Kamis, 08 Maret 2018

KORBAN KAPSTER PEMULA




Beberapa hari ini, pada siang hari udara terasa gerah. Seperti biasa, rambut yang mulai memanjang rasanya lepek. Oleh karena saya terbiasa dengan rambut pendek (sangat pendek, seperti Demi Moore pada film Ghost), saya ingin memendekkan rambut.

Sayangnya, saya tidak ada waktu untuk datang ke salon. Padahal kalau saya mau, tinggal duduk manis, bilang Demi Moore, kapster sudah tahu kemauan saya. pada akhirnya, tanpa diundang ada kapster yang menawarkan diri.

Kain panjang dipasang menutupi badan. Rambut diikat karet lalu mulai kres-kres, gunting menari-nari di atas kepala. Sang kapster banyak omong, tidak seperti yang lain.

“Ibu, rambutnya diblow saja, ya.”

Saya diam, saya sudah curiga. Pasti hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ketika memotong bagian depan, sempat saya protes kurang pendek, masih kepanjangan.

Dalam memotong rambut bagian belakang, sang kapster juga tidak luwes. Malah sempat saya bilang,”potong bathok saja.” (artinya, tempurung kelapa digunakan untuk cetakan potongan rambut dengan cara ditaruh di atas kepala. Setelah itu, rambut-rambut yang kelihatan dipotong/dihilangkan).

Kapsternya tertawa. Ini agak tidak beres. Beberapa saat kemudian, selesai. Saya bercermin! Benar-benar tidak seperti yang saya harapkan, saya minta potong pendek, hasilnya rambut model blow dan panjangnya tidak rata.

Kain dilepas. Rambut saya disisiri dengan pelan-pelan.

“Bu, gratis nggak usah membayar.”
“Kalau disuruh membayar saya juga tidak bakalan mau. Ealah, di salon membayar delapan ribu rupiah hasilnya bagus. La ini, hasil kerja kapster tidak professional.”

Faiq anak gadis saya terkekeh tanpa merasa berdosa telah mengeksekusi rambut Ibunya. Saya berseru,”Rambut ini adalah korban kapster pemula.” Ya, kapster pemula itu adalah Faiq anak gadis saya.  Namanya juga gratisan, tak apalah hasilnya seperti apa. Yang penting rambut saya tidak mudah lepek lagi.

Rabu, 07 Maret 2018

PENULIS PEMULA TIDAK BOLEH PUTUS ASA

dokumen noerimakaltsum


Biar kelihatan masih muda dan tidak merasa bersalah, lebih baik saya mengaku sebagai penulis pemula walaupun mulai menulis kembali tahun 2013. Saya menulis hampir setiap hari. Dari puisi, cerita humor, nulis nota/kuitansi, nulis RPP, soal, cerpen, artikel dan lain-lain. Yang penting setiap hari nulis.

Untuk menyebarkan virus menulis, kadang-kadang saya perlu membuat status tentang menulis. Selain membuat status di FB, saya juga mengisi blog agar bisa berbagi sesuatu yang manfaat atau hanya sekadar curhat.

Oleh karena menulis diniatkan untuk berbagi, maka saya juga ingin menulis di media cetak. Meskipun tidak gampang, saya tetap berusaha untuk mengirimkan naskah ke media cetak. Saya tidak pernah putus asa meskipun keberhasilan dan nasib baik belum menghampiri saya.

Tugas penulis adalah menulis, selebihnya berjodoh dengan siapa tulisan kita, terserah Allah yang mengatur. Selain menulis naskah lalu mengirimkannya ke media cetak (berharap untuk dimuat), saya juga sering mengikuti lomba penulisan. Hanya sesekali memenangkan lomba penulisan, itupun mungkin karena POWER OF BEGJA alias kebetulan saja.

Seperti beberapa waktu yang lalu. Sebulan yang lalu IIDN Pusat mengadakan lomba menulis (status FB atau blog) selama 14 hari berturut-turut. Caranya setiap peserta lomba menulis artikel tematik (tiap hari tema sudah ditentukan) lalu diposting. Setelah memosting tulisan dan dibagikan kembali, peserta menyetorkan link share tulisan. Setiap hari menyetorkan link share tulisan dengan waktu dibatasi sampai pukul sepuluh malam saja.

Saya mencoba ikut lomba menulis ini. Saya berkomitmen bisa menulis dengan tema tertentu setiap hari selama 14 hari berturut-turut dan tidak terlambat untuk membagikan link tulisan.

Ada tips dari penulis senior yaitu dengan menulis status FB atau mengisi blog secara konsisten. Artinya, bila kita belum bisa menuliskan ide yang sudah ada ke blog kita, kita bisa menuangkan ide sebagai status FB lalu link tersebut kita setor ke alamat yang telah ditentukan (alamat : status FB pengurus IIDN Interaktif pada hari itu). Bila kita sudah memiliki waktu luang, status FB ini bisa kita edit lalu kita post di blog kita.

Rupanya, saya juga menerapkan saran dari penulis senior ini. Seperti saat menyetorkan link status FB tentang membuat mainan dari kaos kaki bekas. Kebetulan, teman saya memberi tugas siswa-siswa di sekolah membuat boneka dari kaos kaki bekas. Boneka buatan siswa-siswi saya potret, lalu saya berikan narasi. Sambil menunggu jam kosong, saya berhasil menulis satu status. Hari berikutnya, tugas saya adalah membuat tulisan yang sama lalu saya posting di blog.

Saya melakukan saran dari penulis senior ini dengan pertimbangan, pertama segera eksekusi ide yang ada lalu posting, kedua memanfaatkan waktu luang, ketiga mumpung koneksi internetnya lancar, keempat tidak mepet deadline.  

Tidak hanya sekali saya mengirim link status FB ke “admin lomba”. Beruntung sekali saya tidak memaksakan diri untuk memosting tulisan di blog lalu membagikan link blog tersebut ke FB. Suatu hari sepulang sekolah, listrik mati sampai hampir pukul sepuluh malam. Oleh karena listrik mati sejak sore, saya tidak bisa menulis akhirnya tertidur. Ketika saya bangun sudah hampir pukul dua belas malam, lampu sudah menyala.

Alhamdulillah, usaha saya tidak sia-sia. Lomba menulis yang diikuti ratusan orang ini, diambil 11 orang pemenang dan saya termasuk pemenangnya. Saya tahu, penulis pemula seperti saya bisa memenangkan suatu perlombaan itu berkat POWER OF BEGJA. Unsur keberuntungan berperan aktif, mengingat penulis-penulis yang mengikuti lomba sebagian besar sudah senior.

Beruntung, penulis pemula semacam saya tidak putus asa. Beruntung, beberapa penulis senior yang ikut lomba ada yang tidak melanjutkan keikutsertaannya.

Saya memang tidak mudah putus asa, saya tetap berusaha semaksimal mungkin menulis selesai dengan baik. Semoga apa yang telah saya lakukan dan berhasil, membuat saya lebih semangat dalam menulis.

Semoga bermanfaat. Ayo, terus menulis dan jangan mudah putus asa wahai penulis pemula.

Selasa, 06 Maret 2018

SEDIAKAN MASKER KETIKA DI PERJALANAN

dokumen noerimakaltsum

Di Karanganyar, setiap pagi atau jam pulang sekolah (kantor), udara di jalanan tercemar asap knalpot. Kualitas udara semakin memburuk pada saat udara panas di siang hari. Apalagi di sepanjang jalan, pohon-pohon  sudah semakin berkurang.

Udara yang kotor bila terhirup akan membuat masalah bagi kesehatan kita. Untuk itu, kita memerlukan pelindung agar udara kotor tidak secara langsung kita hirup. Kita memerlukan masker, pelindung hidung dan mulut. Memang masker tidak 100% bisa menjamin udara yang kita hirup menjadi bersih, setidaknya mengurang volume udara kotor yang kita hirup.

Kalau menggunakan masker dianggap pemborosan, maka sebagai pengganti masker bisa menggunakan tutup hidung sapu tangan atau kain. Sapu tangan atau kain bisa digunakan berulang-ulang, tidak seperti masker yang sekali pakai langsung dibuang

Bila kita menggunakan masker, sebaiknya memenuhi syarat berikut:
1.    Nyaman digunakan,
2.    Menutup hidung dan mulut secara sempurna,
3.    Bernafas lebih lega, dan
4.    Tidak tembus percikan air.

Semoga polusi udara bisa segera diatasi dan udara yang kita hirup adalah udara yang bersih.

Minggu, 04 Maret 2018

TIDAK ADA SALAHNYA MENITIPKAN ORANG TUA KEPADA TETANGGA


 
dokumen Waljiman
Jangan berprasangka jelek dulu terhadap judul di atas. Tetangga adalah saudara terdekat kita. Tetangga, bisa menjadi anak atau orang tua kita. Apabila kita jauh dari orang tua atau saudara kandung serta kerabat maka tetangga adalah orang terdekat yang tahu lebih dahulu tentang keadaan kita.

Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar atau membaca berita tentang meninggalnya kakek dan nenek di rumahnya sendiri tanpa diketahui oleh siapapun. Yang lebih membuat kita kaget adalah tetangga terdekat juga tidak tahu tentang kematian kakek nenek tersebut. Padahal meninggal lebih dari 3 hari, mestinya sudah tercium bau tidak sedap.

Saya jadi ingin berbagi cerita tentang menitipkan orang tua kepada tetangga. Bukan berarti orang tua kita titipkan di rumah tetangga, bukan itu maksudnya. Yang saya maksud adalah minta tolong kepada tetangga (yang dekat dengan rumah orang tua) untuk ikut menaruh sedikit perhatian.

Mungkin sekadar melihat dari dekat keadaan orang tua kita. Mungkin dengan menyambangi rumah orang tua kita. Atau kalau biasanya orang tua kita kelihatan melakukan aktivitas di luar, saat itu tidak kelihatan maka tetangga mencoba untuk mengetuk pintu rumah orang tua kita. Basa basi menanyakan kabar, atau berbagi sesuatu.

Zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu. Dahulu, seorang nenek atau kakek hidup sebatang kara karena tidak memiliki sanak famili, tetap ada tetangga yang memperhatikan. Dalam keadaan sakit pun tetangga akan tahu karena rasa sosial dan kekeluargaan masih kental.

Berbeda dengan zaman sekarang terutama di kota besar. Memang sebagian masih ada tetangga yang memperhatikan tetangga lain meski tidak memiliki hubungan kekerabatan.

Tadi sore ketika mau besuk tetangga yang sakit, saya sempat berbincang-bincang dengan tetangga. Intinya, tidak ada salahnya kita sebagai anak yang jauh dari orang tua, minta tolong kepada tetangga orang tua untuk sekadar ikut memperhatikan orang tua kita dari jauh.

Kebiasaan orang tua kita pada suatu saat tidak dilakukan atau orang tua tiba-tiba menarik diri, tetangga akan mengetahui sejak dini. Tujuannya adalah apabila ada sesuatu hal terjadi terhadap orang tua, tetangga bisa memberi tahu.

Akan tetapi, lebih baik kalau  sebagai anak tidak hanya sekadar berkomunikasi dengan orang tua lewat ponsel. Lebih baik sebagai anak sering datang ke rumah orang tua. Kehadiran anak lebih dari segalanya bagi orang tua. Apabila jarak antara orang tua dengan anak jauh, tetap diusahakan jangka waktu tertentu untuk bertemu orang tua.

Jangan sampai kita terlambat bertemu orang tua saat mereka masih sehat. Jangan sampai kita terlambat bertemu orang tua saat mereka sedang sakit. Jangan ada penyesalan karena orang tua sudah berpulang dan kita belum sempat bertemu mereka.

Semoga bermanfaat.

Karanganyar, 4 Maret 2018

Sabtu, 03 Maret 2018

UPAYA HILANGKAN BENJOLAN DENGAN DAUN SIRSAK

Foto : dokumen pribadi


Seorang sahabat penulis menulis status WA, memerlukan daun sirsak. Begitu saya membaca status tersebut, saya jadi ingin membantunya. Siapa tahu saya bisa mencarikan dan mengantarkan untuk sahabat tadi.

Sebelum saya mencari daun sirsak di sebelah barat rumah saya, saya bertanya pada suami, bisakah suami mengantar saya ke rumah sahabat saya. Jawab suami, bisa.

Akhirnya saya menuju rumah tetangga. Sayangnya, pintu gerbang terkunci. Kata tetangga depan rumah, Pak Narno (pemilik pohon sirsak) sedang keluar. Saya mengatakan maksud saya untuk mengambil daun sirsak.

“Tidak apa-apa, bu. Bilang saja, Pak Narno minta daun sirsaknya.”
Ya. Ide bagus, biasanya saya juga begitu. Nembung pada pohonnya langsung, lalu minta izin lewat telepon/kalau pas bertemu. Biasanya untuk hal darurat, orang juga akan mengizinkan bila ada yang membutuhkan tanaman yang ada di sekitar rumah (pengalaman pribadi).

Ternyata memetik daun sirsak juga ada aturannya lo. Yang diambil adalah daun yang berada di sisi utara-barat. Saya menurut saja, semoga barokah dan bermanfaat.

Setelah kontak dengan sahabat saya, akhirnya saya bertemu dengannya di Kolam Renang Sawahan, Jaten, Karanganyar.

Sahabat saya kaget dengan kedatangan saya. Batang dan daun sirsak saya taruh di meja. Kebetulan teman saya sedang menunggu putrinya les renang. Kami hanya sedikit berbincang.

“Daun sirsak ini katanya bisa untuk mengobati benjolan yang ada di saluran pernafasan. Akan tetapi penggunaannya harus dalam pengawasan herbalis. Daun sirsak termasuk herbal keras. Lima lembar daun sirsak direbus dalam 3 gelas air, hingga air menjadi 1 gelas. Air daun sirsak diminum tanpa gula.”

Saya tersenyum dan mengangguk diberi penjelasan demikian. Pokoknya semoga bermanfaat. Kalau saya punya pohonnya yang tidak terlalu besar, bakalan saya bawa. Sayang, saya tidak punya. Yang penting saya sudah berusaha untuk membantu orang lain.

Semoga bermanfaat.

Karanganyar, 3 Maret 2018 

TIPS MEMILIH OBYEK WISATA YANG NYAMAN DI YOGYAKARTA

dok.pri


Pertengahan bulan Februari yang lalu, saya ikut mengantarkan siswa melaksanakan kunjungan Industri Di Balai Yasa PT KAI Yogyakarta. Sebagian guru mengantarkan siswa ke ADI TV Yogyakarta.

Setelah keluar dari tempat kunjungan Industri, perjalanan dilanjutkan ke obyek wisata Kaliurang. Dari Kaliurang menuju Pantai Parangtritis. Obyek wisata yang terakhir kami kunjungi adalah Malioboro.

Beberapa hari sebelum pelaksanaan kunjungan industry, saya sudah memberikan masukan kepada panitia. Sebaiknya obyek wisata yang dikunjungi bukan Kaliurang-Parangtritis.  Dua obyek wisata tersebut jaraknya cukup jauh, ibaratnya Yogyakarta ujung utara dengan Yogyakarta ujung selatan.

Saya mengusulkan dari Balai Yasa (Lempuyangan) dan ADI TV (Jl. Kaliurang) langsung ke Malioboro. Karena dari Balai Yasa waktunya sudah siang. Setelah puas di Malioboro, baru menuju Pantai Parangtritis. Di pantai, kami bisa sepuasnya menikmati perjalanan wisata ini.

Sehabis bermain air, lalu membersihkan diri dan makan malam. Setelah Isya bisa langsung pulang ke Karanganyar. Sampai di Karanganyar belum terlalu larut.

Oleh karena Kaliurang juga dikunjungi maka sampai pantai sudah pukul empat lebih. Setengah tujuh kami meninggalkan pantai menuju “oleh-oleh” di Jalan Parangtritis. Dari “oleh-oleh” menuju Rumah Makan Firdaus hujan deras. Makan malam sampai kenyang saat hujan deras.

Banyak siswa dari Bus B (bus yang saya ikuti) minta langsung pulang saja, tidak perlu ke Malioboro. Alasannya sudah terlalu malam. Akhirnya kami mengikuti acara yang sudah diagendakan sekolah. Pukul Sembilan sampai sebelas acara jalan-jalan di Malioboro dan sekitarnya.

Jam sebelas malam meninggalkan Yogyakarta. Saya merasa mengantuk berat, tertidur. Rasanya baru sebentar, ternyata sudah sampai Delanggu. Kata teman saya yang tidak tidur, bus melaju kencang. Jalannya nyasak-nyasak, bahkan kami hampir menjerit ketika di perempatan, dari arah berlawanan lampu merah berderet sepeda motor berhenti, bus kami melewati garis putih hingga kendaraan yang berhenti minggir. Astaghfirulloh.

Sepertinya sang sopir juga mengejar waktu. Biasanya perjalanan wisata dan kunjungan industry ke Yogyakarta, balik ke Karanganyar paling lambat jam dua belas malam. Kali ini jam satu tepat baru tiba di depan sekolah. Bagaimanapun juga saya bersyukur, kami selamat sampai sekolah.

O, o, jam satu malam. Saya tidak berani pulang sendiri. Bersyukur sekali, teman saya ada yang mau mengantar sampai rumah. Sampai dalam rumah, bruk. Kantukku sudah tidak bisa ditahan.

Saya berpesan kepada para calon wisatawan, bila ingin bepergian mengunjungi beberapa tempat wisata, pastikan jarak satu sama lain tempat wisatanya tidak terlalu jauh. Tujuannya adalah agar waktu kita habis di jalan. Demikian sekilas cerita melelahkan.

Karanganyar, 3 Maret 2018

Jumat, 02 Maret 2018

KE MALIOBORO PADA PAGI HARI LEBIH ASYIK

dokumen noerimakaltsum

noerimakaltsum.com. Bila tiba di Yogya pagi hari, sebaiknya ke Malioboro terlebih dahulu. Sekitar pukul Sembilan, Malioboro sudah ramai pengunjung. Pada saat seperti itu, kita bisa dengan santai dan leluasa untuk jalan-jalan.

Pagi hari kita masih semangat dan segar. Di samping itu keadaan dompet kita juga masih sehat. Kalau mau berbelanja oleh-oleh, kita masih antusias untuk memilih tempat yang sesuai dengan keinginan.

Setelah selesai aktivitas di Malioboro dan sekitarnya, kita bisa melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lainnya. Sebaiknya bila merencanakan ke pantai, itu pilihan terakhir saja. Alasannya, setelah bermain air lalu membersihkan diri, kita tinggal menikmati perjalanan pulang.

dokumen noerimakaltsum

Ini hanya saran, tidak ada unsur paksaan untuk mengikuti pendapat ini. Bila Anda berbeda pendapat dengan saya, silakan. Berbeda pendapat, tidak dilarang. Kalau sudah pernah jalan-jalan ke Malioboro  pada pagi, siang dan sore hari, pasti akan ketagihan daripada ke Malioboro pada malam hari.  Bagi yang pernah jalan-jalan ke Malioboro pada pagi-siang dan malam hari, akan merasakan perbedaannya.

Semoga bermanfaat.


Karanganyar, 2 Maret 2018