Senin, 14 Maret 2016

Menulis Kisah Inspiratif

MENULIS KISAH INSPIRATIF
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Assalamualaikum, Ibu-ibu, mbak-mbak sholehah yang bergabung di IIDN Solo. Hari ini saya mendapat tugas untuk memberikan materi tentang Menulis Kisah Inspiratif. Sebenarnya kemampuan menulis saya masih biasa-biasa saja, akan tetapi karena ini tugas Negara maka saya harus melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Agar tulisan yang kita sajikan menarik dan memberikan kesan yang mendalam bagi pembaca maka dalam menulis kisah inspiratif ini kisahnya benar-benar menginspirasi untuk orang banyak dan menarik.
Sebelum saya memberikan tips-tips menulis kisah inspiratif, berikut ini akan saya berikan salah satu contoh kisah inspiratif yang pernah saya posting di www.kompasiana.com :
Ini ceritaku tentang membagi sedekah menjelang lebaran.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis kisah inspiratif adalah sebagai berikut:
1.      Pilihlah kisah yang berbeda dari kisah sebelumnya yang pernah ditulis orang lain
Mungkin apa yang akan kita tulis pernah ditulis orang lain. Oleh karena itu tulisan kita harus tampil beda agar tidak terlihat hanya copas semata. Bahasa tulis yang kita gunakan tentu berbeda dengan orang lain. Hasil tulisan yang kita sajikan dari pemikiran kita, isinya menunjukkan karakter penulisnya. Tulisan ala saya akan berbeda dengan tulisan ala dia, meskipun subyeknya sama (orang yang kita tulis kisahnya sama).
2.      Tentukan pesan moral dan hikmah yang akan dipetik
Menulis kisah inspiratif ala saya maksudnya ala kita sebagai penulis, kita paham betul kekuatan tulisan kita. Terutama bagian mana yang akan memberikan kesan atau menyentuh pembacanya. Oleh karena itu pada pesan moral dan hikmah yang akan dipetik, benar-benar ditentukan dan disajikan dengan baik. Pembaca bisa menilai kisah inspiratif kita benar-benar bisa menginspirasi orang lain. Jangan sampai yang kita tulis benar-benar inspiratif tapi pesan moral yang kita tulis tidak menyentuh, nanti kesannya kisah yang kita tulis hanya datar-datar saja.
3.      Gunakan kata ganti orang pertama dengan “aku” dan untuk kisah orang lain bisa kita sebut nama aslinya atau samaran
Penggunaan kata ganti orang pertama dengan “aku” kelihatannya akrab dan familiar dibanding dengan kata ganti “saya”. Kata ganti “saya” terkesan formal. Akan tetapi tidak ada larangan bila kita menulis dengan kata ganti “saya”.
Bila kita menulis kisah orang lain bisa kita tuliskan nama asli atau nama samarannya. Kalau kemudian kita menuliskan kata ganti orang ketiga dengan dia, itu juga tak masalah. Akan tetapi bila yang kita maksudkan adalah orang tua atau orang yang kita tuakan, kita hormati, bisa kita tuliskan dengan kata ganti “beliau”.
4.      Gunakan bahasa ringan dan mudah dicerna
Sebenarnya menulis kisah inspiratif itu gampang kalau bahasa yang kita gunakan ringan, sederhana dan mudah dicerna. Untuk memudahkan kita menulis maka menulislah ala saya (maksudnya ala kita, penulis sendiri).  Bahasa pergaulan sehari-hari akan lebih mudah dipahami pembaca. Namun, perlu kita batasi penggunaan bahasa ini yakni jangan menggunakan bahasa alay. Tulisan kita, kisah yang kita tulis baik, tapi bila menggunakan bahasa alay, maka orang cenderung merasa”sebel” juga.
5.      Libatkan emosi secukupnya
Kalau memang kisah yang kita tulis ada suka dan duka, pasang surut yang harus kita tuliskan maka boleh emosi kita ikut larut, asal jangan berlebihan. Kalau kisah yang kita tulis tidak menggebu-gebu, terkesan tidak menarik. Pembaca yang larut atau terbawa emosinya begitu membaca kisah yang kita tulis, berarti akan kesan yang mendalam dari tulisan kita.
6.      Tulislah sesuai fakta
Menulis kisah inspiratif seseorang harus sesuai fakta. Jangan melebih-lebihan atau mengurangi kisah yang ada. Tulislah kisah itu apa adanya. Tugas kita adalah menyusun kalimat agar kisah berdasarkan fakta ini benar-benar menarik. Kisah dari orang ini sesuai kenyataan bukan rekayasa atau fiktif. Sebab bila apa yang kita tulis tidak sesuai fakta akan menimbulkan kontroversi.

Demikian yang bisa saya sampaikan pada Kelas Menulis Kisah Inspiratif. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Kamis, 10 Maret 2016

GMT dan Operasi Pengambilan Pen

Gambar 1. Makan Lahap
dok.pri
Hari ini, Rabo, 9 Maret 2016 saya dan suami mendampingi si kecil sing bagus dewe yang akan menjalani operasi pengambilan pen (platina yang dipasang di lengan atas kirinya). Meskipun libur Hari Raya Nyepi dan bertepatan dengan GMT tahun 2016, RS Kustati, Kota Surakarta, Jawa Tengah, tetap melayani operasi seperti yang sudah dijadwalkan. Memang jadwal operasi khusus hari ini mundur dari jadwal hari-hari biasa karena Tim Medis (dokter dan perawat) yang akan melakukan tindakan operasi melaksanakan shalat Gerhana di masjid terdekat sekitar rumah sakit terlebih dahulu.
Saya dan suami tidak dapat ikut melaksanakan shalat gerhana karena harus mengantri. (Bagian administrasi tetap berjalan, sejak jam 5 pagi, saya mulai mengantri jam 5). Di loket pendaftaran mengantri tidak terlalu lama. Akan tetapi sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang mengantri. Rata-rata mereka control (khusus orthopedic) dan mau operasi (tulang).
Sebelumnya saya sampaikan terlebih dahulu, Faiz anak saya yang kedua pada minggu keempat bulan Nopember mengalami patah tulang lengan kiri (di atas siku). Tanggal 26 Nopember 2015 menjalani operasi pemasangan pen. Saat akan pulang, Faiz diminta banyak latihan memegang hidung, telinga kiri, kanan dan memegang mulut. Dua minggu kemudian (8 Desember 2016), ketika control, dokter menyarankan untuk memberikan latihan memindahkan kelereng ke tempat yang lebih tinggi (latihan meluruskan tangan) dan gerak bebas. Tanggal 8 Januari 2016, control yang kedua disarankan oleh dokter untuk latihan melempar bola voli/bola basket. Pada saat control ini Faiz juga diminta untuk foto Rontgen. Ternyata posisi pen dan tulang sudah baik. Dua bulan berikutnya, tanggal 7 Maret 2016, control lagi dan dokter mengatakan pen bisa dilepas.
Suami saya memilih tanggal 9 Maret 2016. Padahal tanggal itu sebenarnya saya mau menhadiri acara Kopdar Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo, di Sukoharjo. Terpaksa saya izin, tidak ikutan kopdar.
Operasi akan dilaksanakan hari Rabu, 9 Maret 2016 pagi hari. Mulai jam 1 dini hari, Faiz harus berpuasa. Hari Selasa, sewaktu makan malam saya menyuruh Faiz makan yang banyak.  Jam 9 saya membangunkan Faiz untuk minum susu. Kemudian menunggu jam 12 malam untuk menyediakan minum susu yang terakhir, saya tidak tidur. Saya mengisi malam dengan membuka facebook dan menulis blog. Takutnya kalau saya memejamkan mata malah bablas tidur sampai pagi. Kasihan Faiz, bakalan kelamaan puasanya. Jam 12 lebih sedikit saya membuat susu buat Faiz. Lalu saya bilang padanya setelah ini sudah tidak boleh makan dan minum. Dia oke-oke saja. Yes, Alhamdulillah.
Awalnya Faiz diambil sampel darah untuk kemudian diperiksa. Sebagai simbok yang sudah beberapa kali menunggu anak-anak periksa di UGD, saya harus tega melihat Faiz dicoblos jarum. Ketika mulai di lengannya diikat dengan karet, saya menutup mata Faiz agar tak melihat tangannya dicoblos jarum suntik.
Alhamdulillah, tidak nangis sama sekali. Wah ini simboknya berhasil. Setelah pengambilan sampel darah selesai, kami keluar untuk menunggu tahap berikutnya. Tahap berikutnya adalah memberi tanda bagian yang akan dioperasi. Siku Faiz diberi lingkaran hijau. Beberapa saat kemudian Faiz masuk ruang operasi (ruang tunggu, antri operasi). Saya ikut melepas pakaian Faiz dan mengganti dengan pakaian khusus.
Saya bisikkan pada Faiz, Faiz berdoa ya. Bismillahirrohmannirrohim. Mama tunggu di luar, assalamualaikum. Saya keluar, suami menunggu Faiz di dalam. Beberapa saat kemudian saya mendengar teriakan anak kecil. Sepertinya suara Faiz, sebab yang masuk ruang operasi tadi tidak ada anak kecil selain Faiz. Sebentar kemudian suami keluar dari ruangan. Berarti Faiz sudah dibius. Saya tanya,”Faiz dicoblos lagi ya?” Ternyata pemasangan infuse mengalami kesulitan karena ketika dicoblos Faiz menarik tangannya. Sedangkan suami juga orangnya gak tegaan. Waduhh.
00000
Ketika menunggu jalannya operasi, saya sempat berbincang-bincang dengan keluarga pasien dari Pati. Pasiennya seorang batita cantik yang kakinya patah. Ceritanya bikin air mata terus berlinang. Teringat waktu Faiz jatuh dan mau memasang pen 4 bulan yang lalu.
Sekitar jam 10 Faiz keluar dari ruang operasi dalam keadaan belum sadar. Saya dan suami beserta 2 orang petugas menuju zal. Di zal I C1 seorang perawat sudah siap menerima kedatangan pasien. Setelah Faiz dipindahkan ke tempat tidur, mbak perawat cantik tadi berpesan bla-bla-bla. Sip. Pesannya, jangan lupa sebentar-sebentar dibangunkan.
Suami berada di dekat Faiz. Sesekali menepuk-nepuk pipi Faiz pelan sambil mengucap salam. Di dekat Faiz, suami juga melantunkan zikir. Pokoknya Faiz harus mendengar apa yang diucapkan suami seperti ketika akan dibius tadi.
Alhamdulillah, matanya sudah terbuka. Kembali kami mengucap salam. Yang pertama kali disebut adalah ayah. Lalu mama, dan yang terakhir kakak. Beberapa saat kemudian minta diteleponkan ke kakak. Pingin mendengar suara kakak.
Setelah itu Faiz tidur lagi. Masih mengantuk. Paling cepat jam 1, Faiz baru boleh minum air putih. Setelah benar-benar sadar dan sudah kentut sampai 3 kali rupanya anak itu ingin makan. Baru beberapa butir nasi yang masuk mulut, Faiz batuk, muntah berupa air seperti ludah dalam jumlah banyak. Mungkin dia merasa mual-mual dan ingin muntah.
Jam 5 sore, Faiz minta biscuit. Saya beri sedikit saja dan sedikit air putih. Sepertinya perutnya sudah nyaman untuk kemasukan makanan. Alhamdulillah, Faiz sehat. Sebelum pulang saat makan sore hari rakus banget. Tempe satu potong, hati ayam, sop, nasi sepiring (tinggal 2 sendok), disantap dengan lahap.
Setelah maghrib Faiz diizinkan pulang. Cepat sembuh ya le. Jangan ngantuk di jalan ya le. Soalnya kita hanya naik sepeda motor. Saya bersyukur, memasuki kawasan Karanganyar, jalanan basah. Sore sebelumnya hujan deras (reportasenya anak saya perempuan yang seharian berada di rumah adik ipar). Ketika pulang nggak ada hujan, nggak ada badai.
Sampai di rumah, Faiz makan roti bakar dan masih minta mie goreng milik ayah. Wah, maruki iki jenenge. Ya wis, rapapa thole sing bagus dewe.
Ketika Faiz mulai tidur, Alhamdulillah saya bisa memejamkan mata lebih awal. Pagi harinya saya dan suami harus mengajar. Faiz yang masih malas-malasan terpaksa seragam tidak saya pakaikan. Biarlah dia memakai baju bebas dan tidur di Taman Penitipan Anak dulu.
Di sekolah, saya masih mengantuk dan akhirnya pusing pun datang. Tetap kuat, kuat, dan kuat. Anak sakit jangan digunakan alasan lantas tidak produktif.
Karanganyar, 9-10 Maret 2016
Catatan : maruki = makan dengan lahap setelah tidak makan dalam jangka waktu lama

Sumber bacaan:

Batita Terpeleset, Kakinya Patah

Gambar 1. Ruang Operasi
dok.pri
Hari ini, Rabo, 9 Maret 2016 saya dan suami mendampingi si kecil yang akan menjalani operasi pengambilan pen (platina yang dipasang di lengan kirinya). Meskipun libur Hari Raya Nyepi dan bertepatan dengan GMT tahun 2016, RS Kustati tetap melayani operasi seperti yang sudah dijadwalkan. Memang jadwal operasi khusus hari ini mundur dari jadwal hari-hari biasa karena Tim Medis yang akan melakukan tindakan operasi melaksanakan shalat Gerhana di masjid sekitar rumah sakit terlebih dahulu. Saya dan suami tidak dapat ikut melaksanakan shalat gerhana karena harus mengantri. (Bagian administrasi tetap berjalan, sejak jam 5 pagi, saya mulai mengantri jam 5).
Di sini saya bukan mau menceritakan tentang operasi pengambilan pennya Faiz, melainkan menceritakan kembali pengamatan saya waktu menunggu Faiz yang sudah dibawa masuk ke ruang operasi. Saya berada di luar ruang operasi, sedangkan suami tetap mendampingi Faiz sampai Faiz dibius.
Sejak mengantri di bagian administrasi pagi-pagi, saya mendengar tangisan keras anak kecil yang tiada henti. Dalam hati saya miris, Ya Allah, sakit apakah si kecil hingga menangis kok tidak berhenti? Bagaimana bapak dan ibunya menghadapi anaknya yang rewel terus-terusan. Mungkin anak itu tidak tidur semalam. Tentu saja bapak ibunya juga begadang semalaman.
Sebuah tempat tidur didorong/ditarik  2 orang perawat. Seorang lelaki muda berada di sisi tempat tidur. Di atas tempat tidur ada batita yang menangis “kejer-kejer” tidak berhenti, posisi duduk dengan kaki diperban. Astaghfirullah, jadi, anak kecil ini yang sejak tadi menangis? Seorang ibu muda duduk di kursi panjang di depan saya. Sepasang suami isteri mendekati ibu muda tadi. Ibu muda dan ibu yang barusan datang (saya memperkirakan ibunya) sambil berpelukan terisak. Beberapa orang mendekati mereka, mungkin saudara-saudaranya. Saya pindah tempat duduk agak jauh.
Tangis si kecil tetap kuat. Hati saya benar-benar ikut tersayat perih. Lebih dari setengah jam bapak muda yang menunggu di dalam keluar setelah suara tangis si kecil reda. Bapak muda duduk lesu, di sampingnya ada lelaki separuh baya yang mengusap punggung bapak muda. Bapak muda itu menangis, benar-benar menangis. Melihat adegan itu, tak kuasa mata saya ikut berkaca. Air mata saya ikut tumpah.
Kok saya bisa seperti itu? Sebab 4 bulan yang lalu saya mengalami hal yang sama. Faiz jatuh dan tangannya patah. Saya benar-benar menyesal. Saya ingat betul, malam hari sebelum paginya Faiz dioperasi, Faiz menangis menahan sakit. Bagaimana ibunya tidak perih tersayat hatinya melihat anaknya yang tak berdosa menanggung penderitaan seperti itu? Saya yakin orang lain akan melakukan hal yang sama dengan saya-suami dan pasangan muda tadi.
Saya dan orang-orang, keluarga pasien yang menjalani operasi berpindah tempat. Menunggu di ruang tunggu jalan keluar setelah pasien dioperasi. Pasangan muda tersebut duduk berdampingan di kursi depan. Sedangkan bapak dan ibu dari sang isteri pasangan muda tadi duduk di belakang saya. Ada saudaranya yang duduk di samping saya.
Ternyata mereka berasal dari Pati, Jawa Tengah. Anak kecil yang menangis tadi usianya belum dua tahun. Saya tak sempat menanyakan nama anak kecil. Gadis kecil tadi lagi senang-senang berjalan. Badannya memang kecil (berat badan kurang dan memprihatinkan), ibunya mengalami kesulitan untuk membujuk agar anaknya doyan makan. Sejak lahir memang ada masalah dengan kondisi kesehatan batita tadi.
Kata saudara yang duduk di samping saya, batita tadi terpeleset saat akan ke kamar mandi bersama ibunya. Ceritanya begitu. Hari Senin (2 hari yang lalu) dibawa ke RS Kustati ini. Bagi saya sedikit cerita ini sangat bermanfaat.
Saya beranjak dan berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu, sekedar menghilangkan penat dan menghilangkan kantuk yang mulai menyergap. Semalam saya kurang tidur. Faiz mulai jam 1 malam harus puasa. Jadi saya jam 9 harus membangunkan Faiz untuk minum susu. Kemudian menunggu jam 12 malam untuk menyediakan minum susu yang terakhir, saya tidak tidur. Saya mengisi malam dengan membuka dan menulis blog. Takutnya kalau saya memejamkan mata malah bablas tidur sampai pagi. Kasihan Faiz, bakalan kelamaan puasanya. Jam 12 lebih sedikit saya membuat susu buat Faiz. Lalu saya bilang padanya setelah ini sudah tidak boleh makan dan minum. Dia oke-oke saja. Yes, Alhamdulillah.
Jam setengah satu satu tidur, jam setengah 4 bangun untuk menyiapkan semuanya dan siap meluncur ke rumah sakit. Tiga jam saja saya memejamkan mata.
Sekitar jam 10 Faiz keluar dari ruang operasi dalam keadaan belum sadar. Saya dan suami beserta 2 orang petugas menuju zal. Di zal I C1 seorang perawat sudah siap menerima kedatangan pasien. Setelah Faiz dipindahkan ke tempat tidur, mbak perawat cantik tadi berpesan bla-bla-bla. Sip. Pesannya, jangan lupa sebentar-sebentar dibangunkan.
00000
Saya minta izin pada suami untuk shalat di mushola. Ketika masuk mushola, saya melihat bapak muda, bapaknya si batita tadi keluar mushola.  Setelah sholat, saya melihat beberapa orang yang saya temui di depan kamar operasi dan ruang tunggu tadi pagi. Ternyata pasien batita tadi berada di kamar kelas 2, dekat mushola.
Sore hari Faiz sudah benar-benar sadar. Saya izin pada suami mau jalan-jalan sebentar. Saya menemui/menengok batita kecil cantik di zal. Keluarga ini ingat saya. Tapi untuk pasangan mudanya atau orang tua batita tadi, tidak tahu saya sama sekali. Setelah berbincang sebentar, saya ikut mendoakan agar si kecil lekas sembuh dan kembali pulih seperti semula. Akhirnya saya pamit.
Mungkin keluarga yang baru saya kenal ini heran. Orang kenalnya juga pas di rumah sakit kok tiba-tiba nengok.  Tapi tak apalah, sama-sama mendoakan. Semoga cepat sembuh.
Setelah maghrib Faiz diizinkan pulang. Alhamdulillah, Faiz sehat. Sebelum pulang saat makan sore hari rakus banget. Tempe satu potong, hati ayam, sop, nasi sepiring (tinggal 2 sendok), disantap dengan lahap. Cepat sembuh ya le. Jangan ngantuk di jalan ya le. Soalnya kita hanya naik sepeda motor. Saya bersyukur, memasuki kawasan Karanganyar, jalanan basah. Sore sebelumnya hujan deras (reportasenya anak saya perempuan yang seharian berada di rumah adik ipar). Ketika pulang nggak ada hujan, nggak ada badai.
Sampai di rumah, Faiz makan roti bakar dan masih minta mie goreng milik ayah. Wah, maruki iki jenenge. Ya wis, rapapa thole sing bagus dewe.
Karanganyar, 9-10 Maret 2016

Catatan : maruki = makan dengan lahap setelah tidak makan dalam jangka waktu lama

Senin, 07 Maret 2016

Hidup di Era Cekrek-cekrek

Pasangan serasi
dok.pri
Saya sering membandingkan hidup di masa kecil dulu dengan sekarang. Kepada anak saya yang mulai beranjak remaja, saya selalu memberikan nasehat. Padahal dulu waktu saya seusia dhenok, Ibu dan Bapak tak banyak memberikan nasehat, hanya yang penting-penting saja.
Mungkin karena masanya berbeda sehingga saya harus ekstra memberi nasehat. Tak perlu banyak hingga berbusa, sedikit nasehat yang penting mengena. Oleh karena itu saya harus memilih kata yang berkualitas. Tidak sembarang kalimat saya sampaikan. Saya harus hemat energy untuk yang satu ini.
Saya sering bilang ke dhenok, diawali dengan kata ketika mama kecil, ketika mama seusiamu, ketika mama kuliah dan lain-lain. Mengapa saya mengawali pembicaraan dengan kata-kata itu? Agar dhenok bisa membayangkan Ibu yang akan bicara ini usianya seperti dia dengan segala keimutannya.
Kalau sekiranya dhenok bisa menerima dan sesuai kemauannya dia tak berkomentar apa-apa, tapi kalau tak sesuai biasanya dia akan bilang,”itu dulu mah. Dulu dan sekarang jelas beda.” (episode pembangkangan)
“Tapi adab sopan santun, adab bergaul dalam Islam, pendidikan akhlak sejak dulu sampai sekarang tetap sama. Jaman memang sudah banyak berubah. Sekarang dibilang jaman modern, kalau yang dulu dianggap kuno. Tapi lihat anak-anak jaman sekarang yang dibilang modern, jauh berbeda dengan anak-anak jaman dulu yang dianggap kuno. Yang dulu dianggap tabu dan memalukan, sekarang disebut modern, wajar dan biasa saja.
Semua kembali pada masing-masing anak, masing-masing keluarga. Mama yakin, orang tua sekarang ketika masih remaja  yang dididik dengan disiplin dan keras oleh orang tuanya maka mereka juga akan melakukan hal yang sama. Kata-kata larangan menunjuk mengapa tidak diizinkan tapi dengan alasan kuat.
Coba lihat anak-anak yang tidak dilarang ini-itu, mereka akan cenderung bebas tak terbatas (meskipun tidak semua). Carilah sendiri contohnya dari teman yang kamu kenal. Carilah perbedaan temanmu yang dididik dengan beberapa larangan dan yang bebas tak terbatas.”
00000
Sekarang jamannya cekrek-cekrek, sedikit-sedikit cekrek. Apa sih cekrek-cekrek? Saya hanya mengambil kata-kata dari anak muda jaman sekarang. Cekrek-cekrek alias foto-foto. Orang yang usianya hampir sama dengan saya, ketika remaja memasuki tahun 80 an sampai sebelum tahun dua ribu, mereka tak mungkin sebentar-sebentar selfi. Foto diri saja tidak dilakukan apalagi memotret kerbau yang ada di sawah bukan untuk keperluan fotografi.
Mengapa orang jaman dulu kok tidak sedikit-sedikit cekrek? Ya, iyalah. Wong mau foto saja uba rampenya banyak. Kamera, film, lalu nanti cuci film, mencetak foto, yang duitnya untuk mendapatkan satu lembar foto lumayan banyak. Jangankan untuk foto, untuk transport sekolah dan jajan saja tidak cukup. Lain dengan anak sekarang berani lapar yang penting selfi dan hape ada pulsa/kuota internetnya.
Anak sekolah dan mahasiswa yang belum kerja jaman dulu, yang penting belajar dan bisa beli buku. Jajan juga seadanya, sewajarnya saja. Paling pol kalau mau ulangan/ujian bila tak belajar mengandalkan senjata berupa kertas panjang berisi rumus praktis. Mungkin juga melirik sana-sini.
Berbeda dengan anak-anak sekolah (termasuk mahasiswa) sekarang, tidak belajar ya tetap santai-santai saja. Ada mbah google yang siap membantu asal tidak ketahuan. Syukur-syukur bisa cekrek soal lalu kirim ke orang yang pintar, yang kira-kira bisa membantu menjawab.
Kembali ke masalah cekrek tadi. Orang mau makan saja makanan difoto. Orang mau mandi update status dengan disertai foto. Kegiatan apapun ditulis dalam status lalu mengunggah foto. Ini dilakukan terutama anak-anak yang masih berada pada masa puber. Ada yang mengambil gambar ketika berenang atau jajan bareng di kafe sama teman-temannya. Lalu update status bla-bla-bla. Ealah, mungkin si anak tak tahu diri. Berani nulis status macam-macam, padahal orang tuanya ngutang tetangga sana-sini udah lama nggak lunas-lunas. Kalau orang tuanya punya duit bukan untuk mengurangi hutang dengan cara mencicil malah untuk membeli gaya hidup. Prang preng….(episode ngajak perang)
Kalau tahu status yang ditulis  anak tetangga yang ngutang, rasanya pemberi pinjaman tersebut gemes sekali. Nah, ini yang rada serem. Akhir-akhir ini heboh foto yang beredar di dunia maya. Seorang anak SD biasa cekrek-cekrek. Berlanjut setelah pra remaja juga cekrek-cekrek. Ketika dewasa juga update status dengan foto-fotonya. Padahal fotonya dinilai orang tidak layak dipertontonkan. (konon kabarnya, fb itu akun abal-abal). Apapun alasannya, entah itu untuk koleksi pribadi atau untuk apa saja, sebagai orang tua saya kok prihatin dan miris. Pergaulan anak jaman sekarang kok parah banget (episode prihatin sebagai guru).
(Akhirnya ada klarifikasi dari orang yang ada di foto, bahwa foto tersebut sengaja disebarluaskan oleh orang yang sakit hati dan dendam). Kalau ada anak (pasangan remaja) yang berani memperlihatkan kemesraan di depan umum, mungkin ketika tidak di lihat umum akan melakukan tindakan yang lebih. Apalagi di dalam foto yang memperlihatkan kemesraan pasangan remaja yang bukan pasangan suami-isteri (istighfar, istighfar).
Kalau demikian, siapa yang akan ditunjuk pertama kali untuk disalahkan? Saya yakin tidak langsung sekolahnya, melainkan anaknya siapa alias orang tuanya. Ke mana orang tuanya selama ini? Sudah memantau sejauh mana pergaulan putra-putrinya? Seberapa jauh komunikasi antara orang tua-anak? Bagaimana hubungan antara orang tua dan anak? Sehat-sehat saja, tidak dekat, atau malah tidak berkomunikasi sama sekali?
Anak sedikit-sedikit cekrek, tidak masalah. Justeru arahkan ke hal positif. Beri dukungan pada anak-anak, agar cekrek-cekreknya bermanfaat apalagi bisa menghasilkan uang. Menjadi orang tua tanggung jawabnya besar. Orang tua bukan hanya sebagai mesin uang yang siap 24 jam bila diperlukan anak. Tapi orang tua juga wajib berkomunikasi, meluangkan waktu untuk bicara terutama dengan anak-anak yang menginjak remaja. Jangan menggunakan sisa waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak, tapi luangkan waktu secukupnya.
Orang tua jaman sekarang juga harus mengenal teknologi. Kalau perlu orang tua juga memiliki akun di medsos, bertemanlah dengan anak-anak, agar kita bisa memantau anak. Kita juga tahu kelayakan status yang ditulis anak. Kalau tak layak, kita bisa mengingatkan untuk menghapus status atau foto yang diunggah.
00000
Tetap boleh cekrek-cekrek di jaman sekarang asal ada kepentingan yang mendasar. Batasi dan lakukan foto-foto hanya sebatas yang tak menimbulkan kontroversi. Jangan sampai foto kita hanya menjadi sampah. Kalau foto kita dianggap bisa dikomersialkan, tentu saja pihak-pihak tak bertanggung jawab akan menyalahgunakan. Siapa yang rugi? Jelas kita! Sebagai orang yang beradab, lakukan semua hal sesuai adab.
Karanganyar, 7 Maret 2016
Sumber:
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/hidup-di-era-cekrek-cekrek_56dd34c6c322bd610d096b9a

Sabtu, 05 Maret 2016

Jangan Dendam, Karena Dendam Memerlukan Energi Besar

Ketika Nok Fai masih TK, dia termasuk anak yang mengalah dan tak mau membalas kenakalan teman-temannya. Saya tak menyalahkan guru TK yang tak mampu mengatasi kenakalan siswanya yang banyak. Tapi saya berpesan, seandainya anak yang usil tetap mendekati anak-anak yang cenderung pendiam, mohon Fai dijauhkan dari teman yang usil tadi.
Setelah beberapa kali mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, saya mulai berpesan pada Fai (waktu itu sudah masuk klub Tae Kwon Do),”Fai, keluarkan kekuatanmu, balaslah mereka yang usil sama sesuai keusilannya. Jangan diam saja. Fai tidak lemah. Mereka akan terus mengganggu Fai kalau Fai diam saja.”
Suatu ketika ada teman yang bilang Fai nakal. Ah, saya tidak percaya. Fai, anak perempuan, badannya kecil, selama ini Fai diusili temannya. Saya berpikir, Fai hanya membalas saja. Ketika di rumah Fai bercerita tentang hal-hal yang membuatnya nyaman. Membalas perbuatan teman laki-laki yang usil.
Akan tetapi saya tidak mengajarkan padanya untuk dendam. Ada kejadian yang membuat dada saya berdegup kencang. Waktu saya menjemput Fai di TK, gurunya bilang,”Bu, maafkan kami. Fai tadi didorong temannya, Faiz (Faiz ini temannya lo, bukan nama adiknya). Fai jatuh, dagunya ada luka dalam. Kami sudah mengobatinya. Nanti kalau keluarga membawa ke rumah sakit, biayanya biarlah ditanggung sekolah.”
“Semoga tidak terjadi apa-apa,”kata saya.
Faiz, temannya yang ini usilnya minta ampun. Tapi saya masih menganggap ah itu kenakalan anak-anak saja. Hanya saya sayangkan ketika sama-sama menjemput, ibunya Faiz tidak mengucapkan apapun. Sikapnya biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Kalau sudah seperti itu apakah saya harus meminta Fai untuk membalas mendorong hingga dagunya Faiz bonyok? Tentu saja jawabnya tidak. Memaafkan saja, itu sudah cukup. Akan tetapi saudara saya berpendapat lain. Kata mereka kalau temannya nakal, ajari Fai membalas. Beda mereka, beda saya.
Memaafkan itu tidak membutuhkan energy banyak. Sedangkan dendam memerlukan energy besar. Memaafkan tak memerlukan syarat. Sedangkan dendam syaratnya berat. Setiap bertemu dengan orang yang kita dendam padanya, hati ini, muka ini, mulut ini akan merasa sakit. Raut wajah kita tak bersinar, cemberut dan lain-lain. Rugi besar, menurut saya.
Suatu hari seorang teman mengatakan pada saya,”Bu Ima, panjenengan ini kok gampang sekali memaafkan orang lain. Lalu berusaha untuk mendahului menyapa orang lain yang mendiamkan panjenengan (bahasa Jawanya nyanak-nyanak). Sepertinya panjenengan tidak terbebani melakukan semua ini. Ringan saja.”
“Hidup di dunia sekali saja. Maafkan mereka dan berbuat baik. Perkara mereka tetap dendam dengan saya itu bukan urusan saya. Saya tidak tahu kapan saya pulang kampung (meninggal), kalau bisa sebelum kembali saya telah menyelesaikan urusan dunia saya.”
Itu prinsip saya. Terserah pendapat orang lain. Kita punya jalan hidup masing-masing. Saya juga tak memaksa orang lain sama dengan saya.
00000
Suatu saat seorang teman ada yang bilang pada saya. Beliau takut bila tiba-tiba meninggal padahal masih ada dendam pada orang lain. Sebenarnya beliau ingin menghilangkan dendam. Tapi rasa gengsi itu menyebabkan beliau tak mau memulai untuk menyapa lebih dahulu. Akibatnya, bila bertemu mukanya sudah masam tak karuan. Mau tersenyum saja rasanya berat karena kelihatan sekali kalau senyumnya hanya dibuat-buat.  
“Tidak ada salahnya memulai menyapa. Toh menyapa tak mengeluarkan biaya. Tersenyum energy yang kita keluarkan hanya sedikit.”
“Tapi hati saya kok berat.”
“Itu godaan syetan.” (Lah, kok saya jadi melibatkan syetan dan menyalahkan syetan ya hehe)
Saya tak memaksa, ya terserah beliau saja. Toh semua menjadi tanggungannya. Di dunia saja beliau menanggung beratnya bila bertemu.
Saya tak menyangka sama sekali dengan apa yang diceritakan teman saya baru-baru ini. Karena dendamnya pada orang, beliau sampai meminta kepada Allah untuk mengabulkan permintaannya. Yaitu membalas perbuatan mereka yang telah mendholiminya, dengan cara memberi peringatan keras berupa musibah.
Sungguh, saya tak habis mengerti mengapa bisa sampai seperti ini. Dan benar, orang yang didoakan kena musibah berturut-turut anggota keluarganya mengalami musibah berat. Dengan ringan beliau mengaku ada sedikit penyesalan tapi merasa bahwa Allah mengabulkan doanya dan beliau berkata itu musibah yang dialami sudah setimpal dengan perbuatannya.
Saya tidak mau membuat masalah, tidak mau dianggap ceramah di siang bolong dan dibilang hari gini masih ada orang yang mudah memaafkan.
Kalau saya yang mengalami hal yang dialami teman saya, saya akan memaafkan perbuatan orang yang telah menyakiti dan mendholimi saya. Minimal, kalau saya ketemu dengan orang yang menyakiti saya, hati saya tidak bergedup kencang dan muka saya tidak masam.
Memaafkan orang memang tidaklah gampang, tapi setidaknya hindarilah dendam kesumat.
Karanganyar, 5 Maret 2016 

Kamis, 03 Maret 2016

Rica-rica Menthok Pedasnya Pas

Pulang sekolah, saya dan dua orang teman yang sudah seperti saudara mampir warung makan yang berimpit Stadion 45. Sadion 45 terletak di Cerbonan, Kal. Karanganyar,  Kec. Karanganyar, Kab. Karanganyar. Kami sudah sering makan siang di warung makan ini. Warung makan ini menyediakan rica-rica menthok dan menthok goreng (dan sambalnya).

Kami pernah mencoba menikmati menthok goreng, tapi pelayanannya agak lama karena harus menunggu menggoreng. Padahal rasa menthok goreng, sambal dan lalapan ini pas banget. Akhirnya kami memilih rica-rica menthok saja. Pedasnya mantap, bumbu rempahnya terasa banget dan tidak terasa amis. Teksturnya lumayan empuk.

Soal harga juga teramat terjangkau. Satu porsi rica-rica menthok @ Rp. 10.000,00, nasi putih @ Rp. 3.000,00, teh hangat Rp. 1.500,00 dan jeruk hangat Rp. 2.000,00.

Menyantap rica-rica menthok membuat badan menjadi hangat karena bumbu rempahnya yang kuat. Kuliner ini termasuk tidak mahal alias harganya masih wajar, mengingat masih ada yang menu masakan lain di tempat yang berbeda yang harganya lebih dari itu.

Bagi saya sesekali mencoba masakan/menu Jawa di warung makan tidak ada salahnya. Apalagi kalau mendapatkan gratisan dari teman. Oh ya, saya sering makan siang bersama teman-teman. Tentu saja kami sudah biasa saling traktir. Tiap beli maksi di warung, selalu ada bendahara yang siap ke kasir dengan cara bergantian.

Saya melakukan ini sepengetahuan suami, sebab suami juga sama dengan saya. Bergantian menjadi bendahara kalau makan bareng di warung bersama teman-teman guru lainnya. Alhamdulillah, dengan seperti ini rezeki lebih barokah. Terbukti, bila maksi bersama teman-teman nanti sorenya sudah tak perlu makan lagi.

Lo, anak-anak bagaimana? Anak saya, si dhenok. juga hobi banget makan rica-rica menthok biarpun huha-huha kepedasan. Sedangkan si thole sukanya makan lele warungnya Mas Pendek. Tapi tetap saja di rumah sedia nasi, telur, tempe, rempeyek kacang, rempeyek gereh, mie instan dan sayuran sop. Sebab yang saya sebutkan adalah wajib ada.

Nah, bagi Anda yang suka mencoba mencicipi makanan, saya merekomendasikan rica-rica menthok Stadion 45 Kab. Karanganyar untuk dicoba. Dijamin tidak kecewa dan bakalan ketagihan.

Karanganyar, 3 Maret 2016

Selasa, 01 Maret 2016

Melihat Lebih Dekat Siswa Yang Melaksanakan PSG

Hari ini saya, Bpk Muljadi dan Bpk Moh. Hardiyanto melakukan kunjungan ke DU/DI tempat siswa SMK Tunas Muda melakukan PSG (Pendidikan Sistem Ganda). Mula-mula kami mengunjungi Tri Susilo Mahendra yang belajar di bengkel Bubut dan Milling di Pereng Mojogedang. Ketika kami ke sana, Susilo sedang melakukan suatu pekerjaan. Sip, selama ini anaknya rajin, begitulah menurut cerita pemilik bengkel.

Gambar 1. Susilo membubut benda kerja
dok.pri
Yang kedua yaitu ke Bengkel Si Doel. Bengkel mobil spesial modifikasi dan aksesoris (utamanya mobil Jeep). Letaknya di sebelah utara Bromo Mojogedang. Di sini saya sebagai pembimbing harus mengunjungi Nandhy Febri dan Joko Santosa. Akan tetapi Joko sedang izin tidak masuk PSG karena sedang mengikuti lomba pencak silat POPDA Kab. Karanganyar. Yang ada hanya Nandhy dan teman-teman dari lain sekolah. Pekerjaan Nandhy termasuk beres, karena si anak memang bakatnya sregep dan terampil. Lanjutkan Nandhy, ayo semangat. 
Gambar 2. Nandhy di Bengkel Si Doel
dok.pri
Yang terakhir, kami balikke arah dekat sekolah yaitu ke Ngijo Tasikmadu. Bengkel yang kami tuju hampir sama dengan bengkel kedua yaitu Bengkel mobil spesial modifikasi dan aksesoris (utamanya mobil Jeep). Di bengkel ini Bapak Hardiyanto akan membimbing Berlian dan berkonsultasi dengan pembimbing dari DU DI.
Gambar 3. Berlian in action
dok.pri
Dari ketiga bengkel yang kami kunjungi, pemiliknya semua ramah dan bisa diajak kerja sama. Semoga anak-anak rajin dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Bimbingan dari pemilik bengkel sangat diharapkan agar anak-anak bisa lebih maju. PSG adalah tempat yang cocok untuk belajar terjun ke dunia kerja secara langsung.
Gambar 4. Pembimbing Sekolah dan DU DI
dok.pri
Dengan PSG, diharapkan semua siswa lebih terampil, mandiri, disiplin dan bertanggung jawab.

Karanganyar, 1 Maret 2016