelum menjadi teks. Oleh sebab itu bila kita menulis, menulislah hingga selesai terlebih dahulu, gagasan sudah kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang sudah selesai inilah lalu kita sunting.
Menulis bikin cantik
Menurut pendapat James W. Pennebaker, menulis tentang hal-hal yang negative akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega. Fatima Mernissi, pernah menyarankan,”Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Menulis lebih baik daripada operasi plastik.”
Menjadi berbahaya
Dalam hal tulis-menulis tentu saja ada yang ingin kita capai dengan menulis artikel atau buku tertentu, menulis kita anggap penting untuk dilakukan, dan kita bersedia mengorbankan sesuatu untuk menulis. Kita memiliki cita-cita dalam menulis. Orang yang memiliki cita-cita jelas akan sangat berbahaya, sebab ia tidak digerakkan oleh situasi sekelilingnya, melainkan oleh kekuatan dari dalam batinnya. Ia akan memberikan manfaat bagi lingkungannya.
BAGIAN 2
Dua belas alasan
Caryn Mirriam Goldberg dalam karya berjudul Write Where You Are How to Use Writing to Make Sense of Your Life, menawarkan 12 alasan mengapa Anda harus menulis, yakni:
1.      Menulis membantu menemukan siapa dirimu’
2.      Menulis dapat membantu Anda percaya diri dan meningkatkan kebanggaan,
3.      Saat menulis, Anda mendengarkan pendapat unikmu sendiri,
4.      Menulis menunjukkan apa yang dapat Anda berikan pada dunia,
5.      Dengan menulis, Anda mencari jawaban terhadao pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan,
6.      Menulis meningkatkan kreativitas,
7.      Anda dapat berbagi dengan orang lain melalui kegiatan menulis,
8.      Menulis member Anda tempat untuk melepaskan amarah/ketakutan, kesedihan, dan perasaan menyakitkan lainnya,
9.      Anda dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis,
10.  Menulis memberi Anda kesenangan dan cara mengungkapkannya,
11.  Menulis membantu Anda lebih hidup,
12.  Anda dapat menemukan impian Anda dengan menulis.
Kalau ada begitu banyak alasan untuk menulis namun Anda tetap tidak juga menulis, maka tinggal satu kata untuk itu, KETERLALUAN!
Tak menulis apa-apa
…..
coba saja lihat baik-baik
di daftar penulis-penulis buku terkenal
namamu tak tercatat
bukan prestasi yang kau tak punya
bukan kurang kekayaan harta benda
bukan pula tiadanya pengetahuan dan pengalaman
masalahnya hanya satu saja
seperti masa-masa sebelumnya
tahun ini pun kau tak menulis apa-apa
…..
Seorang penulis akan meluangkan waktu untuk menulis, menyebabkan lahirnya karya tulis. Untuk orang-orang hebat luar biasa, orang-orang kaya raya, kaum cerdik cendekia Indonesia, menulislah, berbagilah, jangan simpan pengetahuan dan pengalaman Anda untuk dibawa mati.
Agar tak hilang
Pramoedya Ananta Toer menulis,”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Socrates, Plato, Aristoteles, Stephen Covey mencatatkan nama dalam buku sejarah karena menulis. Jika Anda tidak menulis, nama Anda akan hilang dalam sejarah. Apabila nama kita tidak mau hilang dari sejarah khususnya keluarga sendiri, maka menulislah.
Makin cerdas
Menulis merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan. Semakin sering menulis, maka kecerdasan dalam berbahasa (perbendaharaan katanya) semakin meningkat, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan berbagai kecerdasan lainnya terus berkembang tanpa henti.
Pada awal menulis banyak sekali melakukan kesalahan. Dengan sering menulis, maka kesalahan yang dilakukan semakin berkurang. Ini berarti semakin sering menulis, orang akan semakin cerdas.
Apa saja bisa
Banyak hal yang kita tangkap dari lingkungan kita. Apa yang kita lihat, kita rasakan dan pengalaman bisa kita jadikan idea tau gagasan untuk membuat tulisan. Jadi apa saja bisa dijadikan gagasan yang akan ditulis. Mungkin ide atau gagasan sangat banyak, akan tetapi kita kesulitan untuk memulai menulis,
Tulislah apa yang akan Anda tulis, tulislah sebanyak-banyaknya. Lalu tulisan diperbaiki sedikit demi sedikit sambil menulis. Dengan sering menulis, hasil tulisan akan lebih baik.
Strategi menulis
Agar kita mencapai pada tujuan yang jelas, maka kita memerlukan strategi. Namanya juga strategi, jarang sekali ada yang sempurna sejak awal. Orang harus terjun ke lapangan dan mencoba berbagai cara untuk kemudian paham cara mana yang efektif dan mana yang tidak efektif.
Strategi pertama yang ditempuh dengan menulis apa saja yang ingin ditulis. Setelah tulisan selesai, tulisan disunting dengan cara menambah atau mengurangi agar tulisan lebih menarik dan komunikatif. Bila memerlukan referensi, bisa juga ditambahkan hasil bacaan dari buku yang relevan.
Sekarang juga
Untuk menjadi penulis, kita tidak memerlukan waktu yang panjang. Untuk menjadi penulis yang diperlukan hanyalah kemauan. Untuk menjadi penulis, Anda hanya perlu melahirkan karya tulis. Bila tulisan Anda muncul di blog atau di media mana pun yang bisa dinikmati orang, maka dalam arti sederhana Anda sudah jadi penulis. Maka menulislah sekarang juga, jangan ditunda.
Pembelajar itu mencatat
Seorang pramugara Garuda Indonesia, Agung Webe, sudah menulis beberapa buku. Buku yang ditulis, antara lain Javenese Wisdom Berpikir dan Berjiwa Besar (2007), Recollection Menata Kembali Program Pikiran (2007), dan 7 Langkah Sederhana Untuk Mengubah Hidup Menjadi Lebih Bermakna (2009).
Agung mengatakan bahwa ia membiasakan diri untuk membuat catatan dari apa yang ia pelajari setiap hari. itulah ciri seorang pembelajar. Dengan membuat catatan setiap hari, maka pembelajar bisa menghasilkan karya tiap tahunnya.
Karier tanpa pension
Penulis adalah karier tanpa pensiun. Menulis dapat dilakukan siapa saja dan kapan saja. Seseorang dengan usia berapa pun bisa menjadi penulis. Penulis adalah karier tanpa batas umur dan tak kenal kata pensiun.
Latihan 30 hari
Terapis dan penulis, memerlukan waktu yang sama untuk menjadi terapis professional dan penulis. Artinya, menjadi terapis professional membutuhkan waktu untuk berlatih memijat tamu cukup lama. Misalnya, sebelum benar-benar terjun menjadi terapis, calon terapis harus melakukan praktik terapi sekitar 30 hari berturut-turut. Setiap hari rata-rata 2-6 tamu. Dibutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk setiap tamu.
Kita analogkan, penulis memerlukan latihan menulis stiap hari selama 30 hari. Tiap hari menulis selama kurang lebih 2-6 kali waktu. Tiap menulis selama sekitar 90 menit. Kalau dilakukan dengan komitmen yang tinggi dan konsisten, tentu hasilnya menjadi penulis professional. Akan tetapi terapis dan penulis ternyata tidak bisa dianalogkan. Mengapa? Karena memang keduanya berbeda.
Kaidah 10.000 jam
Kesuksesan adalah bakat ditambah latihan. Masalahnya dengan pandangan ini adalah semakin dekat para psikolog menelaah karier mereka yang berbakat, sepertinya semakin kecil peranan bakat bawaan dan semakin besar peranan latihan.
Umtuk menjadi penulis yang dibutuhkan pertama-tama adalah latihan yang banyak. Sepanjang orang bisa mempertahankan minatnya untuk berlatih soal menulis, maka ia harus diasumsikan berbakat. Dan apabila latihan itu bisa dilakukannya lebih dari 10.000 jam, maka ia akan menjadi ahli kelas dunia dalam soal tersebut (menulis).
BAGIAN 3
Dari mana saja
Menulis bisa dimulai dari mana saja. Setelah tulisan ada, Anda masih punya kesempatan untuk menyunting, mengatur letak kalimat dan alenianya, menambah dan mengurangi kalimat/kata. Menyunting bisa dilakukan kalau kita sudah menulis dan ada yang perlu diperbaiki. Bila kita belum menulis, maka tidak aka nada yang akan diperbaiki.
Buatlah tulisan terlebih dahulu sampai selesai. Harapannya tulisan bisa bermanfaat untuk orang lain. Mulailah menulis dari mana saja.
Menulis itu membaca
Seorang penulis pasti gemar membaca. Dengan membaca maka perbendaharaan kata kita semakin bertambah. Orang yang malas membaca maka ia akan miskin perbendaharaan kata-katanya. Menulis itu artinya membaca. Dalam menulis memerlukan referensi.
Belajar tentang menulis
Belajar menulis ya dengan langsung praktik menulis. Apabila belajar menulis tidak tidak langsung praktik menulis, hanya dengan mempelajari teori-teori tentang menulis, malah nanti jadi pusing dan kehilangan gairah menulis. Dalam menulis, belajar itu praktik, melakukan apa yang dipelajari.
Belajar setelah menulis
Lebih baik belajar tentang menulis setelah praktik menulis. Dengan demikian kita tidak dipusingkan dengan berbagai macam teori. Kalau teori membuat Anda pusing, maka praktikkan saja dulu sebelum kembali ke teori. Artinya menulislah lagi, lagi dan lagi-lagi menulis.
Menulis tanpa pertimbangan
Ada banyak alasan mengapa orang menulis, entah artikel, puisi, cerpen esai, buku dan karya tulis lainnya. Karena ingin mendapat honor, ingin terkenal, ingin megabadikan nama, ingin menerapi diri, ingin cantik, ingin cerdas, ingin mengekspresikan diri, menyatakan posisi terhadap suatu persoalan, ingin tidur tenang, dan sebagainya. Akan tetapi kita bisa menulis tanpa alasan atau tanpa pertimbangan. Sigit Kurniawan menyebutkan semangat scribo ergo sum, aku menulis maka aku ada.
Menulis dengan gembira
Menulis itu sebuah kegiatan yang mulia, berjuta makna positifnya, dan terdiri dari 3 tingkatan. pada tingkat pertama, menulis bisa membuat orang tertekan. Menulis adalah beban. Perlu petunjuk dan berbagai kiat untuk menuntaskannya.
Pada level kedua, orang bisa menulis dengan lancar untuk berbagai tujuan yang diinginkannya. Menulis membuat dirinya terkenal, dihormati, kaya, dianggap pakar dan sebagainya. Menulis bukan beban melainkan unjuk prestasi.
Pada level tertinggi, orang menjadi penulis karena menulis itu membuatnya mampu memaknai hidup dengan gembira. Menulis dengan gembira merupakan pertanda bahwa ia sampai level spiritual.
Toilet dan kamar mandi
Apakah kaitannya antara toilet dan kamar mandi dengan menulis? Kita perlu mengetahui tempat atau situasi dan aktivitas macam apa yang dapat memicu ide kreatif untuk menulis. Dari tenpat dan situasi yang bermacam-macam, setiap orang pasti punya pendapat sendiri-sendiri, toilet dan kamar mandi kemungkinan merupakan tempat yang dapat memicu ide kreatif untuk menulis.
(BERSAMBUNG)

Happy Writing, Andrias Harefa (Ringkasan Buku)


RINGKASAN BUKU
Judul Buku                  :  Happy Writing
Penulis                         :  Andrias Harefa
Penerbit                       :  PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                       :  2010
Tebal                           :  285 hal + xxvii
ISBN                           :  978-979-22-6324-4
Pendahuluan
Sebelum saya menuliskan ringkasan Buku Happy Writing ini, terlebih dahulu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Saudara/Bapak Dani Kaizen Ardiyanto yang telah memberikan hadiah buku ini untuk saya. Saya tidak pernah menduga sama sekali akan mendapatkan buku motivasi tentang menulis dari penulis yang sudah banyak menghasilkan karya yang luar biasa.
Persahabatan saya dengan Saudara/Bapak Dani Kaizen Ardiyanto berawal dari dunia maya facebook dan sampai sekarang kami belum pernah bertemu secara langsung. Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu Bapak Ngainun Naim, sahabat saya di facebook dan blog keroyokan kompasiana, membagikan kenangan di facebook berupa resensi buku yang saya terbitkan secara indie. Buku Menjadi Kaya Dengan Menulis, buku sederhana yang saya tulis, saya berikan kepada Bapak Ngainun Naim. Ternyata beliau berkenan meresensi buku saya tersebut, setahun yang lalu. Bagi saya ini merupakan suatu kehormatan. Di facebook, saya ditandai oleh Bapak Ngainun Naim.
Dari sinilah Saudara/Bapak Dani Kaizen Ardiyanto menanyakan kepada saya maupun Bapak Ngainun Naim, apakah beliau bisa mendapatkan Buku Menjadi Kaya Dengan Menulis? Secara pribadi saya menyampaikan pesan melalui inbox. Saya akan memberikan Buku Menjadi Kaya Dengan Menulis kepada beliau. Setelah itu saya juga diberi buku motivasi Happy Writing karya Andrias Harefa.
Sungguh, bagi saya semua ini rezeki yang tidak pernah saya duga. Ternyata Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk mendapatkan buku-buku yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Dengan buku-buku motivasi tentang menulis yang sudah saya baca, membuat saya sadar bahwa ilmu yang saya miliki sekarang ini masih sedikit.
Buku Happy Writing karya Andrias Harefa ini menurut saya buku motivasi dengan bahasa ringan dan mudah dicerna. Buku ini sebagian berisi interaksi antara penulis dengan facebooker tentang banyak hal. Status-status ringan tentang kepenulisan kemudian mendapatkan komentar dari teman-teman facebook. Membuat buku (menulis) berdasarkan status facebook rasanya menjadi lebih mudah. Menurut saya, apa yang sudah saya baca dari buku ini memotivasi bagi pembacanya untuk tidak menyerah dalam hal menulis. Ada kiat-kiat khusus agar pembaca bisa segera menulis dan menerbitkan buku.  Semoga ringkasan buku Happy Writing ini bermanfaat, amin.
BAGIAN 1
Menulis itu pekerjaan tangan
Untuk bisa menulis, tidak diperlukan bakat khusus. Yang diperlukan dalam menulis adalah tangan yang mengetik, mewujudkan gerakan gagasan menjadi sesuatu yang terbaca. Bagi sebagian orang menulis itu pekerjaan tangan bukan pekerjaan pikiran. Menulis tidak memerlukan kecerdasan ekstra. Pada tahap awal, menulis dapat dilakukan dari mana saja. Langsung saja duduk dan tulis apa yang ada dalam pikiran.
Kepepet itu penting
Berdasarkan hasil pengamatan dari beberapa wartawan, mereka bekerja membuat artikel berdasarkan deadline. Seorang wartawan, entah ia cerdas atau tidak nyatanya ia bisa menulis artikel/berita setiap hari. demikian juga mahasiswa, entah ia cerdas atau tidak cerdas, nyatanya bisa menulis skripsi dengan sukses tanpa menjiplak. Mereka bisa menyelesaikan tulisan itu bukan karena kecerdasannya, melainkan kepepet. Kepepet menulis itu penting juga.
Zona nekat
Keberanian dan pertimbangan merupakan dua factor yang memengaruhi orang dalam bertindak, melakukan suatu pekerjaan, termasuk menulis artikel atau buku. Mulailah menulis dari zona nekat. Dalam zona ini keberanian tinggi, namun pertimbangan kurang. Hasilnya prokduktivitas tinggi dengan kemungkinan salah di sana-sini. Yang penting produktivitas dulu baru bicara kualitas. Kalau kualitas tulisan terlalu dipersoalkan sementara produktivitas menulis masih sangat kurang, orang sulit untuk maju dan berkembang.
Orang pintar
Orang pintar banyak yang takut salah kalau mau menulis. Dan rasa takut salah itu begitu kuat, sehingga membuat tangannya tidak bisa bergerak untuk menulis. Banyak orang pintar yang tidak punya karya tulis.
Walau ia sendiri takut salah dan karenanya punya seribu satu alasan untuk tidak menulis, sejumlah orang pintar pandai mencari kesalahan tulisan orang lain. Untuk belajar menulis, pertama-tama berhenti menjadi orang pintar. Dalam belajar menulis, tentu saja ada kesalahan yang diperbuat, dengan demikian kita akan memperbaiki kesalahan tersebut dan tetap membiasakan diri menulis.
BERSAMBUNG

Minggu, 03 April 2016

The Power of Writing (Bagian 7, Selesai)


BAB VI : BELAJAR MENULIS DARI PARA TOKOH
Bergelut dengan Dunia Kata : Belajar Menulis kepada Muhammad Fauzil Adhim
Beberapa pokok pikiran yang penting untuk mengembangkan keterampilan kita dalam menulis adalah:
1.      Orientasi transcendental. Selain berkaitan dengan keterampilan teknis, menulis jugga berkaitan dengan pertanggungjawaban kita terhadap Allah SWT. Produk pikiran kita dalam bentuk tulisan akan bernilai ibadah dalam jangka panjang jika tulisan kita dibaca dan memberikan manfaat secara luas.
2.      Memiliki mental optimis, tidak banyak mengeluh dan tidak cepat merasa puas.
3.      Inspirasi, penulis yang baik memiliki sumber inspirasi tiada henti
4.      Revisi. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan dan kemauan untuk melakukan revisi sebelum sebuah tulisan dianggap selesai.
5.      Tetaplah menulis. Kunci penting untuk menulis itu, menurut Kuntowijono adalah 3M; Menulis, Menulis dan Menulis.
6.      Memiliki dokumentasi yang baik
7.      Ikhwal kesuksesan. Kesuksesan merupakan peringatan dari pembaca agar tidak asal-asalan dalam menulis. Semakin terkenal seorang penulis, ia harus memiliki kontrol lebih ketat terhadap kualitas naskahnya.
Menulis Sebagai Seni : Belajar Menulis kepada Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara
Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan dunia menulis yang dibagikan oleh Prof. Mulyadhi, yaitu:
1.      Menulis dan bakat. Banyak orang yang berpendapat bahwa menulis itu tergantung bakat. Bakat itu memang ada, tapi bukanlah segala-galanya.
2.      Motivasi. Motivasi beliau dalam menulis adalah mengabadikan hidup.
3.      Stamina menulis. Penulis yang baik selalu mampu menjaga stamina menulisnya secara konsisten.
4.      Kepekaan gramatikal. Tulisan yang baik harus memperhatikan terhadap gramatikal ini karena tulisan yang dihasilkannya menjadi lebih menarik. Kepekaan gramatikal berkaitan dengan penyusunan kata, kalimat dan paragraph sehingga keseluruhan tulisan enak dibaca dan tidak janggal
5.      Membiasakan menulis catatan harian.
6.      Menulislah sekarang juga.
7.      Tidak tergantung terhadap teknologi.
Terus Gerakkan Jemarimu : Belajar Menulis kepada Anwar Holid
Beberapa hal penting yang diungkapkan oleh Anwar Holid berkaitan dengan menulis adalah:
1.      Menulis itu sesungguhnya terbangun dari kebiasaan yang dilakukan dengan disiplin.
2.      Jika ingin menghasilkan sebuah tulisan bermutu maka membaca secara tekun menjadi kebutuhan mutlak.
3.      Mengkondisikan diri untuk terus menulis.
4.      Jangan mudah menyerah.
5.      Kemampuan menulis sesungguhnya merupakan sebuah keterampilan. Keterampilan membutuhkan latihan terus-menerus……
6.      Milikilah waktu khusus untuk menulis.
Tahajud Ilmiah : Belajar Menulis kepada Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D
Secara umum, beberapa hal penting yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis adalah:
1.      Jika ingin menghasilkan tulisan bermutu maka membaca menjadi kebutuhan
2.      Rajin berlatih
3.      Konsisten
Tentang tahajud ilmiah, menurut Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D adalah perpaduan antara ibadah shalat tahajud dengan kegiatan ilmiah.  Prof. Yudian menuturkkan bahwa pada malam hari sebelum tidur kita membaca buku dengan tema tertentu. Tema ini biasanya memang ingin kita jadikan topic untuk ditulis, baik dalam bentuk artikel atau buku.
Hasil bacaan itu, jika memungkinkan langsung ditulis. Tetapi jika memang sudah sangat lelah, jangan dipaksakan. Pagi hari sebelum shubuh melaksanakan shalat tahajud 2-4 rakaat, lalu menuliskan pokok-pokok pikiran dari buku yang telah kit abaca sebelum tidur. Sebaiknya ditarget sekitar satu halaman. Setelah selesai diketik lalu dicetak.
Menulis Itu Perjuangan : Belajar Menulis kepada N. Mursidi
Jika Anda berminat menjadi penulis, kisah hidup N. Mursidi adalah referensi penting yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Beberpa aspek yang harus dipahami adalah: 1) menulis membutuhkan kerja keras, bukan bakat, 2) menyadari dan meneguhkan spirit kompetisi, dan 3) menyajikan tulisan yang terbaik kita.
Menulis Itu Harus Tahan Godaan : Belajar Menulis kepada The Liang Gie
Orang yang menekuni dunia menulis, kata Gie, akan memperoleh banyak manfaat, yaitu: 1) nilai kecerdasan, 2) nilai kependidikan, 3) nilai kejiwaan, 4) nilai kemasyarakatan, 5) nilai keuangan, 6) nilai kefilsafatan.
Satu kunci menulis Gie adalah Tahan Godaan. Menjadi penulis itu harus konsisten. Jika sudah menjadwalkan menulis ya harus menulis. Kalau tergoda untuk tidak menulis maka tidak aka nada karya yang dihasilkan. Yang dapat melawan godaan adalah diri kita sendiri.
Menulis dengan Hati : Belajar Menulis kepada Wawan Susetya
Beberapa hal penting yang diungkap dari buku Wawan Susetya tentang menulis adalah: 1) menata niat. Menulis yang dilakukan dengan niat baik dapat menjadi amal shaleh, 2) menulis itu gampang, 3) sepenuh hati (totalitas), 4) kreatif menggali ide, dan 5) disiplin
Berkaitan dengan menggali ide, Wawan Susetya memiliki kiat menarik yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan bersama. Ide dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu: 1) memperbanyak diam atau mengurangi bicara, 2) menyendiri di tempat-tempat yang sepi, 3) sering begadang di malam hari, dan 4) mampu menahan lapar.
“Menulis yang dilakukan dengan niat baik dapat menjadi amal shaleh. Menulis itu membutuhkan ilmu yang cukup. Tanpa ilmu sebuah tulisan tidak akan jadi. Proses transfer ilmu dari otak yang kemudian dituangkan dalam tulisan seharusnya dilakukan dengan ikhlas. Keikhlasan ini akan berimplikasi pada karya yang dihasilkan. Karya yang dihasilkan dengan penuh keikhlasan dapat berumur panjang, memberikan manfaat secara luas, dan menginspirasi dari generasi ke generasi.” (Wawan Susetya)
Terus Memproduksi Kata-kata : Belajar Menulis kepada Zara Zettira ZR
Menulis, bagi Zara adalah hiburan, sarana rekreasi, meditasi, dan harus datang dari hati. Dengan kondisi semacam ini, menulis memang asyik dan tidak menjadi beban. Bahkan menulis akan dilakukan dengan penuh kegembiraan. Sebagaimana hiburan, menulis akan membuat orang yang melakukannya memiliki kebahagiaan.
Satu keyakinan Zara Zettira yaitu ia bisa menulis dan ia suka. Keyakinan itu pulalah dulu yang mendorong Zara memutuskan untuk berhenti kuliah dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang telah ia lakoni selama empat tahun. Ia merasa tidak cocok lagi kuliah dan ingin menulis.
Dunia Zara Zettira ZR adalah dunia imajinasi dan kata-kata. Sepanjang hayat, ia terus memproduksi kata-kata. Lalu jadiah ribuan cerita pendek, belasan novel, dan ratusan episode scenario sinetron.
Menulis dengan Kegigihan : Belajar Menulis kepada Krishna Mihardja
Krishna Mihardja adalah seorang pengarang Bahasa Jawa. Latar pendidikan Krishna adalah matematika, bukan sastra. Krishna menulis dengan sangat serius. Bagi Krishna, menulis harus dilakukan dengan penuh kegigihan. Apalagi menulis sastra Jawa sesungguhnya secara materi kurang menjanjikan. Honorarium di majalah atau buku juga kurang bisa diharapkan. Di tengah kondisi semacam itu, Krishna tidak patah semangat. Ia terus menulis dan menghasilkan karya. Baginya honorarium bukan orientasi utama.
Menjadi penulis membutuhkan daya tahan yang tinggi, tidak patah semangat, dan tidak mudah putus asa. Menurut Krishna, salah satu cara belajar menulis yang baik adalah belajar dari karya para pengarang yang telah dimuat.
Tentang Buku The Power of Writing karya Bapak Ngainun Naim
Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Ngainun Naim yang telah memberikan buku The Power of Writing untuk saya. Saya tidak pernah menyangka sama sekali, persahabatan yang dimulai dari sama-sama menjadi kompasianer ini berlanjut di facebook. Meskipun hanya sebatas di dunia maya, tetapi silaturahmi terjalin.
Banyak sekali ilmu yang saya dapat dari tulisan Bapak Ngainun Naim yang sangat menginspirasi, baik di kompasiana, blog pribadi, facebook maupun buku yang sudah dicetak. Semoga ilmu yang Bapak Ngainun Naim sebarkan bermanfaat bagi para pembacanya dan menjadikan ladang amal.
Buku The Power of Writing ini sangat perlu dibaca oleh penulis pemula. Bahasa yang digunakan ringan, tidak terlalu berat, dan kesannya keseharian sekali (banyak pengalaman pribadi yang ditulis) sehingga membaca buku ini serasa ingin menyelesaikan secepatnya.
Bagi para penulis pemula seperti saya, menulislah dengan penuh kegembiraan, tidak merasa terpaksa, terbebani, tidak mudah menyerah, tahan uji, tahan kritikan dan membuka diri menerima saran dan masukan.  Sikap inilah yang nantinya akan membawa kita menjadi penulis yang sebenarnya. Setelah membaca buku The Power of Writing semakin bertambah pengetahuan kita. Satu hal yang perlu saya garis bawahi penulis-penulis besar tidak begitu saja menjadi seperti sekarang. Mereka berjuang dan terus menulis tanpa mengenal lelah. Ayo, terus menulis, menulis dan menulis.(SELESAI)
Karanganyar, 3 April 2016

Sabtu, 02 April 2016

The Power of Writing (Bagian 6)


BAB V : STRATEGI MENULIS
Mencicil
Banyak orang yang menyatakan ingin menulis tetapi melihat keadaan yang ada ia berubah pikiran. Salah satu penyebabnya adalah waktu. Gunakan waktu yang ada, waktu yang tersisa untuk menulis. Sebuah buku selesai bukan dalam waktu yang singkat. Membutuhkan waktu yang cukup untuk menulis sebuah buku. Untuk itu menulis bisa dilakukan dengan cara mencicil.
Pepatah yang akrab di telinga kita mengatakan,”Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.” Hal ini juga berlaku untuk menulis. Lakukan menulis dua paragraph setiap hari dan teruslah mencicil. Bila menulis dilakukan secara konsisten akan menghasilkan sekitar 15 halaman sehari.
Membaca Itu Gizi Menulis
Aktivitas apapun itu tergantung pada niatnya. Kalau memang membaca dan menulis diniati untuk menghasilkan sesuatu yang positif, tentu saja besar kemungkinan akan menghasilkan nilai positif juga. Tetapi jika niatnya negative, tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang negative pula.
Membaca merupakan gizi menulis. Dengan banyak membaca maka perbendaharaan dan pengetahuan kita akan lebih banyak. Dengan demikian, dari hasil membaca bila kita tuangkan dalam bentuk tulisan akan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Akan tetapi kita harus jujur, sumber-sumber bacaan harus kita tuliskan juga. Apabila sumber-sumber bacaan tidak kita sebutkan atau kita cantumkan, maka tulisan tersebut bukan orisional melainkan hasil menjiplak.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Marilah menyeimbangkan membaca demi tulisan yang bergizi (berkualitas).
Membaca, Mencatat, dan Menulis
Manusia memiliki keterbatasan dalam hal mengingat. Oleh sebab itu, agar apa yang kita baca akan lebih lama kita ingat maka kita harus mencatat hal-hal yang penting. Misalnya dengan cara mencatat dalam bentuk resume.
Secara aplikatif, metode mencatat dalam bentuk resume ini dimulai dengan membaca buku segabaimana biasa. Pada saat menemukan hal-hal yang dirasa penting, bagian tersebut ditandai atau langsung dicatat di buku tulis atau komputer. Dengan demikian, saat sebuah buku tamat dibaca, Anda sudah mendapatkan banyak catatan penting. Apabila kita membutuhkan materi tentang suatu hal, kita tidak perlu mencari buku aslinya, cukup dengan melihat isinya dari buku atau file catatan.
Ada kaitan antara mencatat dengan dunia menulis. Mencatat adalah bagian yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan dari dunia menulis. Dunia menulis adalah dunia mencatat itu sendiri. Dari catatan itu akan muncul ide-ide yang bermanfaat untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.
Sumber Ide
Ide atau gagasan bisa kita dapatkan dari mana-mana sumbernya. Sumber-sumber ide antara lain: 1) pengalaman/kejadian yang kita alami, 2) membaca buku dan memiliki buku.
Di sekeliling kita ada banyak bertebaran ide yang bisa kita tulis. Sebenarnya kita tidak akan kehabisan ide, tinggal kita bisa menuangkan apa yang kita lihat dan kita baca atau tidak.
Jam Terbang
Menjadi penulis itu bukan faktor keturunan. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang tidak memiliki bakat menulis sekalipun. Menjadi penulis memerlukan proses yang panjang. Penulis-penulis menjadi terkenal dan tulisan yang dihasilkan berkualitas karena seringnya berlatih dan berlatih. Karena seringnya menulis inilah tulisan yang mereka hasilkan berkualitas.
Setiap penulis memiliki jam terbang. Masing-masing penulis berbeda jam terbang yang sudah dilalui. Penulis dengan jam terbang tinggi lebih berkualitas tulisannya daripada penulis pemula. Jangan hanya melihat dia seorang penulis terkenal lantas kita ingin menjadi seperti dia dengan cara instan. Tapi lihat dan pelajari perjuangannya menjadi terkenal.  
Buku Harian Yang Menggetarkan
Hampir semua penulis menyatakan bahwa salah satu hal yang menjadi dasar dari kesuksesan mereka menulis adalah menulis buku harian. Akan tetapi buku harian yang isinya bukan hanya curhatan semata, melainkan tulisan yang mencerahkan dan bermanfaat untuk orang lain.
Misalnya, karya R.A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan kumpulan catatan harian dan surat-menyurat antara R.A. Kartini dengan para sahabatnya di Negeri Belanda. Catatan harian itu menginspirasi banyak orang dan membuka mata dunia.
Nikmatnya Menulis di Pagi Hari
Setiap penulis memiliki waktu produktif untuk menulis. Salah satu waktu produktif untuk menulis adalah pagi hari setelah bangun tidur. Saat semacam ini, kondisi fisik masih terasa segar. Otak rasanya juga begitu encer untuk diajak menggali ide. Sayangnya waktu pagi hari sangat terbatas, karena aktifitas yang lain sudah harus dikerjakan. Sebetulnya kapan pun ada waktu dan kesempatan, menulis sebaiknya memang harus dilakukan.
Menulis Itu Jangan Banyak Tanya, Tapi Segera Praktik
Para penulis pemula biasanya memiliki hasrat yang sangat besar untuk menulis, tetapi kurang diimbangi praktik menulis. Setelah praktik menulis, sekarang mudah mencari pembaca yang akan mengapresiasi tulisan kita. Caranya tulisan yang sudah selesai kita posting di media sosial. Tentu saja tulisan kita ada yang membaca.
Dari pembaca inilah sering terjadi komunikasi. Kadang berupa masukan, saran dan kritikan. Jangan berkecil hati untuk menerima masukan tersebut. Dari sini kita akan terus memperbaiki diri, berlatih dan terus berlatih. Secara tidak langsung kita menulis tidak banyak bertanya tapi langsung praktik.
(BERSAMBUNG)