Selasa, 21 Juni 2016

Mari Menabung Emas di Pegadaian

Buku Tabungan Emas
dok.pri
Mengapa mengajak menabung emas di pegadaian? Wah, jangan-jangan saya promosi karena dapat bonus kalau berhasil membawa satu atau beberapa orang nasabah? Ah, tidak juga. Jangan berprasangka yang bukan-bukan. Tapi, mengapa saya tidak mengajak menabung emas terserah tempatnya mau di mana? Ya, karena saya memiliki alasan tertentu yang mungkin menguntungkan kita kalau menabung emas di pegadaian. Mau tahu alasan saya?


Pertama, ringan. Karena kita bisa menabung dengan cara mencicil (menabung) dengan tabungan mulai enam ribuan rupiah saja. Dengan enam ribuan rupiah kita bisa mendapatkan 0,01 gram emas (lebih sedikit). Coba kalau kita ke toko emas, apa mungkin dengan uang enam ribuan kita bisa membawa pulang emas? Setahu saya, yang ada di toko emas entah itu bentuk perhiasan atau keping, berat emasnya pasti lebih dari 0,01 gram. Dengan demikian, kita harus membawa uang dalam jumlah banyak bukan?

Kedua kadar emas 24 karat. Memang di toko emas juga ada keping emas dengan kadar 24 karat, tapi kita harus membeli minimal dengan berat yang sudah ada di toko. Kalau untuk perhiasan kadar emasnya bervariasi. Sebagian besar kadar emas perhiasan di bawah 90%.

Ketiga emas bersertifikat PT ANTAM, sekarang pegadaian juga menegeluarkan Merk Pegadaian.

Keempat bisa dijual kembali mulai 1 gram dengan harga kompetitif. Kita bisa menjual emas kapan pun. Prosesnya cepat, seperti saat kita menabung.

Kelima aman. Menabung emas di pegadaian, jelas dijamin keamanannya. Bandingkan bila kita memiliki emas berada di rumah, resiko tetap ada.

Keenam sebagai dana pensiun. Tidak semua orang bekerja sebagai pegawai. Dengan demikian tidak semua orang memiliki dana pensiun di hari tua. Kalau mulai sekarang kita menabung emas dengan jumlah kecil, rutin setiap bulan, maka beberapa tahun yang akan datang kita akan mendapatkan keuntungan. Harga emas cenderung naik. Untuk jangka panjang, tabungan emas bisa digunakan sebagai dana pensiun.

[Saya bukan pegawai, maka saya ingin memiliki dana pensiun ketika saya tak mengajar lagi. Saya sisihkan uang yang saya miliki untuk menabung emas, agar bisa saya gunakan ketika saya sudah tidak bekerja lagi]


Anda tertarik menabung emas, dan bingung karena memiliki dana terbatas? Mari menabung emas di pegadaian.

Minggu, 19 Juni 2016

Mulai Fokus Mengajar Baca Tulis Buat Si Kecil

Gambar BUS Karya Faiz
dok.pri
Hari Jumat, 17 Juni 2016 yang lalu Faiz sudah selesai mengikuti kegiatan riang gembira di Taman Kanak-Kanak. Dua tas besar berisi peralatan tulis, menggambar dan ketrampilan dibawanya pulang. Ada pas foto, foto bersama teman TK B, Surat Keterangan Tamat TK. Seperti biasa saya menjemput Faiz pada sore hari.

Saya memiliki alasan khusus untuk menjemput sore hari, sebab kalau siang sudah berada di rumah maka ulah Faiz sukar untuk dikendalikan.  Faiz inginnya berada di luar rumah, itu berarti saya harus ekstra mengawasi. Kalau di dalam rumah paling bermain mobil, gunting-gunting kertas, mainan bedak (semua benda dibedaki). Ibunya tidak boleh cuci piring, cuci baju, setrika, pegang laptop, tidak boleh pegang hape. Ibunya khusus melayani dia, mengajak bicara dan bercerita.

Dengan selesainya Faiz bermain riang di TK, tugas saya sekarang adalah mengajarnya membaca. Faiz, 6 tahun belum bisa membaca. Sepertinya dia tidak fokus. Kalau diajari membaca atau mengenal huruf, ada saja alasannya. Mana yang ngantuk, mana yang lelah, dan alasannya ada saja. Saya tak pernah memaksa. Toh, di luar sekolah Faiz sudah ada les membaca. Tapi ternyata Faiz tidak bisa fokus dan tidak mau diajari.

Hari ini saya ingin mengajarkan membaca/mengenalkan huruf-huruf. Memang dia kadang mau menulis, tapi lebih banyak tidak mau menurut. Ketika saya membuka tas besar dari TK, saya keluarkan alat tulis, buku gambar dan buku tulis. Saya membuka buku gambarnya. Ternyata oh ternyata, saya salah menduga. Gambar Faiz menurutku bagus. Padahal dulu gurunya (waktu TK A, Faiz tidak play group dulu) bilang Faiz kalau mewarnai tidak pernah selesai. Saya mengenal garis-garis gambarnya Faiz. Ya, bus tersebut gambarnya. Dan roket itu juga hasil kerja kerasnya.
Roketnya Faiz
dok.pri
Hasil karya Faiz saya perlihatkan pada kakaknya. Ayah dan kakak juga memuji. Sementara ini, saya harus mengkondisikan pada Faiz untuk belajar membaca. Semoga Faiz mau diajari Ibunya yang super sabar ini. Dulu, waktu masih TK B kakak sudah bisa membaca je, Le. Itu karena kakak manut dan fokus serta tak banyak alasan untuk tidak mau belajar. Ya, anak memang sendiri-sendiri kemampuannya.

Ada kelebihan Faiz, yaitu hafalan surat pendeknya okey banget.

Sabtu, 18 Juni 2016

Team Solid Untuk Menyelesaikan Suatu Pekerjaan

Bekerja sama dalam satu team mempunyai hikmah tersendiri. Semua bisa dikerjaan sesuai waktu yang ditentukan dan target terpenuhi. Bila bekerja sendiri-sendiri akan membuang banyak waktu dan hasilnya juga tidak maksimal.

Saya suka bekerja dalam satu team. Bekerja dalam satu team tidak selalu ke mana-mana harus jadi satu dengan anggota yang lain. Bisa saja pekerjaan dibagi-bagi (job dibagi-bagi) lalu diserahkan pada ahlinya. Dengan demikian, pekerjaan bisa berjalan dengan lancar. Apabila ada kesulitan, maka bisa diselesaikan bersama-sama saling membantu.

Suatu contoh, saya berdua dengan guru Bahasa Inggris diminta untuk memberikan undangan kepada wali murid. Oleh karena ada 4 wali murid yang harus kami datangi, maka kami membagi tugas dengan cara saya mengantarkan 2 undangan untuk 2 wali murid yang rumahnya dekat sekolah. Dua undangan lainnya diantar teman saya karena alamat rumah wali murid dekat dengan rumah teman saya. Pekerjaan menjadi ringan, cepat selesai dan lebih efisien.

Tetapi ternyata cara kami berdua dianggap salah. Seharusnya kami berdua seiring sejalan, tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Namanya partner, seharusnya ke mana-mana harus berdua. Agar penyerahan undangan ke wali murid ada saksinya. Saya dan teman saya tersenyum, terkekeh lalu tertawa. Oh, begitu ya cara bekerjanya. Seandainya wali murid yang dimaksud tidak bisa kita temui, barulah undangan dibawa oleh salah satu dari kami untuk diserahkan pada yang bersangkutan. Ini namanya kerja keras, bukan kerja cerdas.

Yang kedua, baru saja terjadi pada saya. Saya biasa dijadikan satu team dengan teman saya guru mesin. Biasanya ke mana-mana saya dijadikan satu team dengan guru mesin. Kemarin waktu ke Matesih dalam rangka mencari murid juga satu team dengan guru mesin. Hari ini, team kami berharap bisa bertiga lagi ke Matesih. Karena pekerjaan ini masih ada hubungan dengan pekerjaan kemarin, kami sudah mempersiapkan diri.

Ternyata, saya dipisahkan dari team kemarin. Padahal team yang kemarin termasuk solid. Karena sudah teruji hasil kerjanya. Saya tidak kecewa, hanya saja sepertinya memang ada unsur kesengajaan dibuat demikian. Saya tak mempermasalahkan, saya bekerja dengan siapa pun bisa. Tapi kalau bekerja dengan orang yang suka memaksakan kehendak, saya merasa tidak sreg.

Ternyata team saya yang sekarang orangnya asyik diajak kerja bareng. Saya tahu, mereka adalah orang-orang yang mau mendengarkan pembicaraan orang lain, dan saling menghargai pendapat orang lain. Pekerjaan selesai dengan hasil memuaskan. Itulah team solid, kompak dan sudah teruji.

Bekerja dalam satu team yang solid dan kompak itu menyenangkan. Namanya bekerja dalam satu team, harus kerja cerdas tak perlu kerja keras. Yang penting hasilnya optimal dan sesuai target.

Saya jadi ingat teman-teman guru mesin yang selalu mengajak saya kalau ada pekerjaan di lapangan. Untuk apalagi kalau tidak untuk mendokumentasikan pekerjaan. Saya suka mengorbankan waktu untuk pekerjaan bersama teman-teman. Saya mau melakukan semua itu karena mereka juga tak pernah memperhitungkan untung rugi. Selalu ada bantuan dari teman-teman untuk pekerjaan di lapangan yang tidak bisa saya jangkau. Terima kasih buat teman-teman yang tak bisa saya sebut satu per satu.

Bekerja Sambil Mencari Bahan Untuk Menulis

Hijau, Kebun Jagung
dok.pri
Tugas berada di luar sekolah saya kali ini (Jumat, 17 Juni 2016) berada di sebuah desa. Awalnya saya ditempatkan di kota, akan tetapi saya minta untuk dipindah. Alasan saya, ingin menikmati suasana desa dan memotret. Akhirnya saya di tempatkan di desa Matesih yang udaranya sejuk.

Kami bertiga benar-benar menikmati perjalanan. Meskipun kami dalam keadaan berpuasa, namun semangat kami tetap semangat orang tak berpuasa. Bagi saya bekerja di bulan Ramadan dalan keadaan berpuasa bernilai ibadah.

Lapangan Matesih yang dahulu digunakan untuk kemah acara PMI, sekarang berubah menjadi lapangan dengan lantai keras karena akan digunakan sebagai pasar (kabarnya pasar darurat). Di kiri kanan jalan yang saya lihat hijau, dengan tanaman sayuran, padi yang mulai berisi, air sungai yang mengalir dan suasana tenang.

Sebenarnya keadaan itu juga pernah saya nikmati di sekitar rumah saya. Di belakang rumah saya dahulu sempat saya tanami mentimun, kacang panjang, Lombok, kangkung, sawi dan lain-lain. selain sayuran kadang ada jagung dan makanan pokok yakni padi. Sebenarnya saya juga ingin kembali terjun ke dunia pertanian, tapi waktu saya sangat terbatas. Merawat tanaman tidak boleh sembarangan agar hasilnya maksimal.

Saya dan teman-teman kalau melakukan perjalanan ke mana saja selalu ada topic untuk dibicarakan di dalam mobil. Melihat ayam yang diangkut mobil bukaan, pembicaraan beralih ke daging ayam atau telur. Melihat angkutan umum dengan penumpang berjubel, itu artinya topic pembicaraan beralih ke rumah siswa yang jauh (di pelosok) dengan angkutan umum masih jarang. Kalau lihatnya warung makan, tentu lebih seru lagi. Apalagi kalau warung sate kambing, kami jadi penasaran untuk mencoba. Tapi eits, ini bulan puasa! Kami tak mungkin mencoba makan sate atau tongseng hehe.

Hari ini sebenarnya kami bertugas mencari murid. Siapa tahu di SMK Negeri sudah penuh dan ada murid lulusan SMP yang belum mendapatkan sekolah. tugas kami adalah membujuk agar murid lulusan SMP tadi mau menuntut ilmu di sekolah saya. Perjuangan kami tidak cukup sampai di sini, bukan hanya mencari murid saja melainkan mengajar dan mendidik hingga mereka terampil dan lulus lalu dapat membuka usaha sendiri, bekerja sebagai karyawan atau meneruskan kuliah.

Semoga pekerjaan saya dicatat sebagai ibadah, amin.

Jumat, 17 Juni 2016

Sedekah Berbuka Puasa Bersama Seorang Gadis Buat Teman-temannya

Faiq with friends
dok.pri
Siang itu seorang gadis menelepon Ibunya. Dia minta untuk dipesankan lauk dalam jumlah besar. Oleh karena sang Ibu akan menunaikan ibadah shalat zuhur, maka telepon segera dimatikan.

Akhirnya Ibu-anak tersebut bertemu di warung ayam bakar tak jauh dari kota.
“Sudah pesan?”tanya Ibu
“Belum.”
“Teman-teman iurannya berapa rupiah per anak?”
“Tidak iuran. Ibu kemarin mau mengundang teman-teman untuk berbuka puasa bersama. Kali ini kami mau berbuka puasa di rumah teman. Aku sudah menyanggupi membawa ayam bakarnya.”

Ibunya paham setelah anaknya menjelaskan maksudnya. Gadisnya berencana untuk mengadakan bukber di rumah temannya. Temannya akan menyediakan nasi dan minumannya. Sedangkan si gadis menyediakan lauknya untuk 30 orang. Anak-anak SMA tersebut mengadakan bukber di hari Jumat terakhir pertemuan mereka, sebab hari Sabtu mereka akan terima rapor. Setelah terima rapor, mereka libur 1 bulan.

Selain makan dan minum, iuran yang jumlahnya kecil khusus untuk membuat es buah dan mungkin kudapan ala kadarnya. Si gadis sudah tahu kebiasaan kedua orang tuanya yang sering mengadakan bukber untuk murid-muridnya. Kali ini si gadis minta sedikit perhatian, sedikit sedekah yang akan dikeluarkan pada Ramadan tahun ini.

Siapa tahu semua bisa dipakai untuk pembelajaran. Bagaimanapun pedidikan diajarkan lewat contoh, bukan hanya lewat ceramah. Si gadis berharap, dengan bukber semacam ini akan banyak membawa hikmah. Bandingkan bila bukber dilakukan di rumah makan. Sekarang sedang marak bukber di rumah makan, di tempat-tempat lesehan, di resto atau di mana saja.


Bukber di rumah salah satu siswa akan menjalin keakraban, anak-anak juga mengenal keluarga teman-temannya. Sedekah yang dikeluarkan orang tua, juga merupakan sedekah bagi anak-anaknya. Semoga Allah senantiasa menitipkan rezeki yang barokah untuk orang-orang yang mengeluarkan sedekah di bulan Ramadan. Baik memdapatkan pahala secara estafet maupun pahala untuk dirinya sendiri.

Kamis, 16 Juni 2016

Lebih Produktif Menulis Saat Bulan Ramadan

Komunitas Nulis Yang Ngompori
dok.pri
Dahulu ketika masih menjadi mahasiswa bila Bulan Ramadan tiba, aktivitas saya di masjid sangat padat. Sebagai remaja masjid, wajar bila ingin memakmurkan masjid. Tidak hanya saat Ramadan, tetapi di bulan lain juga demikian.

Beruntung, saya bisa membagi waktu. Kegiatan di masjid dengan kuliah bisa seiring sejalan. Memang kegiatan di masjid selama Ramadan banyak dan bisa menambah nilai pahala. Pada saat Ramadan, remaja masjid berlomba-lomba untuk memakmurkan masjid.

Sangat disayangkan, saya tidak pernah mendokumentasikan kegiatan bulan Ramadan dalam buku harian. Semua berjalan begitu saja. Sebenarnya bila semua kegiatan dituliskan, tentu sangat bermanfaat.

Ya, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang saya mulai tertib diri merekam semua kegiatan di buku harian (berupa file). Oleh karena sekarang sudah memiliki 2 anak yang perlu pengawasan, saya fokus untuk ibadah dan mengawasi anak-anak.

Bila kegiatan sehari-hari sebagai perempuan yang harus “serba bisa” sudah selesai, saya kembali menekuni menulis. Pada bulan Ramadan ini saya tetap harus bisa menghasilkan tulisan. Saya berusaha untuk membuat tulisan yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan cara mengikuti lomba penulisan (giveaway), saya berharap tulisan saya semakin berbobot dan berkualitas. Yang berbobot ternyata bukan hanya yang gemuk-gemuk lo. Hehe…

Tantangan yang harus saya taklukkan adalah bila persyaratan dalam lomba penulisan tersebut banyak dan bikin saya patah semangat. Contoh kalau syarat lomba harus dengan follow, like, (akun atau fanpage), awalnya saya akan bilang lahhh syaratnya uakih men. Tapi saya tetap harus mencoba. Gara-gara mau menaklukkan syarat yang seabrek, Alhamdulillah saya bisa mendapatkan uang dan barang karena memenangkan giveaway. Ternyata usahakeras saya bisa menghasilkan uang. (ya… edisi matrenya muncul).

Selama Ramadan ini, saya berkomitmen akan menyirami blog dan membersihkan rumput dan lumut. Agar blog saya juga enak dipandang, terus ada tamu yang berkunjung ke blog saya. Hanya, blog saya masih mendompleng. Saya belum punya rumah pribadi. Akan tetapi tamu-tamu saya juga sudah pada tahu alamat rumah kontrakan saya ini.


Semoga saya bisa konsisten dengan satu hari satu artikel. Lebih bersyukur lagi kalau bisa nulis satu hari 2 artikel selama Ramadan. Tetap semangat, tetap produktif, Ramadan tidak bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Nasi Aking dan Nasi Setengah Matang Untuk Berbuka Puasa

Makanan Pokok Nasi
dok.pri
Dalam seminggu ini, saya harus rela berbuka puasa dengan nasi yang luar biasa artinya di luar kebiasaan. Pertama berbuka dengan nasi setengah kering (sebagian yang kering saya sisihkan). Ada alasan mengapa saya tiba-tiba harus makan nasi tersebut. Yang kedua berbuka dengan nasi belum matang.

Berbuka dengan nasi setengah kering (nasi aking)
Hari itu sepulang dari penitipan, biasanya Faiz minta makan terlebih dahulu lalu tidur. Kali ini Faiz minta mandi lantas tidur. Saya tidak terlalu repot, karena dengan Faiz tidur saya bisa mengerjakan segala sesuatunya.

Suami hari itu repot rapat kelulusan untuk kelas IX, dan menerima tamu wali murid yang akan menerima surat kelulusan tersebut. Oleh karena sampai sore, dugaan saya adalah berbuka puasa di sekolah. Sampai jam lima lebih suami belum pulang.

Di rumah saya sudah menyiapkan segalanya untuk berbuka puasa dengan Faiq. Rasanya sudah beres semua. Waktunya azan maghrib, saya dan Faiq langsung berbuka dengan minum teh hangat. Setelah itu saya mengambil piring lalu membuka mejikom. Saya terbelalak, kaget, hah. Ternyata nasinya tinggal sedikit dan setengah kering. Saya bilang ke Faiq,”Nok, nasinya kering. Ternyata tinggal sedikit.”

Kata Faiq yang penting makan sop saja. Makan nasinya belakangan juga tidak apa-apa. Lantas saya mengirim pesan sms pada suami. “Nasi habis, tolong belikan nasi”. Sebentar kemudian suami datang. Dia belum berbuka puasa. Dia memberikan satu kardus kecil berisi kudapan dan satu kardus besar berisi bermacam-macam Roti Kecil.

“Ayah, tidak beli nasi?”
“Tidak.”
“Lahhhhh, sms- ku nggak dibaca.”
“Rapapa. Ngliwet dhisik.”

Saya ceritakan, ternyata kita tak punya nasi. Biasanya kalau pagi hari nasinya tinggal sedikit, mejikom dimatikan lalu nasi diberikan pada ayam-ayamnya Faiz. Pagi tadi Ayah memberi pakan kering. Saya pikir nasi di mejikom masih banyak, soalnya petugas mematikan mejikom adalah Ayah. Tetap bersyukur, masih ada makanan lain untuk berbuka puasa. (tak perlu mengeluh, pada hari-hari biasa banyak loh orang yang kelaparan)

Berbuka dengan Nasi Belum Matang
Kemarin siang sampai sore listrik mati. Aktivitas yang ada kaitannya dengan sumber arus macet, termasuk menanak nasi. Alhamdulillah, jam lima kurang seperempat listrik hidup. Saya bergegas menanak nasi dengan mejikom. Lalu saya meninggalkan rumah untuk membeli sop galantin. Kebetulan suami membawakan pulang lauk dari sekolah.

Di perjalanan listrik mati lagi. Sampai di rumah gelap semua. Saya mengambil lilin lalu menyalakannya. Saya membuka mejikom. Alhamdulillah, ternyata nasi belum matang. Jadilah kami makan nasi belum matang. Tetap bersyukur, masih ada makanan lain untuk berbuka puasa.


Sukses berbuka puasa hingga Isya belum menyala/hidup listriknya. Akhirnya saya tertidur setelah shalat Isya. Ketika hampir jam setengah Sembilan saya bangun, ternyata lampu sudah menyala. Saya mau menulis agak malas, biasanya kalau hujan-hujan seperti kemarin listrik mati hidup mati hidup. Daripada nanti di tengah perjalanan menulis, listrik kembali mati lebih baik nulisnya saya tunda.