Rabu, 14 Maret 2018

BERINVESTASI SECARA AMAN



Saya tidak tertarik dengan iming-iming investasi dengan modal kecil, dalam waktu singkat hasilnya besar dan segera dinikmati. Banyak kejadian yang melibatkan banyak orang  dalam hal investasi semacam ini.

Ujung-ujungnya, dana yang kita tanam atau investasikan raib entah ke mana tidak ada bekasnya. Investasi yang melibatkan orang banyak, memiliki resiko bila gagal maka yang mengalami kerugian juga orang banyak.

Apabila kita berhubungan langsung dengan orang lain yang ikut berinvestasi, mungkin kita juga akan menanggung akibatnya. Bila kita mengumpulkan dana dari sekelompok orang untuk kita investasikan, dan ternyata investasi yang kita tuju tidak menghasilkan apapun, bahkan “model tipu-tipu” ini yang akan memberatkan kita.

Kita harus mengembalikan uang dari kelompok tadi yang sudah mengumpulkan uang kepada kita. Kita tidak untung malah buntung, tambah harus mengembalikan modal. Investasi yang menjanjikan keuntungan besar, sebagian dari macam investasi tersebut adalah abal-abal, bodong atau mungkin malah fiktif.

Oleh sebab itu, jangan tergiur dengan rayuan yang mengajak kita untuk berinvestasi dengan modal kecil tapi hasilnya besar. Buka mata dan telinga lebar-lebar. Baca berita, ambil pelajaran dari pengalaman orang-orang yang kena tipu karena tergiur investasi bodong tadi.

Pilihlah investasi yang aman. Pelajari macam-macam investasi yang ada. Cermati kelemahan dan kelebihan cara berinvestasi tersebut. Yang penting uang kita aman. Pilih resiko kecil selama berinvestasi.

Kalau mau aman dan tidak kena tipu, silakan pilih investasi emas.

Semoga bermanfaat!

Karanganyar, 14 Maret 2018

Selasa, 13 Maret 2018

MENANTI PIE SUSU OLEH-OLEH DARI BALI



Hari ini adalah hari keempat tanpa Ayah. Alhamdulillah, Thole tidak rewel, tidak pula menanyakan Ayah. Sepertinya, Thole sudah bahagia telah dijanjikan akan dibawakan oleh-oleh Pie Susu.

Tadi siang, teman Ayah ada yang update status di FB sudah sampai pelabuhan Gilimanuk. Itu artinya malam ini rombongan sudah berada di Jawa Timur. Semoga perjalanan lancar dan besok pagi selamat sampai di sekolah.

Hari Sabtu yang lalu, Ayah mengantar anak-anak study tour ke Pulau Dewata, Bali. Biasanya, Thole rewel bila ditinggal Ayah bepergian sampai berhari-hari. Akan tetapi kali ini tidak. Thole langsung bilang,”Ayah, jangan lupa belikan Pie Susu tiga.” (maksudnya satu kardus saja, isinya enam buah).

Seperti hari-hari biasa, Ayah jarang update berita untuk keluarga kalau tidak dijapri lebih dulu. Itu saja nanti jawabannya juga pendek saja, ya sayang atau oke. Tidak ada reportase yang bisa saya baca.

Agar tidak rewel atau cari perhatian secara berlebih, apa yang diinginkan Thole segera saya penuhi. Saya mengawasi kegiatan Thole di rumah dan di luar rumah secara ekstra. Ternyata, Thole gampang dikendalikan. Tidak banyak tingkah dan menurut.

Sebelum tidur, Thole sudah saya beri tahu kalau Ayah sudah melewati Banyuwangi. Setelah membaca beberapa kalimat dari buku bacaan dan judul-judul berita dalam Koran, akhirnya Thole tidur.

Sudah beberapa kali Ayah ikut mengantar siswa-siswa study tour karena Ayah sebagai Wali Kelas. Setiap ke Bali, saya tidak pernah minta dibawakan oleh-oleh. Yang selalu minta dibawakan oleh-oleh adalah si Dhenok. Kali ini, Thole juga minta oleh-oleh.

Dhenok dulu pernah ke Bali, tentu didampingi Ayah (meskipun Ayah bukan wali kelasnya). Saya sendiri belum pernah ke Bali. Saat ada tawaran ke Bali, kebetulan si Thole sakit (habis operasi pemasangan pen/platina, lengannya patah).

Suatu saat, bila ada kesempatan ke Bali, saya akan menuliskan banyak hal. Tentu saja tulisan saya bisa meramaikan suasana blog yang saya kelola.

Semoga bermanfaat.

Karanganyar, 13 Maret 2018

Senin, 12 Maret 2018

MENGHINDARI WISATA AIR



noerimakaltsum.com. Saya sebisa mungkin menghindari wisata yang berhubungan dengan air (selanjutnya saya sebut dengan wisata air). Misalnya terpaksa harus mengikuti wisata air, saya sangat hati-hati dan tidak terlalu dekat dengan air.

Saya memiliki alasan tersendiri mengapa menghindari wisata air. Pertama saya gampang kram, kedua trauma dengan kecelakaan air (meskipun hanya melihat pengalaman orang lain atau orang lain kena musibah) dan ketiga menurut saya masih banyak hal yang membuat senang selain wisata air.

Saya juga berpesan kepada kedua anak saya agar hati-hati saat mengikuti wisata air. Kalau bepergian atau berjalan-jalan, minimal berdua atau ada orang dewasa yang menemani.

Baca juga: 

Waktu saya dan si kecil ikut wisata ke Waduk Gajah Mungkur, saya harus ikut naik perahu. Faiz ingin naik perahu seperti teman-teman saya.

Saya membatin, halah Iz, Iz, kamu memang berani tapi simboknya akan berpikir ulang untuk naik perahu. Tapi saya tidak mau kalah dengan Faiz, gengsi dong…. Anaknya saja berani, mosok simboknya tidak berani. Padahal sungguh, saya paling takut dengan air dan yang berhubungan dengan air termasuk naik kapal. Apa iya, anaknya naik kapal dititipkan pada orang lain sementara maminya jalan-jalan sendiri?

Beberapa hari yang lalu ada berita KECELAKAAN AIR (Tragedi Outbound PAUD). Sebenarnya Outbound dengan menaiki kendaraan militer TNI di Purworejo, Jawa Tengah ini pelaksanaannya rutin. Selama ini aman sehingga kegiatan ini dilaksanakan pada waktu yang lain.

Namanya juga musibah, jadi kejadian tank tenggelam dan menelan korban ini di luar perhitungan manusia.
Kronologi Tank Tenggelam (Sumber: SOLOPOS, Minggu Kliwon, 11 Maret 2018, halaman 1)
1.    Outbound di Yonif 412/BES dilaksanakan pukul 08.00 WIB. Diikuti ratusan siswa dan belasan guru dari lima TK dan PAUD. Para siswa melakukan simulasi naik helikopter,
2.    Para siswa diajak ke garasi tank  dan dikenalkan tank M113 dan kemudian diajak naik dengan rute Sungai Bogowonto menggunakan 3 unit tank. Satu unit dinaiki 20 anak,
3.    Putaran pertama tiga tank berjalan mulus. Namun saat putaran kedua, satu tank tergelincir  dan tenggelam sedangkan 2 tank lainnya selamat. Tank yang tergelincir langsung tenggelam di sungai.
4.    Beberapa personel TNI langsung menolong,
5.    Satu personel TNI Pratu Randi Suryadi dan Kepala PAUD yang mendampingi siswa, Iswandari meninggal dunia.
TNI AD langsung menyelidiki penyebab musibah tersebut.

Ketika saya membaca berita lewat sosmed, saya turut berdoa semoga dua orang yang meninggal mendapatkan husnul khotimah.

Dengan adanya musibah ini, saya semakin takut wisata air dan menghindarinya. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa, saya tidak mengikuti. Akan tetapi bagi Anda yang memang suka dengan wisata air, silakan saja melakukannya. Pesan saya harap berhati-hati dan menyiapkan segala sesuatunya sehingga wisata air tersebut aman bagi Anda.

Semoga bermanfaat dan salam literasi.

Karanganyar, 12 Maret 2018

PANEN PADI DI SAAT HARGA BERAS MELAMBUNG TINGGI



Beberapa waktu yang lalu, teman saya yang mempunyai bisnis sampingan jual beli beras bercerita kalau harga beras naik. Kenaikan harga beras dipicu karena stok beras menipis. Pantas saja banyak orang yang mengeluh dengan harga beras yang cenderung naik.

Bagi teman saya juragan gabah/beras ini, keadaan ini jelas melipatgandakan pendapatan. Saya sempat membeli beras dengan harga tinggi. Akan tetapi, saya tetap bersyukur Alhamdulillah masih kuat menebus harga beras. Saya membeli beras seharga sepuluh ribu rupiah.

Sebenarnya, saya memiliki gabah di tempat penyimpanan gabah milik keluarga. Hanya saja bila waktunya saya membutuhkan beras, suami tidak ada waktu untuk menggiling gabah menjadi beras.

Biasanya, saya hanya mengandalkan bantuan adik ipar yang memanggil tukang penggiling gabah. Oleh karena penggiling gabah tidak lewat depan rumah, jadilah gabah saya masih utuh.

Nah, kemarin waktu saya ke rumah adik ipar, dia bilang kalau beras sudah siap saya bawa pulang. Syukur Alhamdulillah, di saat harga beras mahal, saya masih memiliki cadangan.

Belum lagi beberapa hari yang lalu, padi di sawah belakang rumah saya sudah dipanen. Oleh karena saya dan adik-adik ipar tidak mau repot, kami pasrah pada pengelola sawah. Dari panen, menjemur sampai gabah kering, kami pasrah minta bantuan pada kerabat yang mengelola. Kami tinggal membayar jasa pengelolaannya saja.

Dari panen ini, gabah yang dihasilkan kondisinya baik. Setelah beras dimasak, harum baunya, sepertinya varietas lain dari biasanya. Dari panen padi ini, pengelola mendapat 9 karung, keluarga kami 9 karung. Untuk keluarga kami, dari 9 karung dibagi 3 orang. Saya dan 2 adik ipar masing-masing mendapat 3 karung gabah.

Untuk saya, satu karung gabah bisa dimasak untuk 2 bulan. Biasanya, sawah di belakang rumah ditanami padi  2 kali masa tanam.  

Selama ini, kami jarang membeli beras karena memiliki hasil panen sendiri. Bahkan untuk saya, kadang-kadang gabah masih beberapa karung, musim panen berikutnya sudah tiba. Kalau sudah begitu, daripada kalah dengan tikus lebih baik saya jadikan beras semua lalu saya bagikan pada orang yang membutuhkan.

Saya merenung, sebenarnya tiap petani bila menganut pola hidup sederhana dan tidak mengikuti gaya hidup konsumtif, mereka bisa kaya raya. Hasil panen ditabung, disimpan, lalu dijual pada saat membutuhkan uang. Atau bisa dijual saat harga beras tinggi.

Kenyataannya tidak demikian. Petani sekarang ingin jalan pintas dan serba praktis. Hasil panen langsung pindah tangan, dan dia mendapat berlembar-lembar rupiah. Ada juga yang sebagian dibawa pulang untuk makan, yang lainnya dijual pada juragan gabah.

00000

Ketika saya menengok lumbung sederhana keluarga suami, rasanya lega. Masih ada gabah untuk beberapa bulan ke depan. Insya Allah kami tidak kelaparan. Kami tidak pernah kufur nikmat, kami tidak pernah mendustakan nikmat.

Ini ceritaku tentang panen padi saat harga beras melambung tinggi.

Karanganyar, 13 Maret 2018

Minggu, 11 Maret 2018

Bisnis Peti Mati Masih Menjanjikan dan Tak Pernah Kena Tipu 2




Adik ipar saya memiliki bisnis jual-beli peti mati. Adik ipar melanjutkan bisnis bapak/ibu mertua yang sudah tiada (almarhum). Alhamdulillah, usahanya sampai sekarang lancar.

Sore tadi, saya sempat ke rumah adik ipar. Kebetulan, kampung sebelah ada orang meninggal. Biasanya, orang yang diberi tugas untuk mencari peti mati, mori dan lain-lain langsung menuju rumah adik saya. mereka akan mengambil barangnya terlebih dahulu. Untuk pembayaran, bisa ditunda waktunya. Tidak harus saat itu pembeli membayar secara kontan.

Almarhum Ibu/bapak dan adik ipar percaya, pembeli yang belum membayar peti mati tidak akan lari (tidak membayar). Entah itu kapan, tetap akan membayar.

Iseng-iseng saya membuka-buka nota pembelian. Alhamdulillah, tiap bulan ada penjualan peti mati dan uba rampenya.  Semoga Allah menitipkan rezeki untuk adik ipar dan keluarganya dari penjualan peti mati ini.

Dulu saya pernah menulis artikel semacam ini di www.kompasiana.com/noerimakaltsum.  Sayangnya, link tersebut tidak saya simpan tapi artikelnya masih tersimpan rapi. Wow, saya menulis di kompasiana pada tahun 2013. Sudah lama ya, hehe.

Bisnis Peti Mati Masih Menjanjikan dan Tak Pernah Kena Tipu

Usaha yang dijalankan oleh alm. Bapak dan ibu mertua sejak tahun 80-an yaitu penyediakan peti mati dan perlengkapannya. Seperti kain mori, kapas, minyak wangi, sabun, sampo, kapur barus, kemenyan, lilin, benang, jarum, paku, keranjang bunga, kertas putih (untuk menghias keranjang), merah (untuk bendera tanda ada orang meninggal), nisan, kipas, kendi-anglo. Selain itu juga menyediakan air mineral 240 ml, permen, rokok dan sapu tangan.

Pertama kali peti mati datang dari pengrajin, tetangga bapak/ibu sempat kaget karena barusan adik ipar waktu itu masih batita masuk rumah sakit. Ternyata datangnya peti mati tidak ada hubungannya dengan sakitnya adik ipar.

Kebetulan di tempat tinggal mertua dan sekitarnya belum ada yang menyediakan perlengkapan semacam itu. Bisa dibilang usaha ini belum ada saingannya.

Akan tetapi, berbisnis peti mati memang harus sabar, siap stand-by 24 jam. Tahu sendiri bukan, orang meninggal tidak bisa diduga waktunya. Bisa pagi, siang, sore, tengah malam atau dini hari. Biasanya orang yang membeli peti mati sebagai orang suruhan personelnya itu-itu saja alias ajeg. Misalnya di dusun A yang biasa ditugasi membeli peti adalah Pak Bejo, di dusun B mungkin Mas Paijo dan seterusnya. Sampai-sampai bapak/ibu mertua hafal, kalau yang membeli peti Pak Bejo berarti yang meninggal orang dusun A.

Bapak/ibu mertua harus siap 24 jam. Saya pun pernah membantu mereka melayani pembeli peti mati dan perlengkapannya tengah malam. Yang lebih membuat bapak/ibu sabar adalah kadang-kadang pembeli tidak membawa uang sepeser pun. Mungkin ada orang yang mengeluh sudah malam-malam membangunkan orang tidur, e... masih ngutang lagi. Tapi ternyata bapak/ibu tidak pernah mengeluh. Syukurlah bisa membantu mereka itung-itung sedekah waktu, hehe.

Biasanya kalau ada yang membeli peti tetapi belum membawa uang, ahli waris dari orang yang meninggal dari golongan tidak mampu. Nanti bayarnya setelah membuka amplop sumbangan dari para pelayat.

Menurut cerita bapak/ibu mertua belum ada sejarahnya pembeli yang ngutang lalu ngemplang (nunda-nunda pembayaran sampai ditagih-tagih) bahkan melarikan diri tidak membayar. Semua membayar, hanya waktunya saja yang mundur.

Setelah bapak/ibu mertua meninggal, usaha ini dilanjutkan adik ipar. Sebelum adik ipar mewarisi usaha ini, dia dan isterinya membeli kotak peti yang belum diberi kain saten. Kemudian peti-peti itu dibungkus kain saten sedemikian rupa. Lalu dijual ke ibu mertua. Setelah ibu meninggal, adik ipar disetori oleh pengrajin siap jual. Ada peti berkain saten putih dan peti ukir-ukiran.

Pernah suatu saat, tahun 2006-an, saya juga ingin berbisnis peti mati dengan menyewa kios. Ternyata yang punya rumah (sudah tua, pernah sakit stroke)  stress lalu jatuh sakit. Uang sewa yang sudah saya serahkan, oleh anaknya dikembalikan dan beliau minta maaf karena kiosnya tidak diijinkan bila untuk menjual peti mati. Haha, sampai sekarang saya sering tersenyum kalau ingat peristiwa tersebut.

Gagal menyewa kios, saya tidak menyerah begitu saja. Saya ingin membuka usaha ini di rumah. Ternyata ibu kandung saya menentang. Kalau saya bersikeras menjalani   usaha ini, artinya ibu sudah tidak mungkin mengunjungi saya dan menjenguk cucunya. Haha, ternyata ibu saya juga takut.

Namanya juga rejeki, sudah ada yang mengatur. Kadang seminggu, tidak ada penjualan peti mati. Tetapi di lain waktu, sehari bisa laku tiga buah peti.  Pagi, siang atau malam bahkan kadang-kadang waktunya bersamaan.

Berbisnis peti mati rupanya masih menjanjikan, dan bisnis ini tidak pernah kena tipu (tidak seperti bisnis sembako). Siapa mau mencoba? Tapi pikirkan dulu masak-masak, soalnya tetangga kiri kanan mungkin ada yang tidak setuju (karena takut juga barangkali, hehe). (SELESAI)

Karanganyar, 16 Agustus 2013

PEMBACA 2 KORAN TIAP HARI TERNYATA AUTIS




Hari Sabtu kemarin, saya menyempatkan diri untuk membayar rekening Koran di kios yang terletak di sebelah timur Taman Pancasila. Sambil menunggu penjual Koran menulis kuitansi, saya mengamati seorang perempuan mendatangi kios.

“Pak, kemarin Koran yang dibeli apa?”
“Jawa Pos dan Kompas,”jawab penjual Koran.
“Sepertinya bukan. Kemarin saya tidak ketemu panjenengan, tapi Ibu,”jawab perempuan seusia dengan saya.
“Memang kenapa bu kalau Koran hari ini sama dengan hari kemarin?”Tanya saya penasaran.
“Anaknya tidak mau membaca Koran dua hari berturut-turut penerbitnya sama.”
“O…” saya semakin tak mengerti.
“Yang membaca Koran ini kan anaknya autis, bu. Tiap hari harus disediakan 2 koran dan semua dibaca. Kalau hari ini Jawa Pos dan Kedaulatan Rakyat, besok harus beda. Misalnya Suara Merdeka dan Solopos. Kalau korannya sama, dia akan marah-marah.”
Saya semakin bengong, o….
“Anaknya umurnya berapa?”
“Dua puluh dua tahun. Dulu sekolahnya di Sukoharjo dan Solo. Sekarang tidak sekolah. Bapaknya adalah seorang pegawai yang memiliki jabatan.”
“Rumahnya mana?”
“Dekat SFA swalayan.”
Setelah membayar dua Koran, perempuan tadi terus pamit, pergi meninggalkan kios. Saya membayangkan, betapa kesendirian anak autis tersebut menjadi ramai dengan membaca. Wawasan, pengetahuan dan berita tetap bisa dia ikuti meskipun dunia luar jarang dia lihat.

Betapa orang tuanya sabar merawat dan membesarkan anak tersebut. Konon, kakaknya normal dan sudah bekerja menyayanginya dengan sepenuh hati.

Anak autis termasuk anak berkebutuhan khusus. Nah, saya jadi ingat dengan dua orang yang pernah berbincang-bincang dengan saya di waktu yang berlainan.

Perempuan pertama mengatakan kalau anak laki-laki saya perlu dibawa ke psikolog. Perempuan yang kedua mengatakan anak laki-laki saya berkebutuhan khusus. Lalu bagaimana sikap saya setelah mendengar orang menilai anak laki-laki saya secara “ngelantur”? Saya hanya tersenyum, tidak marah, tidak sakit hati juga.

Wahai perempuan yang pernah berbincang-bincang dengan saya, anak laki-laki saya normal. Tidak perlu mendapatkan perlakuan khusus. Dia hanya membutuhkan perhatian ekstra, tidak seperti yang Anda katakan.

Saya meninggalkan kios Koran. Motor saya arahkan ke timur beberapa meter, menuju sekolah anak saya. Si kecil sudah menunggu di trotoar. Ketika melihat saya, sambil tersenyum, anak laki-laki saya menunjukkan ikan cupangnya.

00000

Sabtu, 10 Maret 2018

BUKAN SECANGKIR KOPI SUSU TERAKHIR


Umar dan Hakim mengenakan jaket. Keduanya hendak ke bengkel. Fitri membuka plastik berisi kacang rebus.

“Kopi susu tanpa gula,”kata Fitri sebelum Marwan menyiapkan kopi susu panas.
“Tumben tanpa gula. Sepertinya lagi mengurangi karbo ya.”
“Pingin saja.”

Sebentar kemudian kopi susu sudah berada di atas meja.

“Fitri, jangan lupa hari Minggu hadir pada acara pernikahan Santi.”

Sebenarnya Fitri tidak mau membahas hal satu ini, takut nanti menyinggung Marwan. Ternyata Marwan sendiri yang memulainya.

“Insya Allah aku datang pada acara istimewa sahabat karibku.”
“Fit, sebenarnya beberapa hari ini aku mau menanyakan sesuatu padamu tapi kok rasanya berat. Seperti ada beban. Setiap bertemu kamu, rasanya serba salah.”

“Kenapa? Kamu itu seperti berhadapan dengan orang yang baru kamu kenal saja. Bicaralah, aku akan mendengarkan.”
“Fit, 19 tahun kita berteman dan akrab. Demikian juga dengan Hakim dan Umar. Kalian sudah aku anggap saudara sendiri. Kita sering melakukan banyak hal bersama-sama.
Memang, untuk masalah pribadi, kita masih membatasi untuk bercerita. Mungkin kali ini saat yang baik aku mengatakannya padamu.”

Fitri mulai menyimak dengan serius. Kali ini tanpa Hakim dan Umar, jelas suasananya jadi berbeda. Fitri berharap semoga bisa mendengarkan tanpa memotong cerita Marwan. Apapun yang dikatakan Marwan, semoga tidak ada hal yang membuat kecewa.

“Belasan tahun yang silam, istriku pernah mengatakan bahwa dia ikhlas seandainya aku mencari pendamping yang lain. Saat itu, aku tidak menanggapi omongannya.

Mungkin karena aku menganggap bahwa kata-kata  istriku diucapkan ketika dia sedang sakit. Aku berkonsentrasi dalam penyembuhan sakitnya. Aku tidak pernah mempunyai pikiran untuk menikah lagi.

Beberapa bulan terakhir, aku bertemu dengan orang istimewa, yang benar-benar membuatku menyukai orang tersebut. Ketika aku bertanya pada istriku apakah keikhlasannya andai aku menikah lagi, masih berlaku untuk saat ini. Jawabnya adalah ya, masih berlaku.

Aku seperti mendapatkan lampu hijau. Tidak perlu waktu yang lama, aku bisa menyelami orang tersebut. Kamu tahu, siapa yang aku maksud.”

“Siapa?”
“Santi. Tak perlu aku jelaskan mengapa Santi keluar dari kantor. Kamu pasti tahu jalan ceritanya. Aku mau membantu Santi keluar dari masalah. Semoga niat baikku diridhai-Nya.”

“Jadi? Wan, kamu akhirnya sama….” Fitri mengambil beberapa butir kacang lalu ditimpukkan ke arah Marwan.
“Apa-apaan, kamu Fit.”
“Semoga samawa. Salam buat istrimu, mbak Riana. Benar-benar hatinya mulia.”

Keduanya tersenyum. Fitri menyeruput kopi susu buatan Marwan.
“Kopi susu ini bukan cangkir yang terakhir, kan?”goda Fitri.
“Masih ada cangkir yang lain untuk hari esok.” (TAMAT)

00000

Cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama tokoh, tempat, kejadian dan waktu. Itu hanya kebetulan saja.