Tampilkan postingan dengan label faiq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label faiq. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Mulai Fokus Mengajar Baca Tulis Buat Si Kecil

Gambar BUS Karya Faiz
dok.pri
Hari Jumat, 17 Juni 2016 yang lalu Faiz sudah selesai mengikuti kegiatan riang gembira di Taman Kanak-Kanak. Dua tas besar berisi peralatan tulis, menggambar dan ketrampilan dibawanya pulang. Ada pas foto, foto bersama teman TK B, Surat Keterangan Tamat TK. Seperti biasa saya menjemput Faiz pada sore hari.

Saya memiliki alasan khusus untuk menjemput sore hari, sebab kalau siang sudah berada di rumah maka ulah Faiz sukar untuk dikendalikan.  Faiz inginnya berada di luar rumah, itu berarti saya harus ekstra mengawasi. Kalau di dalam rumah paling bermain mobil, gunting-gunting kertas, mainan bedak (semua benda dibedaki). Ibunya tidak boleh cuci piring, cuci baju, setrika, pegang laptop, tidak boleh pegang hape. Ibunya khusus melayani dia, mengajak bicara dan bercerita.

Dengan selesainya Faiz bermain riang di TK, tugas saya sekarang adalah mengajarnya membaca. Faiz, 6 tahun belum bisa membaca. Sepertinya dia tidak fokus. Kalau diajari membaca atau mengenal huruf, ada saja alasannya. Mana yang ngantuk, mana yang lelah, dan alasannya ada saja. Saya tak pernah memaksa. Toh, di luar sekolah Faiz sudah ada les membaca. Tapi ternyata Faiz tidak bisa fokus dan tidak mau diajari.

Hari ini saya ingin mengajarkan membaca/mengenalkan huruf-huruf. Memang dia kadang mau menulis, tapi lebih banyak tidak mau menurut. Ketika saya membuka tas besar dari TK, saya keluarkan alat tulis, buku gambar dan buku tulis. Saya membuka buku gambarnya. Ternyata oh ternyata, saya salah menduga. Gambar Faiz menurutku bagus. Padahal dulu gurunya (waktu TK A, Faiz tidak play group dulu) bilang Faiz kalau mewarnai tidak pernah selesai. Saya mengenal garis-garis gambarnya Faiz. Ya, bus tersebut gambarnya. Dan roket itu juga hasil kerja kerasnya.
Roketnya Faiz
dok.pri
Hasil karya Faiz saya perlihatkan pada kakaknya. Ayah dan kakak juga memuji. Sementara ini, saya harus mengkondisikan pada Faiz untuk belajar membaca. Semoga Faiz mau diajari Ibunya yang super sabar ini. Dulu, waktu masih TK B kakak sudah bisa membaca je, Le. Itu karena kakak manut dan fokus serta tak banyak alasan untuk tidak mau belajar. Ya, anak memang sendiri-sendiri kemampuannya.

Ada kelebihan Faiz, yaitu hafalan surat pendeknya okey banget.

Kamis, 26 Mei 2016

Saling Merindukan

Duo Faiq-Faiz
dok.Faiqah Nur Fajri
Walaupun kalau bertemu tak selalu akur, tetapi keduanya saling merindukan. Buktinya bila kakak tidak ada di rumah, adik selalu mencari/menanyakannya atau sebaliknya. Bagaimana pun karena mereka bersaudara. Tugas saya adalah membuat keduanya saling rindu bila tak bertemu.
Kakak berencana akan ke Yogya liburan besok. Si kecil tidak mau kalah, merengek-rengek pada saya ingin ke Yogya. Kalau sudah begitu, Maminya juga ikutan ke Yogya. Lantas siapa yang menunggu rumah di desa dong?
Rencananya hanya beberapa hari saja ke rumah Bapak-Ibu. Selebihnya, liburan tetap berada di rumah, maklum  Ayah dan Mami memiliki kesibukan untuk bekerja. Kebetulan setelah terima rapor, libur panjang ini bersamaan dengan bulan Ramadhan. Kami harus bekerja ekstra sebab pas Ramadhan waktunya mencari murid.
Kalau kakak lama berada di Yogya, maka adik akan merasa kesepian. Dia merasa tidak ada orang yang bisa diajak ribut. Saya jadi kasihan sama si kecil. Semoga dengan tidak setiap hari selama 24 jam bertemu, Faiq-Faiz saling merindukan. Lalu mereka saling bercerita layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tak bertemu

Karanganyar, 26 Mei 2016

Rabu, 25 Mei 2016

Dua Yang Tak Akur

Duo Faiq-Faiz
dok.Faiqah Nur Fajri
Dua yang tak akur ini memiliki selisih usia 10 tahun. Dhenok tak mau mengalah dan Thole maunya menang sendiri. Saya tak bisa menengahi mereka. Kalau saya menengahi, si Dhenok bilang,”Faiz yang dibela padahal salah.”
Namanya juga anaknya semua, saya tahu banyak hal tentang mereka hingga yang remeh sekalipun. Ketika Dhenok  masih kecil, kehidupan kami masih kurang dan prihatin. Pernah suatu hari, tak ada uang untuk membeli susu (beras tinggal mengambil hasil panenan, makan dengan lauk seadanya, memasak sayur tinggal memetik di sawah), Dhenok merengek minta minum susu. Saya menenangkan Dhenok dan memberinya teh hangat sambil memberi pengertian. Dan saya berjanji esok harinya pulang sekolah membawa susu. Dan saya membawa susu bendera 1 kg, hutang koperasi (potong gaji bulan berikutnya). Saya ingin membahagiakan putri saya yang ketika itu masih berusia 3-4 tahun.  Akan tetapi saya pantang mengeluh pada mertua (kalau saya mau, pasti juga diberi).
Lain halnya dengan Thole, kehidupan kami Alhamdulillah lebih mapan. Masalah rezeki, pokoknya ada saja sumbernya. Akan tetapi Thole memiliki kisah yang sedikit mengharu biru. Sejak kecil, belum ada 1 tahun usianya, Thole masuk rumah sakit karena kejang. Sebenarnya kejang yang dialami Thole termasuk ringan, penyebabnya adalah demam biasa. Demam yang menyertai batuk pilek. Thole dirawat di rumah sakit selama seminggu. Baru seminggu keluar dari rumah sakit, Thole mengalami kejang lagi (masuk rumah sakit lagi).
Sampai umur 3,5 tahun, Thole sudah 4 kali masuk rumah sakit. Tiga kali karena kejang dan satu kali karena muntaber. Dengan demikian, saya tak tega kalau pas tidak akur Thole dimarahi Dhenok. Satu lagi, bulan Nopember 2015, Thole menjalani operasi pemasangan pen karena lengan kirinya patah. Menurut saya sebagai ibunya, lengkap sudah kesusahan Thole. Kalau Dhenok sering marah-marah pada Thole, saya selalu menengahi. Memang Thole itu juga sering usil, memancing kakaknya biar marah.
Dua yang tak akur, kata teman saya, perlu ada yang ketiga. Saya hanya tersenyum. Sepulang dari Tawangmangu kemarin, sore harinya badan saya terasa lungkrah. Buntil tahu dan molen pisang yang saya makan akhirnya keluar pada malam hari. Perasaan saya, kok sama seperti ketika Thole tiduran di dalam perut saya ya. Malam hari, kondisi saya juga tak semakin baik. Tapi tidak muntah, hanya mual saja.
Pagi harinya, perasaan saya kok jadi tidak enak. Di sekolah suasananya jadi terbawa ngantuk pol. Lah, ini kan sama dengan kondisinya ketika Thole diam-diam tidur di dalam perut. Semangat, dua yang tak akur akan ditengahi satu anak yang adil.
Saya bilang pada suami,”Sudah siapkah Ayah dengan satu lagi?”
“Insya Allah, siap.”
“Kalau begitu, atur jadwal, kurangi badminton dan tenis!”
“Wah, itu tidak bisa.”
Nah, betul kan. Dulu ketika Thole lahir, dia bilang siap momong. Tapi sekarang,mau  tenis dan badminton sering main petak umpet dulu. Lalu meninggalkan tangis Thole yang kejer-kejer.  
“Sebelum pergi, beli onemed dulu. Kalau positif, ya mulai besok kurangi acara pergi-pergi.”
Ketika saya melahirkan Thole, usia saya 39 tahun. Kini Thole berusia 6 tahun. Semangat! Mata saya berbinar ketika saya lihat ada satu garis merah. Alhamdulillah, ternyata hanya kurang tidur saja dan kondisi badan tidak seimbang.
Dua yang tak akur, akan Mami jaga dengan sepenuh hati karena kalian memang punya cerita sendiri dengan latar belakang yang tak sama.

Karanganyar, 25 Mei 2016

Senin, 16 Mei 2016

Mangkok, Sendok Bebek Dan Wedang Ronde

Mangkok dawet
dok.pri
Beberapa hari yang lalu, Faiq bernah bertanya pada saya,”Ma, kita punya mangkok buat wedang ronde, tidak?”
“Punya, tapi nggak banyak. Di sana letaknya.”
Saya menunjuk bawah tandon air kosong. Saya pernah membeli mangkok kecil dan sendok bebek. (Saya biasa menyebut mangkok dawet. Dulu ketika saya masih kecil, kalau membeli dawet memang menggunakan mangkok bukan gelas. Sendok bebek lazimnya dipakai untuk makan soto.)
Kata Faiq siswa kelas X Imersi diberi tugas membuat wedang ronde dan cara menyajikannya. Sebenarnya saya mau mengajarkan cara membuat bola-bola ronde, tapi Faiq mengatakan besok saja kalau sudah waktunya. Saya tidak memaksa.
Setelah maghrib, Faiq bertanya kalau mau membuat bola-bola ronde sekarang bisa tidak? Saya jawab tidak bisa, sebab saya hanya memiliki tepung ketan dan gula jawa saja. Saya tak memiliki tepung beras untuk campuran tepung ketan.
“Dipakainya kapan?”
“Besok!”
“Walah, jelas tidak bisa. Tepung berasnya habis, sedangkan sekarang hujan. Faiq kok bilangnya mendadak.”
“Sebenarnya ini tugas teman satu kelompok, tapi mereka tergantung Faiq. Mangkok dan sendok saja Faiq yang sediakan.”
“Kalau bilangnya siang, kan Mama bisa cari bahannya. Nyerah!”
Saya tahu, baru saja Faiq chatting dengan temannya. Biasanya Faiq ready, kalau tidak dadakan. Hujan-hujan begini, siapa mau basah kuyup demi beberapa butir bola-bola ronde? Ya, namanya ABG berpikirnya belum maju. Semoga kelak bisa lebih dewasa lagi.
Karanganyar, 16 Mei 2016